Pencarian Dua Pendaki di Semeru Berlangsung Saat Aktivitas Vulkanik Meningkat

Pencarian Dua Pendaki di Semeru Berlangsung Saat Aktivitas Vulkanik Meningkat

Kabupaten Lumajang | BK dan MWF, masing-masing berusia 19 tahun, dilaporkan tidak diketahui keberadaannya di kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Informasi tersebut menjadi dasar dimulainya pencarian terhadap kedua remaja itu. Hingga laporan diterima, keberadaan mereka belum dapat dipastikan dan upaya untuk memperoleh kabar mengenai kondisi keduanya masih diperlukan.

Kantor SAR Banyuwangi menerima laporan dari Kepala Resort Pengelolaan Taman Nasional Ranu Pani pada Sabtu sore, 7 November 2026. Berdasarkan keterangan awal yang disampaikan kepada petugas, BK dan MWF berangkat menuju Semeru pada 31 Oktober. Keduanya kemudian diketahui tidak lagi dapat dihubungi sejak 2 November 2026, sekitar pukul 21.00 WIB. Belum ada informasi lebih lanjut mengenai lokasi terakhir mereka atau keadaan yang menyebabkan komunikasi terputus.

Rangkaian waktu tersebut menjadi salah satu petunjuk awal bagi petugas dalam menindaklanjuti laporan. Informasi tentang waktu keberangkatan dan terputusnya komunikasi dapat membantu menyusun kronologi serta memperkirakan langkah pencarian yang diperlukan. Namun, keterangan itu masih bersifat awal dan perlu dikonfirmasi melalui koordinasi dengan pihak terkait maupun pengumpulan informasi di lapangan.

Keduanya diduga melakukan pendakian tanpa izin resmi. Dugaan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai kepastian, dan penelusuran mengenai status perjalanan mereka masih diperlukan. Informasi yang tersedia pada tahap awal juga belum menjelaskan secara rinci rute yang ditempuh, titik masuk ke kawasan, atau apakah ada pihak lain yang mendampingi perjalanan tersebut.

Dalam situasi seperti ini, keterangan dari keluarga, rekan, dan orang yang sempat berkomunikasi dengan BK atau MWF dapat membantu melengkapi data awal. Petugas membutuhkan informasi yang dapat diperiksa, termasuk rencana perjalanan dan pesan terakhir yang diterima. Perkembangan mengenai pencarian maupun kepastian terkait kronologi sebaiknya menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang. Sampai informasi tambahan diperoleh, status keduanya tetap dilaporkan belum diketahui.

Petunjuk awal dalam pencarian dua pendaki di kawasan Semeru ditemukan pada Jumat, 6 November 2026. Sebuah sepeda motor sewaan yang digunakan keduanya untuk menuju Ranu Pani diketahui terparkir di ladang milik warga. Kendaraan tersebut sebelumnya digunakan setelah kedua pendaki berangkat dari Terminal Lumajang. Temuan itu menjadi titik penting bagi tim karena dapat membantu memastikan area awal penelusuran dan menyusun langkah pencarian berikutnya. Sepeda motor itu ditemukan di sekitar Ranu Pani, desa yang menjadi salah satu akses menuju kawasan pendakian. Informasi mengenai kendaraan kemudian ditindaklanjuti oleh petugas, sementara pencarian terhadap kedua pendaki terus dilakukan di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik Semeru.

Kantor SAR Banyuwangi mengerahkan personel dari Pos SAR Jember serta personel kantor tersebut menuju lokasi untuk mendukung operasi. Kepala Kantor SAR Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyampaikan bahwa pencarian melibatkan sejumlah unsur yang memiliki peran berbeda di lapangan. Tim gabungan terdiri atas petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, kepolisian, dan warga setempat. Koordinasi antarpihak diperlukan agar informasi dan kemampuan setiap unsur dapat digunakan secara terpadu. Kehadiran warga juga membantu petugas memahami kondisi lingkungan sekitar, sedangkan unsur SAR dan instansi terkait menyiapkan pencarian serta dukungan keselamatan bagi personel yang bergerak di medan pegunungan.

Untuk menjangkau area pencarian dan memeriksa medan dari berbagai sudut, tim membawa sejumlah perlengkapan khusus. Salah satunya adalah drone thermal, yang dapat digunakan untuk memantau suhu tubuh dari udara dan membantu mendeteksi kemungkinan keberadaan orang di lokasi yang sulit dijangkau. Petugas juga membawa peralatan penyelamatan hutan dan gunung, disertai sarana medis untuk mendukung penanganan apabila proses evakuasi diperlukan. Perlengkapan tersebut disiapkan dengan mempertimbangkan tantangan medan pegunungan serta kebutuhan menjaga keselamatan tim dan korban. Pada saat keterangan diberikan, pencarian intensif masih berlangsung. Kondisi cuaca dilaporkan cerah berawan, sehingga operasi terus dilanjutkan dengan pemantauan situasi dan koordinasi antarpersonel di lapangan.

Operasi pencarian dan pertolongan terhadap dua pendaki di Gunung Semeru berlangsung ketika aktivitas vulkanik meningkat. Kondisi tersebut menambah tantangan bagi petugas, karena erupsi dan awan panas guguran dapat mengubah tingkat bahaya di sekitar kawasan gunung. Perkembangan aktivitas perlu menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan pencarian, terutama bagi personel yang bekerja di lapangan.

Pada Sabtu, 7 November 2026, pukul 00.11 WIB, Semeru mengalami erupsi yang disertai awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 5,5 kilometer. Peristiwa tersebut berlangsung sekitar enam menit. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, melaporkan bahwa kolom letusan teramati sekitar satu kilometer di atas puncak, atau mencapai ketinggian kurang lebih 4.676 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu terlihat tebal dan berwarna kelabu. Arah sebarannya terpantau menuju selatan serta barat daya. Aktivitas erupsi itu juga tercatat pada seismogram dengan amplitudo maksimum 33 milimeter. Data pengamatan tersebut memberikan gambaran mengenai intensitas kejadian dan menjadi bagian dari pemantauan aktivitas gunung selama operasi SAR berlangsung. Situasi di sekitar Semeru dapat berubah, sehingga informasi dari pos pengamatan tetap penting untuk memahami perkembangan kondisi terkini.

Erupsi pada Sabtu dini hari bukan satu-satunya kejadian yang menunjukkan peningkatan aktivitas. Sehari sebelumnya, pada Jumat sore, Semeru meluncurkan awan panas guguran sejauh lima kilometer ke arah tenggara. Material tersebut bergerak menuju Besuk Kobokan. Rangkaian peristiwa dalam dua hari itu memperlihatkan bahwa aktivitas vulkanik berlangsung berdekatan dengan upaya pencarian, dan bukan sekadar gangguan yang terpisah dari kondisi lapangan.

Dalam situasi tersebut, keselamatan tim dan pemantauan jalur menjadi unsur penting dalam operasi pencarian. Jarak luncur awan panas, arah pergerakan material, serta sebaran abu merupakan informasi yang relevan untuk menilai keadaan kawasan. Pengamatan petugas membantu memberi dasar bagi koordinasi di lapangan, sementara perkembangan aktivitas gunung dapat memengaruhi akses dan ruang gerak pencarian. Karena itu, pelaksanaan operasi perlu mempertimbangkan laporan vulkanik secara berkelanjutan, seiring pencarian terhadap kedua pendaki yang masih berlangsung.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, menyampaikan bahwa aktivitas warga di lereng Gunung Semeru berjalan normal. Menurut keterangan tersebut, kondisi itu berlangsung karena zona merah yang rawan terdampak bencana erupsi telah steril dari aktivitas masyarakat. Dengan demikian, tidak ada kegiatan warga di dalam kawasan yang ditetapkan sebagai zona merah tersebut. Keterangan ini menggambarkan keadaan aktivitas masyarakat di lereng gunung, sementara wilayah di luar zona merah tetap menjalankan kegiatan sebagaimana biasa. BPBD Lumajang menyampaikan informasi tersebut seiring meningkatnya aktivitas vulkanik Semeru dan berlangsungnya kesiagaan personel di sejumlah titik pantau. Penjelasan mengenai kondisi warga ini terbatas pada aktivitas masyarakat dan status zona rawan, tanpa menguraikan kaitannya dengan proses pencarian dua pendaki.

Untuk mengantisipasi peningkatan aktivitas vulkanik, BPBD Lumajang menyiagakan personel bersama Tim Reaksi Cepat, TNI, dan Polri. Kesiagaan dilakukan di Pos Pantau Curah Kobokan dan Pos Pantau Oro-Oro Ombo. Penempatan personel di dua pos tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi yang disampaikan BPBD, menyusul kondisi aktivitas gunung yang meningkat. Unsur-unsur yang dilibatkan mencakup jajaran BPBD, tim reaksi cepat, serta aparat TNI dan Polri. Mereka berada dalam kesiagaan di titik pantau yang telah disebutkan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan aktivitas vulkanik. Informasi yang tersedia tidak menyebutkan perubahan status pos, jumlah personel, maupun bentuk tindakan lain di luar penyiagaan tersebut.

Keterangan Isnugroho juga menegaskan adanya perbedaan keadaan aktivitas masyarakat dan langkah kesiagaan petugas.

Baca juga: HUT Ke-81 TNI Berlangsung Sederhana karena Personel Masih Tangani Bencana | Permintaan BBM Subsidi Meningkat, Pemerintah Pastikan Stok dan Harga Tetap Terjaga | Upacara HUT ke-81 TNI di Timika Berlangsung Khidmat

11 kunjungan