Kampung Somang Kembali Terlihat, Masjid Al Mujahidin Tetap Berdiri

Kampung Somang Kembali Terlihat, Masjid Al Mujahidin Tetap Berdiri

Jakarta | Kampung Somang di Kabupaten Lebak, Banten, kembali terlihat setelah lama berada di bawah air akibat pembangunan Bendungan Karian. Kemunculan kembali kampung ini berkaitan dengan menyusutnya air waduk pada musim kemarau. Ketika permukaan air turun, bagian-bagian permukiman yang sebelumnya terendam mulai tampak dari dalam waduk. Perubahan tersebut memperlihatkan kembali jejak kampung yang selama bertahun-tahun tidak terlihat sebagaimana sebelum kawasan itu tergenang.

Di bagian yang muncul, tembok-tembok rumah tampak jelas. Bentuk dinding yang masih terlihat membantu menunjukkan keberadaan bangunan yang dahulu menjadi bagian dari Kampung Somang. Namun, kondisi bangunan yang tersingkap tidak lagi utuh. Banyak rumah kehilangan atap, sementara bagian lainnya mengalami kerusakan. Pemandangan itu memperlihatkan dampak lama dari terendamnya permukiman, sekaligus membedakan kondisi bangunan sekarang dari sebuah kampung yang masih dihuni.

Kemunculan kampung ini bukan berarti kawasan tersebut kembali berfungsi sebagai permukiman. Yang terlihat adalah sisa-sisa bangunan ketika air waduk menyusut, bukan kembalinya kehidupan kampung seperti sebelumnya. Karena itu, tembok yang muncul dan rumah-rumah yang rusak menjadi penanda visual dari perubahan yang terjadi setelah pembangunan Bendungan Karian. Saat air kembali menutupi kawasan, bagian-bagian tersebut dapat tak lagi tampak, sebagaimana sebelumnya ketika Kampung Somang berada di bawah permukaan waduk.

Peristiwa ini membuat keberadaan Kampung Somang kembali menjadi perhatian. Munculnya sisa rumah pada musim kemarau menunjukkan hubungan langsung naik-turunnya air waduk dan terlihat atau tertutupnya bekas permukiman. Bagi orang yang melihatnya, dinding rumah yang masih tampak dapat memberi gambaran mengenai lokasi kampung yang lama tenggelam, sedangkan hilangnya atap dan kerusakan pada bangunan menegaskan bahwa yang muncul adalah peninggalan permukiman terdampak genangan. Dengan demikian, kemunculan Kampung Somang merupakan penampakan sementara dari sisa-sisa kawasan yang telah lama tertutup air Bendungan Karian.

Di deretan rumah yang rusak, Masjid Al Mujahidin masih tampak berdiri utuh dan segera menarik perhatian. Bangunan ibadah ini terlihat menonjol di tengah lingkungan Kampung Somang yang kembali terlihat setelah sebelumnya tertutup material dan puing. Sejumlah rumah di sekitarnya mengalami kerusakan, dengan bagian dinding atau atap yang runtuh dan menyisakan suasana kontras. Namun, masjid beserta menaranya tetap tegak, seolah menjadi penanda yang masih bertahan di tengah perubahan besar pada kawasan tersebut. Pemandangan ini membuat masjid tampak berbeda dari bangunan-bangunan lain di sekelilingnya.

Masjid Al Mujahidin memiliki kubah berwarna biru yang mudah dikenali dari kejauhan. Menaranya juga masih berdiri kokoh, sementara bentuk bangunan utamanya tampak tetap terjaga di rumah-rumah yang rusak. Perbedaan kondisi itu menghadirkan pemandangan yang kuat: kerusakan terlihat jelas di lingkungan sekitar, sedangkan masjid masih berdiri dengan bentuk yang relatif utuh. Bagi warga dan orang yang melintas, keberadaan bangunan tersebut dapat menjadi titik yang mudah dikenali ketika melihat kondisi Kampung Somang. Meski demikian, gambaran mengenai keadaan masjid sebaiknya dibatasi pada apa yang terlihat, tanpa menyimpulkan penyebab bangunan itu tetap bertahan.

Warga setempat konon menyebut Masjid Al Mujahidin telah berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Cerita tersebut menambah kesan bahwa bangunan ini memiliki riwayat panjang dan telah menjadi bagian dari kehidupan kampung selama beberapa generasi. Namun, keterangan mengenai asal-usul itu perlu dipahami sebagai cerita yang disampaikan warga, bukan sebagai fakta sejarah yang telah diverifikasi melalui dokumen atau penelitian. Karena itu, informasi tersebut tidak dapat dipastikan hanya dari penampilan masjid maupun kisah yang beredar di lingkungan sekitar. Untuk menetapkan kapan masjid dibangun, diperlukan sumber sejarah yang dapat diperiksa lebih lanjut. Sementara itu, hal yang terlihat jelas adalah kubah birunya, menara yang tetap tegak, dan bangunan masjid yang masih tampak utuh di tengah rumah-rumah rusak.

Maman, warga yang dahulu tinggal di samping Masjid Al Mujahidin, menyampaikan keterangan mengenai asal masjid dan pesan yang ia ingat terkait bangunan tersebut. Menurut Maman, masjid itu didirikan oleh Abuya. Ia juga menyebut bahwa masjid tersebut pernah direnovasi sekitar 15 tahun sebelum ia memberikan keterangannya. Keterangan ini merujuk pada pengalaman dan ingatan Maman sebagai warga yang tinggal berdekatan dengan masjid pada masa lalu. Karena itu, informasi mengenai pendirian, renovasi, dan pesan keluarga Abuya di sini disampaikan sebagaimana yang ia tuturkan, tanpa menambahkan penjelasan lain yang tidak disebutkan olehnya.

Dalam kesaksiannya, Maman mengatakan bahwa keturunan Abuya berpesan agar masjid tidak dibongkar. Pesan tersebut menjadi bagian penting dari kisah yang ia sampaikan tentang keberadaan Masjid Al Mujahidin. Maman tidak menyebutkan rincian lain mengenai siapa yang menyampaikan pesan itu, kapan pesan tersebut disampaikan, atau bagaimana pesan itu kemudian dijalankan. Dengan demikian, keterangannya menegaskan adanya pesan dari keturunan Abuya untuk menjaga masjid agar tidak dibongkar, tanpa perlu menarik makna tambahan di luar pernyataan tersebut.

Maman juga menerangkan bahwa sebuah masjid baru dibangun. Menurut keterangannya, dalam proses yang ia ceritakan itu, yang dipindahkan hanya lima tiang utama yang berada di bagian dalam. Ia tidak menyebut bahwa seluruh bangunan lama dipindahkan, dan tidak pula menyatakan bahwa bagian lain dari masjid ikut dipindahkan. Batas informasi ini perlu dipertahankan agar kisahnya tidak berubah dari maksud yang disampaikan. Jadi, rincian yang dapat dicatat dari kesaksian Maman ialah bahwa masjid didirikan oleh Abuya, pernah direnovasi sekitar 15 tahun sebelum keterangannya, keturunan Abuya berpesan agar masjid tidak dibongkar, dan hanya lima tiang utama di bagian dalam yang dipindahkan saat sebuah masjid baru dibangun. Uraian tersebut mengikuti keterangan Maman, tanpa menambahkan alasan, waktu pembangunan, atau rincian lain yang tidak ia sampaikan.

Pembangunan Bendungan Karian merupakan proyek infrastruktur yang berlangsung selama beberapa tahun. Pekerjaan dimulai pada 2015 dan dinyatakan selesai pada awal 2024. Pada Januari 2024, bendungan tersebut diresmikan oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Nilai proyeknya tercatat sebesar Rp2,2 triliun. Bendungan ini dirancang memiliki kapasitas tampung air hingga 315 juta meter kubik, dengan luas genangan mencapai 1.773 hektare.

Keberadaan Bendungan Karian direncanakan memberi manfaat bagi masyarakat di Banten, DKI Jakarta, serta sebagian wilayah Jawa Barat. Infrastruktur tersebut disiapkan untuk mendukung penyediaan air bagi kawasan-kawasan yang menjadi sasaran layanan. Dalam konteks pembangunan, bendungan juga berkaitan dengan pembebasan lahan dan relokasi sejumlah fasilitas serta lokasi yang berada di area proyek. Data pembebasan lahan mencatat luas keseluruhan mencapai 2.266,44 hektare.

Hingga 2023, catatan relokasi mencakup 37 bangunan fasilitas umum. Rinciannya terdiri atas enam sekolah, 11 masjid, lima madrasah, sembilan majelis, enam musala, empat kantor desa, satu polindes, dan tiga posyandu. Daftar tersebut menggambarkan jenis fasilitas umum yang tercatat dalam proses relokasi. Angka-angka ini merujuk pada jumlah bangunan atau fasilitas yang didata, bukan jumlah warga yang menggunakannya.

Selain fasilitas umum, relokasi juga mencakup 54 lokasi pemakaman umum dan makam keramat, dengan total 13.017 makam. Catatan hingga 2023 turut menyebut 29 tapak tower PLN serta tanah milik pemerintah dan BUMN. Data tersebut memberikan gambaran mengenai unsur-unsur yang tercakup dalam pembebasan lahan dan relokasi terkait pembangunan Bendungan Karian.

Baca juga: Koops TNI Habema Amankan Kampung Balamai atas, Pangkoops: Ketegasan untuk Melindungi Masyarakat dan Menjaga Ruang Damai | Setelah Pernah Ramai Diberitakan, Tambang Batu Bara Ngepon Tuban Disebut Kembali Aktif | Kodim 1714/Puncak Jaya Gandeng Masyarakat Binaan Membangun Jembatan Merah Putih di Kampung Kulok Enggame