Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak turun pada sesi II perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026. Pada pukul 13.53 WIB, indeks tercatat berada di level 5.318,96, terkoreksi 54,13 poin atau 1,01%. Angka tersebut menggambarkan posisi IHSG pada waktu pencatatan tersebut, sementara aktivitas perdagangan yang terhimpun hingga saat itu mencakup volume 168,54 juta lot dan nilai transaksi Rp6.233,14 miliar.
Pergerakan turun pada sesi II menjadi inti perkembangan perdagangan saham pada Selasa siang. Hingga pukul 13.53 WIB, IHSG berada pada level 5.318,96 setelah mengalami koreksi sebesar 54,13 poin. Secara persentase, perubahan itu setara dengan penurunan 1,01%. Dengan demikian, ketiga angka tersebut—level indeks, perubahan dalam poin, dan perubahan persentase—menunjukkan posisi serta besaran koreksi IHSG pada waktu yang sama.
Data aktivitas perdagangan yang tercatat hingga pukul 13.53 WIB menunjukkan volume sebesar 168,54 juta lot. Adapun nilai transaksi pada periode pencatatan tersebut mencapai Rp6.233,14 miliar. Informasi volume dan nilai transaksi ini melengkapi catatan mengenai posisi indeks, tanpa mengubah gambaran waktu pengukuran: seluruh angka merujuk pada aktivitas perdagangan sampai pukul 13.53 WIB.
Dengan mengacu pada catatan tersebut, IHSG berada di level 5.318,96 pada sesi II, turun 54,13 poin atau 1,01% pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026. Pada waktu yang sama, volume perdagangan tercatat 168,54 juta lot dan nilai transaksi mencapai Rp6.233,14 miliar. Rincian ini menyajikan gambaran indeks dan aktivitas transaksi berdasarkan data yang tersedia hingga pukul 13.53 WIB, tanpa menunjukkan kondisi pada waktu yang berbeda. Karena itu, angka-angka tersebut perlu dibaca sebagai potret perdagangan pada saat pencatatan, bukan sebagai nilai untuk keseluruhan hari perdagangan.
Pelemahan IHSG pada pertengahan sesi II berlangsung seiring tekanan yang terkonsentrasi pada sejumlah sektor. Utilitas mencatat penurunan terdalam di sektor yang disebutkan, yakni sebesar 3,6%. Sektor teknologi juga melemah 2,5%, sementara sektor energi terkoreksi 0,9%. Pergerakan tersebut menjadi faktor langsung yang membebani indeks pada saat perdagangan berlangsung. Besaran penurunan yang berbeda menunjukkan tekanan tidak tersebar secara merata, tetapi terutama terlihat pada saham-saham di sektor utilitas dan teknologi. Meski demikian, data yang tersedia tidak merinci kontribusi setiap sektor terhadap perubahan IHSG.
Di tingkat saham, sejumlah emiten tercatat sebagai pemberat indeks, yaitu PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN). Daftar ini menunjukkan saham-saham yang ikut berada di sisi penekan pergerakan IHSG pada pertengahan sesi II. Namun, tidak tersedia angka yang menjelaskan besaran pengaruh masing-masing saham, sehingga perannya hanya dapat disebut berdasarkan klasifikasi sebagai pemberat, tanpa mengukur dampaknya secara individual.
Di tengah tekanan tersebut, beberapa saham tercatat menopang indeks. Saham-saham itu mencakup PT Astra International Tbk. (ASII), PT United Tractors Tbk. (UNTR), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Timah (Persero) Tbk. (TINS), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI). Kehadiran saham penopang menunjukkan bahwa pergerakan pasar tidak sepenuhnya seragam, karena sejumlah emiten bergerak berlawanan dengan saham-saham yang menekan indeks. Daftar tersebut memberi gambaran tentang saham yang membantu menahan pelemahan IHSG, tetapi sumber tidak mencantumkan angka kontribusinya. Karena itu, tidak dapat ditentukan seberapa besar dukungan setiap saham atau apakah dukungan tersebut mampu mengimbangi tekanan dari sektor utilitas, teknologi, dan energi pada waktu pengamatan.
Pelaku pasar turut mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, selain faktor domestik yang memengaruhi pergerakan IHSG. Pada Senin, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu pejabat Iran di Teheran untuk membahas upaya meredakan konflik. Keempat negara sepakat melanjutkan dialog mengenai kerja sama perdamaian dan keamanan. Pakistan mengusulkan pembentukan jaringan non-agresi regional serta mendorong penyelesaian konflik yang dapat diterima Washington maupun Teheran. Perkembangan diplomatik tersebut menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi persepsi risiko global dan pasokan energi.
Meski ada upaya dialog, ketegangan masih tinggi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan serangan kembali terhadap Iran. Di sisi lain, Teheran menyatakan blokade pelabuhan dan sanksi terhadap ekspor minyak perlu dicabut sebelum pembahasan program nuklir dapat dilakukan. Parlemen Mesir juga menyetujui dukungan militer untuk membantu mempertahankan Arab Saudi. Situasi ini menambah ketidakpastian, sementara gangguan pelayaran di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman minyak dan risiko pasokan energi. Investor juga menunggu data ekonomi China, yang dapat memberi petunjuk mengenai kondisi permintaan dan memengaruhi arah pasar komoditas maupun aset berisiko.
Harga minyak bergerak turun pada Senin, 26 Oktober 2026, setelah mencatat kenaikan pada pekan sebelumnya. Minyak Brent melemah 0,8% menjadi US$115,81 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turun 1,46% menjadi US$101,76 per barel. Pada pekan sebelumnya, Brent naik 6% dan WTI menguat 2,3%. Koreksi harian tersebut belum menghapus tingginya harga minyak, yang masih ditopang kekhawatiran terhadap gangguan pasokan. Bagi investor, perubahan harga energi dan perkembangan konflik dapat memengaruhi ekspektasi inflasi, biaya operasional perusahaan, serta keputusan investasi. Karena itu, pelaku pasar memantau hasil dialog, potensi kebijakan lanjutan, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, dan rilis ekonomi China untuk menilai apakah tekanan terhadap pasar akan berlanjut.Di tengah pergerakan pasar domestik, rencana perubahan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi salah satu perhatian investor. Bursa menyampaikan sejumlah langkah untuk memperkuat pengawasan dan meningkatkan kualitas perdagangan, dengan tujuan membangun transparansi serta kepercayaan terhadap pasar modal. Inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya pengawasan dan tata kelola, bukan penjelasan langsung atas koreksi IHSG pada sesi II. Pergerakan indeks tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk dinamika sektoral dan sentimen pasar yang lebih luas.
Dalam rencana tersebut, BEI akan memperketat pengawasan transaksi dan memperkuat investigasi terhadap aktivitas yang dinilai mencurigakan. Bursa juga berencana membekukan rekening efek yang terindikasi melakukan pelanggaran, sesuai proses dan ketentuan yang berlaku. Di sisi lain, penggunaan pengumuman unusual market activity (UMA) sebagai langkah awal pengawasan akan dikurangi. Penyesuaian ini diarahkan agar tindakan bursa lebih bertumpu pada pemeriksaan dan penanganan yang sesuai dengan indikasi pelanggaran, sekaligus menjaga agar respons pengawasan tetap proporsional.
Perubahan juga mencakup komite penilai saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Jumlah anggotanya direncanakan menjadi sembilan orang, termasuk lima pihak eksternal independen, untuk memperkuat proses penilaian. Mulai 2 November 2026, saham yang masuk kategori HSC akan dikecualikan dari penghitungan IHSG. Jadwal evaluasi indeks juga akan diubah, meskipun rincian pelaksanaannya perlu merujuk pada ketentuan resmi bursa.
Langkah-langkah itu menempatkan transparansi, likuiditas perdagangan, dan kepercayaan investor sebagai sasaran utama. Pengawasan yang lebih kuat diharapkan membantu mengurangi ruang bagi praktik yang merugikan, sementara keterlibatan anggota independen dapat mendukung penilaian yang lebih objektif. Pengecualian saham HSC dari IHSG dan perubahan jadwal evaluasi indeks turut menjadi bagian dari penataan metodologi. Bagi pelaku pasar, memahami cakupan serta waktu penerapan kebijakan akan penting untuk menilai dampaknya terhadap aktivitas perdagangan dan komposisi indeks.






