Jakarta | Di Indonesia, pemanfaatan emas selama ini umumnya lekat dengan dua fungsi yang sudah dikenal luas: bahan pembuatan perhiasan dan aset untuk menjaga nilai, termasuk sebagai bagian dari cadangan devisa. Kedua penggunaan tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan ekonomi. Perhiasan menjadi produk bernilai budaya sekaligus komoditas perdagangan, sementara emas sebagai aset dipandang dapat membantu menjaga ketahanan nilai di tengah perubahan kondisi ekonomi. Namun, pola pemanfaatan yang dominan ini belum sepenuhnya menggambarkan beragam kemungkinan penggunaan emas dalam kegiatan industri modern.
Di luar pasar perhiasan dan fungsi penyimpanan nilai, sifat fisik dan kimia emas membuatnya relevan bagi sejumlah aplikasi teknologi. Emas memiliki konduktivitas listrik yang baik serta relatif tahan terhadap korosi, sehingga dapat digunakan pada komponen tertentu yang memerlukan sambungan listrik andal dan stabil. Dalam industri elektronik, misalnya, emas dapat ditemukan pada bagian konektor, kontak, dan komponen lain dalam perangkat. Penggunaan pada skala dan jenis produk tertentu bergantung pada rancangan, kebutuhan kinerja, serta pertimbangan biaya produksi.
Peran emas juga berkaitan dengan industri semikonduktor. Pada proses dan perangkat tertentu, material berbasis emas dapat berfungsi sebagai bahan pendukung, termasuk dalam koneksi atau komponen yang menunjang kinerja perangkat elektronik. Hal ini tidak berarti emas menjadi bahan utama seluruh produksi semikonduktor. Sebaliknya, penggunaannya bersifat spesifik dan menjadi bagian dari pilihan material yang disesuaikan dengan kebutuhan teknis. Pemahaman atas peluang tersebut membuka ruang untuk melihat emas bukan hanya sebagai komoditas tambang atau bahan perhiasan, tetapi juga sebagai salah satu input dalam rantai pasok teknologi.
Besarnya basis produksi Indonesia memberi konteks penting bagi pembahasan ini. Menurut data World Gold Council, produksi emas Indonesia pada 2025 mencapai 104 ton, menempatkan negara ini di peringkat ke-10 dunia. Angka tersebut menunjukkan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen emas utama secara global. Namun, data produksi itu tidak dengan sendirinya menjelaskan ke mana seluruh emas dialokasikan. Karena itu, angka tersebut tidak dapat ditafsirkan bahwa seluruh produksi domestik telah digunakan untuk elektronik atau semikonduktor. Perluasan pemanfaatan industri merupakan peluang pengembangan yang berbeda dari gambaran volume produksi, dan memerlukan dukungan pengolahan serta keterhubungan dengan kebutuhan manufaktur dalam negeri.
World Gold Council menyoroti investasi sebagai pendorong utama pertumbuhan permintaan emas. Sorotan ini menunjukkan bahwa keputusan investor memiliki peran penting dalam dinamika pasar emas global, berdampingan dengan bentuk permintaan lainnya. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut dapat menjadi konteks untuk melihat peluang penguatan ekosistem emas dari hulu hingga hilir. Perhatian terhadap investasi membuka ruang untuk membahas bagaimana kegiatan pertambangan, pengolahan, perdagangan, penyimpanan, dan layanan terkait dapat terhubung dalam satu rantai nilai. Namun, informasi mengenai tren global ini tidak dengan sendirinya menetapkan besaran peluang atau hasil yang akan dicapai di dalam negeri.
Kepemilikan emas melalui exchange-traded fund (ETF) emas global memasuki tahun kedua terkuat sepanjang sejarah. Pada saat yang sama, pembelian emas batangan dan koin naik ke tingkat tertinggi dalam 12 tahun terakhir. Kedua perkembangan itu menggambarkan kuatnya posisi investasi dalam permintaan emas, baik melalui instrumen yang diperdagangkan di pasar maupun melalui kepemilikan fisik. Keduanya merupakan bentuk investasi yang berbeda, sehingga relevan dibaca sebagai bagian dari gambaran permintaan global, bukan sebagai ukuran tunggal untuk seluruh pasar. World Gold Council menempatkan perkembangan tersebut dalam sorotan mengenai pertumbuhan permintaan yang didorong oleh investasi.
Dalam konteks Indonesia, informasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pelaku usaha dan pemangku kepentingan yang ingin memperkuat ekosistem emas. Peluang pembahasan mencakup hubungan produksi tambang, pemurnian, pembuatan produk, distribusi, perdagangan, serta akses terhadap layanan investasi emas. Pemahaman terhadap ragam saluran kepemilikan juga dapat membantu industri mengenali kebutuhan yang berkaitan dengan emas fisik dan instrumen investasi. Meski demikian, tren global yang disampaikan tidak memastikan bahwa pola permintaan yang sama berlaku di Indonesia. Data tersebut juga tidak menetapkan penyebab tertentu ataupun proyeksi ke depan. Nilai utamanya adalah sebagai konteks: investasi merupakan unsur penting dalam permintaan dunia, sementara penguatan rantai nilai domestik dapat dibahas dengan mempertimbangkan perkembangan pasar tersebut secara cermat.
Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan agar bahan baku yang dibutuhkan untuk mendukung hilirisasi dapat tersedia secara mandiri di dalam negeri. Sasaran ini mencakup berbagai komoditas dan material penting, termasuk emas, yang menjadi salah satu dasar bagi pengembangan kegiatan pengolahan dan industri lanjutan. Ketersediaan bahan baku domestik dipandang sebagai bagian penting dari upaya memperkuat ekosistem industri, sehingga pengembangan sektor tidak hanya bertumpu pada aktivitas penambangan, tetapi juga dapat berlanjut ke proses pengolahan dan manufaktur.
Jaminan pasokan sumber daya di dalam negeri diharapkan membantu meningkatkan keyakinan investor global untuk menanamkan modal dan membangun fasilitas produksi di Indonesia. Kepastian bahan baku dapat menjadi pertimbangan bagi perusahaan yang merencanakan investasi jangka panjang, termasuk pembangunan fasilitas manufaktur berbasis emas. Dengan dukungan pasokan yang lebih terjamin, Indonesia berpeluang menawarkan lingkungan usaha yang mendukung keterhubungan sumber daya, pengolahan, dan produk industri. Harapan tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi, yakni memperbesar nilai tambah komoditas di dalam negeri sekaligus memperkuat kapasitas industri nasional.
Dalam perkembangan kelembagaan, pemerintah baru-baru ini membentuk Indonesia Bullion Market Association (IBMA). Asosiasi ini diharapkan menjadi jembatan pelaku industri dan regulator, sekaligus menampung aspirasi para pemangku kepentingan. IBMA juga berperan sebagai wadah kolaborasi untuk mendorong komunikasi dan kerja sama dalam ekosistem emas Indonesia. Selain menjalankan fungsi tersebut, IBMA disebut berperan sebagai regulator. Kehadiran lembaga ini diharapkan mendukung keterhubungan kebutuhan industri dan arah kebijakan, tanpa mengesampingkan tujuan membangun kemandirian bahan baku. Bersama sasaran pasokan domestik, pembentukan IBMA menjadi bagian dari upaya menciptakan ekosistem yang lebih terkoordinasi dan memberi kepastian bagi pengembangan industri emas serta investasi manufaktur di Indonesia.
Road to Award 2026 bertema “Best Gold Ecosystem” akan diselenggarakan pada Selasa, 3 November 2026, pukul 15.30 WIB. Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi bagi para pelaku usaha yang dinilai mampu menggerakkan ekosistem emas di Indonesia. Penghargaan tersebut memberi perhatian pada kontribusi berbagai pihak dalam mendukung perkembangan sektor emas, dari kegiatan pertambangan hingga keterkaitannya dengan industri dan aktivitas ekonomi yang lebih luas. Melalui tema “Best Gold Ecosystem”, rangkaian ini menyoroti pentingnya ekosistem yang kuat serta peran pelaku usaha dalam mendorong kemajuan sektor terkait.
Selain apresiasi, rangkaian Road to Award 2026 juga mencakup dialog eksklusif mengenai iklim investasi saham di Indonesia, terutama dari sisi pasar modal. Dialog tersebut dipandu oleh seorang anchor bersama narasumber kompeten. Pembahasan ini menghadirkan ruang untuk mencermati kondisi investasi saham dan dinamika pasar modal, dengan perspektif dari narasumber yang memahami bidangnya. Kehadiran dialog dalam rangkaian acara memperluas pembahasan, sehingga perhatian tidak hanya tertuju pada ekosistem emas, tetapi juga pada iklim investasi yang menjadi bagian dari perkembangan ekonomi Indonesia.
Road to Award merupakan bagian dari Awards 2026, sebuah rangkaian apresiasi yang akan digelar pada waktu mendatang. Awards 2026 ditujukan untuk mengapresiasi sektor usaha dan industri yang berkontribusi positif bagi kemajuan ekonomi Indonesia. Sebagai bagian dari rangkaian tersebut, Road to Award mengangkat tema tertentu untuk memberikan sorotan kepada pelaku usaha dan isu yang relevan.
Baca juga: Anjangsana Dengan Sesepuh TNI, Wujud Penguatan Silaturahmi dan Pewarisan Nilai Pengabdian | Setelah Pernah Ramai Diberitakan, Tambang Batu Bara Ngepon Tuban Disebut Kembali Aktif | LIRA Laporkan Dugaan Tambang dan Pabrik HS Salam Magelang, Desak Audit Total dan Penyelidikan





