Jakarta | Menjelang Jakarta Running Festival (JRF) 2026, puluhan ribu pelari diimbau mematangkan persiapan sebelum mengikuti perlombaan. Kesiapan fisik dan teknis penting agar peserta dapat menuntaskan lomba dengan aman dan nyaman, sekaligus mengurangi risiko cedera. Persiapan bukan hanya soal berlatih lebih keras menjelang hari perlombaan. Pelari juga perlu memahami kebutuhan tubuh, merencanakan langkah yang realistis, dan menyiapkan diri menghadapi pengalaman berlari di lintasan bersama banyak peserta. Dengan perhatian pada hal-hal tersebut, pelari dapat memasuki lomba dengan lebih percaya diri dan membuat keputusan yang lebih terukur selama mengikuti kegiatan.
Panduan untuk menghadapi berbagai fase lomba disampaikan oleh Donny Tjahyadikarta, race director JRF 2026 sekaligus pegiat lari. Pengalamannya dalam penyelenggaraan acara dan kegiatan lari menjadi dasar untuk mengingatkan peserta agar tidak memusatkan perhatian hanya pada momen start. Ada rangkaian persiapan sebelum lomba, sikap yang perlu dijaga ketika berada di lintasan, serta langkah setelah mencapai garis finis. Memahami ketiga fase itu membantu pelari melihat perlombaan sebagai sebuah proses, bukan sekadar upaya mengejar hasil. Setiap fase memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga perhatian dan keputusan yang tepat dapat mendukung pengalaman berlari yang lebih baik.
Bagi peserta, persiapan matang berarti memberi perhatian pada keselamatan dan kenyamanan sepanjang pengalaman lomba. Kondisi tubuh perlu menjadi pertimbangan, sementara kesiapan teknis membantu pelari menghadapi jalannya perlombaan dengan lebih tenang. Saat berada di lintasan, peserta perlu tetap peka terhadap keadaan diri dan tidak mengabaikan sinyal tubuh. Setelah finis pun, perhatian terhadap pemulihan tetap penting sebagai bagian dari keseluruhan pengalaman. Melalui panduan Donny, pelari dapat meninjau apa yang perlu dipersiapkan sebelum lomba, bagaimana menjaga diri saat berlari, dan mengapa fase setelah finis juga patut diperhatikan. Pendekatan menyeluruh ini diharapkan membantu peserta mengikuti JRF 2026 dengan aman, nyaman, serta lebih siap menuntaskan tantangan sesuai kemampuan masing-masing.
Menjelang JRF 2026, Donny Tjahyadikarta mengingatkan peserta agar tidak menjadikan hari perlombaan sebagai kesempatan pertama untuk mencoba perlengkapan baru. Sepatu, kaus kaki, pakaian, hingga energy gel sebaiknya sudah pernah digunakan dan diuji saat latihan. Perlengkapan yang tampak nyaman ketika baru dibeli belum tentu cocok dipakai berlari dalam jarak jauh atau dalam kondisi lomba. Gesekan, tekanan, atau bahan yang terasa berbeda dapat mengganggu langkah dan konsentrasi ketika pelari seharusnya berfokus pada ritme serta kondisi tubuh.
Perubahan mendadak juga berpotensi memicu ketidaknyamanan fisik. Sepatu baru, misalnya, dapat menimbulkan lecet karena belum menyesuaikan diri dengan bentuk kaki, sementara produk asupan yang belum pernah dicoba mungkin tidak cocok bagi pencernaan. Karena itu, peserta disarankan menggunakan perlengkapan yang sudah terbiasa dipakai selama latihan dan mengetahui cara kerjanya. Jika ingin mengganti atau menguji sesuatu, lakukan jauh sebelum lomba dan saat sesi latihan, bukan ketika nomor dada sudah terpasang. Kebiasaan ini membantu mengurangi hal tak terduga dan membuat pelari lebih yakin pada persiapannya.
Selain perlengkapan, Donny menekankan pentingnya tidur cukup, terutama setidaknya dalam dua hari sebelum lomba. Tidur pada malam terakhir kadang terganggu oleh rasa antusias atau gugup, sehingga peserta sebaiknya tidak hanya mengandalkan istirahat pada malam menjelang start. Menyiapkan seluruh race kit sejak malam sebelumnya dapat membantu pagi hari berjalan lebih tenang. Pelari bisa memeriksa sepatu, pakaian, nomor peserta, perlengkapan pendukung, serta kebutuhan pribadi, lalu menaruhnya di tempat yang mudah dijangkau. Dengan begitu, tidak perlu terburu-buru mencari barang atau mengambil keputusan mendadak sebelum berangkat. Donny menyampaikan panduan ini dalam sesi talk show pada opening ceremony JRF 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026. Peserta dapat menjadikan langkah sederhana tersebut sebagai bagian dari rencana lomba, agar energi dan perhatian tetap tertuju pada lari.
Donny Tjahyadikarta mengingatkan pelari agar tidak terburu-buru mengejar kecepatan tinggi sejak awal rute demi memenuhi target waktu. Semangat pada permulaan lomba dapat membuat seseorang berlari lebih cepat daripada kemampuan yang nyaman dipertahankan, tetapi langkah seperti itu belum tentu mendukung perjalanan secara keseluruhan. Karena itu, pendekatan yang lebih terukur adalah memulai dengan pace yang terasa nyaman dan stabil, bukan langsung memaksakan diri untuk bergerak secepat mungkin.
Pace nyaman memberi kesempatan bagi pelari untuk menemukan ritme yang dapat dijaga tanpa tekanan berlebihan. Pada bagian awal, pelari dapat memperhatikan respons tubuh dan memastikan bahwa kecepatannya masih terasa terkendali. Tujuannya bukan menahan diri tanpa alasan, melainkan menghindari keputusan tergesa-gesa yang hanya didorong oleh keinginan mengejar waktu sejak awal. Menjaga kestabilan langkah juga membantu pelari tetap berpegang pada pendekatan yang sudah dipilih, alih-alih terus mengubah kecepatan karena melihat dorongan sesaat.
Donny menyarankan agar pelari mempertahankan pendekatan tersebut hingga separuh perjalanan. Dengan demikian, keputusan untuk menambah kecepatan tidak perlu dibuat terlalu dini. Pelari dapat memberi perhatian pada kondisi tubuh seiring perjalanan berlangsung, sambil menjaga pace tetap nyaman dan stabil. Setiap orang perlu merasakan sendiri bagaimana tubuh merespons usaha yang dilakukan; tidak ada angka kecepatan tertentu yang perlu dipaksakan berdasarkan panduan ini. Fokus utamanya adalah menjalani bagian awal dan pertengahan rute dengan kendali serta kesabaran.
Setelah mencapai separuh perjalanan, pelari dapat menilai kembali kondisinya. Jika tubuh terasa baik, pace bisa dinaikkan secara bertahap, bukan dengan perubahan mendadak yang memaksa. Sebaliknya, apabila kondisi belum mendukung, pelari tidak perlu memaksakan peningkatan hanya demi mengejar target waktu. Menyesuaikan langkah dengan keadaan tubuh merupakan bagian penting dari pendekatan ini. Dengan memulai secara nyaman, menjaga kestabilan hingga separuh rute, lalu meningkatkan kecepatan hanya bila memungkinkan, pelari dapat membuat keputusan yang lebih terkendali sepanjang lomba.
Perawatan setelah melewati garis finis tetap menjadi bagian penting dari rangkaian perlombaan. Bagi pelari yang mengikuti JRF 2026, menyelesaikan jarak yang telah ditempuh bukan berarti tubuh harus langsung berhenti bergerak. Setelah berlari, tubuh masih memerlukan peralihan yang bertahap dari aktivitas intens menuju keadaan istirahat. Donny Tjahyadikarta menyarankan agar pelari memberi perhatian pada tahap ini, sama seperti saat mempersiapkan diri sebelum perlombaan dan mengatur tenaga selama berlari. Pendinginan membantu pelari mengakhiri kegiatan dengan lebih terarah, sekaligus menjadi awal dari proses pemulihan setelah usaha fisik yang telah dilakukan.
Alih-alih langsung berhenti begitu mencapai finis, pelari dapat berjalan sejenak untuk menurunkan intensitas gerak secara bertahap. Setelah itu, lakukan stretching sebagai bagian dari pendinginan. Peregangan memberi kesempatan bagi tubuh untuk beralih dari gerakan berlari ke kondisi yang lebih santai. Selanjutnya, isi kembali cairan tubuh yang berkurang selama berlari. Langkah-langkah tersebut merupakan urutan sederhana yang dapat diterapkan setelah lomba, tanpa terburu-buru meninggalkan area finis atau segera melanjutkan aktivitas berat. Dengan memberi perhatian pada kebutuhan tubuh setelah berlari, pelari dapat menutup pengalaman lomba secara lebih baik dan menjaga fokus pada pemulihan.
Setelah mengisi kembali cairan, pelari disarankan mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan protein. Kedua jenis zat gizi ini menjadi bagian dari asupan setelah perlombaan yang dianjurkan Donny. Berikutnya, istirahatkan tubuh dari latihan berat selama beberapa hari sebelum kembali berlatih. Jeda tersebut memberi ruang bagi tubuh untuk pulih setelah menyelesaikan lomba, bukan tanda bahwa persiapan latihan harus ditinggalkan. Saat kembali berlatih, pelari dapat melanjutkan rutinitasnya setelah masa istirahat tersebut.
Baca juga: TNI Run 2026 Meriahkan Rangkaian HUT Ke-81 TNI, 15.965 Pelari Padati Monas | Rudal Mistral dan Stinger Siap Hadapi Target Udara di SGS 2026 | Jangan sampai perubahan RTRW justru sekadar mengikuti perkembangan pembangunan yang sudah terlanjur terjadi






