Sport  

Bajaj Jakarta Bertahan di Tengah Menyusutnya Penumpang dan Ketatnya Persaingan

Bajaj Jakarta Bertahan di Tengah Menyusutnya Penumpang dan Ketatnya Persaingan

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Bajaj legendaris Jakarta masih beroperasi, tetapi keberadaannya tidak lagi sebesar beberapa dekade lalu. Jumlah unit yang dahulu mencapai 14.612 pada 1999 kini menyusut menjadi sekitar 6.025 unit. Penurunan tersebut mencerminkan perubahan besar dalam pola mobilitas warga dan semakin terbatasnya ruang bagi angkutan lingkungan yang pernah mendominasi jalan-jalan permukiman Ibu Kota.

Dengan ukuran yang kecil dan kemampuan bermanuver, bajaj dahulu dikenal mampu menjangkau gang-gang sempit yang sulit dilalui kendaraan berukuran lebih besar. Kendaraan ini menjadi andalan masyarakat di kawasan permukiman untuk perjalanan jarak dekat, seperti menuju pasar, sekolah, stasiun, atau jalan utama. Bagi banyak warga, bajaj juga merupakan bagian dari keseharian sekaligus penanda khas kehidupan kampung di Jakarta.

Sampai sekarang, kendaraan beroda tiga tersebut masih dapat dijumpai di sejumlah sudut kota. Asemka, Salemba, Tambora, serta beberapa kawasan permukiman lain masih menjadi wilayah yang memperlihatkan aktivitas bajaj. Kehadirannya memang tidak seramai dahulu, namun angkutan ini belum sepenuhnya hilang dari lanskap transportasi Jakarta. Sebagian pengemudi tetap mengandalkannya sebagai sumber penghasilan, sementara penumpang tertentu masih memilihnya untuk kebutuhan perjalanan yang praktis.

Tekanan terbesar datang dari perubahan pilihan transportasi. Moda modern menawarkan kemudahan pemesanan, waktu tunggu yang lebih singkat, kenyamanan, serta tarif yang relatif terjangkau, terutama untuk perjalanan yang dapat dipesan melalui aplikasi. Persaingan tersebut membuat bajaj semakin sulit mempertahankan penumpang, khususnya di kalangan pengguna yang mengutamakan kepastian layanan dan kondisi kendaraan. Akibatnya, bajaj perlahan kehilangan posisi sebagai “raja kampung”, meskipun masih memiliki fungsi penting di lingkungan tertentu.

Bagi sebagian pengemudi bajaj di Jakarta, menunggu penumpang merupakan bagian terbesar dari rutinitas kerja. Mereka biasanya bertahan di titik mangkal tertentu, berharap ada pelanggan yang membutuhkan perjalanan jarak dekat. Selain mengandalkan penumpang yang datang secara spontan, para sopir juga berusaha mempertahankan pelanggan tetap yang sudah mengenal mereka dan sesekali menggunakan jasanya.

Gambaran tersebut terlihat dari pengalaman Muslih ketika ditemui di Pasar Jembatan Lima, Jakarta, sekitar pukul 11.00 WIB. Pada waktu itu, ia mengaku belum memperoleh penumpang pertama pada hari tersebut. Muslih menilai peminat bajaj semakin berkurang karena pilihan transportasi lain semakin mudah dijangkau. Menurutnya, seseorang yang bepergian seorang diri lebih cenderung memilih ojek online. Sementara itu, dua atau tiga orang biasanya memilih taksi online atau mobil online yang dinilai lebih sesuai untuk bepergian bersama.

Situasi serupa terlihat di sejumlah titik mangkal lainnya. Di depan RS St Carolus, misalnya, para sopir dapat menghabiskan waktu berjam-jam dengan menunggu calon penumpang. Sambil menanti, mereka berdiskusi dengan sesama pengemudi, membicarakan keadaan jalan, pelanggan, serta peluang mendapatkan perjalanan berikutnya. Di Jalan Gajah Mada, seorang sopir bahkan terlihat tertidur ketika sedang mengantre penumpang. Pemandangan itu menunjukkan panjangnya waktu tunggu yang harus dihadapi dalam pekerjaan sehari-hari.

Berbeda dari layanan transportasi berbasis aplikasi yang mencantumkan tarif sejak awal, ongkos bajaj masih ditentukan melalui kesepakatan pengemudi dan penumpang. Penumpang dapat menawar harga sebelum perjalanan dimulai, bergantung pada jarak, tujuan, dan hasil pembicaraan dengan sopir. Pola tersebut tetap menjadi ciri layanan bajaj, tetapi sekaligus membuat pendapatan pengemudi bergantung pada jumlah penumpang, kemampuan mempertahankan pelanggan tetap, dan keberadaan mereka di titik mangkal yang strategis.

Di tengah berkurangnya penumpang, sebagian sopir bajaj berusaha mempertahankan pendapatan dengan menerima angkutan barang. Kendaraan yang sebelumnya digunakan terutama untuk membawa orang kini dimanfaatkan untuk mengangkut berbagai kebutuhan, selama ukuran dan muatannya masih memungkinkan. Cara ini menjadi sumber pemasukan tambahan ketika perjalanan penumpang tidak cukup untuk menutup biaya operasional dan setoran harian.

Salah satu barang yang pernah diangkut menggunakan bajaj adalah ondel-ondel. Dalam sebuah perjalanan, ondel-ondel dinaikkan ke bagian belakang kendaraan dengan bantuan beberapa orang sebelum dibawa menuju lokasi tujuan. Angkutan tersebut tidak hanya melayani perjalanan di dalam Jakarta, tetapi juga dapat digunakan untuk mengantar ondel-ondel hingga ke luar Jakarta. Pemandangan penumpang atau pemilik barang yang menaikkan ondel-ondel ke bajaj menunjukkan bagaimana kendaraan ini beradaptasi dengan kebutuhan angkutan yang beragam.

Namun, jasa angkutan barang dengan bajaj juga menghadapi persaingan dari layanan pengiriman berbasis aplikasi. Pengguna dapat memesan kendaraan untuk mengirim barang melalui telepon seluler, sehingga sopir bajaj harus mencari kesempatan dari permintaan yang tersedia secara langsung maupun dari pelanggan yang telah mengenal jasanya. Persaingan tersebut menambah tantangan bagi sopir yang mengandalkan pemasukan harian.

Minta, 60 tahun, mengatakan bahwa ia harus membayar setoran sewa bajaj sebesar Rp60 ribu setiap hari. Pada hari tertentu, ia kesulitan memperoleh pendapatan hingga Rp100 ribu. Penghasilan itu pun masih harus digunakan untuk membeli bahan bakar dan makan, sehingga jumlah yang tersisa bagi dirinya menjadi terbatas. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan persaingan di kawasan permukiman setelah hadirnya JakLingko. Kehadiran layanan itu turut mengubah pilihan angkutan warga, sementara sopir bajaj tetap berupaya mendapatkan penumpang dan pekerjaan angkutan barang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di tengah jumlah penumpang yang semakin tidak menentu, biaya perawatan menjadi persoalan lain yang terus menghantui pengemudi bajaj. Kerusakan kecil pada CDI, klep, sistem kelistrikan, hingga bodi yang mulai keropos dapat mengurangi penghasilan karena kendaraan harus berhenti beroperasi. Para sopir biasanya membawa bajaj mereka ke bengkel yang dijuluki “rumah sakit bajaj” di Jalan Makmur, Duri Pulo, Gambir. Tempat itu menjadi rujukan perbaikan selama puluhan tahun, sejak era bajaj oranye hingga bajaj biru berbahan bakar gas yang kini masih terlihat di sejumlah ruas Jakarta.

Di bengkel tersebut, mekanik menangani beragam kerusakan yang menentukan apakah sebuah bajaj masih layak mencari penumpang. Namun, perbaikannya tidak selalu murah. Sekali turun mesin, biayanya dimulai dari sekitar Rp1,5 juta. Bagi pengemudi dengan pendapatan terbatas dan pemasukan harian yang bergantung pada banyaknya penumpang, jumlah itu merupakan beban besar. Mereka harus memilih segera memperbaiki kendaraan agar dapat kembali bekerja atau menunda perbaikan sambil menanggung risiko kerusakan yang semakin parah. Pengeluaran rutin untuk bahan bakar, suku cadang, dan kebutuhan rumah tangga membuat ruang untuk menabung semakin sempit.

Muslih adalah salah satu pengemudi yang tetap mempertahankan pekerjaannya meski situasi jalanan tidak lagi seramai dahulu. Selama bertahun-tahun, ia mengandalkan bajaj untuk menyekolahkan tiga anaknya. Kini, harapannya sederhana: dapat menyisihkan penghasilan untuk membuka warung di kampung halaman. Rencana itu belum mudah diwujudkan karena pendapatan dari jalanan Jakarta sering kali hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan perawatan kendaraan. Kendati demikian, sepinya penumpang tidak membuatnya segera meninggalkan bajaj. Muslih memilih tetap bertahan, menunggu rezeki datang di perjalanan-perjalanan pendek dan berharap kendaraan yang menjadi sumber penghidupannya masih mampu membawanya melewati hari-hari berikutnya.