Evakuasi Korban Kecelakaan Mi-17V5 di Perairan Seruyan Masih Berlangsung

Evakuasi Korban Kecelakaan Mi-17V5 di Perairan Seruyan Masih Berlangsung

Kabupaten Seruyan | Helikopter Mi-17V5 milik TNI Angkatan Darat mengalami kecelakaan pada Rabu, 4 November 2026, di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Insiden tersebut terjadi ketika helikopter sedang menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Informasi mengenai kejadian ini menjadi perhatian karena pesawat tengah digunakan dalam upaya penanganan kebakaran di wilayah tersebut.

Armada itu membawa delapan personel saat kecelakaan terjadi. Mereka berada di dalam helikopter yang ditugaskan untuk mendukung misi karhutla. Peristiwa berlangsung di kawasan perairan, sehingga lokasi kejadian menjadi bagian penting dalam proses penanganan dan evakuasi. Upaya evakuasi korban masih berlangsung, sementara informasi mengenai kondisi para personel perlu menunggu keterangan resmi yang dapat dipastikan.

Mi-17V5 merupakan jenis helikopter yang digunakan TNI AD, dan dalam kejadian ini pesawat tersebut menjalankan tugas operasional terkait penanggulangan kebakaran. Misi pemadaman karhutla melibatkan pengerahan sumber daya ke area terdampak, termasuk dukungan udara apabila diperlukan. Namun, rincian teknis penerbangan maupun urutan kejadian sebelum helikopter jatuh belum disampaikan dalam informasi yang tersedia.

Hingga saat ini, penyebab kecelakaan tidak dapat dipastikan berdasarkan keterangan yang ada. Karena itu, belum ada dasar untuk menyebut faktor tertentu sebagai pemicu insiden. Fokus penanganan saat ini adalah proses evakuasi delapan personel dan pengumpulan informasi yang diperlukan oleh pihak berwenang. Perkembangan mengenai kondisi korban, penanganan di lokasi, serta hasil pemeriksaan lebih lanjut perlu merujuk pada pernyataan resmi TNI AD atau instansi terkait. Masyarakat diimbau menunggu pembaruan terverifikasi dan tidak menyebarkan dugaan yang belum dikonfirmasi, terutama karena operasi masih berlangsung. Kejadian di perairan Desa Sungai Perlu ini menandai kecelakaan saat tugas pemadaman karhutla, tetapi rincian lanjutan baru dapat dipastikan setelah proses penanganan dan pemeriksaan memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan keterangan yang tersedia, helikopter Mi-17V5 lepas landas dari Kuala Pembuang pada pukul 09.55 WIB. Penerbangan tersebut menuju kawasan Telaga Pulang untuk menjalankan misi water bombing di area Taman Nasional Tanjung Puting. Dengan demikian, tujuan perjalanan bukan sekadar menuju suatu lokasi, melainkan mendukung kegiatan pemadaman melalui pengambilan dan penjatuhan air di kawasan yang menjadi sasaran operasi.

Dalam misi water bombing, helikopter perlu mengambil air sebelum membawanya ke area yang dituju. Keterangan sumber menyebutkan kecelakaan terjadi ketika helikopter sedang bermanuver untuk mengambil air di laut. Informasi tersebut menghubungkan langsung kegiatan penerbangan dengan lokasi insiden: pesawat berangkat dari Kuala Pembuang menuju kawasan Telaga Pulang untuk mendukung pemadaman di Taman Nasional Tanjung Puting, lalu mengalami kecelakaan saat melakukan manuver pengambilan air di perairan laut.

Rangkaian ini penting dipahami agar tujuan penerbangan dan lokasi kecelakaan tidak tertukar. Telaga Pulang disebut sebagai kawasan yang dituju dalam perjalanan, sedangkan laut merupakan tempat helikopter bermanuver mengambil air ketika kecelakaan terjadi. Keterangan yang ada tidak menjelaskan titik koordinat insiden, jarak dari tujuan, ataupun urutan teknis manuver secara lebih terperinci. Karena itu, informasi tersebut perlu disampaikan sebatas hubungan yang telah disebutkan oleh sumber, tanpa menambahkan dugaan mengenai penyebab kecelakaan maupun kondisi penerbangan lainnya.

Perjalanan dari Kuala Pembuang pada pagi hari itu merupakan bagian dari pelaksanaan misi pemadaman di area taman nasional. Setelah lepas landas pukul 09.55 WIB, helikopter bergerak menuju kawasan operasi yang disebut dalam keterangan, sementara pengambilan air di laut menjadi bagian dari upaya mendukung water bombing. Kecelakaan berlangsung pada tahap manuver tersebut, sehingga insiden terjadi sebelum helikopter dapat menyelesaikan rangkaian tugas sebagaimana direncanakan. Evakuasi korban masih berlangsung, dan rincian lebih lanjut mengenai proses penerbangan maupun penanganan di lokasi menunggu informasi resmi berikutnya.

Menurut keterangan resmi Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat, satu kru helikopter Mi-17V5 ditemukan meninggal dunia dalam insiden di perairan Seruyan. Jenazah kru tersebut telah dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Kuala Pembuang. Informasi ini menjadi pembaruan penting dalam proses evakuasi korban yang masih berlangsung. Pihak berwenang menyampaikan perkembangan tersebut secara terpisah dari kondisi personel lain yang berada di dalam helikopter. Dengan demikian, laporan yang tersedia menegaskan bahwa satu orang meninggal dunia, sementara lima personel lainnya berhasil selamat. Informasi resmi tersebut tidak memuat identitas kru yang meninggal maupun rincian lebih lanjut mengenai keadaan dirinya. Karena itu, keterangan mengenai korban meninggal dibatasi pada fakta yang telah disampaikan oleh instansi terkait.

Lima personel lainnya dinyatakan selamat setelah insiden tersebut. Mereka saat ini sedang menjalani penanganan medis intensif di Rumah Sakit Kuala Pembuang, rumah sakit yang sama dengan tempat jenazah kru dievakuasi. Keterangan Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat tidak menguraikan identitas para personel ataupun kondisi medis masing-masing. Oleh sebab itu, informasi yang dapat dipastikan pada tahap ini adalah bahwa kelimanya selamat dan memperoleh perawatan intensif. Status tersebut berbeda dari satu kru yang ditemukan meninggal dunia, sehingga perkembangan korban perlu dipahami secara jelas dan tidak disatukan. Belum ada rincian tambahan yang disampaikan dalam bahan resmi mengenai tindakan medis, tingkat cedera, atau perkiraan pemulihan mereka.

Pembaruan mengenai korban ini disampaikan ketika proses evakuasi di perairan Seruyan masih berlangsung. Keterangan resmi tersebut memberikan gambaran jumlah korban yang telah diketahui, yaitu satu kru meninggal dunia dan lima personel selamat. Jenazah telah dibawa ke RS Kuala Pembuang, sedangkan lima personel menjalani penanganan medis intensif di fasilitas yang sama. Perkembangan selanjutnya dapat bergantung pada informasi yang disampaikan oleh pihak berwenang seiring berlangsungnya penanganan insiden. Sampai ada keterangan resmi tambahan, tidak tepat untuk menyimpulkan rincian lain mengenai identitas maupun kondisi para korban. Informasi yang telah dikonfirmasi tetap menjadi dasar untuk melaporkan keadaan mereka secara akurat, dengan membedakan secara tegas korban meninggal dan personel yang selamat.

Laporan mengenai kecelakaan helikopter Mi-17V5 di perairan Seruyan diterima sekitar pukul 11.18 WIB. Informasi tersebut menjadi dasar dimulainya penanganan darurat oleh TNI AD bersama tim gabungan. Setelah menerima laporan, unsur terkait bergerak untuk melakukan pencarian dan mengevakuasi korban di kawasan perairan. Situasi di lokasi memerlukan koordinasi personel yang bertugas di udara dan tim yang melakukan upaya dari laut, agar pencarian dapat berlangsung dengan terarah dan penanganan korban dapat dilakukan secepat mungkin.

Evakuasi dikerahkan melalui jalur udara dan laut. Pengerahan dari dua jalur tersebut mendukung upaya menjangkau area kejadian serta menyisir kawasan perairan yang menjadi lokasi kecelakaan. Tim gabungan menjalankan pencarian sembari mengupayakan evakuasi darurat sesuai kondisi di lapangan. Kegiatan ini berlangsung dengan melibatkan unsur TNI AD dan pihak-pihak yang bergabung dalam operasi, dengan fokus pada penanganan situasi serta pencarian awak yang belum ditemukan. Setiap perkembangan di lokasi menjadi bagian dari koordinasi selama proses berlangsung.

Pada saat keterangan mengenai operasi disampaikan, dua kru masih dalam pencarian. Tim gabungan terus melakukan penyisiran di lokasi perairan Seruyan, sementara upaya evakuasi darurat melalui udara dan laut tetap berjalan. Informasi tersebut menggambarkan bahwa operasi belum selesai dan pencarian masih menjadi prioritas. Kondisi perairan serta cakupan area yang perlu diperiksa menjadi bagian dari pelaksanaan penyisiran oleh tim di lapangan. Karena itu, proses pencarian dan evakuasi terus dilaksanakan oleh personel yang terlibat, dengan perkembangan yang menunggu hasil upaya di lokasi.

Hingga keterangan itu disampaikan belum ada hasil.

Baca juga: Upacara HUT ke-81 TNI di Timika Berlangsung Khidmat | Peserta Audax Asal Sleman Meninggal dalam Kecelakaan Tunggal di Kulon Progo | Rangkaian Peristiwa Keamanan di Jakarta: Balap Liar, Pencurian, dan Kecelakaan Maut

26 kunjungan