Dari Royalti Lagu ke Ruang Belajar: Perjalanan Sekolah Anak Percaya

Dari Royalti Lagu ke Ruang Belajar: Perjalanan Sekolah Anak Percaya

Jakarta | Sejak 2022, Andien Aisyah mendirikan Sekolah Anak Percaya, sebuah sekolah gratis yang ditujukan bagi anak-anak pemulung. Nama lembaga pendidikan tersebut diambil dari judul lagu “Percaya” milik Andien. Kisah ini mempertemukan perjalanan musik sang penyanyi dengan upaya menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak yang menjadi sasaran sekolah itu. Informasi mengenai pendirian sekolah disampaikan Andien saat ditemui di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Minggu (11/10/2026).

Nama Sekolah Anak Percaya mengingatkan pada lagu yang menjadi asal penamaannya, sekaligus menandai hubungan personal karya Andien dan sekolah yang ia dirikan. Namun, hal yang disampaikan mengenai sekolah ini berpusat pada waktu pendirian, statusnya sebagai sekolah gratis, serta kelompok anak yang dituju. Karena itu, kisahnya dapat dipahami melalui tiga unsur tersebut tanpa perlu menambahkan keterangan yang belum tersedia tentang pelaksanaan pendidikan di dalamnya.

Keputusan untuk menghadirkan sekolah gratis bagi anak-anak pemulung menempatkan akses belajar sebagai inti dari cerita ini. Andien menyebut sekolah tersebut didirikan pada 2022, sehingga pendiriannya menjadi bagian penting dari perjalanan yang kemudian dikenal melalui nama Anak Percaya. Nama itu bukan sebutan yang berdiri sendiri: Andien menjelaskan bahwa inspirasi penamaannya berasal dari lagu “Percaya”. Keterangan tersebut memberi konteks tentang pilihan nama sekaligus menjaga kisah sekolah tetap bertumpu pada hal yang ia sampaikan.

Dari judul lagu menuju nama sekolah, “Percaya” menjadi penghubung karya Andien dan sebuah inisiatif pendidikan yang ditujukan kepada anak-anak pemulung. Sekolah ini digambarkan sebagai sekolah gratis, sementara rincian lain mengenai kegiatan maupun penyelenggaraannya tidak menjadi bagian dari keterangan yang tersedia. Dengan demikian, inti kisahnya adalah pendirian Sekolah Anak Percaya oleh Andien sejak 2022, sasaran anak-anak yang dituju, dan asal nama sekolah tersebut. Ketiga hal itu disampaikan dalam pertemuan di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Lagu “Percaya” hadir pada masa pandemi Covid-19, ketika banyak orang menghadapi perubahan dan ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perjalanan proyek Sekolah Anak Percaya, lagu ini tidak hanya menjadi karya musik, tetapi juga bagian dari upaya mengumpulkan modal bagi gagasan pendidikan. Royalti lagu tersebut dijual dalam bentuk NFT, lalu hasil penjualannya dimanfaatkan sebagai modal untuk mendirikan sekolah. Dengan demikian, karya kreatif itu memperoleh peran baru: mendukung lahirnya ruang belajar yang dapat memberi manfaat bagi anak-anak.

Penting untuk membedakan transaksi tersebut dari penjualan hak cipta lagu. Keterangan yang tersedia menyebut bahwa royalti “Percaya” dijual dalam bentuk NFT; hal itu tidak berarti hak cipta lagunya turut dijual. Royalti berkaitan dengan pendapatan yang dihasilkan dari pemanfaatan karya, sementara hak cipta merupakan hak atas karya itu sendiri. Ketepatan istilah ini membantu menjelaskan bagaimana musik mendukung pendirian sekolah tanpa menyamakan mekanisme penjualan royalti dengan pengalihan kepemilikan lagu. Hasil penjualan royalti itulah yang disebut menjadi modal awal bagi sekolah.

Makna lagu tersebut, sebagaimana dijelaskan Andien, berkisah tentang seseorang yang tetap percaya pada mimpinya, bahkan ketika ia sendiri belum mampu percaya kepada dirinya. Gagasan ini terasa selaras dengan proses mewujudkan sekolah: sebuah cita-cita perlu dijaga dan diupayakan, termasuk saat bentuknya belum sepenuhnya terlihat. “Percaya” menyampaikan pesan tentang keteguhan menghadapi keraguan, sedangkan penggunaan royalti lagunya menghadirkan hubungan nyata pesan itu dan langkah membangun ruang belajar. Dari sebuah lagu yang lahir pada masa sulit, dukungan finansial kemudian diarahkan untuk menyiapkan tempat bagi anak-anak untuk belajar dan bertumbuh. Perjalanan ini menunjukkan bagaimana karya seni dapat berkelindan dengan inisiatif sosial, ketika pendapatan dari karya tersebut digunakan untuk membantu mewujudkan sebuah gagasan pendidikan.Dalam penuturan Andien, perjalanan Sekolah Anak Percaya dimulai dari sebuah sekolah yang didirikan di kampung pemulung Pondok Kopi. Lokasi pertama ini menjadi titik awal rangkaian tempat belajar yang kemudian disebutkan dalam urutan berikutnya. Penyebutan Pondok Kopi menandai konteks awal perjalanan tersebut, tanpa perlu menambahkan alamat atau keterangan lain yang tidak disampaikan. Dari titik ini, cerita bergerak ke lokasi-lokasi selanjutnya, mengikuti urutan yang dipaparkan Andien. Urutan itu memberi gambaran mengenai perkembangan sekolah melalui tempat-tempat yang berbeda, sekaligus menjaga perhatian pada informasi yang memang tersedia. Dengan demikian, Pondok Kopi dapat dipahami sebagai lokasi pertama dalam rangkaian yang mencakup empat tempat.

Setelah sekolah pertama di Pondok Kopi, lokasi berikutnya yang disebut adalah Joglo. Dalam rangkaian tersebut, Joglo hadir sebagai sekolah kedua, sebelum Andien menyebut Jurang Mangu. Jurang Mangu menempati urutan ketiga dalam perjalanan lokasi Sekolah Anak Percaya. Penyebutan kedua tempat ini memperlihatkan susunan perjalanan secara sederhana: dari Pondok Kopi, berlanjut ke Joglo, kemudian ke Jurang Mangu. Tidak ada rincian tambahan mengenai alamat maupun waktu pembukaan yang perlu dilekatkan pada masing-masing lokasi. Fokusnya adalah urutan tempat sebagaimana disampaikan, bukan penjelasan mengenai proses operasional atau perubahan di setiap sekolah. Cara menyusun informasi ini membuat pembaca dapat mengikuti perkembangan lokasi tanpa menarik kesimpulan di luar keterangan Andien.

Lokasi keempat yang disebut Andien adalah Rawa Bebek. Dengan demikian, rangkaian yang disampaikan bergerak dari kampung pemulung Pondok Kopi ke Joglo, lalu ke Jurang Mangu, dan berlanjut ke Rawa Bebek. Urutan tersebut merangkum perjalanan Sekolah Anak Percaya melalui empat lokasi yang disebutkan, tanpa menyiratkan informasi lain tentang cabang atau tempat tambahan. Setiap nama berfungsi sebagai penanda tahap dalam cerita lokasi: Pondok Kopi sebagai awal, Joglo sebagai berikutnya, Jurang Mangu sesudahnya, dan Rawa Bebek sebagai lokasi keempat. Paparan yang terbatas pada susunan ini menjaga kisah tetap akurat dan jelas. Pembaca memperoleh gambaran mengenai persebaran tempat belajar berdasarkan keterangan yang tersedia, tanpa mengasumsikan rincian yang tidak dinyatakan.

Menurut Andien, pada awalnya terdapat keraguan dari sejumlah pihak untuk mengajar di kampung pemulung. Keraguan itu berkaitan dengan persoalan yang tidak sederhana dan tidak berdiri sendiri. Kondisi yang dihadapi anak-anak serta lingkungan tempat mereka tinggal memiliki banyak lapisan, sehingga upaya pendidikan di sana tidak dapat dipandang sebagai kegiatan mengajar semata. Ada tantangan yang perlu dikenali lebih dahulu, sementara pihak yang hendak terlibat mungkin belum mengetahui bagaimana menghadapi situasi tersebut. Bagi Andien, keraguan itu dapat dipahami sebagai respons terhadap kenyataan yang kompleks, bukan alasan untuk mengabaikan kebutuhan anak-anak.

Di tengah keadaan tersebut, Andien memilih mengambil peran. Ia tidak menunggu seluruh hambatan selesai atau berharap satu pihak mampu menyelesaikan semuanya sendiri. Sebaliknya, ia berupaya membuka ruang bagi keterlibatan dan percakapan bersama. Mengajar di kampung pemulung menuntut kesediaan untuk melihat persoalan secara utuh, mendengarkan pengalaman orang-orang yang berada di sana, serta memahami bahwa kebutuhan setiap anak dapat berbeda. Dengan cara itu, langkah pendidikan dapat dimulai dari keadaan yang nyata, bukan dari anggapan bahwa semua tantangan bisa diatasi melalui satu pendekatan yang sama.

Pilihan untuk terlibat juga berarti mengajak pihak lain mencari jalan keluar bersama. Menurut Andien, persoalan berlapis membutuhkan upaya yang tidak bertumpu pada satu orang atau satu tindakan saja. Pihak-pihak yang bersedia hadir dapat saling berbagi perhatian, pemahaman, dan kemampuan untuk melihat kemungkinan yang dapat dilakukan. Ajakan tersebut bukan berarti semua jawaban sudah tersedia sejak awal. Proses mencari solusi memerlukan kemauan untuk berkolaborasi, meninjau kebutuhan yang ada, dan terus menyesuaikan langkah.

Baca juga: Pemkot Tangerang keluarkan SE jemput anak sekolah pada 27–28 Agustus | Deretan Hoaks Penyaluran Hibah DAP, Jangan Mudah Percaya | Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT