Kota Malang | Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menilai perguruan tinggi perlu menerapkan tata kelola pendidikan yang lebih adaptif. Penyesuaian ini penting agar kampus tetap mampu menjalankan perannya sebagai arsitektur pembangunan, bukan sekadar lembaga yang menyelenggarakan kegiatan akademik. Perubahan sosial, kemajuan ilmu pengetahuan, dan perkembangan teknologi terus memengaruhi kebutuhan masyarakat serta dunia kerja. Karena itu, kebijakan dan praktik pendidikan tinggi perlu ditinjau secara berkala, dengan mempertimbangkan perubahan tersebut tanpa mengabaikan mutu, integritas, dan tujuan pendidikan.
Pandangan itu disampaikan Fauzan di Universitas Negeri Malang, Kota Malang, pada Minggu. Ia menekankan bahwa sistem pembelajaran kampus harus relevan dengan perkembangan zaman. Relevansi tidak hanya berkaitan dengan pembaruan materi kuliah, tetapi juga cara mahasiswa belajar, memperoleh pengalaman, dan menerapkan pengetahuan. Perguruan tinggi dapat mendorong pembelajaran yang lebih terbuka terhadap perkembangan bidang ilmu, kebutuhan profesi, serta persoalan nyata di lingkungan sekitar. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki bekal yang sesuai untuk menghadapi perubahan, sekaligus mampu berpikir kritis dan terus mengembangkan kompetensinya.
Dalam kerangka pembangunan, perguruan tinggi juga berperan sebagai pusat inovasi. Kampus memiliki kapasitas untuk mempertemukan pendidikan, riset, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Peran ini dapat diperkuat melalui tata kelola yang mendukung kerja sama lintas disiplin, pertukaran gagasan, serta pemanfaatan hasil penelitian. Inovasi yang dihasilkan tidak semestinya berhenti di lingkungan akademik, melainkan perlu memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, pendidikan tinggi dapat berkontribusi pada penyelesaian berbagai tantangan, sekaligus memperluas akses terhadap pengetahuan dan solusi yang dibutuhkan.
Upaya membangun sumber daya manusia unggul membutuhkan sistem yang mampu merespons kondisi yang terus berubah. Tata kelola adaptif memberi ruang bagi kampus untuk menyelaraskan proses pendidikan dengan kebutuhan masa kini dan masa depan. Namun, adaptasi perlu dijalankan secara terarah, melalui evaluasi dan pertimbangan terhadap dampaknya bagi mahasiswa maupun masyarakat. Jika pembelajaran tetap relevan dan inovasi diarahkan pada kepentingan publik, perguruan tinggi dapat memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan. Lulusan pun diharapkan tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Menurut Fauzan, pembelajaran adaptif tidak seharusnya berhenti pada penyampaian teori di ruang kelas. Mahasiswa perlu berhadapan dengan isu nyata dan dinamika persoalan yang terus berkembang di masyarakat. Karena itu, kampus perlu merancang pengalaman belajar yang menghubungkan konsep akademik dengan keadaan di lapangan. Hubungan tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa masalah sosial tidak selalu sederhana atau dapat dijawab melalui satu sudut pandang. Mereka harus belajar mengamati perubahan, mengenali kebutuhan berbagai kelompok, serta menimbang dampak pilihan yang tersedia. Pembelajaran semacam ini menjadikan pengetahuan lebih bermakna karena mahasiswa melihat bagaimana gagasan dapat dipakai untuk membaca situasi dan menentukan langkah yang relevan bagi konteks setempat.
Tujuan pendekatan ini bukan semata-mata menyiapkan lulusan agar mampu memperoleh pekerjaan. Kampus juga perlu menumbuhkan kepekaan terhadap persoalan masyarakat dan dorongan untuk ikut menanganinya. Mahasiswa diajak mendengar pengalaman warga, menguji asumsi, bekerja bersama pihak terkait, lalu merumuskan solusi yang dapat diterapkan. Proses tersebut mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan menilai keberhasilan suatu tindakan berdasarkan kebutuhan nyata. Solusi konkret tidak harus selalu besar; perbaikan sederhana yang dirancang dengan memahami akar persoalan pun dapat memberi manfaat. Dengan demikian, lulusan membawa bekal profesional sekaligus tanggung jawab sosial. Mereka mampu memasuki dunia kerja, tetapi juga bersedia menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk menjawab tantangan di lingkungan sekitarnya secara berkelanjutan.
Untuk menjelaskan pentingnya pengalaman langsung, Fauzan mengibaratkan pembelajaran dengan belajar berenang. Seseorang tidak akan mampu berenang hanya dengan membaca teori tentang gerakan tangan, teknik bernapas, atau cara mengapung. Pengetahuan tersebut penting, tetapi perlu disertai latihan di air, bimbingan, dan kesempatan memperbaiki gerakan. Hal serupa berlaku di kampus: mahasiswa perlu memahami konsep, sekaligus berlatih menggunakannya untuk menghadapi situasi nyata. Melalui proyek, praktik lapangan, diskusi dengan masyarakat, atau kegiatan kolaboratif, mereka dapat mencoba pendekatan, menerima umpan balik, dan menyesuaikan solusi. Pengalaman semacam itu membangun kesiapan untuk bertindak, bukan sekadar mengetahui. Dengan mengajarkan cara melakukan, kampus membantu mahasiswa menjadi lulusan yang mampu bekerja sekaligus peka dan terdorong memberi kontribusi bagi masyarakat.
Dorongan Fauzan agar perguruan tinggi terus menjalin kerja sama dengan pemerintah dan perusahaan swasta menegaskan pentingnya keterhubungan kampus dan dunia kerja. Perguruan tinggi tidak hanya berperan menyelenggarakan pendidikan, tetapi juga perlu memperhatikan bagaimana lulusan dapat melangkah menuju pekerjaan setelah menyelesaikan studi. Hubungan yang berkelanjutan dengan berbagai pihak di luar kampus menjadi salah satu upaya untuk mendukung tujuan tersebut. Karena kebutuhan dan perubahan di masyarakat terus bergerak, komunikasi serta kolaborasi perlu dijaga secara konsisten. Dengan demikian, kampus dapat membuka ruang kerja bersama yang lebih dekat dengan kebutuhan lulusan dalam menghadapi tahap berikutnya setelah pendidikan tinggi.
Kerja sama dengan pemerintah dan perusahaan swasta, sebagaimana ditekankan Fauzan, dapat dijalankan melalui berbagai program. Arah dari kolaborasi tersebut adalah memudahkan lulusan memperoleh lapangan pekerjaan. Artinya, kemitraan bukan sekadar hubungan formal institusi, melainkan perlu diarahkan pada manfaat yang berkaitan dengan kesempatan kerja bagi mereka yang telah menuntaskan pendidikan. Berbagai program yang dibangun melalui kerja sama dapat menjadi jalur untuk menghubungkan perguruan tinggi dengan kebutuhan di luar lingkungan akademik. Dorongan ini menempatkan peluang kerja lulusan sebagai salah satu perhatian penting dalam upaya kampus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu merespons perubahan.
Untuk menjaga agar kolaborasi tetap relevan, perguruan tinggi perlu terus membuka dan merawat hubungan dengan pemerintah maupun sektor swasta. Kerja bersama melalui beragam program diharapkan dapat membantu lulusan menjangkau kesempatan kerja dengan lebih mudah. Penekanan Fauzan tersebut juga menunjukkan bahwa tanggung jawab menyiapkan lulusan tidak berhenti pada proses pembelajaran di kampus. Perhatian terhadap langkah lulusan setelah menyelesaikan studi perlu berjalan berdampingan dengan pendidikan yang diberikan. Dengan terus menjalin kerja sama, kampus dapat memperkuat perannya dalam mendukung peralihan lulusan menuju dunia kerja, sekaligus menjaga agar upaya tersebut selaras dengan tujuan menyediakan akses terhadap lapangan pekerjaan.
Rektor Universitas Negeri Malang, Hariyono, menjelaskan bahwa pendidikan di kampusnya berlandaskan pendekatan emansipatoris. Artinya, proses belajar tidak semata-mata diarahkan untuk menguasai keterampilan teknis dan pengetahuan akademis, tetapi juga untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam berinteraksi, bekerja sama, dan memahami orang lain. Keterampilan sosial tersebut penting karena lulusan akan memasuki lingkungan yang beragam, menghadapi persoalan yang tidak selalu dapat diselesaikan dengan bekal teori atau keahlian teknis saja. Dengan kemampuan berkomunikasi dan membangun hubungan, mahasiswa dapat lebih siap bekerja bersama pihak lain, menyampaikan gagasan, serta merespons situasi yang berubah.
Hariyono menekankan bahwa tantangan yang dihadapi mahasiswa kelak mungkin berbeda dari materi dan praktik yang mereka pelajari saat ini. Karena itu, pendidikan perlu membantu mereka mengembangkan kapasitas untuk menyesuaikan diri, bukan hanya menyiapkan mereka menghadapi satu jenis pekerjaan atau keadaan tertentu. Keterampilan sosial mendukung proses tersebut: mahasiswa belajar membaca konteks, menerima sudut pandang yang berbeda, dan mencari cara untuk tetap berkontribusi ketika kondisi berubah. Bekal itu membuat lulusan lebih lentur dalam menghadapi tuntutan baru, termasuk ketika cara bekerja dan berkomunikasi mengalami pergeseran.
Perubahan dari media cetak ke media daring menjadi gambaran yang ia sampaikan untuk menunjukkan cepatnya pergeseran kebutuhan.






