Kabupaten Deli Serdang | Tim SAR gabungan menemukan dua remaja perempuan yang terseret arus Sungai Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Sabtu, 24 Oktober 2026, dalam keadaan meninggal dunia. Penemuan tersebut terjadi pada hari ketiga pencarian. Kedua korban ditemukan di lokasi yang berbeda dan pada waktu yang berlainan, sebelum jenazah mereka dievakuasi serta diserahkan kepada keluarga masing-masing.
Korban pertama, AF (17), ditemukan sekitar pukul 03.30 WIB di aliran sungai. Lokasi penemuan berada sekitar satu kilometer dari titik awal kejadian. Setelah ditemukan, korban dievakuasi oleh tim SAR gabungan. Informasi mengenai lokasi dan waktu penemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian hasil operasi pencarian yang berlangsung hingga hari ketiga, ketika petugas akhirnya menemukan kedua remaja yang sebelumnya terseret arus.
Korban kedua, FE (15), ditemukan pada pukul 05.55 WIB dalam kondisi mengapung di tepi sungai. Titik penemuan berada sekitar tujuh kilometer ke arah utara timur laut dari lokasi awal kejadian. Jarak tersebut menunjukkan bahwa FE ditemukan cukup jauh dari titik ketika peristiwa bermula. Tim kemudian mengevakuasi jenazah korban dari tepi sungai untuk proses selanjutnya.
Usai dievakuasi, jenazah AF dan FE diserahkan kepada keluarga masing-masing. Dengan ditemukannya kedua korban, pencarian pada hari ketiga berakhir. Peristiwa ini menutup operasi SAR dengan kabar duka bagi keluarga dan warga sekitar. Kedua remaja tersebut ditemukan setelah terseret arus Sungai Tadukan Raga, sementara keterangan mengenai waktu dan lokasi penemuan masing-masing menjadi catatan penting dalam laporan operasi. Tim SAR gabungan memastikan evakuasi dan penyerahan jenazah dilakukan setelah proses penemuan, sehingga keluarga dapat menerima kedua korban.
Peristiwa yang kemudian berujung pada pencarian terhadap AF dan FE bermula pada Kamis, 22 Oktober 2026, sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, kedua remaja tersebut sedang mandi di sungai bersama empat orang rekan mereka. Kegiatan itu berlangsung di kawasan Tadukan Raga. Suasana berubah ketika AF dan FE mencoba menyeberangi sungai bersama seorang teman. Mereka bertiga berada di aliran yang sama, sementara kondisi arus sungai mendadak menjadi deras. Perubahan arus tersebut membuat upaya menyeberang berlangsung dalam situasi yang berbahaya. Dalam waktu singkat, AF dan FE terseret arus, sedangkan teman yang bersama mereka berhasil mencapai tepian sungai dengan selamat.
Setelah menyadari AF dan FE terbawa arus, warga di sekitar lokasi berupaya mencari keduanya secara mandiri. Pencarian dilakukan pada malam kejadian, tidak lama setelah insiden berlangsung. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Kedua remaja itu tidak ditemukan, sehingga warga kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Kantor SAR Medan. Laporan itu menjadi dasar bagi tim penyelamat untuk menerima informasi mengenai dua orang yang diduga hilang setelah terseret arus sungai. Situasi pada malam itu menyisakan ketidakpastian bagi keluarga dan warga, karena keberadaan AF dan FE belum diketahui meskipun pencarian awal telah dilakukan di sekitar lokasi kejadian.
Keterangan mengenai kronologi awal ini menjelaskan bagaimana insiden terjadi sebelum operasi pencarian dilanjutkan. AF dan FE semula berada di sungai bersama empat rekan, lalu terseret ketika mencoba menyeberang bersama seorang teman di tengah arus yang mendadak deras. Sementara itu, teman mereka berhasil mencapai tepian. Warga telah melakukan pencarian pada malam kejadian, tetapi belum menemukan keduanya, sehingga insiden tersebut diteruskan kepada Kantor SAR Medan. Urutan peristiwa tersebut menjadi informasi penting dalam memahami awal upaya pencarian. Fokus berikutnya adalah menemukan AF dan FE, setelah laporan diterima dan usaha warga di sekitar sungai belum memberikan hasil. Peristiwa ini menjadi awal dari pencarian yang berlangsung selama beberapa hari.
Sejak laporan mengenai dua remaja yang hilang di Sungai Tadukan Raga diterima, tim SAR gabungan langsung melakukan pencarian secara terkoordinasi. Upaya tersebut mencakup penyisiran melalui jalur perairan dan pemeriksaan area daratan di sepanjang bantaran sungai. Pembagian tugas antarpersonel dilakukan untuk memperluas jangkauan pencarian sekaligus memastikan setiap bagian lokasi dapat diperiksa. Kondisi aliran sungai dan kawasan sekitarnya menjadi pertimbangan dalam menentukan cara serta arah penyisiran.
Di perairan, petugas menggunakan perahu karet untuk menyusuri aliran dan memeriksa titik-titik yang dinilai perlu ditelusuri. Sementara itu, personel lainnya bergerak di tepian sungai untuk mencari petunjuk dan memastikan area bantaran tidak terlewat. Operasi didukung peralatan SAR yang digunakan sesuai kebutuhan di lapangan. Koordinasi tim di air dan di darat menjadi bagian penting agar informasi dari satu kelompok dapat segera diteruskan kepada kelompok lainnya.
Pencarian berlangsung hingga hari ketiga. Titik terang muncul pada Sabtu dini hari setelah seorang penambang pasir setempat menyampaikan informasi bahwa ia melihat jasad di sekitar aliran sungai. Keterangan tersebut segera ditindaklanjuti oleh tim SAR gabungan dengan memeriksa lokasi yang dimaksud. Petunjuk dari warga yang mengenal kawasan itu membantu mengarahkan operasi ke area yang perlu dipastikan lebih lanjut. Tim kemudian melakukan proses evakuasi terhadap kedua korban.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, menyampaikan bahwa pencarian dilakukan dengan berbagai metode sejak laporan diterima hingga kedua korban ditemukan. Pernyataan itu menggambarkan rangkaian upaya yang ditempuh tim, mulai dari penyisiran sungai menggunakan perahu karet hingga pemeriksaan daratan di sepanjang bantaran. Setelah informasi penambang pasir diperoleh, petugas bergerak menindaklanjutinya. Kedua korban akhirnya berhasil dievakuasi pada hari ketiga operasi. Koordinasi tim serta dukungan masyarakat setempat turut membantu proses pencarian di kawasan sungai tersebut.
Peristiwa ditemukannya dua remaja di Sungai Tadukan Raga setelah pencarian selama tiga hari menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan saat beraktivitas di sekitar sungai. Bantaran sungai dapat tampak aman pada satu waktu, tetapi keadaan di sekitarnya perlu diperhatikan dengan cermat. Kondisi arus dan kedalaman air bisa berbeda-beda, sehingga warga sebaiknya tidak menganggap suatu lokasi aman hanya berdasarkan pengamatan sekilas atau pengalaman sebelumnya.
Pengawasan terhadap anak-anak juga perlu menjadi perhatian bersama, terutama ketika mereka berada di dekat bantaran sungai. Orang tua dan anggota keluarga diharapkan mengetahui keberadaan anak serta memastikan mereka tidak beraktivitas tanpa pendampingan di area yang berisiko. Anak-anak perlu diberi pemahaman mengenai bahaya bermain atau mendekati aliran sungai, termasuk pentingnya menjauhi tepi yang licin dan tidak masuk ke air tanpa pengawasan orang dewasa. Langkah pencegahan seperti ini dapat membantu mengurangi paparan terhadap bahaya, sekaligus membangun kebiasaan yang lebih aman saat berada di lingkungan sungai.
Warga yang hendak menyeberangi sungai juga diminta menilai keadaan terlebih dahulu. Perhatikan deras atau tidaknya arus, kedalaman air, serta perubahan kondisi yang dapat membuat lintasan berbahaya. Jika situasinya tidak aman atau menimbulkan keraguan, jangan memaksakan diri untuk menyeberang. Menunda perjalanan dan memilih langkah yang lebih aman lebih baik daripada mengambil risiko di tengah arus. Kehati-hatian perlu diterapkan oleh setiap orang, baik yang tinggal di sekitar sungai maupun yang melintas atau beraktivitas di kawasan tersebut.
Hery Marantika mengimbau masyarakat agar lebih terhadap keselamatan di sekitar sungai. Secara khusus, orang tua diminta mengawasi anak-anak dengan lebih ketat ketika mereka beraktivitas di bantaran. Ia juga mengingatkan warga untuk memperhatikan kondisi arus dan kedalaman sungai sebelum mengambil tindakan, serta tidak memaksakan diri menyeberang apabila keadaan tidak aman.
Baca juga: TNI Kerahkan Alutsista dan Pasukan Khusus TNI AL Intensifkan Pencarian Korban KM Virgo Transport 8 | TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda






