Jenaka Mahila Pilih Musik, Siapkan Album dengan Lagu Tulisannya Sendiri

Jenaka Mahila Pilih Musik, Siapkan Album dengan Lagu Tulisannya Sendiri

Jakarta | Jenaka Mahila merilis single berjudul “Memendam Suka” dan memilih menempuh karier di bidang musik. Pilihan tersebut membuat jalur profesionalnya berbeda dari kedua orang tuanya, Tora Sudiro dan Mieke Amalia, yang dikenal luas berkarier di dunia akting. Di tengah latar keluarga yang lekat dengan seni peran, Jenaka menentukan bidang yang ingin dijalaninya sendiri dan kini memperkenalkan diri kepada publik melalui karya musik.

Perbedaan pilihan karier itu tidak lantas berarti Jenaka berjalan tanpa dukungan keluarga. Ia menyampaikan bahwa keluarga memberikan dukungan penuh terhadap langkahnya di musik. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari kisah Jenaka dalam memilih jalur yang berbeda, sekaligus menunjukkan bahwa keputusan mengenai profesi tetap dapat datang dari minat dan pilihan pribadi, meskipun orang tua memiliki bidang pekerjaan yang dikenal publik.

Pernyataan itu disampaikan Jenaka saat ditemui di kantor MyMusic, Jakarta Selatan, Jumat (23/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan pilihannya untuk berkarier di musik serta dukungan yang diterimanya dari keluarga. Tora dan Mieke selama ini dikenal sebagai figur di dunia akting, sedangkan Jenaka mengambil arah yang berbeda dengan menekuni musik. Kehadiran single “Memendam Suka” menandai langkahnya dalam bidang yang dipilih tersebut. Dengan dukungan penuh dari keluarga, Jenaka menjalani pilihan kariernya sendiri tanpa harus mengikuti profesi kedua orang tuanya. Kisah ini memperlihatkan perbedaan jalur anak dan orang tua, sekaligus menempatkan musik sebagai bidang yang ingin digeluti Jenaka. Ia kini hadir sebagai penyanyi dengan karya berjudul “Memendam Suka”, sementara latar keluarga tetap memberi konteks tentang pilihan profesinya yang tidak sama dengan Tora maupun Mieke. Jenaka menegaskan bahwa keluarga mendukung langkah tersebut sepenuhnya ketika ia berbicara kepada awak media di Jakarta Selatan. Fokus pernyataannya adalah keputusan untuk memilih musik dan penerimaan keluarga atas keputusan itu, di tengah reputasi orang tuanya sebagai pelaku seni peran. Dengan demikian, karier musik menjadi jalur yang dipilih Jenaka untuk dirinya, berbeda dari dunia akting yang selama ini menjadi bagian dari kiprah Tora Sudiro dan Mieke Amalia.

Selera musik Jenaka Mahila mengalami perubahan seiring waktu. Dahulu, ia lebih akrab dengan lagu-lagu lama yang biasa didengarkan oleh orang tuanya. Musik yang hadir di lingkungan keluarga menjadi bagian dari pengalaman awalnya dalam mengenal lagu. Namun, pilihan musik Jenaka kini tidak hanya merujuk pada kebiasaan tersebut. Ia sudah memiliki idola sendiri dan menyukai sejumlah musisi dengan karya serta karakter musik yang dekat dengannya. Perubahan ini menunjukkan bahwa referensi musiknya berkembang, dari lagu-lagu yang dikenal melalui orang tua menuju musisi yang ia pilih sebagai penggemar. Dalam perjalanan itu, Raisa menjadi sosok yang secara khusus ia jadikan panutan.

Jenaka menyebut Raisa sebagai role model yang sangat ia sukai. Ketertarikan tersebut berkaitan dengan warna suara Raisa dan lagu-lagunya, dua hal yang membuat penyanyi itu memiliki tempat tersendiri bagi Jenaka. Raisa bukan sekadar nama yang ia dengarkan, melainkan juga figur yang ia kagumi dalam musik. Ketika membicarakan sosok yang menjadi rujukan, pilihan Jenaka pada Raisa memperlihatkan siapa musisi yang paling ia sukai saat ini. Ia mengagumi karakter suara dan karya-karya Raisa tanpa perlu mengaitkannya dengan lagu tertentu. Bagi Jenaka, keseluruhan hal yang ia sukai dari Raisa menjadikan penyanyi tersebut role model yang berarti dalam perkembangan selera musiknya.

Selain Raisa, Jenaka juga menyukai Yura Yunita dan Juicy Luicy. Keduanya melengkapi daftar musisi yang ia dengarkan dan sukai sekarang. Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa selera musik Jenaka saat ini mencakup sejumlah musisi yang berbeda, sementara Raisa tetap disebut sebagai panutan yang sangat ia kagumi. Perbedaan musik lama yang dahulu akrab melalui orang tuanya dan idola yang kini ia pilih menjadi gambaran perubahan preferensinya. Ia tidak lagi hanya mengandalkan lagu-lagu yang dikenal sejak dulu, tetapi juga memiliki kesukaan pribadi terhadap Raisa, Yura Yunita, serta Juicy Luicy. Dengan demikian, pilihan musik Jenaka mencerminkan pergeseran dari kebiasaan mendengarkan di rumah menuju idola dan musisi yang ia sukai sendiri.

Di tengah kesibukannya menyiapkan album yang berisi lagu-lagu ciptaannya sendiri, Jenaka Mahila juga menerima rekomendasi musik dari sang ayah, Tora Sudiro. Jenaka menceritakan bahwa Tora cukup rutin membagikan lagu atau musisi yang menurutnya layak didengarkan. Saran tersebut menjadi salah satu cara Tora memperkenalkan putrinya kepada beragam referensi musik, sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk berbincang tentang lagu dan band yang disukai. Bagi Jenaka, rekomendasi itu bukan sekadar daftar putar, melainkan bagian dari pengalaman mengenal musik melalui sudut pandang ayahnya.

Salah satu lagu yang disarankan Tora adalah “Blackbird” dari The Beatles. Menurut cerita Jenaka, ayahnya menilai The Beatles dapat menjadi fondasi yang baik untuk didengarkan. Rekomendasi ini menunjukkan pandangan Tora mengenai pentingnya mengenal karya band tersebut sebagai salah satu rujukan dalam perjalanan bermusik. Ia pun meminta Jenaka menyimak lagu itu, bukan dengan tuntutan untuk meniru gaya tertentu, melainkan sebagai kesempatan untuk mendengar dan mengenali musik yang dianggapnya penting. Jenaka menyampaikan alasan itu sebagai pendapat pribadi Tora, bukan sebagai penilaian yang harus berlaku bagi semua pendengar.

Selain The Beatles, Tora juga mengenalkan Jenaka pada band Indonesia, Mocca. Jenaka mengatakan ayahnya menyukai perpaduan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dalam lagu-lagu Mocca. Karena tertarik pada karakter tersebut, Tora meminta putrinya ikut mendengarkan band itu. Pilihan ini memperlihatkan bahwa rekomendasi musik yang ia berikan tidak terbatas pada band luar negeri; ia juga mengajak Jenaka menengok karya musisi Indonesia dengan warna bahasa yang khas. Bagi Jenaka, kedua contoh itu menjadi gambaran selera dan cara pandang ayahnya terhadap musik. Cerita tersebut juga menegaskan bahwa saran Tora lahir dari hal-hal yang ia nikmati sendiri, lalu dibagikan kepada putrinya sebagai referensi untuk didengar dan dipertimbangkan dalam perjalanan kreatif Jenaka.

Keinginan Jenaka untuk terus berkarya di musik tidak berhenti pada lagu-lagu yang telah ia tulis. Ia juga membayangkan dapat menyiapkan sebuah album pada masa mendatang, dengan materi yang berasal dari gagasan dan proses kreatifnya sendiri. Rencana itu menjadi salah satu arah yang ingin ia tuju seiring perjalanan bermusiknya, bukan proyek yang sudah dipastikan akan segera dikerjakan. Jenaka masih ingin melihat bagaimana perkembangan karier, kesempatan, serta waktu yang tersedia sebelum menentukan langkah lebih lanjut.

Menulis seluruh materi album sendiri merupakan harapan yang penting baginya. Dengan menggarap lagu-lagunya secara mandiri, Jenaka dapat menyampaikan pemikiran dan perasaan melalui karya yang terasa dekat dengan dirinya. Namun, keinginan tersebut tetap membutuhkan proses. Kemampuan menulis lagu dapat terus diasah melalui pengalaman, eksplorasi, dan kesempatan untuk mencoba berbagai pendekatan dalam bermusik. Karena itu, ia tidak menyebut album tersebut sebagai target dengan tenggat tertentu, melainkan sebagai kemungkinan yang ingin diwujudkan ketika waktunya tepat.

Dalam perjalanan menuju tujuan itu, Jenaka ingin tetap belajar dan mengembangkan kemampuannya. Pengalaman bermusik dapat memberinya ruang untuk menemukan karakter penulisan yang semakin kuat, sekaligus memahami materi seperti apa yang ingin ia hadirkan kepada pendengar. Ia pun dapat menjalani proses tersebut secara bertahap, tanpa harus menetapkan semua jawabannya sejak awal.

Baca juga: Dari Pesantren untuk Ibu Pertiwi: Kodim 0813 Bojonegoro Bangun Sarana Olahraga Militer, Siapkan Santri Jadi Prajurit TNI