Audit Internal Ungkap Pengakuan Lima Nakes soal Foto di Puskesmas Lawir

Audit Internal Ungkap Pengakuan Lima Nakes soal Foto di Puskesmas Lawir

Kabupaten Manggarai Timur | Lima tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas Lawir, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, akhirnya mengakui bahwa keterangan awal mereka mengenai sebuah foto yang beredar di media sosial tidak sesuai fakta. Pengakuan tersebut muncul dalam proses audit internal yang dilakukan terhadap peristiwa itu. Foto yang menjadi perhatian publik memperlihatkan dugaan konsumsi minuman keras di dalam ruangan puskesmas. Informasi mengenai pengakuan para nakes menjadi inti perkembangan terbaru dari pemeriksaan internal tersebut.

Perbedaan keterangan awal dan pengakuan yang disampaikan kemudian menjadi bagian yang ditelusuri dalam audit. Lima nakes itu mengakui bahwa penjelasan mereka sebelumnya tidak menggambarkan fakta secara tepat. Dengan demikian, klarifikasi mereka kini menjadi perhatian dalam upaya memastikan informasi mengenai foto tersebut disampaikan secara akurat. Namun, keterangan yang tersedia tidak merinci isi pengakuan masing-masing tenaga kesehatan, alasan perubahan penjelasan, ataupun hasil akhir audit. Karena itu, hal-hal tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan informasi mengenai pengakuan ini.

Peredaran foto di media sosial membuat peristiwa di Puskesmas Lawir menjadi perhatian. Meski demikian, pembahasan mengenai foto perlu tetap berpegang pada informasi yang telah disampaikan: gambar itu menunjukkan dugaan konsumsi minuman keras di dalam ruangan puskesmas, sementara lima nakes mengakui keterangan awal mereka tidak sesuai fakta. Audit internal menjadi proses untuk menelusuri keterangan tersebut dan mendapatkan kejelasan mengenai peristiwa yang diperiksa. Perkembangan berikutnya, termasuk kesimpulan audit atau langkah lanjutan, belum dijelaskan dalam informasi yang tersedia. Pengakuan itu menegaskan pentingnya kehati-hatian saat menyampaikan keterangan terkait foto yang beredar, terutama sebelum fakta diperiksa secara menyeluruh oleh pihak terkait.

Sebelum pengakuan mereka menjadi bagian dari audit internal, lima tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas Lawir memberikan keterangan awal mengenai foto yang kemudian menjadi sorotan. Dalam keterangan tersebut, mereka menyebut gambar yang beredar itu merupakan hasil rekayasa dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pernyataan itu disampaikan sebagai penjelasan awal para nakes tentang foto tersebut, bukan sebagai kepastian mengenai bagaimana gambar itu dibuat atau dari mana asalnya.

Keterangan awal itu penting ditempatkan sesuai urutannya dalam rangkaian pemeriksaan. Pada saat itu, para nakes menggambarkan foto tersebut sebagai gambar yang telah dimanipulasi menggunakan AI. Namun, penyebutan teknologi tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan proses pembuatan foto. Informasi tentang foto yang beredar perlu dibedakan dari fakta yang kemudian terungkap melalui pemeriksaan dan pengakuan para pihak terkait. Karena itu, klaim awal tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai kesimpulan audit mengenai asal-usul gambar.

Dalam perkembangan berikutnya, para nakes mengakui bahwa pernyataan awal mereka tidak sesuai dengan fakta. Perubahan keterangan ini menjadi salah satu hal yang dicatat dalam audit internal terkait foto di Puskesmas Lawir. Dengan demikian, klaim bahwa foto tersebut merupakan hasil rekayasa AI perlu dipahami sebagai penjelasan awal yang kemudian diakui keliru, bukan sebagai keterangan yang tetap mereka pertahankan. Penegasan ini menjaga perbedaan apa yang semula disampaikan dan apa yang kemudian diakui, tanpa menyimpulkan siapa yang membuat atau menyebarkan foto. Asal-usul gambar tetap tidak perlu ditebak hanya berdasarkan pernyataan pertama tersebut; yang dapat disampaikan adalah adanya klaim awal tentang rekayasa AI dan pengakuan setelahnya bahwa klaim itu tidak sesuai fakta.

Kepala Puskesmas Lawir, Irvan Kresensia, melakukan audit internal untuk menelusuri kebenaran foto lima tenaga kesehatan (nakes) yang menjadi perhatian publik. Langkah tersebut diambil setelah gambar itu beredar dan memunculkan pertanyaan mengenai situasi yang terlihat di dalam foto. Dalam penjelasannya, Irvan menyampaikan bahwa pemeriksaan internal diperlukan agar persoalan dapat dipahami berdasarkan informasi yang tersedia, bukan sekadar dugaan. Audit itu menjadi upaya pihak puskesmas untuk mengetahui latar belakang kemunculan foto serta memastikan keterangan para tenaga kesehatan yang bersangkutan. Dengan demikian, perhatian diarahkan pada pengumpulan informasi mengenai gambar tersebut dan penjelasan dari pihak yang terlibat, termasuk bagaimana foto itu pertama kali diketahui.

Menurut Irvan, persoalan bermula ketika ia melihat foto lima nakes tersebut pada status WhatsApp milik salah satu tenaga kesehatan. Ia kemudian mengambil tangkapan layar dari unggahan itu. Penjelasan tersebut menggambarkan urutan awal yang mendorong pimpinan puskesmas menindaklanjuti keberadaan foto melalui pemeriksaan internal. Foto yang semula tampil dalam status pribadi itu lalu menjadi bahan pembahasan di lingkungan kerja setelah tangkapan layarnya dibagikan. Irvan menyebut bahwa tindakannya mengambil gambar layar dilakukan setelah ia melihat unggahan tersebut, sehingga informasi mengenai foto dapat diteruskan kepada pihak internal untuk ditelaah. Keterangan ini menjadi bagian dari penjelasan mengenai asal mula penanganan persoalan di Puskesmas Lawir.

Setelah mengambil tangkapan layar, Irvan membagikannya ke grup WhatsApp internal puskesmas. Penyebaran melalui grup tersebut dilakukan dalam lingkup komunikasi internal, sebagaimana dijelaskan oleh kepala puskesmas. Rangkaian ini menjadi salah satu hal yang diperiksa dalam audit untuk memperoleh gambaran tentang bagaimana foto diketahui dan kemudian dibicarakan di lingkungan puskesmas. Audit internal juga memberi ruang bagi pihak terkait untuk menyampaikan keterangan mengenai foto tersebut dan proses penyebarannya. Irvan menyatakan langkah pemeriksaan dilakukan untuk mengusut kebenaran persoalan yang menjadi perhatian publik. Pada tahap ini, informasi yang disampaikan mencakup awal mula ia melihat status WhatsApp, pengambilan tangkapan layar, serta pembagian gambar ke grup internal sebagai tindak lanjut.

Dalam pesan di grup internal, Irvan meminta tenaga kesehatan yang terlihat dalam foto untuk menghadap kepadanya. Permintaan tersebut menjadi bagian dari kronologi setelah foto yang menjadi perhatian dibahas di lingkungan internal. Keterangan yang tersedia menyebut secara khusus bahwa Irvan meminta para nakes yang tampak pada gambar datang menemuinya. Namun, informasi itu tidak merinci kapan pesan dikirim, bagaimana redaksi lengkapnya, atau siapa saja anggota grup yang menerima pesan tersebut. Karena itu, bagian ini hanya dapat menjelaskan adanya permintaan menghadap sebagaimana disampaikan dalam keterangan Irvan, tanpa menambahkan dugaan mengenai tujuan pertemuan ataupun respons para tenaga kesehatan saat pesan tersebut diterima.

Tidak lama setelah tangkapan layar dibagikan, salah satu tenaga kesehatan yang bersangkutan menghubungi Irvan melalui WhatsApp. Dalam komunikasi itu, nakes tersebut menyatakan bahwa foto yang beredar merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan atau AI. Klaim tersebut disampaikan oleh nakes yang menghubungi Irvan, sehingga perlu dibedakan dari kesimpulan pemeriksaan independen. Berdasarkan keterangan yang tersedia, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai proses pembuatan gambar, pihak yang mengolahnya, maupun bukti teknis yang mendasari pernyataan tersebut. Oleh sebab itu, penyebutan foto sebagai hasil rekayasa AI di sini tetap merupakan klaim yang disampaikan dalam percakapan, bukan penetapan akhir atas keaslian foto.

Irvan menerangkan bahwa komunikasi melalui WhatsApp itu berlangsung setelah tangkapan layar dibagikan dan tidak lama setelah permintaan menghadap disampaikan di grup internal. Keterangan tersebut memberikan urutan peristiwa yang diketahui: pesan grup lebih dahulu meminta nakes dalam foto untuk menghadap, lalu salah satu dari mereka menghubungi Irvan dan menyampaikan klaim mengenai rekayasa AI. Pernyataan Irvan mengenai rangkaian ini dikutip pada Selasa, 3 November 2026. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan isi pesan WhatsApp secara lengkap atau percakapan lanjutan keduanya. Tidak ada pula keterangan dalam rangkaian ini mengenai hasil audit maupun tindak lanjut setelah klaim tersebut disampaikan. Dengan demikian, uraian kronologi terbatas pada permintaan dalam grup dan klaim yang diterima Irvan melalui WhatsApp.

67 kunjungan