Jakarta | Harga referensi (HR) dan harga patokan ekspor (HPE) biji kakao untuk November 2026 sama-sama mengalami penurunan. Perubahan tersebut mencerminkan melemahnya acuan harga yang digunakan dalam perdagangan ekspor Indonesia, bukan gambaran bahwa panen kakao di dalam negeri sedang meningkat. Kementerian Perdagangan mengaitkan penurunan kedua indikator itu dengan bertambahnya persediaan biji kakao di pasar global setelah musim panen di negara-negara produsen utama Afrika Barat. Kenaikan ketersediaan pasokan di kawasan tersebut memberi tekanan pada harga komoditas dan menjadi salah satu pertimbangan dalam penetapan acuan perdagangan Indonesia untuk periode November.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, menyampaikan penjelasan mengenai perkembangan itu dalam keterangan di Jakarta pada Sabtu. Menurut keterangan Kemendag, pasokan yang bertambah setelah panen di Afrika Barat menjadi latar utama pelemahan HR dan HPE biji kakao. Negara-negara di kawasan tersebut merupakan pemasok penting bagi pasar dunia, sehingga perubahan jumlah hasil panen dan stoknya dapat memengaruhi pergerakan harga internasional. Ketika persediaan bertambah, tekanan terhadap harga cenderung meningkat, lalu perkembangan pasar tersebut menjadi bahan pertimbangan pemerintah saat menetapkan nilai acuan ekspor.
HR dan HPE merupakan acuan yang ditetapkan pemerintah Indonesia untuk perdagangan komoditas, termasuk sebagai dasar dalam pengaturan ekspor. Karena itu, penurunan untuk November perlu dipahami sebagai penyesuaian terhadap kondisi pasar yang berkembang, terutama perubahan pasokan global, bukan sebagai laporan mengenai produksi atau stok kakao Indonesia. Pergerakan harga di negara produsen dapat memengaruhi nilai acuan yang berlaku bagi pelaku usaha di dalam negeri, meskipun sumber perubahan pasokan kali ini berada di Afrika Barat. Dengan bertambahnya stok setelah panen di kawasan tersebut, pemerintah menyesuaikan acuan perdagangan kakao untuk mencerminkan tekanan harga yang terjadi di pasar internasional pada periode November 2026.
Penetapan untuk November 2026 menunjukkan bahwa harga referensi (HR) biji kakao dan harga patokan ekspor (HPE) sama-sama mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. HR ditetapkan sebesar 5.613,60 dolar AS per metrik ton. Nilai tersebut berkurang 444,27 dolar AS per metrik ton, atau turun 7,33 persen. Perubahan ini menjadi acuan penting bagi pelaku usaha yang merencanakan transaksi dan kegiatan ekspor kakao pada bulan tersebut, sekaligus menggambarkan penyesuaian harga referensi terhadap perkembangan pasar terkini.
Sejalan dengan penurunan HR, HPE biji kakao untuk November ditetapkan sebesar 5.242 dolar AS per metrik ton. Dibandingkan penetapan sebelumnya, angka HPE berkurang 444 dolar AS per metrik ton, setara dengan penurunan 7,81 persen. Persentase penurunan HPE yang lebih besar daripada HR memperlihatkan bahwa kedua indikator tersebut bergerak turun, tetapi tidak dengan besaran relatif yang sama. Bagi eksportir, perubahan HPE perlu diperhatikan dalam penyusunan perhitungan nilai ekspor dan penyesuaian rencana perdagangan.
Menurut Tommy, penghitungan HR dan HPE tidak hanya merujuk pada satu faktor harga. Penetapan tersebut mempertimbangkan kondisi pasar, perkembangan biaya logistik internasional, serta dinamika perdagangan dunia. Ketiga unsur itu dapat memengaruhi nilai komoditas dan biaya yang terkait dengan pengiriman produk ke pasar tujuan. Karena itu, angka November mencerminkan pertimbangan terhadap situasi yang lebih luas, bukan sekadar perubahan harga dalam satu transaksi. Pelaku usaha dapat menggunakan informasi penetapan ini sebagai salah satu dasar untuk mengevaluasi kontrak, memperkirakan penerimaan, dan menyusun strategi ekspor. Namun, HR dan HPE tetap merupakan acuan resmi untuk periode yang ditentukan; perkembangan harga maupun biaya setelah penetapan dapat berubah mengikuti kondisi pasar. Dengan membandingkan angka terbaru dengan periode sebelumnya, eksportir dan pihak terkait dapat memahami arah perubahan serta menilai dampaknya secara lebih terukur terhadap kegiatan perdagangan biji kakao.
Di tengah perubahan acuan ekspor pada November 2026, sejumlah produk kayu dan hasil hutan lainnya justru mencatat kenaikan Harga Patokan Ekspor (HPE). Kenaikan ini berlaku pada beberapa kelompok produk berbahan kayu, termasuk kayu veneer yang berasal dari hutan alam, kayu lapis yang digunakan untuk kotak kemasan, serta kayu olahan dengan ukuran penampang tertentu. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penyesuaian HPE tidak berlangsung seragam pada seluruh komoditas. Setiap jenis produk memiliki acuan yang ditetapkan berdasarkan kelompok bahan dan spesifikasi yang berlaku, sehingga ada komoditas yang meningkat sementara produk lain tetap pada tingkat sebelumnya.
Untuk kayu olahan berpenampang 1.000–4.000 mm², HPE meningkat pada produk dari jenis meranti. Kenaikan juga terjadi pada sortimen lain yang berasal dari hutan tanaman akasia dan sengon. Selain berbagai produk kayu tersebut, getah pinus turut mengalami penyesuaian naik. Pada November 2026, HPE getah pinus ditetapkan sebesar 1.023 dolar AS per metrik ton. Nilai itu bertambah 3 dolar AS per metrik ton dibandingkan HPE pada Oktober 2026, atau meningkat 0,29 persen. Perubahan ini terbilang terbatas secara persentase, tetapi tetap menjadi bagian dari perkembangan acuan ekspor hasil hutan pada periode tersebut.
Di sisi lain, beberapa komoditas kayu tidak mengalami perubahan HPE. Nilai acuan keping kayu tetap sama dengan bulan sebelumnya. Ketentuan yang tidak berubah juga berlaku untuk kayu olahan berpenampang 1.000–4.000 mm² dari jenis sungkai. Begitu pula kayu olahan khusus dari jenis merbau dengan ukuran penampang 4.000–10.000 mm², yang HPE-nya tidak berubah pada November 2026. Perbedaan arah penyesuaian ini menegaskan bahwa daftar HPE mencakup kenaikan dan nilai yang bertahan, bergantung pada komoditas serta spesifikasi masing-masing. Bagi pelaku usaha, rincian jenis kayu, asal bahan, dan ukuran penampang menjadi penting saat membaca perubahan acuan ekspor dan menilai dampaknya terhadap perencanaan penjualan lintas pasar. HPE merupakan patokan yang perlu diperhatikan bersama informasi harga dan ketentuan perdagangan lain yang relevan pada saat transaksi dilakukan.
Selain komoditas yang menjadi perhatian utama dalam penetapan acuan ekspor, sejumlah produk kayu juga tercatat mengalami penurunan Harga Patokan Ekspor (HPE) pada periode yang sama. Kelompok tersebut mencakup kayu veneer yang berasal dari hutan tanaman, serta kayu kering atau kayu dalam bentuk pecahan. Perubahan untuk produk-produk ini menunjukkan arah penurunan, tetapi angka rinci mengenai besaran perubahan tidak tersedia dalam informasi yang dirujuk. Karena itu, uraian ini terbatas pada kecenderungan yang disebutkan dan tidak membandingkan nilai HPE antarproduk. Keterangan tersebut memberi gambaran bahwa penyesuaian pada periode November 2026 tidak hanya terjadi pada satu jenis hasil hutan, melainkan juga mencakup beberapa kategori produk kayu.
Penurunan juga berlaku bagi kayu olahan berpenampang 1.000–4.000 mm² yang berasal dari jenis merbau. Dalam kelompok sortimen lainnya, produk dari jenis eboni dan jati turut disebut mengalami perubahan dengan arah yang sama. Rincian itu membedakan produk berdasarkan bentuk atau ukuran penampang, sekaligus berdasarkan jenis kayunya. Namun, tanpa data angka untuk masing-masing kategori, tidak dapat ditentukan jenis mana yang mencatat penurunan terbesar atau seberapa lebar selisihnya. Informasi yang tersedia hanya menyatakan bahwa HPE kelompok-kelompok tersebut turun pada periode yang dibahas. Dengan demikian, pembaca dapat mencatat arah penyesuaian tanpa menarik kesimpulan tentang tingkat penurunan relatif, nilai akhir, ataupun faktor khusus yang memengaruhi tiap jenis kayu.
Sejumlah hasil hutan tanaman lainnya juga masuk dalam daftar produk yang HPE-nya menurun. Jenis kayu yang disebut meliputi pinus, gmelina, karet, balsa, dan eukaliptus.






