Jakarta | Presiden Prabowo Subianto menyoroti bahwa mata uang dan beras kini dapat menjadi senjata yang digunakan negara dalam persaingan global. Pernyataan tersebut menggambarkan pandangannya bahwa dinamika geopolitik telah berubah, sehingga unsur yang berkaitan dengan ekonomi dan kebutuhan pangan dapat memiliki arti strategis. Ia menyampaikan pandangan itu dalam pidato di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Pokok pesannya menempatkan mata uang dan beras bukan semata sebagai bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari, melainkan juga sebagai hal yang dapat berpengaruh dalam hubungan antarnegara. Dengan demikian, pernyataan Presiden mengajak perhatian tertuju pada cara negara memandang aset dan kebutuhan penting di tengah persaingan geopolitik.
Dalam uraian tersebut, mata uang disebut sebagai salah satu instrumen yang berpotensi digunakan sebagai senjata. Beras juga disampaikan dalam kerangka yang sama, yakni sebagai komoditas yang dapat memiliki peran strategis. Kedua hal itu berbeda sifat: mata uang berkaitan dengan nilai dan transaksi, sedangkan beras merupakan bahan pangan pokok. Namun, Presiden mengangkat keduanya untuk menunjukkan bahwa persaingan antarnegara dapat menyentuh bidang yang dekat dengan kehidupan ekonomi maupun pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pernyataan itu tidak merinci bentuk penggunaan atau contoh tindakan tertentu. Karena itu, inti yang dapat dicatat adalah penilaian bahwa mata uang dan beras dapat menjadi alat dalam persaingan, bukan penjelasan mengenai langkah spesifik yang telah dilakukan negara tertentu.
Pandangan tersebut disampaikan ketika Presiden berbicara mengenai perubahan dinamika geopolitik global. Penyebutan perubahan ini menjadi kerangka bagi pernyataannya tentang mata uang dan beras, tanpa disertai uraian lebih lanjut mengenai penyebab perubahan ataupun konteks tambahan. Dengan menyampaikan hal itu di Istana Negara, Prabowo menekankan pentingnya memahami bahwa isu geopolitik tidak hanya berkaitan dengan hubungan politik antarnegara, tetapi juga dapat mencakup instrumen ekonomi dan pangan. Pernyataan tersebut sekaligus memberi perhatian pada posisi beras sebagai kebutuhan penting serta mata uang sebagai unsur dalam kegiatan ekonomi. Keduanya, menurut pandangan yang disampaikan Presiden, dapat memperoleh fungsi strategis dalam dinamika persaingan global yang terus berubah.
Prabowo menekankan bahwa politik, ekonomi, kehidupan sosial, dan pertahanan tidak berdiri sendiri. Keempat bidang tersebut saling berkaitan dan dapat memengaruhi satu sama lain. Karena itu, persoalan ekonomi tidak cukup dipandang hanya sebagai urusan transaksi atau kegiatan usaha, sebagaimana pertahanan tidak dapat dibatasi pada pembahasan keamanan semata. Perubahan dalam satu bidang dapat membawa dampak pada bidang lainnya, sehingga hubungan di semuanya perlu diperhatikan dalam memahami persaingan geopolitik global.
Dalam pandangan tersebut, mata uang memiliki arti yang melampaui fungsi sehari-harinya sebagai alat pembayaran. Pergerakan atau pemanfaatannya dapat berkaitan dengan kepentingan politik dan ekonomi suatu negara. Demikian pula, kegiatan ekspor dan impor tidak hanya menyangkut arus barang, tetapi juga dapat menjadi bagian dari persaingan antarnegara. Prabowo menyebut bahwa mata uang serta aktivitas perdagangan dapat digunakan sebagai senjata. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana instrumen ekonomi dapat berperan dalam hubungan kekuatan, bukan semata-mata dalam kegiatan pasar.
Pangan juga termasuk dalam hal-hal yang dapat memiliki dimensi strategis. Prabowo secara khusus menyebut beras sebagai contoh, seraya menyampaikan bahwa pangan dapat digunakan sebagai senjata. Dengan demikian, ketersediaan dan perdagangan pangan berkaitan dengan kepentingan yang lebih luas daripada urusan konsumsi. Penyebutan beras menegaskan bahwa komoditas yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat turut masuk dalam pertimbangan geopolitik. Inti pandangannya ialah bahwa ekonomi, perdagangan, dan pangan terhubung dengan politik, sosial, serta pertahanan. Mata uang, ekspor-impor, dan beras menunjukkan bentuk keterkaitan tersebut, tanpa memisahkan setiap urusan ke dalam ruang yang terpisah. Dalam persaingan global, hal-hal itu dapat menjadi bagian dari cara negara menjalankan kepentingannya. Karena itu, pemahaman terhadap isu ekonomi dan pangan perlu ditempatkan bersama konteks politik dan pertahanan, sebagaimana ditekankan Prabowo, dengan tetap melihatnya sebagai bidang-bidang yang saling memengaruhi dalam hubungan antarnegara.
Dalam pandangan Prabowo, dinamika politik global saat ini tidak hanya ditentukan oleh aturan, kesepakatan, atau kepentingan bersama, tetapi juga oleh kekuatan yang dimiliki masing-masing pihak. Ia menggambarkan hubungan antarnegara sebagai persaingan yang keras, ketika kemampuan untuk menjaga kepentingan dan mempertahankan posisi menjadi faktor penting. Penilaian tersebut mencerminkan cara pandang realistis terhadap geopolitik: pihak yang memiliki daya tawar dan kapasitas lebih besar cenderung mempunyai ruang gerak yang lebih luas.
Prabowo juga menekankan bahwa kekuatan berhubungan langsung dengan peluang untuk bertahan. Dalam situasi persaingan, pihak yang kuat dinilai lebih mampu menghadapi tekanan, melindungi kepentingannya, dan tetap berpengaruh. Sebaliknya, pihak yang lemah menghadapi risiko lebih besar ketika berhadapan dengan persaingan yang tidak seimbang. Ia menyampaikan secara tegas bahwa pihak yang lemah berisiko punah. Ungkapan itu digunakan untuk menyoroti konsekuensi serius dari ketidakmampuan mempertahankan diri dalam tatanan politik yang kompetitif, bukan sekadar menggambarkan perbedaan pengaruh.
Sebagai gambaran, Prabowo merujuk pada Timur Tengah. Penyebutan kawasan tersebut menjadi contoh yang ia gunakan untuk menerangkan betapa rentannya pihak yang lemah di tengah persaingan kekuatan. Namun, rujukan itu tidak disertai rincian mengenai peristiwa atau negara tertentu, sehingga tidak tepat menarik kesimpulan lebih jauh tentang kasus spesifik. Inti pernyataannya terletak pada pandangan umum bahwa kelemahan dapat membawa risiko besar ketika kepentingan berhadapan dan tidak semua pihak mempunyai kemampuan yang setara.
Kerangka tersebut menempatkan kekuatan sebagai salah satu unsur mendasar dalam membaca politik dunia. Bagi Prabowo, memahami hubungan antarnegara berarti juga memperhitungkan kapasitas untuk bertahan dan mempertahankan kepentingan, bukan hanya berpegang pada harapan bahwa aturan akan selalu melindungi semua pihak secara sama. Pandangan ini menjadi latar bagi pembahasannya mengenai pentingnya ketahanan nasional. Dalam kompetisi geopolitik, negara perlu memperhatikan faktor-faktor yang menopang daya tahan, termasuk kemampuan mengelola kebutuhan strategisnya. Karena itu, penilaian Prabowo mengenai politik global menekankan bahwa kekuatan dan kesiapan menentukan seberapa jauh suatu pihak dapat menghadapi tekanan serta menjaga keberlangsungannya.
Prabowo menegaskan bahwa politik yang perlu diyakini adalah politik persatuan nasional. Penekanan ini menjadi landasan dalam membaca berbagai gagasan yang disampaikannya, termasuk ketika membahas persaingan geopolitik global dan persoalan mata uang serta pangan. Dalam pandangannya, politik tidak semestinya dipahami semata-mata sebagai persaingan antarkelompok, tetapi juga sebagai upaya menjaga kebersamaan bangsa. Karena itu, persatuan nasional ditempatkan sebagai prinsip yang penting untuk dipegang ketika menghadapi beragam tantangan.
Untuk menjelaskan gagasan tersebut, Prabowo merujuk kepada Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Ia menyebut adanya gagasan-gagasan yang dahulu pernah dicemooh, tetapi memiliki benang merah berupa keyakinan dan upaya menjaga persatuan nasional. Rujukan ini disampaikan sebagai pengingat bahwa gagasan mengenai kebersamaan dapat tetap menjadi pegangan, meskipun pada masanya tidak selalu diterima atau dipahami dengan baik. Dalam uraian Prabowo, keterkaitan itu terletak pada komitmen untuk mempertahankan persatuan, bukan pada penambahan klaim lain mengenai keadaan saat ini.
Dengan demikian, penegasan Prabowo berpusat pada pentingnya meyakini politik persatuan nasional. Rujukannya kepada Soekarno memperjelas maksud tersebut melalui contoh gagasan yang pernah dicemooh, tetapi tetap memiliki hubungan dengan keyakinan serta ikhtiar menjaga kesatuan. Penekanan ini membingkai persatuan sebagai prinsip yang perlu dijaga dalam kehidupan politik. Prabowo tidak sekadar mengangkat contoh masa lalu, melainkan mengaitkannya dengan pesan bahwa upaya memelihara persatuan merupakan benang merah yang dapat dikenali dalam gagasan-gagasan tersebut.
Baca juga: Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo





