Jakarta | Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa konsentrasi tiga gas rumah kaca utama di atmosfer mencapai tingkat tertinggi dalam catatan pengukuran. Pengumuman yang disampaikan pada 2025 itu menunjukkan bahwa akumulasi gas-gas tersebut terus berlangsung dan belum pernah terjadi sebelumnya. WMO menyajikan angka rata-rata global di permukaan untuk karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, lalu membandingkannya dengan tingkat sebelum era industri, yakni sebelum 1750. Perbandingan tersebut memperlihatkan besarnya peningkatan konsentrasi sejak periode pra-industri.
Karbon dioksida (CO₂) tercatat pada rata-rata 423,9 bagian per sejuta (ppm). Angka itu setara dengan 152 persen dari tingkat pra-industri. Metana (CH₄) mencapai rata-rata 1.942 bagian per miliar (ppb), atau 266 persen dibandingkan tingkat sebelum 1750. Sementara itu, konsentrasi dinitrogen oksida (N₂O) berada pada 338,0 ppb, setara dengan 125 persen dari tingkat pra-industri. Ketiga angka tersebut merupakan rata-rata global yang dilaporkan WMO untuk permukaan, bukan ukuran konsentrasi di satu lokasi tertentu.
Dengan demikian, laporan tersebut menempatkan ketiga gas pada konsentrasi yang belum pernah tercatat sebelumnya sekaligus menunjukkan bahwa masing-masing berada jauh di atas tingkat pra-industri. Karbon dioksida tercatat 52 persen lebih tinggi daripada patokan 1750, metana 166 persen lebih tinggi, dan dinitrogen oksida 25 persen lebih tinggi. Perbandingan persentase ini menggambarkan jarak rata-rata yang dilaporkan dan tingkat pra-industri. Angka-angka itu menegaskan bahwa akumulasi gas rumah kaca terus mencapai rekor baru. Pengumuman WMO pada 2025 menyoroti tingkat konsentrasi tersebut secara bersamaan, tanpa mengaburkan perbedaan satuan yang digunakan: ppm untuk karbon dioksida dan ppb untuk dua gas lainnya. Hasilnya adalah gambaran ringkas mengenai konsentrasi permukaan global ketiga gas utama serta perbandingannya dengan kondisi sebelum 1750.
Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barrett menjelaskan bahwa konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer telah mencapai tingkat yang membuat panas terperangkap dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena ini bukan sekadar angka dalam catatan iklim; kondisi tersebut menunjukkan semakin banyak energi panas tertahan di sistem bumi. Ketika gas seperti karbon dioksida menumpuk, atmosfer menjadi lebih efektif menahan panas yang seharusnya dapat lepas ke ruang angkasa. Akibatnya, keseimbangan energi planet berubah dan suhu rata-rata terdorong meningkat. Penjelasan Barrett menegaskan bahwa akumulasi tersebut memiliki konsekuensi langsung bagi kondisi cuaca, bukan hanya implikasi jangka panjang bagi lingkungan.
Panas yang tertahan menyediakan energi tambahan bagi sistem cuaca dan dapat memperbesar peluang terjadinya cuaca ekstrem. Gelombang panas, hujan lebat, kekeringan, dan kejadian ekstrem lainnya dapat membawa dampak serius ketika berinteraksi dengan kondisi setempat. Risiko tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Bencana semacam itu dapat mengganggu kegiatan ekonomi, merusak infrastruktur, menekan produksi pangan, dan menghambat layanan penting. Masyarakat yang rentan, termasuk mereka yang memiliki sumber daya terbatas untuk menghadapi keadaan darurat, dapat menanggung beban yang lebih besar. Karena itu, peningkatan gas rumah kaca berkaitan erat dengan tantangan bagi perekonomian dan kesejahteraan publik. Informasi mengenai panas yang terakumulasi membantu menjelaskan mengapa ancaman cuaca ekstrem perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan pengelolaan risiko.
Tren peningkatan suhu panas selama sebelas tahun terakhir kemungkinan besar akan berlanjut, sehingga tekanan terhadap manusia dan alam diperkirakan tetap tinggi. Karbon dioksida menambah tantangan karena masa hidupnya di atmosfer sangat panjang. Gas ini dapat memengaruhi iklim selama puluhan hingga berabad-abad setelah dilepaskan, sehingga dampaknya tidak langsung hilang ketika emisi mulai berkurang. Artinya, keputusan yang diambil saat ini turut menentukan kondisi iklim yang akan dihadapi generasi mendatang. Pengurangan emisi dapat membatasi penumpukan gas rumah kaca lebih lanjut, sementara kesiapsiagaan dan adaptasi membantu mengurangi kerugian dari dampak yang sudah terjadi. Kedua upaya tersebut penting untuk merespons risiko yang berkembang seiring panas terus tertahan di atmosfer.
Rata-rata konsentrasi karbon dioksida (CO₂) global meningkat 2,8 bagian per juta (ppm) dari 2024 ke 2025. Angka ini lebih rendah dibandingkan kenaikan 3,6 ppm pada tahun sebelumnya, tetapi tidak menunjukkan bahwa penumpukan gas rumah kaca telah berhenti. Konsentrasi CO₂ di atmosfer tetap bertambah dan mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Perbandingan tersebut hanya menggambarkan perubahan jumlah kenaikan tahunan, bukan penurunan konsentrasi. Dengan kata lain, atmosfer masih menerima tambahan CO₂ dalam jumlah besar, meskipun laju pertambahannya sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya. Perbedaan tahunan ini penting untuk dipahami dalam menilai tren pemanasan global.
Oksana Tarasova, pejabat ilmiah senior Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), menjelaskan bahwa perubahan laju kenaikan itu mencerminkan pemulihan penyerapan karbon di daratan. Ekosistem darat, termasuk hutan dan vegetasi lainnya, menyerap sebagian karbon dari atmosfer. Pada 2025, emisi akibat kebakaran hutan berkurang dibandingkan periode sebelumnya, sehingga jumlah karbon yang dilepaskan dari sumber tersebut juga menurun. Kondisi ini terjadi setelah El Niño kuat pada 2023–2024, yang berkaitan dengan suhu lebih tinggi dan kekeringan di sejumlah wilayah. Cuaca panas dan kering dapat meningkatkan risiko kebakaran serta mengurangi kemampuan ekosistem menyerap karbon. Ketika kondisi berubah, penyerapan di darat dapat pulih dan membantu menjelaskan mengapa kenaikan tahunan CO₂ menjadi lebih kecil.
Namun, perubahan tersebut tidak berarti penyebab utama peningkatan CO₂ telah teratasi. Pembakaran bahan bakar fosil—seperti batu bara, minyak, dan gas—tetap menjadi pendorong dominan kenaikan konsentrasi dalam jangka panjang. Aktivitas energi, industri, dan transportasi terus melepaskan karbon yang tersimpan selama jutaan tahun ke atmosfer. Penyerapan oleh daratan maupun berkurangnya emisi kebakaran dapat memengaruhi angka dari satu tahun ke tahun berikutnya, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk memangkas emisi fosil secara berkelanjutan. Karena itu, kenaikan 2,8 ppm tetap signifikan. Angka yang lebih rendah daripada 3,6 ppm merupakan variasi dalam laju pertumbuhan, bukan pembalikan tren. Pemantauan konsentrasi dan pengurangan emisi tetap penting untuk membatasi pemanasan global.
Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang berperan dalam pemanasan iklim. Keberadaannya di atmosfer ikut menahan panas, meskipun masa hidup metana di atmosfer lebih pendek daripada karbon dioksida (CO₂). Perbedaan masa hidup tersebut tidak menghilangkan perannya: metana menyumbang sekitar 16% dari efek pemanasan yang disebabkan oleh gas rumah kaca. Karena itu, memahami dari mana metana berasal membantu menjelaskan salah satu unsur dalam catatan peningkatan gas rumah kaca.
Sumber metana terbagi proses alami dan kegiatan manusia. Sekitar sepertiga metana yang dilepaskan berasal dari sumber alami, termasuk lahan basah. Di lingkungan tersebut, proses alami menghasilkan metana yang kemudian dilepaskan ke atmosfer. Bagian lainnya berasal dari aktivitas manusia. Pembagian ini menunjukkan bahwa emisi metana tidak memiliki satu sumber tunggal, melainkan terkait dengan kondisi alam dan beragam kegiatan yang dilakukan manusia.
Di sumber antropogenik yang disebutkan, peternakan merupakan salah satu sumber metana. Kegiatan pertanian padi juga melepaskan gas ini. Selain itu, metana berasal dari tempat pembuangan sampah dan pembakaran biomassa. Sumber-sumber tersebut berbeda dalam bentuk kegiatannya, tetapi semuanya termasuk dalam kelompok emisi yang berasal dari aktivitas manusia. Dengan menyebut sumber-sumber ini secara terpisah, gambaran asal emisi dapat dipahami tanpa menganggap bahwa satu kegiatan saja mewakili keseluruhan emisi antropogenik.
Perbandingan sumber alami dan sumber manusia memberi konteks bagi pembahasan metana dalam perubahan iklim.




