Rantai Pasok dan Investasi Jadi Kunci Nilai Tambah Mineral Kritis Indonesia

Rantai Pasok dan Investasi Jadi Kunci Nilai Tambah Mineral Kritis Indonesia

Jakarta | PT Danantara Development Management Fund (DDMF) berpandangan bahwa kapasitas pengolahan mineral kritis di dalam negeri belum dengan sendirinya menghasilkan nilai tambah yang optimal. Fasilitas pemurnian dan pengolahan memang penting, tetapi manfaat ekonominya bergantung pada tersedianya bahan baku, energi, teknologi, tenaga terampil, pembiayaan, serta akses pasar yang terhubung secara konsisten. Tanpa dukungan unsur-unsur tersebut, investasi pada fasilitas pengolahan berisiko tidak beroperasi secara efisien atau belum mampu mendorong pengembangan industri lanjutan secara luas.

Managing Director Development Investment DDMF, M. Rachmat Kaimuddin, menekankan perlunya investasi yang terkoordinasi agar berbagai bagian ekosistem mineral dapat tumbuh selaras. Menurutnya, penguatan kemampuan domestik perlu menjadi bagian dari strategi, termasuk membangun keahlian, teknologi, dan kapasitas perusahaan dalam negeri. Langkah ini dapat membantu Indonesia menangkap peluang lebih besar dari pengolahan mineral, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dan kemampuan dari luar. Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta pada Sabtu.

Rachmat juga menyoroti pentingnya rantai pasok yang tangguh. Ketersediaan bahan baku dan dukungan logistik perlu dijaga agar kegiatan produksi tidak mudah terganggu oleh perubahan pasar, kendala distribusi, maupun gejolak eksternal. Ketahanan rantai pasok bukan hanya menyangkut kelancaran pengiriman, melainkan juga kepastian hubungan pemasok, pengolah, produsen barang dan pengguna akhir. Koordinasi yang baik di pelaku dapat membuat investasi lebih produktif dan memperkuat keterhubungan industri di dalam negeri.

Selain itu, kemitraan diperlukan untuk memobilisasi modal bagi pembangunan dan investasi swasta. Pemerintah, lembaga pembiayaan, investor, serta pelaku industri dapat berbagi peran dalam mendukung proyek yang membutuhkan pendanaan besar dan berjangka panjang. Kemitraan yang dirancang dengan jelas juga dapat menyelaraskan kebutuhan pembangunan infrastruktur dengan rencana bisnis perusahaan. Dengan demikian, pengembangan mineral kritis tidak berhenti pada peningkatan kapasitas pengolahan, tetapi didukung oleh kemampuan domestik, pasokan yang andal, dan arus investasi yang terkoordinasi. Pendekatan menyeluruh ini menjadi landasan untuk membangun nilai tambah yang lebih berkelanjutan bagi perekonomian Indonesia.

Data pengolahan nikel memperlihatkan bagaimana nilai ekonomi mineral dapat meningkat ketika bahan mentah diproses menjadi produk yang dibutuhkan industri. Kementerian Perindustrian mencatat bijih nikel bernilai sekitar 30 dolar AS per ton. Setelah diolah menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan baku untuk produksi baterai, nilainya dapat mencapai 3.628 dolar AS per ton. Perbandingan tersebut setara dengan peningkatan sekitar 120 kali lipat dari nilai bijih awal.

Angka itu menggambarkan bahwa potensi nilai tambah tidak berhenti pada tahap penambangan atau ekstraksi. Setiap tahapan pengolahan dapat menghasilkan produk dengan tingkat pemrosesan dan kegunaan yang lebih tinggi, sehingga nilai jualnya ikut bertambah. Pada tahapan tertentu dalam produksi baterai, nilai produk dapat mencapai 642 kali lipat dibandingkan nilai bijih nikel. Besaran tersebut menunjukkan peluang ekonomi dari pengembangan rantai produksi yang lebih lengkap, mulai dari pengolahan mineral hingga bahan untuk industri hilir. Namun, perbandingan nilai itu perlu dibaca sebagai ilustrasi nilai produk pada tahap berbeda, bukan sebagai keuntungan bersih yang diterima pelaku usaha, karena proses produksi juga melibatkan biaya, investasi, dan kebutuhan teknologi.

Prospek ekspor turut memperlihatkan skala peluang tersebut. Dewan Ekonomi Nasional memperkirakan ekspor produk hilirisasi Indonesia dapat mencapai 50 miliar dolar AS hingga akhir 2026. Nilai itu sekitar 45 persen lebih tinggi daripada ekspor sebesar 34,5 miliar dolar AS pada 2024. Kenaikan yang diproyeksikan ini menunjukkan bahwa produk olahan berpotensi memperbesar kontribusi perdagangan mineral dan industri terkait. Hasil akhirnya tetap bergantung pada kapasitas pengolahan, investasi, ketersediaan energi dan infrastruktur, serta kemampuan industri memenuhi kebutuhan pasar. Dengan demikian, nilai ekonomi mineral bertambah sepanjang rantai produksi, bukan hanya ketika sumber daya diekstraksi. Penguatan tahapan lanjutan dapat membantu Indonesia menangkap lebih banyak nilai dari sumber daya yang dimiliki, sekaligus memperluas basis ekspor produk olahan.Proyeksi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa kebutuhan baterai di Indonesia dapat mencapai 108,2 gigawatt-jam pada 2030. Angka ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan penyimpanan energi, terutama seiring pertumbuhan kendaraan listrik dan pengembangan sistem energi yang lebih rendah emisi. Perkiraan tersebut sekaligus memberi gambaran mengenai besarnya pasar domestik yang berpotensi terbentuk dalam beberapa tahun mendatang. Namun, peluang itu tidak akan terwujud hanya dengan meningkatnya permintaan. Indonesia perlu memastikan tersedianya kapasitas produksi, bahan baku, teknologi, dan infrastruktur pendukung agar kebutuhan baterai dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

Untuk mendukung target pengembangan kendaraan listrik, kebutuhan kapasitas baterai diproyeksikan mencapai 780 gigawatt-jam. Sementara itu, kapasitas bahan baku yang tersedia saat ini diperkirakan setara dengan 373 gigawatt-jam. Perbedaan kebutuhan dan ketersediaan tersebut menyisakan ruang investasi sekitar 407 gigawatt-jam. Kesenjangan ini bukan sekadar tantangan pasokan, melainkan juga peluang bagi pelaku usaha untuk membangun fasilitas pengolahan mineral, produksi material aktif, pembuatan sel, hingga perakitan baterai. Besarnya kebutuhan juga menuntut perencanaan investasi yang selaras dengan jadwal proyek dan perkembangan pasar.

Untuk memanfaatkan ruang tersebut, Indonesia perlu membangun ekosistem baterai yang terintegrasi dan tangguh. Pengembangan rantai nilai mineral kritis perlu menghubungkan kegiatan penambangan dengan pemurnian, pengolahan lanjutan, manufaktur komponen, serta daur ulang baterai. Keterhubungan ini dapat meningkatkan nilai tambah di dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan produk dari luar negeri. Investasi juga perlu didukung kepastian regulasi, ketersediaan energi dan logistik, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta standar lingkungan yang terukur. Kolaborasi pemerintah, industri, lembaga riset, dan investor penting untuk membagi risiko dan mempercepat transfer teknologi. Dengan strategi bertahap dan koordinasi yang konsisten, kapasitas domestik dapat tumbuh mengikuti permintaan, bukan hanya mengejar volume produksi. Langkah tersebut akan membantu Indonesia mengubah potensi mineral menjadi industri baterai yang kompetitif, sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok untuk mendukung transisi kendaraan listrik.Rachmat menilai kerja sama antarnegara penting untuk memastikan manfaat ekonomi dari transisi energi tidak hanya terkonsentrasi di pusat manufaktur dan teknologi. Negara penghasil mineral perlu terlibat sebagai mitra yang setara, dengan ruang untuk membangun industri, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan mengembangkan kemampuan teknologi. Tanpa kolaborasi yang memperkuat kapasitas tersebut, negara pemasok berisiko tetap berada pada tahap ekstraksi, sementara nilai tambah terbesar tercipta di tempat lain.

Kerja sama dapat mempertemukan kepentingan negara penghasil dan negara yang memiliki modal, teknologi, maupun kebutuhan bahan baku. Hubungan negara-negara ASEAN dan Afrika, misalnya, berpotensi membuka ruang pertukaran pengalaman, pengembangan rantai pasok, serta penyusunan agenda industri yang saling mendukung. Kemitraan semacam ini tidak cukup berhenti pada perdagangan komoditas. Perlu ada upaya untuk membangun kapasitas produksi dan memperluas keterlibatan perusahaan lokal, sehingga peluang ekonomi transisi energi turut memperkuat fondasi industri di negara asal sumber daya.

Dalam pandangan tersebut, kualitas investasi pembangunan juga perlu dinilai lebih luas daripada besarnya modal yang masuk atau imbal hasil finansial yang diharapkan. Penilaian perlu mencakup kontribusi investasi terhadap kapasitas ekonomi, produktivitas, dan daya saing industri dalam jangka panjang. Aspek pemerataan manfaat pun penting: apakah investasi menciptakan pekerjaan dan peluang usaha, meningkatkan kemampuan pemasok lokal, serta menyebarkan nilai tambah secara lebih luas. Ukuran yang lebih menyeluruh membantu membedakan investasi yang sekadar memanfaatkan sumber daya dari investasi yang membangun kemampuan produktif.

Bagi Indonesia, peluang utamanya terletak pada kemampuan mengubah kekayaan mineral menjadi kekuatan industri dan penguasaan teknologi.

Baca juga: Dugaan Investasi Bermasalah MCI Tuban Masuk Penyelidikan, Y Disebut Belum Memenuhi Panggilan