Realisasi Investasi Indonesia Dua Tahun Terakhir Capai Rp3.923,2 Triliun

Realisasi Investasi Indonesia Dua Tahun Terakhir Capai Rp3.923,2 Triliun

Jakarta | Realisasi investasi di Indonesia selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mencapai Rp3.923,2 triliun. Dalam periode yang sama, investasi tersebut tercatat menyerap tenaga kerja sebanyak 5.485.944 orang. Cakupan angka ini dimulai pada triwulan IV-2024 dan berakhir pada triwulan III-2026, sehingga mencakup delapan triwulan pelaporan. Capaian tersebut disampaikan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani.

Rosan memaparkan data itu setelah melaporkan perkembangan investasi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas bidang ekonomi di Istana Negara, Jakarta. Dengan demikian, angka Rp3.923,2 triliun merujuk pada akumulasi realisasi investasi sepanjang rentang waktu yang ia sampaikan, bukan hanya capaian satu triwulan. Sementara itu, angka penyerapan tenaga kerja sebanyak 5.485.944 orang disampaikan sebagai bagian dari laporan capaian investasi dalam periode yang sama.

Rentang triwulan IV-2024 hingga triwulan III-2026 memberikan batas waktu yang jelas untuk membaca kedua angka tersebut. Periode itu dimulai pada penghujung 2024 dan mencakup seluruh triwulan pada 2025, sebelum berakhir pada triwulan ketiga 2026. Berdasarkan keterangan Rosan, total investasi dan jumlah tenaga kerja yang terserap merupakan capaian selama dua tahun pemerintahan Prabowo yang dihitung dalam rentang tersebut. Angka-angka itu menjadi inti laporan perkembangan investasi yang disampaikan kepada Presiden dalam rapat terbatas bidang ekonomi.

Rosan menyampaikan capaian ini dalam kapasitasnya sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM. Penyebutan periode dan total angka membantu memperjelas skala waktu laporan, sedangkan jumlah tenaga kerja menunjukkan data penyerapan yang turut dilaporkan. Informasi yang disampaikan mencakup realisasi investasi sebesar Rp3.923,2 triliun serta penyerapan 5.485.944 tenaga kerja selama triwulan IV-2024 sampai triwulan III-2026. Kedua angka tersebut menggambarkan pokok laporan yang diberikan Rosan kepada Presiden di Istana Negara, Jakarta.

Realisasi investasi Indonesia selama dua tahun terakhir mencapai Rp3.923,2 triliun. Berdasarkan wilayah, angka tersebut terbagi investasi di luar Jawa dan investasi di Jawa. Wilayah di luar Jawa mencatat realisasi sebesar Rp2.031 triliun, setara dengan 51,8 persen dari total. Sementara itu, realisasi investasi di Jawa mencapai Rp1.892,2 triliun atau 48,2 persen. Kedua angka wilayah tersebut menggambarkan bagian masing-masing dari keseluruhan realisasi investasi dalam periode yang dibahas.

Perincian berdasarkan wilayah memperlihatkan bahwa porsi di luar Jawa berada di atas separuh total, sedangkan porsi di Jawa berada di bawah separuh. Selisih nilai realisasi di kedua wilayah adalah Rp138,8 triliun. Angka ini merupakan perbedaan nominal Rp2.031 triliun di luar Jawa dan Rp1.892,2 triliun di Jawa. Penyajian tersebut menunjukkan besaran investasi yang tercatat pada masing-masing wilayah, tanpa mengubah cakupan periode maupun total realisasi yang dilaporkan.

Jika dibedakan berdasarkan asal modal, realisasi investasi terdiri atas penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA). PMDN tercatat sebesar Rp1.998,7 triliun, sedangkan PMA mencapai Rp1.924,5 triliun. Kedua kategori ini menjelaskan komposisi investasi menurut sumber modal, bukan menurut lokasi proyek. Nilai PMDN dan PMA secara bersama-sama berjumlah Rp3.923,2 triliun, sesuai dengan total realisasi investasi Indonesia yang dilaporkan untuk dua tahun terakhir.

Dengan demikian, data komposisi dapat dibaca melalui dua pengelompokan yang berbeda. Pengelompokan wilayah memuat realisasi di luar Jawa sebesar Rp2.031 triliun atau 51,8 persen, serta di Jawa sebesar Rp1.892,2 triliun atau 48,2 persen. Pengelompokan asal modal mencatat PMDN sebesar Rp1.998,7 triliun dan PMA sebesar Rp1.924,5 triliun. Masing-masing kelompok memberikan rincian atas total investasi Rp3.923,2 triliun dengan dasar pembagian yang berbeda, sehingga angka wilayah dan asal modal tidak perlu diperlakukan sebagai kategori yang saling menggantikan.

Perbandingan realisasi investasi dalam dua rentang waktu berurutan memperlihatkan peningkatan yang cukup besar. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, total investasi pada periode Oktober 2022 hingga September 2024 tercatat sekitar Rp2.995,1 triliun. Sementara itu, selama periode Oktober 2024 hingga September 2026, nilainya mencapai Rp3.923,2 triliun. Dengan demikian, angka Rp3.923,2 triliun merujuk pada dua tahun terakhir, sedangkan Rp2.995,1 triliun menjadi pembanding untuk periode dua tahun sebelumnya. Pemisahan rentang waktu ini penting agar perkembangan investasi dapat dibaca secara tepat, tanpa tertukar capaian terbaru dan angka historis yang menjadi dasar perbandingan.

Jika kedua angka tersebut dibandingkan, realisasi investasi pada periode terbaru bertambah sekitar Rp928,1 triliun. Perhitungan itu berasal dari selisih Rp3.923,2 triliun dan sekitar Rp2.995,1 triliun. Secara persentase, kenaikannya berada di kisaran 31 persen dibandingkan periode Oktober 2022 hingga September 2024. Persentase tersebut merupakan angka perkiraan yang menggambarkan skala perubahan, bukan nilai pertumbuhan yang perlu dinyatakan lebih presisi. Demikian pula, nilai investasi pada periode terdahulu disajikan sebagai angka sekitar, sehingga selisih dan persentasenya sebaiknya dipahami sebagai perbandingan berbasis angka yang dibulatkan.

Kenaikan hampir sepertiga itu menunjukkan bahwa akumulasi investasi selama Oktober 2024–September 2026 lebih tinggi daripada akumulasi pada dua tahun sebelumnya. Namun, perbandingan total untuk rentang waktu masing-masing dua tahun tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab peningkatan ataupun bagaimana investasi tersebar di setiap kuartal. Angka agregat ini memberikan gambaran umum tentang perubahan skala realisasi, sementara penilaian yang lebih lengkap dapat mempertimbangkan rincian periode, sektor, wilayah, serta asal penanaman modal. Untuk menyampaikan capaian secara seimbang, angka utama tetap perlu disertai konteks pembandingnya: sekitar Rp2.995,1 triliun pada Oktober 2022–September 2024 dan Rp3.923,2 triliun pada Oktober 2024–September 2026. Selisih sekitar Rp928,1 triliun dan pertumbuhan sekitar 31 persen merangkum perubahan tersebut.Rosan menyampaikan bahwa pemerintah akan terus mendorong investasi berkualitas, yakni investasi yang mendukung agenda pembangunan dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional. Salah satu arah yang menjadi perhatian ialah penguatan hilirisasi dan industrialisasi. Melalui pengembangan kegiatan ekonomi yang mengolah sumber daya dan memperkuat industri, pemerintah ingin mendorong investasi agar memiliki keterkaitan dengan kegiatan ekonomi di dalam negeri. Fokus tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan investasi tidak hanya tercermin dalam nilai realisasi, tetapi juga selaras dengan prioritas pembangunan nasional.

Selain mendorong investasi pada sektor yang mendukung hilirisasi dan industrialisasi, pemerintah berupaya memperkuat iklim investasi melalui integrasi sistem perizinan. Sistem tersebut menghubungkan proses di 28 kementerian dan badan. Menurut Rosan, langkah ini diarahkan untuk memberikan kejelasan kepada investor mengenai alur yang perlu ditempuh serta waktu yang diperlukan dalam mengurus perizinan. Upaya tersebut ditujukan kepada investor dalam negeri maupun investor asing, sehingga keduanya dapat memperoleh informasi proses perizinan secara lebih pasti.

Rosan juga menekankan bahwa kepastian merupakan salah satu hal yang diharapkan investor. Karena itu, pemerintah berupaya mengurangi ketidakpastian yang berkaitan dengan perizinan, waktu pengurusan, dan iklim investasi. Kejelasan mengenai proses serta perkiraan waktu menjadi bagian dari perhatian dalam penataan layanan perizinan yang melibatkan berbagai kementerian dan badan. Pernyataan tersebut menggambarkan arah kebijakan pemerintah: mendorong investasi yang sejalan dengan hilirisasi dan industrialisasi sekaligus memperkuat kepastian bagi pelaku usaha.

Baca juga: Dugaan Investasi Bermasalah MCI Tuban Masuk Penyelidikan, Y Disebut Belum Memenuhi Panggilan