Kota Solo. Tak | Ratusan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar demonstrasi di depan Balai Kota Solo pada Kamis, 22 Oktober 2026. Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB itu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik dan tuntutan melalui orasi. Peserta berkumpul di kawasan tersebut sebelum menyuarakan berbagai pandangan mengenai persoalan publik dan arah kebijakan pemerintah. Kehadiran mereka menandai keterlibatan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi di ruang terbuka.
Dalam orasi, peserta menyoroti sejumlah isu yang dinilai memerlukan perhatian pemerintah. Tuntutan dan kritik disampaikan sebagai bagian dari evaluasi terhadap kinerja pemerintahan, bukan sekadar pernyataan ketidakpuasan yang berdiri sendiri. Aksi ini berlangsung dalam suasana ketika beragam kelompok masyarakat turut menyuarakan pandangan tentang kebijakan publik. Bagi para demonstran, menyampaikan aspirasi secara langsung merupakan cara untuk mendorong pemerintah mendengar persoalan yang mereka anggap penting.
Koordinator aksi, Yusnindar Hasan, mengaitkan demonstrasi tersebut dengan akumulasi kekecewaan serta gelombang kritik yang berkembang di tingkat nasional. Menurut Hasan, aksi berlangsung dalam momentum evaluasi dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran. Ia menempatkan suara mahasiswa UNS dalam konteks lebih luas, yakni perdebatan publik mengenai capaian dan keputusan pemerintah. Dengan demikian, demonstrasi di Balai Kota Solo tidak hanya memuat isu setempat, tetapi juga mencerminkan kritik terhadap kebijakan nasional yang menjadi perhatian peserta.
Hasan menilai pemerintah belum berhasil menangani sejumlah persoalan bangsa, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia juga mengkritik kebijakan yang, menurut pandangannya, tidak berpihak kepada rakyat. Penilaian tersebut merupakan pandangan koordinator aksi dan menjadi bagian dari alasan yang disampaikan dalam demonstrasi, bukan kesimpulan yang harus dipahami sebagai fakta tanpa atribusi. Melalui orasi dan tuntutannya, para mahasiswa berupaya membawa persoalan-persoalan itu ke hadapan publik serta meminta agar aspirasi mereka diperhatikan dalam evaluasi kebijakan pemerintah.
Setelah menyampaikan orasi di depan Balai Kota, peserta aksi bergerak meninggalkan lokasi tersebut dan berjalan kaki menuju kawasan Bundaran Gladag. Perpindahan itu membawa massa ke salah satu titik penting di pusat Kota Solo, dengan rombongan bergerak bersama melalui ruas jalan yang menghubungkan Balai Kota dan Gladag. Setibanya di kawasan tersebut, peserta kembali berkumpul di perempatan Gladag untuk melanjutkan penyampaian aspirasi. Mereka berorasi di lokasi itu dengan membawa tuntutan yang sama seperti yang sebelumnya disampaikan di depan Balai Kota.
Pergerakan massa dan kegiatan orasi di perempatan Gladag berlangsung di ruang jalan yang juga digunakan oleh kendaraan umum. Menjelang akhir aksi, jumlah peserta yang berkumpul membuat massa memenuhi badan jalan. Kondisi tersebut berdampak pada arus lalu lintas di sekitar pusat kota, terutama kendaraan yang hendak menuju Balai Kota, Keraton, dan Pasar Kliwon. Perjalanan di sejumlah jalur tujuan itu sempat terhambat ketika peserta masih berada di badan jalan dan kegiatan aksi berlangsung. Pengguna jalan yang melintas perlu menyesuaikan perjalanan dengan situasi di lapangan.
Di tengah rangkaian aksi, sejumlah peserta membakar ban bekas. Asap hitam pekat kemudian terlihat memenuhi bagian ujung jalan utama kota, sehingga suasana di sekitar titik aksi berubah dan terlihat jelas dari ruas jalan tersebut. Sementara itu, polisi berjaga di kawasan kegiatan untuk mengamankan jalannya aksi serta menjaga situasi tetap terkendali. Petugas juga melakukan rekayasa lalu lintas untuk mengatur kendaraan yang melintas dan mengurangi dampak kepadatan di jalur sekitar. Langkah pengaturan tersebut diarahkan pada arus menuju Balai Kota, Keraton, dan Pasar Kliwon, yang sebelumnya terdampak karena badan jalan dipenuhi massa. Aksi pun berlangsung di tengah pengamanan dan pengaturan pergerakan kendaraan di kawasan pusat kota.
Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko memilih mendekati peserta demonstrasi mahasiswa UNS dengan cara membaur langsung di tengah kerumunan. Ia tidak menempatkan barikade di dirinya dan mahasiswa, sehingga interaksi berlangsung tanpa jarak yang mencolok. Sikap tersebut menjadi bagian dari pendekatan yang mengutamakan komunikasi, bukan sekadar pengamanan dari sisi luar aksi. Di tengah situasi yang sempat terasa tegang, kehadiran Condro di peserta memberi ruang bagi dialog dan menunjukkan bahwa aparat bersedia mendengarkan aspirasi secara langsung. Ia berada dekat dengan mahasiswa saat mereka menyampaikan pendapat, tanpa menghalangi jalannya orasi maupun mengubah aksi menjadi suasana konfrontatif.
Condro menyimak orasi yang disampaikan peserta secara bergantian dari tengah kerumunan. Dengan berada di lokasi yang sama, ia dapat mengikuti langsung isi dan suasana penyampaian aspirasi, sementara mahasiswa tetap memiliki kesempatan untuk berbicara. Pendekatan itu disertai ajakan berguyon kepada peserta. Suasana yang sebelumnya sempat tegang pun perlahan menjadi lebih cair, dan beberapa kali terdengar tawa di tengah aksi. Humor tersebut tidak menghapus tujuan demonstrasi atau menggantikan substansi tuntutan, tetapi membantu membuka komunikasi yang lebih santai polisi dan mahasiswa. Perubahan suasana ini memperlihatkan bahwa interaksi humanis dapat berlangsung berdampingan dengan pengawalan terhadap demonstrasi.
Dalam penjelasannya, Condro menegaskan bahwa polisi berperan sebagai pelayan masyarakat. Ia memandang demonstrasi sebagai hak warga, termasuk hak mahasiswa untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Karena itu, tugas kepolisian bukan hanya menjaga situasi, melainkan juga memastikan peserta dapat mengutarakan aspirasi dengan nyaman. Sikap membaur dan menyimak menjadi cara untuk menunjukkan penghormatan terhadap hak tersebut sekaligus menjaga komunikasi tetap terbuka. Pendekatan ini menempatkan kenyamanan peserta sebagai perhatian penting selama aksi berlangsung, tanpa mengabaikan peran polisi dalam mengawal kegiatan. Respons Kapolresta Surakarta tersebut menggambarkan upaya merawat suasana kondusif melalui kehadiran langsung, sikap terbuka, dan interaksi yang tidak berjarak dengan mahasiswa.
Di tengah berlangsungnya demonstrasi mahasiswa UNS di Solo, sejumlah personel Polresta Surakarta membagikan air mineral kepada peserta aksi yang tampak kehausan setelah cukup lama berorasi. Pembagian tersebut berlangsung saat massa masih berada di sekitar lokasi unjuk rasa. Air diberikan untuk membantu peserta memenuhi kebutuhan minum setelah berdiri dan menyampaikan aspirasi dalam waktu panjang. Respons ini menjadi salah satu bentuk pendekatan humanis yang terlihat selama kegiatan berlangsung, di tengah tugas kepolisian untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Para peserta tetap dapat melanjutkan kegiatan, sementara petugas memantau situasi dan memberikan bantuan seperlunya.
Selain membagikan air, polisi menjaga ketertiban di sekitar titik aksi dan mengatur arus lalu lintas agar kegiatan tidak menimbulkan gangguan lebih luas bagi pengguna jalan. Personel ditempatkan untuk mengawasi pergerakan massa serta membantu kendaraan melintas di area yang terdampak. Pengaturan dilakukan seiring berlangsungnya orasi, dengan perhatian pada keselamatan peserta maupun masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi. Kehadiran petugas dalam menjalankan fungsi pengamanan tersebut berjalan beriringan dengan upaya menjaga komunikasi dan suasana tetap kondusif. Hingga kegiatan berlanjut menuju waktu petang, massa dan petugas berada di lokasi dengan aktivitas masing-masing.
Setelah magrib, peserta aksi berangsur meninggalkan lokasi dengan tertib. Pergerakan massa berlangsung secara bertahap, sementara polisi tetap melakukan pemantauan dan membantu mengatur lalu lintas di sekitar kawasan. Berakhirnya kegiatan di lokasi itu tidak serta-merta menutup kemungkinan adanya aksi lanjutan. Sejumlah peserta menyatakan akan kembali menggelar aksi serupa apabila tuntutan yang mereka sampaikan tidak mendapat respons dari pemerintah pusat. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kelanjutan demonstrasi bergantung pada perkembangan tanggapan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa. Pada saat yang sama, belum ada kepastian dalam pernyataan itu mengenai apakah tuntutan peserta akan dipenuhi atau bagaimana tindak lanjutnya.
Baca juga: Aksi Cepat TNI Respons Meningkatnya Aktivitas Gunung Sinabung | Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla | Dalam 2 Hari Berturut-turut, 6 Anggota OPM Resmi Memeluk NKRI Lewat Sentuhan Humanis Satgas Koops TNI Habema






