Jakarta | Produksi 35 komoditas logam dunia pada 2025 mencapai sekitar 2,8 miliar ton, dan bijih besi menjadi komoditas terbesar dalam kelompok tersebut. Skala produksinya jauh melampaui logam lain, mencerminkan peran utama bahan baku ini dalam memenuhi kebutuhan industri dan pembangunan infrastruktur. Angka tersebut dihimpun oleh U.S. Geological Survey (USGS) dalam publikasi Mineral Commodity Summaries 2026, yang merangkum informasi produksi berbagai komoditas mineral dunia.
Besarnya produksi bijih besi berkaitan erat dengan pemakaiannya sebagai bahan baku utama pembuatan besi dan baja. Baja digunakan secara luas untuk konstruksi, transportasi, mesin, serta beragam kegiatan manufaktur. Permintaan dari sektor-sektor tersebut membutuhkan pasokan bahan dalam jumlah besar, sehingga volume bijih besi terlihat sangat menonjol ketika disejajarkan dengan logam yang diproduksi untuk penggunaan lebih terbatas.
Di sisi lain, sejumlah logam khusus memiliki peran penting dalam teknologi, meskipun jumlah produksinya relatif kecil. Logam-logam tersebut dapat digunakan dalam baterai, perangkat elektronik, energi terbarukan, maupun aplikasi industri tertentu. Perbedaan volume bukan berarti komoditas berproduksi rendah tidak penting. Nilai strategisnya dapat ditentukan oleh fungsi khusus, kebutuhan rantai pasok, dan ketersediaan sumber daya, bukan semata-mata oleh jumlah tonase yang dihasilkan.
Data USGS membantu memperlihatkan kontras mineral yang menopang kegiatan industri dan infrastruktur berskala besar dengan logam yang mendukung teknologi khusus. Namun, angka total sekitar 2,8 miliar ton perlu dibaca secara cermat. Komoditas yang dihimpun tidak selalu dilaporkan menggunakan basis pengukuran yang sama. Sebagian angka dapat merujuk pada kandungan logam, sementara yang lain menggambarkan berat produk mineral atau bentuk komoditas tertentu. Karena itu, penjumlahan tersebut merupakan gambaran agregat, bukan ukuran seragam yang sepenuhnya membandingkan bahan dengan karakteristik setara.
Dengan memperhatikan perbedaan metode penghitungan, pembaca dapat memahami data produksi 2025 secara lebih proporsional. Bijih besi tetap mendominasi dari sisi volume, sedangkan logam khusus menyumbang fungsi penting dalam sektor-sektor bernilai strategis. Gambaran ini menunjukkan bahwa skala produksi dan kegunaan merupakan dua cara berbeda untuk menilai posisi suatu komoditas dalam ekonomi mineral dunia.
Bijih besi menjadi komoditas yang paling menonjol dalam catatan produksi mineral dunia 2025. Volumenya diperkirakan mencapai sekitar 2,6 miliar ton, atau kurang lebih 93% dari gabungan produksi 35 komoditas yang tercatat. Skala ini memperlihatkan jarak besar bijih besi dan mineral lain: satu komoditas saja menyumbang hampir seluruh tonase dalam kelompok tersebut. Dominasi itu terutama berkaitan dengan luasnya kebutuhan baja dalam kegiatan industri dan pembangunan. Bijih besi merupakan bahan baku utama untuk membuat baja, sehingga permintaannya mengikuti kebutuhan berbagai sektor ekonomi. Angka produksi yang sangat besar juga membantu menjelaskan mengapa bijih besi berada jauh di atas komoditas logam lainnya dalam perbandingan berdasarkan volume.
Di urutan berikutnya, aluminium primer tercatat sebesar 74 juta ton. Jumlah itu lebih dari 35 kali lebih kecil dibandingkan produksi bijih besi, meskipun aluminium tetap menjadi logam penting bagi banyak industri. Penggunaannya mencakup konstruksi, kendaraan, kemasan, dan jaringan listrik. Sementara itu, produksi bijih dan konsentrat kromium mencapai 51 juta ton. Kromium memiliki peran khusus dalam pembuatan baja tahan karat karena dapat meningkatkan ketahanan material terhadap korosi. Perbandingan angka-angka tersebut menunjukkan bahwa ukuran produksi tidak selalu mencerminkan arti strategis suatu mineral: aluminium dan kromium menghasilkan tonase jauh di bawah bijih besi, tetapi keduanya tetap penting untuk aplikasi yang membutuhkan karakteristik material tertentu.
Komoditas lain dalam kelompok teratas mencakup tembaga sebanyak 23 juta ton, mangan sebesar 20 juta ton, dan seng sebanyak 13 juta ton. Bersama aluminium dan kromium, angka tersebut memberi gambaran mengenai variasi skala produksi mineral dunia, mulai dari puluhan juta ton hingga miliaran ton. Peran bijih besi dalam menopang produksi baja terlihat pada penggunaannya untuk gedung, jembatan, kendaraan, mesin, serta infrastruktur transportasi. Baja memungkinkan pembangunan struktur dan peralatan dalam jumlah besar, sedangkan logam lain memenuhi kebutuhan yang lebih spesifik. Aluminium, misalnya, digunakan pada beragam produk dan jaringan kelistrikan; kromium mendukung ketahanan baja tahan karat. Dengan demikian, dominasi bijih besi terutama tampak pada volume, sementara setiap komoditas tetap berkontribusi pada kebutuhan manufaktur dan pembangunan sesuai sifat serta kegunaannya.
Di balik dominasi bijih besi dalam statistik pertambangan, terdapat kelompok mineral dengan volume produksi jauh lebih kecil, tetapi perannya semakin penting dalam teknologi modern. Pada 2025, produksi unsur tanah jarang diperkirakan sekitar 390.000 ton, sedangkan kobalt mencapai 310.000 ton dan litium sekitar 290.000 ton. Angka-angka tersebut tampak terbatas jika dibandingkan dengan komoditas massal, namun permintaannya terkait langsung dengan perubahan sistem energi, transportasi, dan manufaktur. Perbandingan ini menunjukkan bahwa arti penting mineral tidak hanya ditentukan oleh jumlah tonase yang ditambang. Nilai strategis, kegunaan khusus, serta kemampuan memasok industri hilir juga memengaruhi perhatian terhadap komoditas tersebut. Karena itu, produksi yang lebih kecil dapat tetap berdampak besar pada rantai pasok teknologi global.
Perkembangan litium memperlihatkan betapa cepatnya kebutuhan teknologi dapat mengubah skala produksi. Pada 2020, produksinya sekitar 82.500 ton; dibandingkan dengan perkiraan 290.000 ton pada 2025, jumlah itu meningkat lebih dari tiga kali lipat. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan perluasan penggunaan baterai isi ulang, terutama untuk kendaraan listrik dan penyimpanan energi. Litium merupakan bahan penting dalam baterai jenis ini karena sifatnya mendukung penyimpanan energi dalam bobot relatif rendah. Kobalt juga digunakan dalam sejumlah jenis kimia baterai, meskipun perannya berbeda-beda menurut rancangan sel dan formulasi katodanya. Tidak semua baterai memerlukan kadar kobalt yang sama, dan sebagian teknologi berupaya mengurangi penggunaannya. Meski demikian, ketersediaan kobalt tetap menjadi pertimbangan bagi produsen baterai dan pembuat kendaraan.
Unsur tanah jarang memiliki fungsi lain yang sama pentingnya bagi teknologi rendah karbon. Neodimium dan praseodimium, misalnya, digunakan untuk membuat magnet permanen berkekuatan tinggi. Magnet tersebut menjadi komponen pada sejumlah motor listrik dan turbin angin, sehingga kebutuhan terhadapnya dapat meningkat seiring berkembangnya kedua sektor. Sebutan “tanah jarang” merujuk pada kelompok unsur dengan sifat khusus, bukan berarti seluruh unsurnya selalu langka di kerak bumi. Tantangan pasokan sering berkaitan dengan penambangan, pemisahan, pengolahan, dan konsentrasi kapasitas produksi pada sejumlah wilayah. Dengan demikian, angka produksi tahunan hanya satu bagian dari gambaran. Pemahaman tentang fungsi tiap mineral dan tahap pengolahannya membantu menjelaskan mengapa komoditas bertonase rendah dapat memiliki kedudukan strategis dalam ekonomi modern.
Perbandingan volume produksi antarlogam memperlihatkan perbedaan skala yang sangat besar, tetapi angka tersebut perlu dibaca sesuai fungsi dan cara pengukurannya. Pada 2025, produksi emas diperkirakan sekitar 3.300 ton. Jumlah ini jauh di bawah produksi perak yang mencapai sekitar 26.000 ton, dan terutama tembaga yang mencapai sekitar 23 juta ton. Perbedaan tersebut mencerminkan skala pasokan dan pemakaian yang berlainan, bukan ukuran langsung atas kegunaan atau nilai setiap logam.
Meski produksinya relatif kecil, emas tetap memiliki nilai ekonomi tinggi. Kelangkaannya menjadi salah satu faktor yang mendukung nilai tersebut, sementara permintaan datang dari beberapa bidang. Emas digunakan secara luas dalam perhiasan dan sebagai aset investasi. Logam ini juga dimanfaatkan dalam teknologi, sehingga perannya tidak terbatas pada fungsi estetika atau penyimpanan nilai.
Baca juga: FFPM 2026 Konsolidasikan Strategi Penguatan Fasilitas Produksi Migas






