Sorakan Mahasiswa Trisakti Iringi Janji Stafsus Wamensesneg soal Pengobatan ISPA Gratis

Sorakan Mahasiswa Trisakti Iringi Janji Stafsus Wamensesneg soal Pengobatan ISPA Gratis

Jakarta | Staf Khusus Wakil Menteri Sekretaris Negara, Binbin Firman Tresnadi, berbicara kepada mahasiswa Universitas Trisakti dari atas mobil komando saat aksi berlangsung di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis sore, 29 Oktober 2026. Mahasiswa yang berkumpul di lokasi mempersilakannya menyampaikan keterangan. Momen tersebut menjadi bagian dari komunikasi perwakilan pemerintah dan peserta aksi di tengah kegiatan mereka.

Binbin mengawali penyampaiannya dengan mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa dan menyampaikan salam. Ia kemudian meminta maaf karena Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi tidak dapat hadir untuk menemui mereka. Keterangan mengenai ketidakhadiran menteri itu langsung disambut sorakan dari mahasiswa. Respons tersebut terdengar ketika Binbin berbicara melalui mobil komando, sementara para peserta aksi berada di sekitar lokasi.

Suasana itu menunjukkan bahwa kedatangan Binbin berlangsung dalam konteks tuntutan mahasiswa untuk mendapatkan tanggapan dari pihak pemerintah. Meski menteri yang disebut tidak bisa hadir, mahasiswa tetap memberi kesempatan kepada staf khusus tersebut untuk berbicara. Informasi yang disampaikan Binbin pada kesempatan itu mencakup ucapan terima kasih, salam, serta permintaan maaf atas ketidakhadiran Prasetyo Hadi. Sorakan mahasiswa muncul setelah alasan kehadiran menteri disampaikan, menandai respons mereka terhadap kabar tersebut.

Pertemuan singkat di Jalan Merdeka Selatan itu berlangsung di tengah aksi mahasiswa Trisakti pada Kamis sore. Binbin menyampaikan pesannya dari mobil komando, posisi yang memungkinkan suaranya menjangkau peserta aksi. Mahasiswa mempersilakannya berbicara, tetapi kabar bahwa Prasetyo Hadi tidak dapat menemui mereka mendapat sambutan berupa sorakan. Peristiwa tersebut menjadi sorotan dalam aksi, ketika perwakilan pemerintah hadir untuk menyampaikan pesan, sementara mahasiswa menanggapi langsung penjelasan mengenai absennya menteri.

Binbin melanjutkan sambutannya di hadapan mahasiswa Trisakti dengan sesekali membaca buku catatan yang dibawanya. Ia tampak merujuk pada sejumlah pokok pembahasan sambil menyampaikan pandangannya mengenai situasi yang dihadapi masyarakat. Di tengah suasana aksi, ia menjelaskan bahwa sebelum berbicara, dirinya telah berdiskusi dengan rekan-rekan yang berada di belakang mobil komando. Percakapan tersebut, menurutnya, mencakup persoalan pemulihan ekonomi, perkembangan politik, serta pentingnya penegakan supremasi sipil. Ia menyebut isu-isu itu sebagai bagian dari pembahasan yang perlu mendapat perhatian dalam merespons berbagai tuntutan masyarakat.

Pembicaraan kemudian beralih pada warga yang terdampak infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di sejumlah daerah. Binbin menyoroti keadaan warga yang masih harus membayar biaya rumah sakit ketika membutuhkan penanganan kesehatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam sambutannya, terutama karena dampak gangguan pernapasan dapat membuat warga memerlukan layanan medis. Ia menyampaikan bahwa warga terdampak tidak seharusnya terbebani biaya ketika sedang berupaya memperoleh pengobatan. Dalam kesempatan itu, Binbin menyatakan akan memperjuangkan agar pengobatan bagi warga yang terdampak ISPA dapat diberikan secara gratis. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai janji yang akan ia perjuangkan, bukan sekadar pembahasan umum mengenai penanganan kesehatan.

Wilayah yang disebut dalam janji tersebut meliputi Kalimantan, Sulawesi, Riau, dan Papua. Binbin menegaskan bahwa warga terdampak di daerah-daerah itu perlu memperoleh layanan kesehatan tanpa biaya, termasuk ketika harus menjalani perawatan di rumah sakit. Ia menyampaikan komitmen tersebut saat berbicara di hadapan para mahasiswa, yang menyimak sambutannya di tengah aksi. Setelah janji pengobatan gratis itu disampaikan, mahasiswa kembali bersorak. Sorakan tersebut menandai respons mereka terhadap pernyataan mengenai bantuan kesehatan bagi warga yang menghadapi dampak ISPA. Suasana kembali ramai, sementara Binbin melanjutkan penyampaian sambutannya dengan catatan di tangan. Isu biaya pengobatan pun menjadi salah satu bagian yang paling mendapat perhatian dalam pidatonya.

Suasana aksi berubah ketika seorang perwakilan mahasiswa naik ke mobil komando dan mengambil mikrofon dari Binbin. Di hadapan peserta unjuk rasa, ia mengingatkan rekan-rekannya agar tidak begitu saja memercayai pernyataan staf khusus tersebut. Mahasiswa itu kemudian mengungkit janji yang, menurutnya, pernah disampaikan Binbin sekitar dua minggu sebelumnya terkait penanganan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam orasinya, perwakilan mahasiswa itu mengatakan Binbin pernah berjanji akan mundur dari jabatannya apabila persoalan karhutla tidak selesai. Ia juga menyebut Binbin masih menjabat hingga saat itu. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari kritik mahasiswa terhadap komitmen yang mereka nilai belum terbukti terlaksana. Klaim tersebut berasal dari orasi peserta aksi dan tidak disertai keterangan tambahan di lokasi yang dapat memastikan rincian janji maupun perkembangannya.

Mahasiswa itu turut mengacu pada janji lain yang, menurutnya, berkaitan dengan penyelesaian persoalan dalam tiga hari kerja. Ia mengklaim bahwa setelah dua minggu berlalu, tindak lanjut atas janji tersebut belum terlihat. Dengan demikian, dalam pandangannya, rentang waktu yang telah lewat menjadi alasan bagi mahasiswa untuk mempertanyakan kesungguhan komitmen yang pernah disampaikan. Ucapan itu menjadi sorotan dalam aksi, tetapi tetap merupakan pernyataan dari perwakilan mahasiswa, bukan konfirmasi independen mengenai pelaksanaan atau status janji tersebut.

Sejumlah mahasiswa menyambut pernyataan itu dengan sorakan, cibiran, dan makian. Reaksi tersebut terdengar saat perwakilan mahasiswa menyampaikan kritiknya melalui mikrofon di mobil komando. Respons peserta menunjukkan kuatnya ketidakpuasan yang muncul dalam momen tersebut, sekaligus menandai bahwa isu janji sebelumnya menjadi bagian penting dari tuntutan yang mereka suarakan. Tidak ada penambahan verifikasi atas klaim dalam orasi itu; yang dapat dipaparkan ialah bahwa mahasiswa tersebut mengungkit janji yang disebutnya belum ditindaklanjuti dan bahwa ucapannya memancing reaksi keras dari massa aksi.

Setelah menyampaikan janji mengenai pengobatan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara gratis bagi warga terdampak, mikrofon kemudian diberikan kepada seorang mahasiswa Trisakti. Ia memperkenalkan diri sebagai mahasiswa yang berasal dari Papua. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa alam memberikan kehidupan bagi manusia, tetapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah terjadi di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan, Papua, dan pulau-pulau lain di Indonesia.

Mahasiswa tersebut lalu meminta jaminan agar masyarakat yang terdampak memperoleh layanan kesehatan tanpa biaya. Permintaan itu disampaikannya secara langsung kepada Binbin, staf khusus Wakil Menteri Sekretaris Negara, seraya mengulurkan tangan. Binbin menyambut uluran tersebut dengan berjabat tangan. Dalam momen itu, ia berjanji bahwa pengobatan ISPA gratis akan diberikan bagi warga yang terdampak. Janji tersebut menjadi jawaban atas kekhawatiran mahasiswa mengenai risiko kesehatan yang dapat muncul akibat paparan asap karhutla, sekaligus mengaitkan isu lingkungan dengan kebutuhan layanan kesehatan masyarakat.

Jabat tangan itu disaksikan ratusan mahasiswa yang hadir dalam aksi. Respons massa kembali terdengar dalam bentuk sorakan, menandai kuatnya perhatian peserta terhadap tuntutan tersebut. Namun, aksi Trisakti tidak hanya mengangkat persoalan karhutla dan pengobatan ISPA. Para mahasiswa juga menyampaikan tiga tuntutan yang mencakup agenda lebih luas. Pertama, mereka meminta pemulihan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional. Kedua, mereka menuntut pemberantasan inkompetensi pejabat negara serta penghapusan rangkap jabatan pejabat publik. Ketiga, mereka mendesak penegakan supremasi sipil. Rangkaian tuntutan ini menunjukkan bahwa mahasiswa menghubungkan persoalan kesehatan warga terdampak dengan tanggung jawab pemerintah dalam menangani krisis lingkungan dan memperbaiki berbagai bidang kehidupan nasional.

Baca juga: Kodim 0906/Kkr Hadir Untuk Masyarakat, Gelar Donor Darah Serta Pengobatan Dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Menyambut HUT TNI | Krida Nusantara: Mahasiswa PPG UHAMKA Kenalkan Budaya melalui Bermain dan Berkarya