Jakarta | Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas struktur dan komposisi keanggotaan komite High Shareholding Concentration (HSC) dengan menambahkan lima anggota independen. Perubahan ini menjadi bagian dari upaya bursa memperkuat tata kelola dalam proses yang berkaitan dengan konsentrasi kepemilikan saham. Dengan keterlibatan anggota independen, BEI diharapkan dapat menjaga proses kerja komite agar lebih objektif, transparan, dan mempertimbangkan berbagai aspek yang relevan.
Penguatan tersebut juga berkaitan dengan metodologi penentuan saham yang masuk maupun keluar dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Metodologi yang jelas dan penerapannya secara konsisten penting bagi integritas indeks, karena perubahan komposisi dapat menjadi perhatian investor dan pelaku pasar. Kehadiran unsur independen dalam komite HSC ditujukan untuk mendukung penelaahan yang lebih cermat, sekaligus memperkuat akuntabilitas dalam proses pengambilan keputusan. Langkah ini tidak mengubah fungsi indeks sebagai tolok ukur pasar, tetapi menegaskan perhatian bursa terhadap tata cara evaluasi saham yang menjadi bagian di dalamnya.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan informasi mengenai perubahan komite tersebut dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta Selatan, pada 26 Oktober 2026. Penyampaian ini memberi konteks bahwa perluasan keanggotaan merupakan langkah kelembagaan yang dilakukan bursa untuk meningkatkan kualitas tata kelola. Penambahan lima anggota independen memperluas komposisi komite, sementara rincian mengenai mandat, proses kerja, dan penerapan metodologi tetap perlu merujuk pada penjelasan resmi BEI.
Bagi investor, penguatan tata kelola komite HSC dapat membantu meningkatkan kepercayaan terhadap proses evaluasi yang berkaitan dengan saham berkapitalisasi atau kepemilikan terkonsentrasi. Kejelasan prosedur dan independensi penilaian menjadi unsur penting agar keputusan terkait keanggotaan indeks dapat dipahami sebagai bagian dari mekanisme yang terukur. Karena itu, perluasan komite ini menempatkan transparansi dan konsistensi sebagai perhatian utama, seiring BEI menjalankan perannya dalam menyediakan infrastruktur pasar yang tertib dan kredibel.
Sebelumnya, keanggotaan komite HSC BEI hanya berasal dari unsur self-regulatory organization (SRO). Susunan tersebut menempatkan organisasi yang menjalankan fungsi pengaturan dan pengawasan pasar sebagai sumber utama pandangan dalam pembahasan komite. Dengan perubahan terbaru, cakupan keanggotaan diperluas agar komite dapat melibatkan pihak independen di luar SRO. Perubahan ini membuka ruang bagi perspektif yang lebih beragam dalam membahas isu-isu pasar modal, sekaligus memberi kesempatan bagi kelompok yang terdampak oleh kebijakan dan aktivitas perdagangan untuk menyampaikan masukan melalui mekanisme komite. Perluasan tersebut tidak menghapus peran SRO, tetapi menambah variasi latar belakang pihak yang dapat berkontribusi.
Pihak independen yang dapat dilibatkan mencakup pelaku industri, kalangan akademisi, serta perwakilan investor. Ketiga kelompok tersebut memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Pelaku industri dapat memberi gambaran mengenai praktik dan kebutuhan operasional di pasar, sedangkan akademisi dapat menyampaikan analisis berbasis kajian. Perwakilan investor dapat membawa perhatian terkait pengalaman serta kepentingan pemodal. Kehadiran perspektif tersebut berpotensi memperkaya diskusi komite dan membantu pembahasan mempertimbangkan kondisi pasar secara lebih luas. Namun, keterlibatan pihak independen bukan berarti setiap individu dari kelompok-kelompok itu otomatis menjadi anggota tetap. Keanggotaan tetap dan partisipasi dalam kegiatan komite merupakan hal yang berbeda.
Jeffrey menjelaskan bahwa BEI memiliki ruang untuk menambah anggota komite, termasuk dari kalangan independen. Selain itu, pihak independen juga dapat diundang untuk hadir dalam setiap rapat komite. Opsi undangan ini memungkinkan komite memperoleh masukan sesuai kebutuhan pembahasan tanpa serta-merta menetapkan semua pihak yang hadir sebagai anggota. Dengan demikian, perluasan dapat dilakukan melalui penambahan anggota maupun pelibatan narasumber independen pada rapat tertentu. Fleksibilitas tersebut memungkinkan komposisi dan kontribusi peserta disesuaikan dengan topik yang dibahas. Perubahan dari susunan yang sebelumnya terbatas pada SRO ini menandai pendekatan yang lebih terbuka, sembari tetap membedakan status anggota komite dari pihak yang hadir atas undangan.
Komposisi terbaru Komite HSC berjumlah sembilan orang, dengan keterwakilan dari unsur internal Self-Regulatory Organization (SRO) dan pihak independen. Empat anggota berasal dari jajaran direksi SRO, sedangkan lima lainnya merupakan pihak eksternal independen. Susunan ini memadukan pemahaman langsung mengenai tata kelola pasar modal dengan perspektif dari industri, akademisi, investor, dan kebijakan governance.
Dalam unsur SRO, keterlibatan direksi mencakup dua perwakilan bursa, masing-masing satu perwakilan dari PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Keikutsertaan lembaga-lembaga tersebut menghadirkan sudut pandang yang mencakup perdagangan, kliring dan penjaminan, serta penyimpanan dan penyelesaian transaksi. Dengan demikian, pembahasan HSC dapat mempertimbangkan keterhubungan fungsi utama dalam infrastruktur pasar modal.
Perwakilan eksternal turut membawa pengalaman praktis dari perusahaan efek. Di antaranya adalah Direktur Utama Mandiri Sekuritas Alex Widi Kristiono dan Direktur Utama UBS Sekuritas Joshua Tanja. Keterlibatan pimpinan perusahaan efek memungkinkan pembahasan mempertimbangkan tantangan yang dihadapi pelaku industri dalam menjalankan kegiatan pasar modal dan menerapkan prinsip tata kelola.
Komite juga melibatkan Mardiasmo, Ketua Umum Dewan Pengurus Komite Nasional Kebijakan Governance sekaligus mantan Wakil Menteri Keuangan. Dari kalangan akademisi, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Eduardus Tandelilin memberikan perspektif keilmuan. Sementara itu, Chapman Taylor dari Capital Group menjadi perwakilan investor asing dan pengelola dana portofolio, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun.
Keberagaman latar belakang tersebut memperluas cakupan pertimbangan komite, mulai dari tata kelola dan kebijakan hingga kebutuhan perusahaan efek serta sudut pandang investor. Komposisi sembilan anggota ini dirancang untuk mendukung pembahasan yang lebih berimbang dan relevan bagi ekosistem pasar modal. Kehadiran unsur independen juga memberi ruang bagi evaluasi dari luar struktur SRO, sementara keterwakilan SRO menjaga pemahaman atas aspek operasional dan kelembagaan. Kombinasi pengalaman tersebut menjadi landasan bagi komite dalam menelaah isu tata kelola secara menyeluruh.
Jeffrey berharap perluasan komposisi Komite HSC dengan kehadiran lima anggota independen dapat membawa perbaikan pada kualitas kerja komite. Harapan tersebut terutama berkaitan dengan transparansi, tata kelola, serta kredibilitas keluaran yang dihasilkan. Dengan komposisi yang diperluas, BEI mengharapkan proses dan hasil kerja komite semakin mendukung prinsip-prinsip tersebut dalam pelaksanaan tugasnya ke depan.
Transparansi menjadi salah satu aspek yang disoroti dalam harapan itu. BEI berharap keluaran Komite HSC dapat menunjukkan proses kerja yang lebih terbuka dan jelas. Sementara itu, tata kelola yang lebih baik diharapkan tercermin dalam cara komite menjalankan peran dan menghasilkan keluaran. Jeffrey menyampaikan harapan tersebut seiring dengan perubahan komposisi keanggotaan, tanpa menyebutkan ukuran atau bentuk perubahan yang lebih terperinci.
Aspek lainnya adalah kredibilitas keluaran komite. BEI berharap hasil kerja Komite HSC memiliki kredibilitas yang semakin baik, sehingga dapat mendukung pelaksanaan fungsi komite secara lebih meyakinkan. Harapan mengenai kredibilitas ini berjalan seiring dengan perhatian terhadap transparansi dan tata kelola, bukan sebagai sasaran yang berdiri sendiri. Ketiganya menjadi bagian dari dampak yang diharapkan dari perluasan komposisi tersebut.
Jeffrey menempatkan harapan itu sebagai tujuan ke depan bagi Komite HSC setelah penambahan anggota independen. BEI mengharapkan komposisi baru tersebut berkontribusi pada peningkatan transparansi, tata kelola, dan kredibilitas keluaran komite. Pernyataan tersebut menegaskan arah yang diharapkan tanpa merinci hasil tertentu yang telah tercapai. Dengan demikian, perhatian terhadap ketiga aspek itu menjadi penekanan dalam langkah BEI memperluas keanggotaan komite. Ke depannya, BEI berharap keluaran Komite HSC semakin transparan, tata kelolanya semakin baik, dan kredibilitasnya semakin kuat.
Baca juga: Cegah Kebakaran Hutan Dan Lahan Meluas, Tim Penyuluh Alpha Mabes TNI Berikan Sosialisasi Dan Wawasan Kepada Anggota Bayan Resourse | Pimpinan Redaksi dan Seluruh Anggota Media Dua Putri Group Berduka atas Wafatnya Letjen TNI Purn. K. Koswara | Enam Anggota dan Simpatisan OPM Ikrar Setia NKRI






