Jakarta | Ardian, Faris, Gofar, dan Billi datang ke bursa kerja di Convention Hall Smesco, Jakarta, pada Jumat (23/10). Keempatnya merupakan siswa SMK 9 Jakarta jurusan bisnis ritel dan belum genap menyelesaikan pendidikan. Di tengah kerumunan pencari kerja, seragam sekolah mereka membuat kehadiran kelompok itu mudah terlihat. Mereka datang bukan sebagai pelamar yang telah menuntaskan seluruh persiapan, melainkan sebagai siswa yang mulai mengenali dunia kerja dari dekat.
Suasana mereka tampak berbeda dari para pelamar dewasa di sekitar lokasi. Ardian dan teman-temannya terlihat tertawa serta melangkah ringan ketika menyusuri area bursa kerja, sedangkan banyak pencari kerja lain tampak serius mengikuti proses dan mencari peluang. Kontras itu menunjukkan bahwa tujuan mereka saat menghadiri acara tersebut tidak sepenuhnya sama dengan tujuan para pelamar yang datang untuk segera memperoleh pekerjaan. Bagi empat siswa itu, kunjungan ini juga menjadi pengalaman untuk melihat bagaimana bursa kerja berlangsung.
Persiapan berkas lamaran mereka pun masih berada pada tahap awal. Karena belum lulus, mereka belum datang dengan kesiapan seperti pencari kerja yang telah menyusun dokumen untuk melamar posisi tertentu. Namun, keterbatasan persiapan itu tidak membuat kunjungan mereka kehilangan arti. Mereka bisa mengamati suasana, mengenali pilihan yang tersedia, dan membayangkan langkah yang mungkin diambil setelah menyelesaikan sekolah. Bursa kerja menjadi ruang untuk belajar, bukan hanya tempat menyerahkan lamaran.
Keempat siswa tersebut membawa rencana dan harapan masing-masing saat memasuki acara. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa persiapan menuju masa depan dapat dimulai sebelum seseorang benar-benar lulus atau siap bekerja. Dengan berada di para pencari kerja, mereka memperoleh kesempatan menjajaki kemungkinan, memahami lingkungan kerja, sekaligus mempertimbangkan pilihan setelah sekolah. Mereka mungkin belum datang dengan berkas yang lengkap, tetapi kunjungan itu memberi gambaran awal tentang proses yang kelak dapat mereka hadapi. Bagi Ardian, Faris, Gofar, dan Billi, bursa kerja bukan semata-mata kesempatan untuk melamar pekerjaan, melainkan juga tempat menguji rasa ingin tahu dan menimbang arah berikutnya. Masing-masing dapat melihat bahwa jalur menuju pekerjaan memiliki banyak pilihan dan menuntut persiapan. Pengalaman sederhana hadir di acara tersebut menjadi bagian dari proses mereka menyusun bayangan tentang masa depan, selagi masih menjalani pendidikan di SMK.
Rencana setelah lulus tidak harus mengarah pada pilihan yang sama. Di empat siswa SMK 9 Jakarta, Ardian, Faris, dan Gofar menyampaikan pertimbangan yang berbeda tentang pendidikan dan kemandirian. Ketiganya masih berstatus pelajar, sehingga cita-cita tersebut merupakan rencana yang sedang mereka pikirkan, bukan langkah yang sudah dipastikan. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa masing-masing memiliki ambisi dan cara pandang sendiri mengenai masa depan.
Ardian mengatakan ingin melanjutkan kuliah di bidang teknologi informasi jika ada rezeki. Pernyataannya menempatkan kesempatan sebagai bagian penting dari rencana tersebut: keinginan untuk kuliah ada, tetapi pelaksanaannya bergantung pada keadaan yang memungkinkan. Bidang teknologi informasi menjadi tujuan pendidikan yang ia sebutkan. Sementara itu, Faris bercita-cita mendalami teknik metalurgi. Pilihan ini menggambarkan minatnya untuk mempelajari bidang tersebut lebih jauh, meskipun belum ada keterangan bahwa ia telah menentukan jalur pendidikan atau langkah khusus untuk mencapainya.
Gofar mempertimbangkan pilihan yang berbeda. Ia berpikir untuk mengambil kelas karyawan agar dapat membiayai hidupnya sendiri. Dalam rencana itu, kegiatan belajar dan upaya memenuhi kebutuhan hidup berjalan sebagai pertimbangan yang berkaitan. Namun, ia masih mempertimbangkannya dan belum menyampaikan keputusan akhir. Bersama Billi, yang memiliki arah tersendiri, ketiga rencana ini memperlihatkan bahwa empat siswa tersebut membawa tujuan yang tidak seragam. Ardian memikirkan kuliah teknologi informasi dengan mempertimbangkan rezeki, Faris ingin mendalami teknik metalurgi, sedangkan Gofar mempertimbangkan kelas karyawan demi membiayai hidup mandiri. Perbedaan pilihan itu tidak mengubah kenyataan bahwa mereka masih pelajar yang sedang menimbang langkah berikutnya. Masing-masing memiliki ambisi sendiri, dan rencana mereka mencerminkan arah yang berbeda ketika memandang pendidikan maupun kemandirian. Pada tahap ini, aspirasi tersebut dapat dipahami sebagai gambaran pilihan yang terbuka bagi mereka, bukan sebagai hasil yang sudah tercapai atau kepastian tentang pekerjaan dan pendidikan pada masa mendatang.
Bagi Billi, berwirausaha merupakan rencana yang ingin ia jalani setelah menyelesaikan pendidikan. Ia ingin memulai usaha dengan berjualan cilok menggunakan gerobak. Pilihan itu menjadi langkah awal yang realistis baginya untuk mulai mencoba berjualan, bukan sesuatu yang perlu dianggap rendah atau memalukan. Billi memandang tahap tersebut sebagai kesempatan untuk belajar langsung dari pengalaman. Dengan memulai dari gerobak, ia dapat mengenal proses menjalankan usaha sebelum beranjak ke rencana yang lebih besar. Baginya, perjalanan usaha tidak harus dimulai dengan tempat yang sudah permanen. Yang penting, ia bersedia memulai dari tahap awal dan menjalani prosesnya.
Rencana Billi berkembang secara bertahap. Setelah modalnya mencukupi, ia ingin membuka outlet. Ia tidak menyebutkan perkiraan jumlah modal ataupun kapan rencana itu akan terwujud; yang disampaikan adalah urutan langkah yang ingin ditempuh, dari gerobak menuju outlet ketika keadaan memungkinkan. Dengan demikian, berjualan cilok dari gerobak bukan tujuan akhir, melainkan bagian awal dari cita-citanya membangun usaha sendiri. Ia ingin belajar terlebih dahulu melalui kegiatan berjualan, lalu melanjutkan rencana ketika modal sudah cukup. Cara pandang ini menunjukkan bahwa ia tidak menganggap permulaan sederhana sebagai penghalang, tetapi sebagai bagian dari perjalanan merintis usaha.
Selain memikirkan tempat berjualan, Billi juga ingin membangun merek untuk usahanya dan membuat konten di TikTok. Kedua rencana tersebut menjadi bagian dari gambaran usaha yang ingin ia kembangkan. Ia belum merinci bagaimana merek itu akan dibentuk atau seperti apa konten yang akan dibuat. Namun, keinginannya untuk memperkenalkan usaha melalui konten menunjukkan bahwa ia turut memikirkan identitas dan kehadiran usahanya. Untuk saat ini, langkah pertamanya tetap berjualan cilok dengan gerobak. Billi ingin menjalani tahap itu sebagai proses belajar, kemudian membuka outlet setelah modal mencukupi, sambil menyiapkan merek dan konten sesuai rencana yang telah ia sampaikan.
Bagi keempat siswa SMK 9 Jakarta, mendatangi bursa kerja bukan semata-mata soal menyerahkan lamaran dan menunggu panggilan. Di tengah informasi tentang perusahaan, lowongan, dan jalur pendidikan, mereka dapat melihat pilihan setelah lulus dengan lebih nyata. Job fair menjadi ruang untuk bertanya, membandingkan kemungkinan, dan menguji apakah bayangan tentang masa depan sesuai dengan minat serta kemampuan masing-masing. Pertemuan dengan dunia kerja juga memberi gambaran tentang keterampilan yang dibutuhkan dan langkah yang mungkin perlu disiapkan sejak sekarang.
Persiapan berkas mereka memang masih pada tahap awal. Dokumen yang dibawa belum menandai keputusan final atau kesiapan untuk langsung memasuki satu jalur tertentu. Namun, masing-masing sudah memiliki arah yang ingin dijajaki. Ada yang mempertimbangkan kuliah untuk memperluas pengetahuan dan membuka kesempatan baru. Ada pula yang ingin mendalami bidang teknik, sesuai bekal dan ketertarikannya selama menempuh pendidikan kejuruan. Bagi mereka, informasi di bursa dapat menjadi bahan untuk menilai pilihan, bukan tuntutan agar semua rencana segera ditetapkan.
Sementara itu, bekerja sambil belajar hidup mandiri menjadi pertimbangan bagi siswa yang ingin segera memperoleh pengalaman dan mengatur kebutuhannya sendiri. Siswa lain membayangkan merintis bisnis, meski gagasan tersebut masih perlu dipertajam dan dipersiapkan.
Baca juga: Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta | ISTDengan demikian, dalam rentang waktu kurang dari dua pekan, dua PMI asal Jembrana meninggal dunia di negara penempatan berbeda






