Kabupaten Deli Serdang. Pada Kamis | Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Utara mengganggu jadwal penerbangan di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, pada Kamis, 15 Oktober 2026. Hingga pukul 16.00 WIB, sebanyak 14 penerbangan tercatat mengalami keterlambatan, sementara tiga penerbangan lainnya dibatalkan. Dampak tersebut menunjukkan bahwa penurunan jarak pandang akibat kabut asap turut memengaruhi kelancaran aktivitas penerbangan di bandara tersebut.
Muhammad Zul Andika, Humas PT Angkasa Pura Aviasi, menyampaikan bahwa data itu menggambarkan kondisi operasional hingga pukul 16.00 WIB. Dari penerbangan yang sempat terlambat, 10 di antaranya telah diberangkatkan ketika pembaruan data disampaikan. Dengan demikian, sebagian penerbangan terdampak sudah kembali berjalan, meskipun keterlambatan dan pembatalan masih tercatat pada laporan saat itu.
Perubahan jarak pandang dapat menjadi perhatian penting dalam operasional bandara, terutama ketika kondisi udara berkabut atau berasap. Situasi tersebut perlu dipantau oleh pihak terkait untuk mendukung pengambilan keputusan penerbangan dan menjaga keselamatan. Namun, angka keterlambatan dan pembatalan yang disampaikan dalam pembaruan ini merupakan catatan pada waktu tertentu, bukan gambaran akhir untuk keseluruhan hari. Kondisi jadwal dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca serta informasi operasional terbaru.
Bagi penumpang yang memiliki jadwal keberangkatan atau kedatangan melalui Kualanamu, informasi langsung dari maskapai dan pengelola bandara menjadi rujukan penting. Penumpang disarankan memeriksa status penerbangan sebelum berangkat ke bandara, termasuk apabila telah menerima pemberitahuan perubahan jadwal. Langkah ini membantu mengantisipasi penyesuaian waktu perjalanan tanpa mengandalkan informasi lama yang mungkin tidak lagi sesuai dengan keadaan terkini.
Gangguan pada Kamis tersebut menjadi perhatian bagi pengguna jasa penerbangan di Sumatera Utara, khususnya karena kabut asap juga dilaporkan memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah. Pemantauan berkala diperlukan agar perkembangan kondisi dan dampaknya terhadap jadwal dapat diketahui dengan lebih jelas. Hingga pembaruan pukul 16.00 WIB, data yang disampaikan Angkasa Pura Aviasi mencatat 14 keterlambatan dan tiga pembatalan, dengan 10 penerbangan yang sebelumnya terlambat telah diberangkatkan.
Tiga penerbangan yang dibatalkan dari Bandara Internasional Kualanamu memiliki tujuan ke sejumlah daerah di Sumatra Utara dan Aceh. Dua di antaranya merupakan penerbangan Susi Air. Masing-masing dijadwalkan menuju Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution di Kabupaten Mandailing Natal dan Bandara Rembele di Aceh. Satu penerbangan lainnya dioperasikan Wings Air dengan tujuan Bandara Dr. Ferdinand Lumban Tobing, Kabupaten Tapanuli Tengah. Pembatalan tersebut berdampak pada perjalanan penumpang yang hendak menuju daerah-daerah itu melalui penerbangan dari Kualanamu.
Zul menjelaskan bahwa keterlambatan maupun pembatalan penerbangan berkaitan dengan kondisi jarak pandang yang menurun akibat kabut asap. Dalam penerbangan, jarak pandang menjadi salah satu faktor penting yang dipertimbangkan untuk menjaga keselamatan saat pesawat beroperasi. Ketika kondisi lingkungan tidak memenuhi kebutuhan operasional, jadwal dapat tertunda atau penerbangan dibatalkan. Karena itu, keputusan terhadap ketiga rute tersebut terkait keadaan cuaca dan visibilitas yang terpantau, bukan perubahan tujuan penerbangan. Penumpang yang terdampak dapat mengikuti informasi terbaru dari maskapai mengenai tindak lanjut perjalanan mereka.
Meski tiga layanan menuju wilayah tertentu tidak dapat diberangkatkan, kondisi itu tidak berarti seluruh aktivitas di Bandara Kualanamu berhenti. Secara umum, kegiatan operasional bandara tetap berjalan normal. Penerbangan lain masih dapat berlangsung sesuai situasi dan pertimbangan keselamatan pada masing-masing jadwal. Dengan demikian, gangguan akibat kabut asap bersifat terbatas pada penerbangan yang terdampak penurunan jarak pandang, sementara operasional bandara secara keseluruhan tetap berjalan. Situasi dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi udara, sehingga informasi resmi dari pihak bandara dan maskapai menjadi rujukan penting bagi calon penumpang, terutama mereka yang merencanakan perjalanan ke Mandailing Natal, Aceh, atau Tapanuli Tengah. Pemeriksaan status penerbangan sebelum berangkat membantu penumpang mengetahui apabila ada perubahan jadwal, pembatalan, atau pengaturan perjalanan lanjutan.Laporan pengamatan pada pukul 16.00 WIB mencatat jarak pandang di Bandara Internasional Kualanamu sebesar 1.700 meter pada landasan pacu 23 dan 2.000 meter pada landasan pacu 05. Perbedaan angka tersebut menunjukkan kondisi jarak pandang yang terukur pada masing-masing ujung landasan, sementara kabut asap menjadi perhatian dalam pemantauan operasional penerbangan. Data ini menggambarkan keadaan pada waktu pengamatan dan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca maupun pergerakan asap. Karena itu, informasi meteorologi perlu diperhatikan oleh pihak bandara dan maskapai sebagai bagian dari penilaian keselamatan penerbangan. Penentuan langkah operasional tetap berada pada otoritas terkait, dengan mempertimbangkan pembaruan kondisi terbaru.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan mendeteksi sebaran asap di Sumatera Utara pada Kamis, 15 Oktober 2026. Analisis arah angin pada pukul 13.00 WIB menunjukkan pergerakan dari timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara. Pola tersebut menjadi salah satu petunjuk untuk memperkirakan arah pergerakan massa asap yang terpantau di wilayah Sumatera Utara. Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menyatakan bahwa pola angin itu mengindikasikan asap berpotensi berasal dari Sumatra bagian selatan dan Kalimantan. Namun, indikasi arah tersebut belum dapat dipastikan sebagai asal sumber asap, sebab penelusuran memerlukan analisis lanjutan.
Menurut Hendro, penentuan sumber secara lebih akurat harus mempertimbangkan dinamika atmosfer serta berbagai data pendukung. Arah angin pada satu waktu dapat membantu menjelaskan kemungkinan jalur perpindahan asap, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan lokasi kebakaran yang menjadi sumbernya. Citra satelit pada hari yang sama juga mendeteksi dua titik panas kategori sedang di Kabupaten Asahan. Temuan titik panas tersebut menjadi informasi penting dalam pemantauan kondisi setempat, tetapi tidak serta-merta memastikan bahwa titik itu berkaitan langsung dengan asap yang memengaruhi jarak pandang Kualanamu. Pemantauan lanjutan atas citra satelit, arah angin, dan kondisi atmosfer diperlukan untuk memperjelas sebaran serta asal asap. Dengan demikian, data jarak pandang dan pengamatan atmosfer memberikan gambaran situasi, sementara kesimpulan mengenai sumbernya masih menunggu kajian lebih lanjut.
Pengamatan pada pukul 13.00 WIB dari Stasiun Meteorologi Kualanamu, Aek Godang, dan Silangit menunjukkan jarak pandang di sejumlah wilayah Sumatera Utara berkisar satu hingga dua kilometer. Kondisi ini menandakan kabut dan asap masih mengurangi kejelasan pandangan, termasuk bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan maupun pengguna jalan. Jarak pandang yang terbatas perlu menjadi perhatian, terutama ketika berkendara atau melakukan perjalanan di kawasan yang terdampak.
Menurut Hendro, kualitas udara di beberapa wilayah Sumatera Utara berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat. Perbedaan kategori tersebut menunjukkan bahwa tingkat paparan dapat bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain. Karena itu, warga disarankan memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar mereka dan tidak mengabaikan perubahan kualitas udara. Ketika udara tampak semakin berkabut atau berasap, masyarakat perlu mempertimbangkan kembali kegiatan di luar ruangan, khususnya apabila kondisi tersebut dirasakan mengganggu.
Kondisi berkabut dan berasap diprakirakan masih berpotensi berlangsung hingga tiga hari ke depan. Perkiraan ini menjadi alasan bagi warga untuk tetap dan mengikuti informasi terbaru dari pihak berwenang. Selama jarak pandang belum membaik, perjalanan perlu dilakukan dengan lebih hati-hati, sementara aktivitas yang tidak mendesak di luar ruangan dapat dikurangi. Kondisi cuaca dan kualitas udara dapat berubah, sehingga imbauan serta informasi resmi sebaiknya dijadikan acuan dalam menentukan langkah sehari-hari.
BMKG mengimbau warga berhati-hati saat berkendara, mengurangi kecepatan, dan menjaga jarak aman dengan kendaraan lain.
Baca juga: Tim Alpha TNI Siaga Tangani Karhutla di Sejumlah Wilayah Indonesia | Empat Terduga Pelaku Diciduk, Polresta Tuban Bongkar Peredaran Sabu di Sejumlah Wilayah | TNI Kerahkan 14.167 Personel Tangani Karhutla di Sejumlah Wilayah







