Budaya  

Happy Salma Menyalakan Kembali Api Seni Tradisi Sunda

Happy Salma Menyalakan Kembali Api Seni Tradisi Sunda

Bandung | Bagi Happy Salma, perjuangan melestarikan budaya berkaitan dengan upaya merawat budi pekerti sekaligus meneruskan warisan leluhur. Budaya tidak hanya hadir sebagai sesuatu yang ditampilkan atau dikenang, tetapi juga berkaitan dengan nilai-nilai yang dijaga dalam kehidupan. Pandangan tersebut menjadi landasan bagi perjalanan kreatifnya di panggung, termasuk ketika ia mengolah karya sastra Indonesia menjadi pertunjukan. Dalam keterangannya di Bumi Sangkuriang pada Sabtu, 17 Oktober 2026, Happy menjelaskan bahwa kerja kesenian yang ia jalani selama bertahun-tahun tetap berpijak pada hubungan budaya dan budi pekerti.

Selama 19 tahun berkarya, sekitar 80 persen pertunjukan Happy mengadaptasi karya sastra Indonesia ke panggung. Pilihan tersebut menunjukkan besarnya ruang yang ia berikan kepada sastra dalam proses kreatifnya. Karya-karya itu menjadi bahan yang diolah ke dalam bentuk pertunjukan, sehingga sastra Indonesia dapat hadir melalui medium panggung. Bagi Happy, pengolahan tersebut berjalan beriringan dengan usaha meneruskan warisan leluhur. Upaya itu bukan sekadar menghadirkan kembali karya, melainkan juga menjaga agar nilai budaya tetap memperoleh tempat dalam kegiatan berkesenian. Ia mengaitkan pemeliharaan budaya dengan perawatan budi pekerti, sebagaimana disampaikan dalam keterangannya.

Adapun sekitar 20 persen pertunjukan lainnya memberi ruang bagi eksplorasi lintas disiplin. Meski bentuk eksplorasinya berbeda, budaya tetap menjadi landasan dalam perjalanan tersebut. Dengan demikian, kegiatan kreatif Happy mencakup adaptasi sastra maupun pencarian lintas disiplin, tanpa melepaskan perhatian pada warisan budaya. Porsi yang ia uraikan itu menggambarkan bagaimana beragam pendekatan dapat hadir dalam kerja panggungnya, sementara budaya tetap menjadi pijakan. Penjelasannya menempatkan pelestarian sebagai bagian dari praktik berkesenian yang terus berlangsung selama 19 tahun. Dalam kerangka yang ia sampaikan, menjaga budaya berkaitan dengan menjaga budi pekerti dan meneruskan peninggalan leluhur kepada generasi berikutnya, melalui karya dan pertunjukan yang berangkat dari landasan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Happy Salma memperluas ruang perjumpaan sastra, sejarah, dan seni pertunjukan. Melalui Titimangsa, ia mengembangkan karya yang berpijak pada cerita Indonesia, sekaligus memberi bentuk baru bagi kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Tradisi tidak ditempatkan sebagai peninggalan yang jauh, melainkan sebagai sumber gagasan yang dapat dihidupkan kembali melalui panggung, tubuh, musik, dan tata visual.

Salah satu kiprah tersebut terlihat dalam Sudamala: Epilog Calonarang, pertunjukan yang dibuat bersama seniman di Bali dan Taksu Ubud. Karya ini kemudian dibawa ke Mangkunegaran Solo dan Gedung Arsip, Solo, sehingga kisah yang berakar pada tradisi Bali hadir di ruang-ruang pertunjukan dengan latar dan penonton yang berbeda. Perjalanan itu menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas seniman dapat merawat warisan budaya tanpa membatasi cerita pada satu tempat saja.

Di Bandung, Titimangsa bekerja bersama produser Pradetya Novitri dan sutradara Heliana Sinaga untuk mementaskan Kembang Bale di NuArt Sculpture Park. Karya ini melengkapi perhatian Happy pada cerita dan ekspresi budaya yang tumbuh di berbagai daerah. Ia juga terlibat dalam pementasan Citraresmi dan Pitaloka, yang mengangkat tokoh serta kisah dari khazanah Sunda. Ragam karya tersebut memperlihatkan upaya menghubungkan bahan sastra dan sejarah dengan bahasa panggung yang dapat dirasakan oleh penonton masa kini.

Perhatian pada tokoh Sunda juga tampak dalam alih wahana buku Ramadhan K.H., Kuantar ke Gerbang, tentang Inggit Garnasih. Dengan membawa kisah tersebut ke panggung, pengalaman hidup Inggit memperoleh ruang untuk dibaca kembali, bukan hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi sebagai cerita manusia yang memiliki emosi dan pilihan. Happy menyatakan bahwa cerita-cerita Sunda terasa dekat dengan para pelakunya. Kedekatan itu menjadi landasan penting: kisah lokal bukan bahan yang asing atau sekadar objek pementasan, melainkan bagian dari identitas dan pengalaman yang masih hidup. Karena itu, karya-karya tersebut mengajak penonton mengenali tradisi melalui cerita yang memiliki hubungan nyata dengan masyarakatnya.

Menurut Happy Salma, kegiatan Lestari Tradisi yang berlangsung pada era 1980-an di Selabintana, Sukabumi, memberi dorongan baru bagi upaya merawat kesenian Sunda. Kegiatan itu bukan sekadar menghadirkan kembali perhatian terhadap tradisi, melainkan juga membangkitkan semangat para seniman untuk menjaga bentuk-bentuk kesenian yang nyaris terlupakan. Dari pengalaman tersebut, muncul kesadaran bahwa warisan budaya membutuhkan perhatian dan keterlibatan agar tetap hidup.

Dampak yang diceritakan Happy terlihat pada langkah para seniman setelah kegiatan di Selabintana. Mereka terdorong untuk membuat koreografi baru dengan inspirasi dari era 1980-an. Inspirasi tersebut menjadi titik berangkat bagi karya yang tetap berhubungan dengan semangat tradisi, sekaligus menunjukkan bahwa kesenian dapat dirawat melalui proses kreatif. Dorongan itu tidak berarti meninggalkan warisan yang ada; sebaliknya, tradisi menjadi sumber gagasan bagi penciptaan koreografi baru.

Rangkaian sebab-akibat yang disampaikan Happy berlanjut ketika rekan-rekan para seniman kemudian diberangkatkan ke Osaka Expo. Keberangkatan itu disebut setelah para seniman terdorong menciptakan koreografi baru, sehingga menjadi bagian dari perkembangan yang mengikuti bangkitnya kembali semangat berkesenian. Tidak perlu menambahkan rincian mengenai acara maupun perjalanan tersebut untuk memahami kaitannya: kegiatan Lestari Tradisi di Selabintana memantik semangat, semangat itu mendorong lahirnya koreografi baru, lalu rekan-rekan mereka diberangkatkan ke Osaka Expo.

Kisah ini memperlihatkan bahwa usaha merawat kesenian yang hampir terlupakan dapat berawal dari kegiatan yang menumbuhkan kembali rasa keterhubungan dengan tradisi. Bagi Happy, dampak Lestari Tradisi 1980-an bukan hanya terletak pada ingatan tentang kegiatan di Selabintana, tetapi juga pada dorongan yang muncul sesudahnya. Ketika seniman kembali terdorong untuk berkarya, tradisi memperoleh ruang untuk terus diolah dan dijaga. Dengan demikian, pengalaman tersebut menegaskan hubungan merawat warisan budaya dan memberi kesempatan bagi kreativitas untuk tumbuh dari inspirasi masa lalu.

Bagi Happy Salma, upaya Titimangsa menghidupkan seni tradisi Sunda bukan semata-mata menghadirkan kembali bentuk pertunjukan dari masa lalu. Di dalamnya ada ajakan agar orang Sunda kembali mengenali dan menjalin hubungan dengan kesenian yang diwariskan oleh masyarakatnya sendiri. Hubungan itu dapat tumbuh melalui pengalaman menyaksikan, mendengar, dan memahami karya tradisi, serta melalui kesediaan memberi ruang bagi kesenian tersebut untuk hadir dalam kehidupan hari ini. Dengan cara itu, tradisi tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang jauh atau hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi sebagai bagian dari kebudayaan yang masih dapat ditemui bersama.

Happy memandang seni tradisi juga menyimpan kebiasaan hidup yang penting bagi masyarakat. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, termasuk kebiasaan untuk bersaudara dan bersahabat. Ketika orang berkumpul untuk menikmati kesenian, ruang perjumpaan terbuka dan hubungan antarmanusia dapat terjalin kembali. Seni menjadi pengikat yang mengingatkan bahwa masyarakat memiliki pengalaman dan warisan bersama, sekaligus memberi kesempatan bagi generasi yang berbeda untuk saling mengenal. Bagi Titimangsa, mendekatkan masyarakat kepada tradisi berarti turut merawat nilai-nilai yang tumbuh di tengah kehidupan sosial orang Sunda.

Lebih dari itu, seni tradisi dapat menjadi pengingat tentang asal-usul. Happy menyebutnya sebagai ibunda dan ayahanda: ungkapan yang menempatkan tradisi sebagai sumber yang membentuk dan mengasuh kehidupan kebudayaan. Makna itu tidak berhenti pada penghormatan terhadap masa lampau, melainkan mengajak masyarakat untuk mengenali akar yang menjadi bagian dari dirinya. Melalui kerja Titimangsa, orang Sunda diharapkan dapat kembali terhubung dengan kesenian warisan mereka dan menemukan kembali kedekatan dengan nilai serta sejarah yang menyertainya.

Baca juga: Ringankan Beban Warga Terdampak Kemarau, Kodim Bojonegoro Kembali Pasok 64.000 Liter Air Bersih ke 4 Kecamatan | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Setetes Kepedulian Ditengah Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadir Salurkan Air Bersih Untuk Warga