Rupiah Tertekan Menjelang Rapat The Fed, Ringgit Menguat di Tengah Dolar yang Kukuh

Rupiah Tertinggal Saat Won dan Ringgit Menguat di Tengah Tekanan Dolar AS

Jakarta | Pasar valuta Asia bergerak beragam pada Rabu, 28 Oktober 2026, ketika pelaku pasar menantikan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Dolar AS tetap kukuh di tengah perhatian terhadap arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), sehingga sebagian besar mata uang regional berada di bawah tekanan. Dari 10 mata uang yang dipantau, tujuh melemah terhadap dolar AS, dua menguat, dan satu bergerak stagnan.

Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam di mata uang yang disebutkan. Nilainya turun 0,92% menjadi KRW1.338,5 per dolar AS. Peso Filipina juga melemah 0,19%, sementara rupiah terkoreksi 0,14% ke Rp18.170 per dolar AS. Pergerakan tersebut mencerminkan tekanan yang meluas di sejumlah pasar valuta, meskipun tingkat pelemahannya berbeda-beda.

Di kawasan Asia Tenggara, baht Thailand turun 0,12% dan dolar Singapura melemah 0,05%. Dong Vietnam terkoreksi 0,03%, sedangkan yuan China turun 0,02% terhadap dolar AS. Dengan demikian, pelemahan pada beberapa mata uang berlangsung relatif terbatas dibandingkan penurunan won, sementara rupiah juga bergerak turun dalam perdagangan menjelang pengumuman kebijakan moneter AS.

Menjelang keputusan The Fed, pelaku pasar mencermati sinyal mengenai suku bunga dan prospek kebijakan berikutnya. Perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi dolar serta arus modal lintas negara, sehingga keputusan tersebut menjadi salah satu perhatian utama bagi pasar valuta Asia. Namun, pergerakan mata uang tidak hanya ditentukan oleh kebijakan AS; kondisi ekonomi dan sentimen masing-masing negara juga dapat berperan.

Di tengah dominasi pelemahan, dua mata uang Asia tercatat menguat dan satu lainnya stagnan, menunjukkan bahwa respons pasar tidak sepenuhnya seragam. Data pergerakan harian ini memberikan gambaran posisi mata uang regional menjelang rapat bank sentral, tetapi belum dengan sendirinya menunjukkan arah untuk sesi-sesi berikutnya. Investor akan membandingkan keputusan dan komunikasi The Fed dengan perkiraan pasar, sembari menilai kembali prospek dolar dan risiko di kawasan. Rupiah dan mata uang lain berpotensi tetap sensitif terhadap perubahan sentimen, terutama ketika pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap biaya pinjaman AS dan kondisi likuiditas global.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan arah yang tidak seragam. Rupiah berada di bawah tekanan dan semakin mendekati level terlemah intraday sepanjang masa, yaitu Rp18.190 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi sorotan di tengah pelemahan yang dialami mayoritas mata uang kawasan. Sementara sejumlah mata uang bergerak turun terhadap dolar AS, ringgit Malaysia justru mencatat penguatan dan menempati posisi teratas dalam kinerja regional yang disebutkan. Perbedaan ini terlihat jelas dalam perdagangan hari ini, tetapi data yang tersedia tidak menetapkan satu penyebab khusus bagi masing-masing pergerakan.

Tekanan pada rupiah menempatkannya semakin dekat dengan ambang Rp18.190 per dolar AS, level terlemah intraday sepanjang masa. Artinya, mata uang Indonesia berada pada jarak yang semakin tipis dari titik tersebut selama perdagangan berlangsung. Namun, penyebutan level itu merujuk pada posisi intraday, bukan kepastian bahwa rupiah telah menembus atau menutup perdagangan pada angka tersebut. Gambaran regional juga tidak sepenuhnya seragam: meskipun mayoritas mata uang kawasan melemah, beberapa mata uang mencatat kenaikan terbatas. Ringgit Malaysia menjadi penguat terbesar di pergerakan yang dilaporkan, sedangkan dolar Taiwan juga bergerak naik tipis.

Ringgit Malaysia menguat 0,12%, kenaikan tertinggi di mata uang kawasan yang tercatat dalam laporan ini. Dolar Taiwan menyusul dengan kenaikan kecil sebesar 0,02%. Besarnya perubahan yang terbatas tersebut tetap menegaskan adanya perbedaan arah dibandingkan pelemahan mayoritas mata uang regional, termasuk posisi rupiah yang mendekati level terlemah intraday-nya. Perbandingan ini menggambarkan variasi kinerja harian, bukan alasan tertentu di baliknya; tidak ada dasar dalam informasi yang tersedia untuk mengaitkan penguatan ringgit atau dolar Taiwan dengan faktor khusus. Di sisi lain, yen Jepang tidak menunjukkan perubahan berarti. Mata uang Jepang itu tercatat stagnan pada JPY157,94 per dolar AS, melengkapi gambaran pasar yang bergerak beragam di kawasan.

Perhatian investor global tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC), badan penentu kebijakan moneter The Fed. Keputusan suku bunga menjadi sorotan karena dapat memengaruhi arah dolar dan sentimen di pasar keuangan, termasuk pergerakan mata uang di kawasan. Namun, untuk pertemuan kali ini, ekspektasi pasar relatif terkonsentrasi pada satu hasil: suku bunga acuan dipertahankan. Kisaran yang diperkirakan tetap berlaku adalah 3,75%–4,00%, sehingga peluang perubahan langsung dinilai kecil.

Perkiraan CME FedWatch menunjukkan peluang sekitar 91% bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan ini. Angka tersebut mencerminkan bahwa keputusan mempertahankan tingkat bunga telah banyak diperhitungkan oleh pelaku pasar. Karena itu, pengumuman yang sejalan dengan ekspektasi belum tentu menjadi sumber kejutan utama. Investor kemungkinan akan mencermati bagaimana bank sentral menjelaskan kondisi ekonomi dan prospek kebijakannya, serta apakah pesan yang disampaikan mengubah pandangan pasar terhadap langkah selanjutnya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember. Sekalipun suku bunga tidak berubah dalam rapat kali ini, perubahan persepsi mengenai peluang kenaikan pada pertemuan berikutnya dapat memengaruhi pasar. Chris Weston, kepala riset Pepperstone Group, menyatakan bahwa The Fed tidak perlu menaikkan bunga hari itu untuk menggerakkan pasar; perubahan persepsi tentang peluang kenaikan pada Desember saja dapat berdampak. Dengan demikian, penilaian investor terhadap sinyal kebijakan mendatang dapat lebih menentukan respons pasar dibandingkan keputusan yang telah diperkirakan luas. Fokus tertuju pada setiap petunjuk yang dapat memperjelas apakah pengetatan kebijakan masih mungkin dilakukan pada akhir tahun. Bagi pasar mata uang, perubahan ekspektasi tersebut penting karena dapat membentuk kembali pandangan mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Namun, sebelum sinyal itu terlihat, para pelaku pasar tetap perlu membedakan keputusan yang hampir sepenuhnya diantisipasi dan petunjuk baru yang berpotensi menggeser perkiraan mereka. Hasil rapat dan komunikasi setelahnya akan menjadi acuan untuk menilai apakah ekspektasi saat ini masih bertahan.

Tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia berlangsung ketika dolar AS tetap kukuh menjelang rapat Federal Reserve (The Fed). Pada waktu pengamatan, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, naik 0,08% ke 102,405. Kenaikan itu terjadi setelah indeks tersebut menguat 0,30% pada perdagangan sebelumnya, sehingga DXY bertahan di sekitar level tertinggi dalam dua pekan. Pergerakan ini menjadi latar penting bagi pasar valuta asing regional, termasuk ketika rupiah berada di bawah tekanan dan ringgit menunjukkan penguatan.

Selain pergerakan indeks dolar, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga menjadi perhatian pelaku pasar. Imbal hasil tersebut masih berada di sekitar 4,9967%, mencerminkan tingkat pengembalian yang tetap tinggi pada aset berdenominasi dolar. Berdasarkan informasi yang tersedia, posisi imbal hasil ini ikut mempertahankan daya tarik aset dolar. Ketika instrumen AS menawarkan imbal hasil yang menarik, minat terhadap dolar dapat tetap terjaga, sehingga ruang bagi mata uang lain untuk menguat dapat terbatas. Namun, dampaknya pada tiap mata uang tidak selalu seragam, karena dinamika pasar regional dan faktor domestik juga berperan.

Fokus berikutnya tertuju pada rapat The Fed dan perubahan pandangan mengenai kemungkinan kebijakan pada Desember.

Baca juga: Sinergi Babinsa dan PPL Pertanian dalam Pengubinan Menjelang Panen Padi