Samarinda | Briptu Asky Rizal Toding, ajudan Gubernur Kalimantan Timur, menyampaikan permintaan maaf setelah video yang memperlihatkan sikapnya terhadap mahasiswa demonstran beredar luas di media sosial. Tayangan tersebut menjadi perhatian publik karena menunjukkan perilaku yang dinilai arogan saat berhadapan dengan mahasiswa. Setelah rekaman itu ramai dibicarakan, Asky menyampaikan permintaan maaf melalui sebuah video. Ia menggunakan tayangan tersebut untuk mengakui tindakannya dan menyampaikan penyesalan atas sikap yang terlihat dalam rekaman.
Dalam pernyataannya, Asky mengakui bahwa tindakannya merupakan kesalahan. Ia menyatakan bahwa sikap tersebut telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi pihak-pihak yang menyaksikan maupun terdampak oleh kejadian itu. Ia juga menegaskan bahwa perilakunya tidak dapat dibenarkan. Pengakuan tersebut disampaikan setelah video yang beredar memicu beragam tanggapan dari masyarakat, termasuk sorotan terhadap cara aparat atau petugas mendampingi pejabat saat menghadapi demonstrasi. Permintaan maaf itu menjadi respons langsung atas kritik yang muncul setelah rekaman tersebar.
Asky turut menyampaikan janji untuk tidak mengulangi perbuatannya. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari permintaan maaf yang ia sampaikan kepada publik melalui video. Ia mengakui bahwa tindakannya tidak semestinya terjadi dan menyatakan akan menjadikannya sebagai pelajaran. Permintaan maaf itu disampaikan setelah sikapnya terhadap mahasiswa demonstran menjadi sorotan, sehingga perhatian publik tidak hanya tertuju pada isi rekaman, tetapi juga pada tanggung jawab yang ia nyatakan. Dengan mengakui kesalahan, dampak berupa ketidaknyamanan, serta janji untuk memperbaiki sikap, Asky menyampaikan respons atas viralnya video tersebut.
Asky menjelaskan bahwa sikap arogan yang terlihat dalam video tersebut muncul secara spontan. Ia menyatakan bahwa tindakan itu dilakukan atas kehendaknya sendiri, bukan karena instruksi atau arahan dari siapa pun. Penjelasan ini menegaskan bahwa tidak ada pihak lain yang memintanya bersikap demikian. Dalam keterangannya, Asky mengakui perilakunya dan tidak mengalihkan tanggung jawab atas tindakan tersebut kepada orang lain. Ia menyampaikan pengakuan itu saat memberikan penjelasan mengenai sikapnya terhadap mahasiswa, setelah rekaman peristiwa tersebut menjadi perhatian publik.
Dalam permohonan maafnya, Asky menyebut perilakunya berlebihan. Ia menyampaikan penyesalan atas sikap yang ditunjukkan dan meminta maaf atas tindakan tersebut. Inti dari pernyataannya adalah pengakuan bahwa cara dirinya bersikap tidak semestinya dilakukan. Ia juga menegaskan bahwa tindakannya bukan hasil perintah siapa pun, melainkan terjadi secara spontan. Dengan demikian, penjelasan Asky memuat dua hal utama: pengakuan atas tindakannya sendiri dan permintaan maaf atas perilaku yang ia nilai berlebihan. Pernyataan itu tidak mengubah pokok pengakuannya, yakni bahwa ia bertanggung jawab atas sikap yang diperlihatkan.
Asky turut menyatakan bahwa ia tidak akan mengulangi perilaku tersebut. Janji itu menjadi bagian dari permohonan maaf yang disampaikannya, bersama pengakuan bahwa tindakannya berlebihan dan dilakukan tanpa instruksi. Ia menyatakan komitmen untuk tidak kembali bersikap seperti itu. Penjelasan tersebut menunjukkan hal-hal yang secara langsung ia sampaikan mengenai peristiwa itu: sikap arogan dilakukan spontan, tidak ada orang yang menyuruhnya, perilakunya berlebihan, dan ia meminta maaf serta berjanji tidak mengulanginya. Tidak ada alasan tambahan yang disampaikan dalam rangkaian pengakuan tersebut. Fokus keterangannya tetap pada tindakannya sendiri dan permintaan maaf kepada pihak yang terdampak oleh sikapnya.
Insiden yang kemudian menjadi perhatian publik itu bermula ketika mahasiswa menggelar unjuk rasa sejak siang. Mereka menyampaikan sejumlah persoalan, termasuk kebakaran hutan dan kinerja Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud. Namun, para mahasiswa merasa aksi dan tuntutan yang mereka sampaikan tidak digubris. Situasi tersebut menjadi latar bagi keputusan mereka untuk menunggu kedatangan rombongan gubernur di Masjid Nurul Mu’minin, Samarinda.
Pada Senin, 19 Oktober 2026, rombongan Rudy tiba di masjid tersebut. Seorang mahasiswa kemudian bertanya kepada gubernur mengenai alasan ia tidak menemui massa yang telah berunjuk rasa. Pertanyaan itu disampaikan saat Rudy berada di lokasi kedatangan rombongan. Menurut kronologi yang beredar, Rudy merespons dengan senyum, lalu berjalan menuju masjid. Ringkasan informasi yang tersedia tidak menyebut adanya percakapan lanjutan mahasiswa dan gubernur.
Peristiwa itu terekam dalam sebuah video berdurasi sekitar 30 detik yang kemudian beredar. Dalam rekaman tersebut, seorang ajudan terlihat menyenggol badan mahasiswa yang sedang merekam kedatangan rombongan. Adegan singkat itu menjadi bagian yang paling banyak diperhatikan dalam video dan memicu sorotan terhadap sikap ajudan kepada mahasiswa. Rekaman tersebut memperlihatkan momen di sekitar kedatangan rombongan, sementara konteks aksi sejak siang menjelaskan mengapa mahasiswa menunggu dan mengajukan pertanyaan kepada Rudy.
Dengan demikian, kronologi yang diketahui mencakup tiga hal utama: mahasiswa lebih dahulu berunjuk rasa mengenai kebakaran hutan dan kinerja gubernur, mereka merasa aspirasi tidak ditanggapi, lalu menunggu Rudy di Masjid Nurul Mu’minin. Ketika gubernur datang, seorang mahasiswa menanyakan alasan ia tidak menemui massa. Rudy tersenyum dan berjalan ke masjid, sedangkan video merekam ajudan menyenggol mahasiswa yang tengah mengambil gambar. Urutan tersebut menjadi konteks bagi perhatian publik terhadap insiden yang terekam. Tidak ada rincian lain mengenai tindakan setelah momen dalam rekaman tersebut dalam informasi yang menjadi dasar kronologi ini.
Setelah rekaman sikap ajudan gubernur terhadap mahasiswa beredar luas di media sosial, perhatian warganet tidak hanya tertuju pada isi video. Sejumlah pengguna internet kemudian mencari akun Instagram yang diduga milik ajudan tersebut, yakni @askyandlaura. Akun itu menjadi sasaran komentar dari warganet yang ingin menyampaikan tanggapan atas perilaku yang terlihat dalam rekaman. Perhatian tersebut menunjukkan bagaimana sebuah video yang menyebar cepat dapat membuat persoalan di ruang publik turut merambah ke akun pribadi yang dikaitkan dengan pihak di dalamnya.
Kolom komentar akun tersebut disebut dipenuhi beragam respons, termasuk komentar bernada negatif. Warganet menyampaikan kekecewaan dan kritik terhadap sikap yang dinilai tidak pantas ditunjukkan kepada mahasiswa. Sebagian respons juga mengaitkan perilaku dalam video dengan posisi ajudan yang berada di lingkungan pemerintahan. Namun, akun yang diserbu itu disebut sebagai akun yang diduga milik ajudan, sehingga identitas dan kaitannya tetap perlu disampaikan secara hati-hati. Setelah dibanjiri komentar, akun Instagram tersebut kemudian menghilang dan tidak lagi dapat diakses atau ditemukan sebagaimana sebelumnya.
Hilangnya akun itu turut menjadi perhatian dalam perbincangan daring, sementara rekaman dan tanggapan masyarakat terus beredar. Peristiwa ini memperlihatkan besarnya reaksi publik ketika tindakan seseorang yang berhubungan dengan pejabat pemerintahan terekam dan tersebar. Bagi banyak warganet, persoalannya bukan semata-mata keberadaan video, melainkan cara seorang aparat atau pendamping pejabat berinteraksi dengan mahasiswa. Kritik yang muncul juga mencerminkan harapan agar pihak yang berada di lingkungan kekuasaan menjaga sikap, terutama saat berhadapan dengan masyarakat dan kelompok mahasiswa yang menyampaikan aspirasi.
Masyarakat menyayangkan sikap arogan di lingkungan kekuasaan karena dinilai tidak semestinya terjadi dalam alam demokrasi. Dalam ruang demokratis, mahasiswa dan warga memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, sedangkan pihak yang bertugas mendampingi pejabat diharapkan merespons dengan sikap yang menghormati dialog. Sorotan terhadap video tersebut pun berkembang menjadi pembicaraan mengenai etika, tanggung jawab, serta perlunya menjaga hubungan yang baik unsur pemerintahan dan masyarakat. Reaksi warganet terhadap akun yang diduga milik ajudan menjadi bagian dari rangkaian respons publik atas peristiwa tersebut, yang terus dibahas setelah video viral.
Baca juga: Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa pasien yang dirawat di RSI Siti Hajar mengaku mengalami mual dan pusing | Gunakan Cairan Khusus, Metode Undercooling Dikerahkan; Gubernur, Danlanud, dan Forkopimda Kalsel Bersinergi di Titik Api Atasi Karhutla






