Padang | Banjir masih menggenangi sejumlah wilayah di Kota Padang, Sumatera Barat, hingga Minggu, 11 Oktober 2026. Air yang belum sepenuhnya surut berdampak pada sekitar 120 rumah warga. Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat terganggu, terutama di kawasan yang masih tertutup genangan dan memerlukan penanganan segera. Warga terdampak harus menghadapi keterbatasan mobilitas serta ancaman meningkatnya ketinggian air apabila hujan kembali turun.
Salah satu dampak paling serius terlihat di kawasan sekitar PDAM Daerah Guo, Kecamatan Kuranji. Genangan banjir menyebabkan akses jalan di kawasan tersebut terputus, sehingga kendaraan maupun warga tidak dapat melintas dengan normal. Terputusnya jalur itu juga menyulitkan distribusi bantuan dan pemantauan kondisi warga yang terdampak. Sejumlah ruas yang biasanya digunakan sebagai penghubung antarkawasan belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena masih digenangi air.
Gangguan akses tersebut turut menghambat petugas dalam menjangkau sejumlah wilayah yang terdampak banjir. Petugas perlu menyesuaikan upaya penanganan dengan kondisi lapangan, termasuk mencari jalur yang masih memungkinkan untuk dilalui. Banjir tercatat melanda tiga kecamatan dan enam kelurahan di Kota Padang. Sebaran genangan itu menunjukkan bahwa dampaknya tidak hanya dirasakan di satu titik, melainkan mencakup beberapa kawasan permukiman. Penanganan di lapangan terus diperlukan untuk memastikan kebutuhan warga dapat dipenuhi, sekaligus memantau perkembangan genangan dan kondisi akses jalan. Selama air belum surut, masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap berhati-hati dan mengikuti informasi resmi mengenai situasi banjir serta langkah evakuasi apabila diperlukan.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa banjir yang masih menggenangi sejumlah wilayah di Padang dipicu oleh hujan berintensitas tinggi. Hujan tersebut terjadi pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dan menyebabkan peningkatan debit air hingga meluap ke kawasan permukiman warga. Kondisi ini berdampak pada aktivitas masyarakat serta mendorong sebagian warga meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang lebih aman.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Sumatera Barat yang diterima pada Minggu pukul 03.34 WIB, sebanyak 120 rumah tercatat terdampak banjir. Dari jumlah tersebut, satu rumah mengalami kerusakan berat, sedangkan empat rumah lainnya dilaporkan rusak sedang. Data itu menjadi gambaran awal mengenai dampak bencana, sementara petugas masih melakukan pendataan dan peninjauan di lapangan.
BNPB dan BPBD Sumatera Barat terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan situasi, termasuk kondisi genangan, kebutuhan warga terdampak, serta kemungkinan munculnya dampak lanjutan. Petugas juga mengumpulkan informasi dari berbagai lokasi agar jumlah rumah terdampak dan tingkat kerusakannya dapat dicatat secara akurat. Langkah tersebut penting untuk memastikan penanganan, evakuasi, dan penyaluran bantuan dilakukan sesuai kebutuhan.
Hingga laporan disampaikan, data mengenai dampak banjir masih diperbarui. Perubahan angka dapat terjadi seiring proses verifikasi oleh petugas di lapangan, terutama setelah akses menuju sejumlah wilayah menjadi lebih mudah. Masyarakat di kawasan terdampak diimbau tetap mengikuti arahan pemerintah daerah, mewaspadai kenaikan genangan, dan segera melapor apabila membutuhkan pertolongan. Pemantauan terhadap kondisi cuaca serta lingkungan sekitar juga perlu dilakukan karena hujan lanjutan berpotensi memperparah situasi.
Sedikitnya 672 jiwa terpaksa meninggalkan rumah akibat banjir yang masih menggenangi sejumlah wilayah di Padang. Warga dievakuasi menuju lokasi yang lebih aman setelah genangan menghambat aktivitas, mengganggu akses menuju permukiman, serta menimbulkan risiko bagi masyarakat yang tetap bertahan di rumah. Jumlah tersebut mencerminkan warga yang membutuhkan tempat berlindung sementara selama kondisi banjir belum sepenuhnya surut.
Sebaran pengungsi tercatat di tiga lokasi. Sebanyak 367 jiwa berada di tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga di sekitarnya. Lokasi ini menjadi salah satu titik penampungan bagi masyarakat yang meninggalkan rumah, baik karena tempat tinggal mereka terdampak genangan maupun karena membutuhkan lingkungan yang lebih aman untuk sementara waktu. Penampungan di rumah warga turut membantu menampung jumlah pengungsi yang cukup besar.
Sementara itu, 250 jiwa menempati Mushalla Ar Ridwan di Kampung Tangah. Mushalla tersebut dimanfaatkan sebagai tempat perlindungan sementara bagi warga terdampak. Para pengungsi membutuhkan dukungan berupa tempat istirahat, makanan, air bersih, serta pemantauan kondisi kesehatan selama berada di lokasi penampungan. Kebutuhan tersebut menjadi penting karena sebagian warga harus tinggal di luar rumah hingga situasi memungkinkan untuk kembali.
Adapun 55 jiwa lainnya berada di Warung Jembatan Guo. Dengan demikian, seluruh pengungsi tersebar di Lapau Munggu dan rumah warga sebanyak 367 jiwa, Mushalla Ar Ridwan Kampung Tangah sebanyak 250 jiwa, serta Warung Jembatan Guo sebanyak 55 jiwa. Rincian itu berjumlah 672 jiwa, sesuai dengan total warga yang meninggalkan rumah akibat banjir. Pendataan di setiap lokasi diperlukan untuk memastikan bantuan dan pelayanan kebencanaan dapat disalurkan secara tepat kepada seluruh warga terdampak.
Penanganan banjir di sejumlah wilayah Padang terus dilakukan seiring masih adanya warga yang mengungsi. Bantuan darurat disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi selama proses evakuasi dan pemulihan berlangsung. Bantuan tersebut mencakup makanan siap santap, selimut, mi instan, makanan anak, paket kebutuhan keluarga, pakaian anak, serta kasur.
Berbagai perlengkapan itu ditujukan untuk membantu warga yang meninggalkan rumah akibat genangan. Makanan dan mi instan digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian, sementara makanan anak diberikan untuk mendukung kebutuhan khusus keluarga yang memiliki balita atau anak-anak. Selimut, pakaian anak, dan kasur juga menjadi bagian penting karena sebagian pengungsi harus bertahan di lokasi penampungan dalam kondisi terbatas.
Namun, penanganan di lapangan masih menghadapi kendala. Berton menyatakan bahwa luas wilayah yang terdampak menjadi salah satu tantangan dalam penyaluran bantuan serta pelaksanaan evakuasi. Kondisi tersebut membuat petugas perlu menjangkau banyak titik yang mengalami genangan dengan tingkat dampak berbeda-beda.
Selain wilayah terdampak yang luas, sejumlah akses menuju lokasi juga terendam. Akses yang terganggu menyulitkan pergerakan petugas, pengiriman bantuan, dan pemantauan kondisi warga. Situasi ini dapat memengaruhi kecepatan penanganan, terutama apabila genangan masih bertahan dan jalur menuju kawasan pengungsian belum dapat dilalui dengan lancar.
Berton mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan tanah longsor apabila hujan berintensitas tinggi berlangsung dalam waktu lama. Warga diminta memperhatikan perkembangan kondisi di sekitar tempat tinggal dan bersiap menghadapi kemungkinan perubahan situasi selama hujan deras masih terjadi.
Baca juga: Wujudkan Wilayah Binaan Selalu Aman, Babinsa Dan Bhabinkamtibmas Kompak Sambangi Warga Di Pos Kamling | Hercules TNI AU Kembali Tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Bawa Ratusan APD Bantuan Kemhan RI dan Masker Dari Puskes TNI AU Untuk Perkuat Penanganan Karhutla Kalsel | TNI Kerahkan Personel dan Heli Caracal Perkuat Penanganan Karhutla di Wilayah IKN

