Jakarta | Endy Arfian dipercaya menjadi pemeran utama dalam film Kembar Tak Sama, dengan tugas memainkan dua karakter sekaligus, Bimo dan Raka. Film ini digarap oleh MBK Productions bersama Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Peran ganda tersebut menempatkan Endy sebagai pusat cerita, sekaligus menuntutnya membangun dua sosok yang dapat dikenali penonton sebagai pribadi berbeda. Dalam pembicaraan mengenai prosesnya, Endy menguraikan tantangan itu di auditorium gedung rektorat IKJ pada Senin, 26 Oktober 2026.
Tantangan yang ia hadapi bukan hanya membuat penampilan Bimo dan Raka terlihat berbeda. Perubahan pada gestur, ekspresi, atau cara berbicara memang dapat membantu memberi penanda bagi masing-masing tokoh, tetapi unsur tersebut tidak cukup untuk membentuk dua identitas yang meyakinkan. Endy perlu menghadirkan perbedaan yang terasa dari dalam karakter, sehingga penonton dapat memahami bahwa Bimo dan Raka memiliki kepribadian, sikap, serta cara merespons keadaan yang tidak sama. Dengan demikian, dua tokoh itu tidak hanya tampak sebagai variasi dari satu pemeran, melainkan sebagai individu yang memiliki kehidupan sendiri di dalam cerita.
Menurut Endy, bagian penting dari pekerjaan tersebut ialah menjaga batas yang jelas di kedua peran, terutama ketika keduanya berada dalam konteks cerita yang saling berkaitan. Pilihan akting perlu mendukung identitas masing-masing tanpa membuat perbedaan terasa dibuat-buat atau berlebihan. Ia harus mempertimbangkan bagaimana setiap tokoh hadir, berinteraksi, dan menunjukkan respons dalam situasi tertentu. Keseimbangan ini menjadi kunci agar penonton menerima Bimo dan Raka sebagai dua karakter yang berbeda, sekaligus mengikuti alur film dengan mudah. Pengalaman memainkan keduanya pun menuntut konsistensi: ciri khas yang telah dibangun bagi satu tokoh perlu dipertahankan, sementara karakter lainnya tetap memiliki ruang untuk berkembang. Bagi Endy, sasaran utamanya bukan sekadar menunjukkan bahwa ia mampu berganti peran, tetapi membuat penonton percaya bahwa Bimo dan Raka masing-masing memiliki identitas tersendiri.
Dalam memerankan Bimo dan Raka, Endy Arfian tidak hanya berupaya menghadirkan dua sosok dengan pembawaan berbeda. Ia menelusuri cara masing-masing tokoh mengenali dan mengolah perasaan, lalu menerjemahkan perbedaan itu ke dalam respons yang dapat dipercaya. Perasaan sedih, senang, kecewa, dan marah menjadi bagian penting dari proses tersebut. Alih-alih memberi reaksi yang sama kepada kedua karakter, Endy memperhatikan bahwa pengalaman emosi dapat muncul dengan cara berlainan, bergantung pada kepribadian dan sudut pandang tokoh yang sedang ia mainkan. Pendekatan ini membantu membangun jarak yang jelas Bimo dan Raka.
Perbedaan itu dapat terlihat melalui pilihan sikap ketika menghadapi situasi yang menggembirakan maupun mengecewakan. Satu tokoh mungkin lebih mudah memperlihatkan apa yang dirasakannya, sementara yang lain dapat memproses emosi dengan lebih tertahan. Begitu pula saat kesedihan atau kemarahan muncul, respons mereka tidak harus berupa ledakan yang serupa. Endy mendalami bagaimana masing-masing karakter bereaksi, termasuk apa yang mereka tunjukkan dan bagaimana perasaan itu memengaruhi tindakan berikutnya. Dengan demikian, penonton tidak hanya melihat pergantian peran, tetapi juga menangkap perbedaan cara berpikir dan merasakan di balik setiap respons.
Bagi Endy, proyek ini menjadi pengalaman baru karena ia harus menghidupkan dua identitas dalam satu film. Tantangan utamanya terletak pada upaya menjaga karakterisasi masing-masing tetap konsisten, sekaligus membuat keduanya terasa sebagai pribadi yang berbeda. Namun, ia mengaku tidak menghadapi kesulitan yang terasa memberatkan selama menjalani proses tersebut. Pendalaman karakter dan pengamatan terhadap cara mereka mengolah emosi menjadi bekal untuk membedakan Bimo dari Raka. Proses itu juga memberi ruang bagi Endy untuk mengeksplorasi variasi ekspresi dan reaksi tanpa kehilangan arah pada karakter yang sedang diperankan. Hasilnya diharapkan membuat perbedaan kedua tokoh terbaca melalui perilaku mereka, bukan sekadar melalui identitas atau nama yang berbeda.
Dalam tes kamera, Endy Arfian menghadapi satu tantangan yang tidak sederhana: memainkan dua identitas dalam adegan yang sama. Ia terlebih dahulu mengambil adegan tersebut sebagai Bimo. Setelah itu, adegan yang sama harus ia ulangi, kali ini dengan memerankan Raka. Perubahan itu bukan sekadar mengganti nama tokoh atau tampilan, melainkan menuntut Endy menyesuaikan cara menghadirkan karakter di hadapan kamera. Ia perlu memahami perbedaan keduanya dan menjaga agar masing-masing terasa sebagai sosok yang memiliki identitas sendiri.
Bagian yang membuat proses ini menantang ialah ia harus mengingat sekaligus membedakan aksi dan reaksi untuk setiap versi adegan. Urutan kejadian tetap sama, tetapi respons Bimo dan Raka tidak boleh tercampur. Endy perlu mengetahui tindakan apa yang dilakukan tokoh dalam adegan, lalu membangun reaksi yang sesuai dengan karakter yang sedang dimainkan. Ketika beralih dari Bimo ke Raka, ia harus kembali menempatkan diri pada identitas yang berbeda, sambil memastikan pilihan aksi dan reaksinya tetap konsisten. Dengan demikian, pengulangan adegan menjadi latihan konsentrasi sekaligus pengujian kemampuannya mengolah dua karakter.
Endy menggambarkan pengalaman tes kamera itu sebagai sesuatu yang sangat menantang. Banyak hal yang mesti dijaga dalam waktu bersamaan: ingatan terhadap adegan, perubahan karakter, serta pembedaan tindakan dan respons. Beban tersebut membuat prosesnya terasa menguras tenaga; ia bahkan berkali-kali tertidur. Namun, rasa lelah itu tidak menghapus sisi menyenangkan dari pengalaman tersebut. Mengulang adegan sebagai Bimo lalu sebagai Raka memberinya kesempatan untuk merasakan perbedaan kedua peran secara langsung. Di tengah tuntutan untuk tetap fokus dan tidak mencampuradukkan reaksi, Endy tetap menikmati prosesnya. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa memainkan dua identitas bukan hanya soal tampil berbeda, tetapi juga tentang ketelitian menjaga tiap pilihan karakter, dari aksi hingga reaksi, dalam satu adegan yang berulang.
Dalam film Kembar Tak Sama, Endy Arfian beradu peran dengan Mahatva Zakie, yang memerankan Doni. Keduanya menjadi saudara kembar, sehingga hubungan mereka perlu terasa dekat dan meyakinkan di layar. Ikatan tersebut bukan hanya dibangun melalui dialog dan adegan, tetapi juga lewat proses yang membantu mereka saling mengenal di luar lokasi syuting. Bagi Endy, kedekatan antarpemain penting agar interaksi kedua karakter tampil alami dan mampu menyampaikan hubungan emosional yang menjadi bagian dari cerita.
Untuk mendukung proses itu, Endy dan Zakie tinggal bersama di sebuah kos selama persiapan maupun produksi film. Kesempatan berbagi ruang sehari-hari membuat mereka lebih mudah berinteraksi dan membangun rasa nyaman satu sama lain. Endy menyebut pendalaman karakter berjalan lancar. Ia juga menggambarkan Zakie sebagai pribadi yang menyenangkan dan memiliki energi positif, sehingga kebersamaan mereka terasa ringan. Suasana akrab tersebut menjadi modal bagi keduanya saat harus menampilkan hubungan saudara kembar, termasuk dalam momen-momen yang menuntut respons spontan dan kedekatan emosional.
Bagi Zakie, Doni merupakan pengalaman penting karena film ini menjadi debutnya di layar lebar sekaligus memberinya peran utama. Ia mengaku sempat merasa gugup dan memikirkan cara menyesuaikan diri dengan lingkungan produksi serta menjalin kedekatan dengan para pemain lain. Menurutnya, perbedaan akting panggung dan film terutama terletak pada media yang digunakan, sehingga ia perlu memahami cara bekerja di depan kamera. Dalam proses tersebut, Zakie banyak belajar dari Endy. Keduanya juga kerap berbincang pada malam hari, saat tinggal bersama di kos. Percakapan itu membantu Zakie merasa lebih nyaman sekaligus mengenal rekan mainnya. Kedekatan yang tumbuh selama persiapan menjadi bagian dari usaha mereka menghadirkan hubungan Doni dan saudara kembarnya secara lebih natural.






