Banjir Genangi 113 Rumah di Cibinong setelah Tanggul Kali Sugu Tamu Jebol

Banjir Genangi 113 Rumah di Cibinong setelah Tanggul Kali Sugu Tamu Jebol

Kabupaten Bogor. Banjir | Banjir merendam kawasan permukiman di Kelurahan Pabuaran Mekar, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, setelah tanggul Kali Sugu Tamu jebol. Air sungai mengalir melewati bagian tanggul yang rusak dan masuk ke lingkungan perumahan. Peristiwa tersebut berdampak pada sekitar 113 rumah warga. Ketinggian genangan di kawasan terdampak dilaporkan mencapai sekitar 30 hingga 40 sentimeter. Kondisi ini membuat air memenuhi sebagian area tempat tinggal dan jalan di lingkungan permukiman. Jebolnya tanggul menjadi penyebab langsung air sungai meluap ke kawasan tersebut, sementara hujan deras dan kenaikan debit air turut berperan dalam kerusakan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas deras meningkatkan debit Kali Sugu Tamu. Arus sungai yang mengalir kuat kemudian menekan tanggul hingga mengalami kerusakan. Bagian yang jebol merupakan tembok pembatas aliran sungai, dengan panjang kerusakan diperkirakan kurang lebih sembilan meter. Kerusakan pada pembatas itu membuka jalur bagi air untuk keluar dari aliran sungai dan bergerak menuju rumah-rumah di sekitarnya. Dengan demikian, banjir di Pabuaran Mekar berkaitan dengan gabungan kondisi cuaca, peningkatan volume air, serta kuatnya arus sungai yang menghantam tanggul.

Genangan setinggi sekitar 30–40 sentimeter menunjukkan bahwa air telah masuk ke area perumahan, meski kedalaman dapat berbeda menurut titik lokasi. Dampak yang tercatat mencakup 113 rumah, sehingga kejadian ini melibatkan sejumlah warga dalam satu kawasan. Informasi mengenai penyebab dan ukuran kerusakan tanggul disampaikan BPBD Kabupaten Bogor sebagai gambaran awal atas peristiwa tersebut. Titik tanggul yang rusak berada di sepanjang Kali Sugu Tamu, dan panjang bagian tembok yang jebol diperkirakan sekitar sembilan meter. Setelah aliran sungai menembus pembatas, air kemudian menggenangi permukiman di Kelurahan Pabuaran Mekar, Kecamatan Cibinong. Rangkaian kejadian itu menjadi latar utama banjir yang dilaporkan di wilayah Kabupaten Bogor.

Hasil kaji cepat tim BPBD mencatat bahwa banjir di kawasan Cibinong sempat menggenangi sekitar 113 rumah. Dampak tersebut diperkirakan menjangkau 113 kepala keluarga atau kurang lebih 205 jiwa. Angka ini menggambarkan skala awal dampak yang terlihat setelah air masuk ke permukiman, bukan hasil pendataan akhir terhadap seluruh warga maupun rumah yang terdampak.

Laporan mengenai banjir diterima petugas sekitar pukul 15.30 WIB pada Minggu, 25 Oktober 2026, saat hujan deras mengguyur kawasan Cibinong. Informasi awal itu menjadi dasar bagi petugas untuk meninjau lokasi dan melakukan kaji cepat. Dalam peninjauan tersebut, petugas menghimpun gambaran mengenai rumah yang tergenang dan jumlah warga yang berpotensi terdampak, sehingga respons awal dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

BPBD menyampaikan angka 113 rumah atau kepala keluarga dan sekitar 205 jiwa sebagai perkiraan sementara berdasarkan hasil kaji cepat. Karena sifatnya masih awal, angka tersebut dapat berubah setelah verifikasi dan pendataan lanjutan dilakukan. Dengan demikian, jumlah itu tidak sebaiknya dipahami sebagai data final atau sebagai daftar lengkap seluruh warga yang terdampak. Pembaruan informasi dapat diperlukan apabila petugas memperoleh keterangan tambahan dari lokasi maupun dari warga.

Pembedaan perkiraan awal dan pendataan final penting agar informasi mengenai dampak banjir disampaikan secara akurat. Kaji cepat membantu memberikan gambaran segera mengenai skala kejadian, tetapi proses pengumpulan dan pemeriksaan data dapat berlanjut setelah kondisi memungkinkan. Untuk sementara, hasil tersebut menunjukkan bahwa genangan memengaruhi puluhan hingga lebih dari seratus rumah tangga dan berdampak pada sekitar 205 jiwa. Angka resmi berikutnya tetap menunggu hasil verifikasi petugas di lapangan.

BPBD melakukan penanganan setelah banjir menggenangi rumah warga di Cibinong akibat tanggul Kali Sugu Tamu jebol. Salah satu langkah yang dilakukan petugas adalah menangani genangan dan menyedot air yang telah masuk ke bagian dalam rumah. Upaya tersebut diarahkan untuk mengurangi air di ruang hunian yang terdampak, sehingga warga dapat mulai kembali menggunakan dan membersihkan rumah mereka ketika kondisi memungkinkan. Penanganan ini menjadi bagian dari respons terhadap dampak banjir yang dilaporkan merendam 113 rumah.

Air yang masuk ke dalam rumah membuat penanganan tidak hanya berfokus pada kondisi di sekitar tanggul atau aliran kali. Petugas juga menangani genangan di bagian dalam rumah warga dengan melakukan penyedotan air. Informasi mengenai langkah tersebut disampaikan BPBD sebagai upaya yang dilakukan di lokasi terdampak. Tidak ada rincian tambahan mengenai jumlah petugas, jenis alat yang digunakan, ataupun bentuk evakuasi dalam keterangan yang tersedia. Karena itu, perkembangan penanganan dapat dijelaskan melalui tindakan yang disebutkan, tanpa menambahkan detail yang belum dikonfirmasi.

Pada malam hari, kondisi air dilaporkan mulai berangsur surut. Seiring dengan perkembangan tersebut, penghuni rumah terdampak mulai membersihkan rumah masing-masing secara mandiri. Aktivitas bersih-bersih dilakukan oleh warga setelah genangan di rumah mereka mulai berkurang, sebagai langkah awal untuk menata kembali bagian rumah yang terkena air. Keterangan ini menunjukkan perubahan situasi dari saat air menggenangi rumah menuju tahap pemulihan awal, meskipun penanganan terhadap dampak banjir tetap berlangsung. Warga membersihkan rumah secara mandiri, sementara informasi yang disampaikan BPBD menegaskan bahwa petugas telah melakukan penanganan dan penyedotan air di bagian dalam rumah. Perkembangan pada malam tersebut menjadi catatan penting bagi warga yang terdampak, karena air yang mulai surut memungkinkan mereka menangani kondisi rumah masing-masing. Namun, tidak tersedia keterangan lebih lanjut mengenai waktu penyelesaian seluruh penanganan atau jumlah rumah yang telah selesai dibersihkan. Fokus informasi yang ada adalah genangan mulai menurun dan penghuni mulai membersihkan rumahnya secara mandiri.

Banjir juga dilaporkan terjadi di Jalan Raya Alfalah Cikaret, Kecamatan Cibinong. Genangan di ruas tersebut mencapai sekitar 45–50 sentimeter dan membasahi jalur alternatif yang menghubungkan wilayah Cibinong dengan Depok. Kondisi ini sempat menghambat mobilitas warga, terutama pengendara yang biasa melintasi jalan tersebut untuk menuju tempat kerja, sekolah, atau kawasan permukiman di sekitarnya. Air yang cukup tinggi membuat kendaraan kesulitan melintas, sehingga ruas jalan untuk sementara tidak dapat dilalui.

Menurut keterangan staf kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, banjir dipicu oleh hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut. Curah hujan yang tinggi menyebabkan air mengalir dan terkumpul di sekitar jalan, sementara saluran drainase yang mengalami pendangkalan tidak mampu menampung serta mengalirkan air secara optimal. Kondisi saluran itu membuat genangan bertahan di badan jalan dan berdampak langsung pada kelancaran lalu lintas di jalur penghubung menuju Depok.

Selama genangan masih tinggi, pengguna jalan perlu menghindari lokasi atau mencari rute lain demi keselamatan dan untuk mengurangi kepadatan di sekitar titik banjir. Pengendara yang mendekati kawasan Cikaret juga perlu memperhatikan informasi kondisi jalan sebelum melanjutkan perjalanan, sebab ketinggian air dan kelancaran arus dapat berubah mengikuti cuaca serta proses surutnya genangan. Penanganan drainase yang tersumbat atau dangkal dapat membantu mempercepat aliran air, tetapi kondisi lalu lintas tetap bergantung pada situasi lapangan.

Perkembangan yang dilaporkan kemudian menunjukkan bahwa air di Jalan Raya Alfalah Cikaret berangsur surut. Setelah ketinggian genangan menurun, akses jalan kembali dapat dilalui kendaraan dari kedua arah. Pemulihan ini memungkinkan arus lalu lintas kembali bergerak, meskipun pengguna jalan tetap disarankan berhati-hati ketika melintasi bagian yang sebelumnya terendam.