Kabupaten Barito Kuala | Nurdin, relawan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Sarimi Kayu Bulan yang dikenal dengan panggilan Amang Udin, meninggal dunia setelah bertugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Ia berusia 51 tahun. Peristiwa ini terjadi seusai Amang Udin terlibat dalam upaya penanganan kebakaran di wilayah tersebut.
Saat bertugas, Amang Udin mengalami sesak napas dan nyeri dada. Informasi yang tersedia menyebutkan keluhan itu muncul ketika ia berada dalam kegiatan pemadaman. Ia kemudian meninggal dunia setelah menjalankan tugasnya sebagai relawan. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai penyebab medis kematiannya, sehingga informasi tentang kondisi yang dialami saat bertugas perlu disampaikan sesuai batas fakta yang telah diketahui.
Amang Udin merupakan bagian dari BPK Sarimi Kayu Bulan, kelompok relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran di kawasan Handil Bakti. Keikutsertaannya dalam pemadaman menempatkannya di tengah upaya menghadapi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di daerah itu. Namun, rincian mengenai durasi operasi, kondisi lokasi, maupun urutan kejadian setelah ia merasakan keluhan belum tersedia dalam informasi yang disampaikan.
Kabar meninggalnya relawan berusia 51 tahun tersebut menandai kehilangan bagi tim pemadam kebakaran tempat ia bertugas. Peristiwa ini juga mengingatkan bahwa penanganan karhutla melibatkan relawan yang bekerja langsung di lapangan, sementara kondisi setiap kejadian dapat berbeda. Meski demikian, keterangan mengenai keadaan Amang Udin harus tetap merujuk pada informasi yang terkonfirmasi, yaitu ia mengalami sesak napas dan nyeri dada saat bertugas, lalu meninggal dunia setelah pemadaman.
Dengan demikian, inti peristiwa ini adalah meninggalnya Nurdin atau Amang Udin setelah menjalankan tugas bersama BPK Sarimi Kayu Bulan dalam pemadaman karhutla di Handil Bakti. Waktu kejadian tercatat pada Rabu, 21 Oktober 2026, di Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala. Tidak ada dasar untuk menyimpulkan penyebab medis tertentu dari informasi tersebut; rincian yang dapat disampaikan terbatas pada keluhan yang dialaminya ketika bertugas dan kabar bahwa ia meninggal setelahnya.
Amang Udin berjibaku memadamkan api di lokasi kebakaran hutan dan lahan di Barito Kuala bersama relawan lainnya. Dalam upaya tersebut, ia berada di tengah kepulan asap tebal. Situasi itu menjadi latar ketika keluhan kesehatannya mulai muncul. Sebelum kondisinya memburuk, Amang Udin merasakan nyeri dada saat berada di bagian depan lokasi kebakaran. Ia juga mengalami sesak napas. Informasi mengenai keluhan tersebut menggambarkan perubahan kondisi yang dialaminya ketika masih berada di area tugas, tanpa menjelaskan lebih jauh penyebab pasti gejala yang dirasakan.
Keluhan nyeri dada itu muncul ketika ia berada di bagian depan lokasi, bukan setelah seluruh tugas selesai. Pada saat yang sama, asap tebal mengepung area tempat upaya pemadaman berlangsung. Amang Udin tetap tercatat sedang berjibaku memadamkan api, sementara rasa tidak nyaman di dada dan sesak napas menjadi tanda bahwa kondisinya perlu diperhatikan. Tidak ada keterangan yang memastikan hubungan langsung paparan asap dan keluhan tersebut. Karena itu, keadaan yang diketahui dapat disampaikan secara terbatas: ia mengeluhkan nyeri dada dan sesak napas ketika berada di lokasi kebakaran.
Keterangan tentang momen tersebut penting untuk memahami bahwa gejala muncul di tengah kegiatan pemadaman, saat Amang Udin berada di area yang dipenuhi asap. Ia berada di bagian depan lokasi ketika nyeri dada dirasakan, disertai sesak napas. Setelah itu, kondisinya disebut memburuk. Namun, informasi yang tersedia tidak menjelaskan rincian medis mengenai perkembangan keluhan, ataupun memastikan faktor yang menyebabkan gejala tersebut. Tidak pula terdapat dasar untuk menyimpulkan bahwa satu keadaan tertentu menjadi penyebabnya. Dengan demikian, uraian mengenai kejadian ini perlu berpegang pada keterangan yang ada: Amang Udin bekerja memadamkan api di tengah asap tebal, merasakan nyeri dada di bagian depan lokasi, lalu mengalami sesak napas sebelum kondisinya memburuk.
Setelah Amang Udin mengalami kondisi darurat ketika bertugas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Barito Kuala, rekan-rekan relawannya segera berupaya memberikan pertolongan. Langkah awal yang mereka lakukan adalah membawanya menjauh dari titik api. Upaya ini dilakukan agar Amang tidak terus berada di sekitar sumber panas dan asap saat kondisinya membutuhkan penanganan. Pada saat kejadian, tiga unit relawan berada di kawasan belakang Kantor Kecamatan Alalak.
Setelah berada di area yang lebih jauh dari api, rekan-rekannya memberikan bantuan oksigen menggunakan Oxycan. Pertolongan tersebut dilakukan sembari menunggu bantuan transportasi medis. Namun, ambulans belum tiba di lokasi. Dalam keadaan itu, para relawan berusaha mencari cara agar Amang dapat segera dibawa untuk mendapatkan pertolongan lanjutan. Mereka kemudian memutuskan mengangkutnya menggunakan mobil BPK.
Keputusan menggunakan kendaraan BPK diambil karena ambulans belum tersedia saat itu, sementara Amang memerlukan bantuan segera. Rekan-rekannya menempatkannya di kendaraan dan memulai perjalanan dari kawasan belakang Kantor Kecamatan Alalak. Situasi tersebut menunjukkan bahwa para relawan berupaya menangani keadaan darurat dengan sarana yang ada di lokasi, setelah terlebih dahulu menjauhkan Amang dari titik api dan memberikan oksigen.
Dalam perjalanan menggunakan mobil BPK, kondisi Amang berubah. Ia kehilangan kesadaran sebelum perjalanan tersebut selesai. Informasi ini menjadi bagian penting dari rangkaian peristiwa setelah ia bertugas di area karhutla. Para relawan telah berupaya memberikan bantuan awal, tetapi ambulans belum tiba ketika mereka memutuskan membawa Amang dengan kendaraan yang tersedia. Peristiwa ini menggambarkan tantangan penanganan darurat di lapangan, terutama ketika petugas harus bertindak cepat sementara sarana medis belum sampai ke lokasi. Upaya rekan-rekannya untuk memindahkan Amang dari bahaya dan menyediakan oksigen berlangsung sebelum ia kehilangan kesadaran di perjalanan.
Ambulans kemudian tiba di lokasi setelah Amang Udin mengalami kondisi yang memerlukan pertolongan. Ia segera dibawa menuju Klinik Utama Setara Handil Bakti agar dapat memperoleh penanganan medis. Dalam situasi darurat tersebut, upaya membawa Amang Udin ke fasilitas kesehatan menjadi langkah yang dilakukan untuk memberinya bantuan. Namun, meski telah dilarikan ke klinik, nyawanya tidak tertolong. Kabar bahwa ia meninggal setelah bertugas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Barito Kuala meninggalkan duka bagi orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan kemanusiaan tersebut.
Kepergian Amang Udin turut dirasakan oleh sesama relawan pemadam kebakaran. Mereka menjalankan tugas di lapangan untuk menangani karhutla, sebuah pekerjaan yang dapat menempatkan relawan dalam keadaan berbahaya. Duka yang muncul bukan hanya berkaitan dengan kehilangan seorang rekan, tetapi juga mengingatkan bahwa upaya pemadaman dilakukan di tengah kondisi yang berisiko. Bagi para relawan, tugas tersebut menuntut keberanian sekaligus kesiapan menghadapi situasi yang tidak selalu aman. Ketika bekerja di area kebakaran, keadaan sekitar dapat menyulitkan penanganan dan menambah ancaman bagi orang-orang yang berada di lokasi.
Asap tebal menjadi salah satu bahaya yang dapat dihadapi relawan saat menangani kebakaran hutan dan lahan. Dalam kondisi seperti itu, jarak pandang dan keadaan lingkungan dapat menjadi tantangan, sementara pekerjaan pemadaman tetap harus dilakukan. Risiko juga hadir karena relawan menjalankan tugas di tengah lingkungan yang berbahaya. Peristiwa yang menimpa Amang Udin menunjukkan bahwa tugas penanganan karhutla bukan pekerjaan tanpa ancaman bagi mereka yang terjun langsung. Sesama relawan pemadam kebakaran merasakan kehilangan atas kepergiannya, sementara kenyataan tentang bahaya di lapangan menjadi bagian dari pengalaman yang mereka hadapi ketika menjalankan tugas.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | BABINSA BERSAMA BHABINKAMTIBMAS DAN RELAWAN PADAMKAN KARHUTLA DI BANTUAS






