Jakarta | Dalam runway show perayaan 10th anniversary KOCCA x JFW di Jakarta Fashion Week 2027, Dian Sastrowardoyo, Eva Celia, dan Yoshi Sudarso hadir membawa karakter masing-masing. Ketiganya dikenal sebagai pemeran dalam Descendants of the Sun Indonesia, yang berkolaborasi dengan acara tersebut untuk mempersembahkan fashion Korea. Penampilan mereka memperlihatkan bagaimana satu panggung dapat menampung ragam interpretasi, tanpa membuat gaya para selebritas itu tampak seragam. Dian dan Eva mengenakan rancangan Kimoui, sementara Yoshi tampil dalam busana Valoren. Perbedaan label yang mereka kenakan menjadi salah satu penanda jelas dari variasi koleksi Korea Selatan yang diperlihatkan dalam peragaan ini.
Dian dan Eva sama-sama memilih Kimoui, tetapi kehadiran mereka tetap menampilkan karakter yang berbeda. Keduanya bukan sekadar mewakili satu label secara bersama; masing-masing membawa pembawaan tersendiri ketika melangkah di runway. Hal itu memberi ruang bagi penonton untuk melihat bahwa rancangan dari rumah mode yang sama dapat hadir melalui interpretasi personal yang tidak identik. Sorotan pada keduanya pun terletak pada perbedaan cara mereka membawakan busana, bukan pada anggapan bahwa penampilan mereka harus dibandingkan untuk menentukan siapa yang paling menonjol. Dalam rangkaian peragaan yang menghubungkan fashion Korea dengan Descendants of the Sun Indonesia, Dian dan Eva menjadi dua representasi Kimoui yang sama-sama memiliki ciri masing-masing.
Yoshi menghadirkan sisi lain melalui busana Valoren. Kehadirannya melengkapi ragam tampilan di runway, sekaligus menegaskan bahwa koleksi yang ditampilkan tidak terbatas pada satu label atau satu pendekatan gaya. Jika Dian dan Eva menjadi wajah Kimoui, Yoshi membawa interpretasi berbeda lewat rancangan label Korea Selatan tersebut. Ketiganya dengan demikian membentuk gambaran yang beragam: bukan satu kesan tunggal mengenai mode Korea, melainkan beberapa cara untuk membawakannya. Perbedaan karakter Dian, Eva, dan Yoshi menjadi inti daya tarik penampilan mereka dalam show ini. Melalui pilihan label dan pembawaan masing-masing, runway 10th anniversary KOCCA x JFW menampilkan keberagaman ekspresi, dengan ketiganya sebagai penghubung koleksi yang diperagakan dan kolaborasi Descendants of the Sun Indonesia.
Eva Celia menjadi salah satu sosok yang membuka rangkaian penampilan di runway JFW 2027 dengan pilihan busana yang langsung menarik perhatian. Ia mengenakan dress rajut hijau terang dari Kimoui, sebuah rancangan yang menonjolkan permainan motif, tekstur, dan warna. Siluet rajutnya menghadirkan kesan ringan, sementara rona hijau turquoise yang vivid membuat tampilan terasa segar dan berani. Di beragam karakter yang hadir di peragaan tersebut, busana Eva memperlihatkan pendekatan yang lebih organik sekaligus eksperimental. Kehadirannya memberi pembuka yang kuat, tanpa mengandalkan detail berlebihan, karena material dan konstruksi rajutan telah menjadi pusat perhatian sejak awal penampilan.
Motif daun pada dress itu menjadi elemen visual utama. Pola rajutan terbuka membentuk permukaan yang mengingatkan pada dedaunan, menciptakan hubungan inspirasi alam dan teknik pengerjaan tekstil. Susunan lubang serta jalinan benang memberi busana karakter berlapis, dengan detail yang dapat terlihat berbeda ketika diamati dari jarak dekat maupun saat bergerak di runway. Tekstur crochet artistik tersebut juga membuat dress terasa lebih ekspresif dibandingkan rajutan dengan permukaan rapat dan seragam. Alih-alih sekadar menjadi hiasan, pola daun menyatu dengan struktur pakaian, sehingga material, motif, dan bentuk bekerja bersama membangun kesan organik yang khas pada penampilan Eva.
Dimensi tambahan hadir melalui aksen fringe berupa untaian benang yang ditempatkan di beberapa bagian busana. Detail ini memberi gerak pada permukaan rajut dan memperkaya tampilannya tanpa mengalihkan perhatian dari motif utama. Ketika Eva melangkah, untaian tersebut berpotensi mempertegas karakter tekstil yang dinamis, sementara warna turquoise mempertahankan kesan cerah dan menonjol. Perpaduan warna kuat, pola terbuka, dan pengerjaan crochet menjadikan rancangan Kimoui terasa berani, namun tetap memiliki rujukan pada bentuk alami. Penampilan ini menunjukkan bagaimana rajutan dapat diolah menjadi karya runway yang kontemporer: bukan hanya sebagai bahan nyaman, melainkan sebagai medium untuk mengeksplorasi tekstur, gerak, dan ekspresi visual.
Dian Sastrowardoyo menghadirkan pilihan gaya yang sleek dan effortless di runway JFW 2027. Ia mengenakan dress leather cokelat rancangan Kimoui, sebuah busana yang menonjolkan karakter kuat tanpa kehilangan kesan feminin. Warna cokelat memberi nuansa hangat sekaligus elegan, sementara permukaan materialnya memantulkan kilau halus. Perpaduan tersebut membuat tampilannya terasa modern dan sophisticated, tetapi tetap terjaga dalam kesederhanaan. Alih-alih mengandalkan banyak detail dekoratif, busana ini mengandalkan potongan, tekstur, dan permainan bentuk untuk menciptakan daya tarik visual.
Dress panjang hingga mata kaki itu mengikuti siluet tubuh Dian dengan garis yang rapi. Potongan yang membalut tubuh menghadirkan kesan ramping dan terstruktur, sementara panjangnya memberi tampilan yang anggun saat ia melangkah di runway. Material leather menjadi pusat perhatian, diolah dalam bentuk yang terasa lebih lembut dan feminin daripada kesan kaku yang kerap melekat pada bahan tersebut. Kilau tipis pada permukaannya menangkap cahaya tanpa tampak mencolok. Hasilnya, busana ini memperlihatkan bagaimana tekstur khas leather dapat tampil refined melalui rancangan yang terukur.
Detail bukaan pada bagian lengan menjadi aksen utama yang mengubah keseluruhan siluet. Bagian tersebut membentuk efek cape dramatis, menghadirkan volume dan gerak ketika Dian berjalan. Meski mencuri perhatian, aksen itu tetap seimbang dengan garis dress yang mengikuti tubuh, sehingga tampilan tidak terasa berlebihan. Kontras bentuk yang ramping dan lengan yang lebih bervolume memberi dimensi pada busana, sekaligus memperkuat kesan berkarakter. Heels senada melengkapi penampilannya dan menjaga kesinambungan warna dari atas hingga bawah. Pilihan alas kaki tersebut juga mendukung proporsi dress panjang tanpa mengalihkan fokus dari rancangan Kimoui. Lewat perpaduan siluet, material, dan detail yang terkontrol, Dian menunjukkan bahwa leather dapat diterjemahkan menjadi busana feminin dengan karakter kuat. Penampilannya terasa tegas, elegan, dan praktis dalam satu kesatuan, menawarkan interpretasi gaya yang tidak bergantung pada ornamen berlebihan untuk tampil menonjol.
Yoshi Sudarso menghadirkan salah satu tampilan paling mencolok di runway JFW 2027 melalui setelan jas dan celana cutbray berwarna kuning cerah dari Valoren. Pilihan warna yang menyala segera menarik perhatian, sekaligus membedakan penampilannya dari pendekatan busana yang lebih tenang. Setelan tersebut tampil sebagai pernyataan gaya yang bold dan penuh energi, memperlihatkan cara warna dapat menjadi elemen utama dalam membentuk karakter sebuah tampilan. Kuning cerah memberi kesan berani, sementara keseluruhan setelan tetap bertumpu pada konstruksi tailoring yang rapi.
Nuansa retro hadir melalui potongan celana cutbray yang melebar di bagian bawah. Siluet ini memberi gerak dan karakter pada setelan, serta menghadirkan referensi gaya yang berbeda dari bentuk celana formal yang lebih lurus. Yoshi mengenakan jas tanpa kemeja, dengan bagian dada dibiarkan terbuka. Gaya shirtless tersebut mengubah kesan tailoring yang biasanya formal menjadi lebih sensual dan edgy. Perpaduan ini menciptakan kontras yang jelas: struktur jas memberikan kesan teratur, sedangkan dada terbuka dan warna cerah menghadirkan ekspresi yang lebih berani. Detail styling tersebut membuat setelan kuning Valoren terasa tidak sekadar sebagai busana formal, melainkan sebagai tampilan runway yang menonjolkan sikap dan energi.
Penampilan Yoshi memperlihatkan bagaimana Valoren memanfaatkan tailoring sebagai medium untuk mengeksplorasi warna dan karakter. Kuning terang, siluet cutbray, serta styling shirtless membentuk kesan yang kuat tanpa menghilangkan dasar setelan jas.
31 kunjungan