ESDM Rilis Dua Atlas Geologi untuk Memperkuat Mitigasi Gempa di Indonesia

ESDM Rilis Dua Atlas Geologi untuk Memperkuat Mitigasi Gempa di Indonesia

Jakarta | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melalui Badan Geologi, meluncurkan Atlas Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi (KRBG) dan Atlas Peta Tapak Lokal edisi kedua. Kedua publikasi tersebut mencakup seluruh wilayah Indonesia dan disiapkan sebagai rujukan untuk memperkuat pemahaman terhadap potensi bahaya gempa. Wakil Menteri ESDM Yuliot menyampaikan peluncuran serta tujuan pemanfaatan peta dalam keterangan resmi pada Jumat (23/10/2026). Kehadiran kedua atlas ini menambah perangkat informasi kebencanaan geologi yang dapat digunakan lintas sektor, dengan cakupan nasional yang memungkinkan pemangku kepentingan melihat kondisi wilayahnya dalam satu kerangka informasi.

Atlas KRBG menyajikan gambaran kawasan yang memiliki tingkat kerawanan terhadap bencana gempa bumi. Informasi ini dapat membantu pengguna mengenali konteks risiko suatu wilayah sebagai bagian dari perencanaan dan upaya pengurangan risiko. Sementara itu, Atlas Peta Tapak Lokal menyediakan informasi pada skala tapak, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memahami kondisi setempat. Kedua jenis peta tersebut memiliki cakupan dan fungsi yang saling melengkapi: gambaran kawasan memberikan perspektif lebih luas, sedangkan informasi tapak membantu penelaahan di lokasi tertentu. Dengan demikian, atlas dapat mendukung pembacaan kondisi kebencanaan secara lebih terstruktur, tanpa menggantikan kajian teknis yang diperlukan sesuai kebutuhan.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah termasuk pihak yang dapat menggunakan atlas, begitu pula dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Bagi pemerintah, informasi peta dapat dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan, perencanaan wilayah, dan penguatan kesiapsiagaan. Pelaku usaha dapat menjadikannya salah satu masukan saat menilai konteks lokasi kegiatan, sedangkan kalangan akademik bisa memanfaatkannya untuk kajian dan pembelajaran. Masyarakat juga dapat memperoleh pemahaman dasar mengenai kerawanan gempa di lingkungan sekitarnya. Pemanfaatan yang luas diharapkan membantu menyebarkan informasi geologi kepada lebih banyak pengguna. Dalam penerapannya, pembaca perlu memperhatikan skala, cakupan, dan tujuan setiap atlas serta merujuk pada instansi berwenang untuk kebutuhan keputusan teknis. Peluncuran edisi kedua menegaskan upaya Badan Geologi menyediakan informasi kebencanaan yang dapat diakses berbagai kalangan dan mendukung mitigasi gempa di Indonesia.

Atlas Kerawanan Risiko Bahaya Gempa Bumi (KRBG) memberikan gambaran mengenai tingkat kerawanan suatu kawasan terhadap dampak gempa. Peta ini membantu menunjukkan bagaimana bahaya gempa dapat bervariasi antarlokasi, sehingga informasi risiko tidak hanya dipahami pada skala nasional, tetapi juga dapat dipertimbangkan dalam perencanaan di tingkat daerah. Penilaiannya menggabungkan sejumlah informasi penting, termasuk keberadaan dan karakter sumber gempa, katalog kejadian gempa yang pernah tercatat, kondisi geologi, serta karakteristik tanah setempat. Dengan dasar tersebut, atlas menyediakan rujukan berbasis data untuk memahami potensi guncangan dan faktor wilayah yang dapat memengaruhi dampaknya.

Informasi KRBG dapat menjadi salah satu landasan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun tata ruang, mengembangkan permukiman, merencanakan pembangunan infrastruktur, serta menetapkan langkah mitigasi. Peta ini bukan pengganti kajian teknis yang lebih rinci untuk suatu proyek, tetapi dapat membantu mengidentifikasi area yang perlu diperhatikan sejak awal. Penggunaannya dalam proses perencanaan memungkinkan risiko gempa dipertimbangkan sebelum keputusan pembangunan dibuat. Dengan demikian, kebijakan dan rancangan infrastruktur dapat disesuaikan dengan kondisi bahaya setempat, sementara upaya pengurangan risiko dapat diarahkan secara lebih terukur.

Yuliot menjelaskan bahwa gempa dengan kekuatan guncangan yang sama belum tentu terasa serupa di setiap wilayah. Jarak dari sumber gempa merupakan salah satu faktor, tetapi kondisi geologi dan karakteristik tanah juga dapat memengaruhi kuatnya guncangan yang dirasakan. Karena itu, pemahaman risiko perlu mempertimbangkan konteks setiap kawasan, bukan hanya melihat besaran gempa atau jaraknya secara terpisah. Ia berharap kementerian dan lembaga menggunakan peta yang sama sebagai rujukan dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan mitigasi risiko. Kesamaan dasar informasi diharapkan mendukung koordinasi lintas sektor serta membantu menyelaraskan perencanaan. Yuliot juga menekankan pentingnya membangun sistem yang inovatif dan terintegrasi secara bersama-sama, agar data dan peta dapat dimanfaatkan secara konsisten untuk memperkuat kesiapsiagaan serta mengurangi risiko bagi masyarakat.

Atlas Peta Tapak Lokal edisi kedua menyajikan informasi lebih terperinci mengenai karakteristik tanah yang dapat memengaruhi kuat atau lemahnya guncangan saat gempa terjadi. Perbedaan kondisi tanah di suatu wilayah berpengaruh terhadap respons permukaan terhadap gelombang gempa. Karena itu, informasi tentang tapak lokal diperlukan untuk memahami variasi dampak guncangan, melengkapi kajian bahaya, serta mendukung pertimbangan dalam pembangunan. Atlas ini memetakan sejumlah karakteristik tanah, termasuk parameter kecepatan gelombang geser rata-rata hingga kedalaman 30 meter yang dikenal sebagai Vs30. Parameter tersebut membantu menggambarkan kondisi tanah dekat permukaan, yang relevan untuk menilai bagaimana guncangan dapat bervariasi antarlokasi.

Salah satu perubahan utama pada edisi terbaru adalah resolusi petanya. Data kini ditampilkan dalam grid berukuran 30 meter, sedangkan edisi sebelumnya menggunakan grid 300 meter. Dengan jarak grid yang lebih kecil, variasi kondisi tanah dapat tergambar lebih rinci pada peta. Perincian tersebut menyediakan gambaran spasial yang lebih tajam dibandingkan cakupan grid terdahulu, sehingga perbedaan antarlokasi berpeluang terlihat dengan lebih jelas. Informasi beresolusi lebih tinggi ini dapat menjadi dasar yang lebih memadai bagi pengguna untuk membaca kondisi tapak setempat. Meski demikian, pemanfaatannya tetap perlu ditempatkan dalam konteks kajian teknis dan kondisi lapangan di masing-masing wilayah.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menyampaikan bahwa peningkatan resolusi tersebut memperkuat kajian bahaya gempa sekaligus mendukung perencanaan pembangunan. Menurutnya, data yang lebih terperinci dapat membantu memperjelas gambaran kondisi tanah yang menjadi salah satu pertimbangan dalam mengantisipasi dampak gempa. Ia berharap Atlas Peta Tapak Lokal dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, akademisi, serta para perencana. Penggunaan atlas diharapkan mendukung pengambilan keputusan dan perencanaan yang mempertimbangkan kerentanan terhadap guncangan. Dengan informasi tapak yang semakin terperinci, para pemangku kepentingan memiliki bahan tambahan untuk merancang pembangunan yang lebih tangguh terhadap gempa, selaras dengan karakteristik tanah di lokasi masing-masing.

Atlas geologi yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dapat menjadi referensi awal dalam merencanakan pembangunan infrastruktur energi di Indonesia. Informasi di dalamnya membantu pihak terkait mengenali kondisi geologi dan potensi bahaya yang perlu dicermati sebelum menentukan lokasi maupun rancangan pembangunan. Acuan ini relevan untuk berbagai jenis fasilitas, mulai dari pembangkit listrik hingga jaringan transmisi yang menghubungkan sumber energi dengan pengguna. Dengan mempertimbangkan informasi geologi sejak tahap perencanaan, keputusan pembangunan dapat disusun secara lebih terukur dan tidak hanya berfokus pada kebutuhan teknis maupun operasional.

Pemanfaatannya juga dapat mencakup fasilitas minyak dan gas bumi serta infrastruktur energi lainnya. Setiap proyek memiliki karakteristik dan kebutuhan berbeda, sehingga atlas berfungsi sebagai bahan awal untuk mengidentifikasi hal-hal yang patut dikaji lebih lanjut. Potensi bahaya geologi sebaiknya dipertimbangkan sejak tahap paling awal, sebelum lokasi dan desain ditetapkan. Langkah tersebut memungkinkan aspek keselamatan dan mitigasi masuk dalam proses perencanaan, bukan baru diperhatikan setelah pembangunan berlangsung. Atlas bukan pengganti kajian teknis khusus, tetapi dapat mendukung penyusunan keputusan dan membantu mengarahkan perhatian pada risiko yang relevan di suatu wilayah.

ESDM menyediakan kedua atlas tersebut secara gratis melalui portal mitigasi bencana geologi, sehingga dapat diakses oleh berbagai pihak yang membutuhkannya. Ketersediaan informasi ini diharapkan mendorong pemanfaatan data geologi secara lebih luas dalam perencanaan pembangunan. Pemerintah daerah dapat menjadikannya salah satu acuan ketika mempertimbangkan kebijakan, lokasi, dan kebutuhan mitigasi di wilayah masing-masing.