Karhutla di Bromo Merenggut Enam Nyawa, Korban Terakhir Suraji

Korban Jiwa Kebakaran di Bromo Bertambah, Munawi Meninggal Setelah Dirawat

Kabupaten Probolinggo. Kepergian Suraji | Jumlah korban meninggal dunia akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, bertambah menjadi enam orang. Korban terakhir yang dilaporkan meninggal adalah Suraji, petugas sekuriti DW Artotel PT Mitra Indo Permai. Ia mengembuskan napas terakhir pada Jumat, 23 Oktober, sekitar pukul 12.00 WIB, setelah menjalani perawatan intensif akibat luka bakar.

Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, membenarkan kabar wafatnya Suraji. Ia menyampaikan bahwa Suraji meninggal pada Jumat sekitar tengah hari setelah mendapatkan penanganan medis secara intensif. Keterangan tersebut menegaskan bahwa korban telah dirawat akibat luka bakar sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Wafatnya Suraji menambah jumlah korban jiwa dalam peristiwa karhutla di kawasan konservasi tersebut menjadi enam orang. Kabar itu sekaligus menandai bertambahnya korban meninggal setelah sebelumnya sejumlah orang telah lebih dahulu dilaporkan tewas dalam kejadian yang sama. Suraji merupakan petugas keamanan yang bekerja untuk DW Artotel PT Mitra Indo Permai, dan bukan hanya tercatat sebagai korban dalam insiden, tetapi juga sebagai pekerja yang menjalankan tugas di kawasan terdampak.

Informasi mengenai kondisi Suraji sebelum meninggal berpusat pada luka bakar yang dialaminya dan perawatan intensif yang diterima. Hingga keterangan wafatnya disampaikan, belum ada rincian tambahan dalam informasi yang tersedia mengenai lama perawatan, tingkat luka, ataupun proses medis yang dijalani. Karena itu, kabar yang dapat dipastikan adalah bahwa ia meninggal pada Jumat, 23 Oktober, sekitar pukul 12.00 WIB, setelah dirawat intensif.

Peristiwa ini kembali menyoroti dampak berat kebakaran hutan dan lahan di TNBTS, terutama bagi orang-orang yang berada atau bekerja di kawasan tersebut. Dengan Suraji sebagai korban terakhir yang dilaporkan, jumlah korban meninggal mencapai enam orang. Pihak berwenang menyampaikan kabar tersebut melalui keterangan Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, yang membenarkan bahwa Suraji telah meninggal dunia.

Suraji menjadi korban terakhir dalam rangkaian kebakaran hutan dan lahan di kawasan konservasi Bromo. Ia mengalami luka ketika ikut berupaya memadamkan api di Resort Tengger Laut Pasir, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo. Peristiwa tersebut menambah jumlah korban jiwa akibat kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Upaya pemadaman berlangsung di tengah kobaran api yang menjalar di wilayah konservasi, sementara petugas dan unsur masyarakat terlibat dalam penanganan di lapangan. Suraji disebut sebagai korban keenam yang meninggal dalam insiden kebakaran tersebut, setelah sebelumnya lima orang kehilangan nyawa saat berusaha memadamkan api.

Kebakaran di kawasan konservasi Bromo telah berlangsung sejak 15 Oktober. Salah satu titik terdampak berada di Pusung Lingker, Kabupaten Probolinggo, tempat lima orang meninggal ketika membantu memadamkan api. Mereka terdiri atas dua petugas Balai Besar TNBTS, seorang anggota Masyarakat Mitra Polhut, serta dua karyawan hotel yang berada di sekitar lokasi. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran melibatkan berbagai unsur, bukan hanya personel pengelola taman nasional. Para korban berada di lokasi ketika upaya pemadaman dilakukan. Informasi mengenai mereka menjadi bagian dari catatan dampak kebakaran yang terus ditangani di kawasan tersebut, termasuk di wilayah Tengger dan sekitarnya.

Lima korban yang meninggal lebih dahulu adalah Sukaris (55) dan Hendra Rony Wagiyanata (33), petugas BB TNBTS; Wisnu Yuda Pratama (25) dan Sefriel Ardiansyah (19), karyawan hotel di sekitar lokasi; serta Munawi (44), anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Mereka meninggal saat berupaya memadamkan api di titik Pusung Lingker, Probolinggo. Suraji kemudian tercatat sebagai korban terakhir dalam rangkaian kejadian ini, setelah mengalami luka saat ikut menangani kebakaran di Resort Tengger Laut Pasir, Cemorolawang. Perbedaan lokasi tersebut menunjukkan kebakaran berdampak pada beberapa bagian kawasan Bromo. Para petugas dan pihak terkait terus menghadapi tantangan dalam mengendalikan api di area konservasi yang luas.

Selain kabar kebakaran hutan dan lahan di Bromo yang merenggut korban jiwa, peristiwa serupa juga menelan korban di Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang pria berinisial LJ, berusia 60 tahun, meninggal dunia pada 13 Oktober setelah kebakaran melanda kawasan perkebunan di Jalan Anggur, Kelurahan Sidodadi. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa upaya menghadapi api di area terbuka dapat membawa risiko serius bagi warga yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Dalam kejadian ini, LJ sebelumnya berusaha memadamkan api bersama warga lain. Upaya itu dilakukan untuk mencegah api merambat ke permukiman, sehingga ancaman kebakaran tidak meluas ke kawasan tempat tinggal warga.

Keterangan mengenai kondisi korban disampaikan Kapolsek Samarinda Ulu, AKP Asriadi Jafar. Berdasarkan pemeriksaan awal tim medis, LJ meninggal akibat luka bakar serius dan paparan hawa panas. Informasi tersebut menjelaskan bahwa bahaya kebakaran tidak hanya berasal dari nyala api yang terlihat, tetapi juga dari panas yang terpapar pada seseorang ketika berada dekat dengan titik kebakaran. Namun, keterangan yang tersedia terbatas pada hasil pemeriksaan awal tersebut. Karena itu, rincian lain tentang kondisi korban maupun urutan kejadian tidak dapat dipastikan dari informasi ini. Fakta yang disampaikan menegaskan bahwa tindakan membantu memadamkan kebakaran dapat menimbulkan risiko besar, bahkan ketika maksudnya adalah melindungi permukiman.

Kasus di Sidodadi memberi konteks tambahan mengenai dampak kebakaran di luar peristiwa Bromo. Kedua kejadian berlangsung di lokasi berbeda, dan informasi yang tersedia tidak menyatakan adanya hubungan keduanya. Meski demikian, korban jiwa di Samarinda menunjukkan bahwa kebakaran pada kawasan perkebunan juga dapat membahayakan warga yang berupaya mengendalikan api. LJ diketahui bergabung dengan warga untuk mencegah rambatan menuju permukiman, lalu meninggal pada tanggal yang disebutkan. Keterangan Kapolsek dan pemeriksaan awal medis menjadi dasar informasi mengenai penyebab kematiannya. Dengan tetap berpegang pada fakta tersebut, insiden ini memperlihatkan konsekuensi berat yang dapat muncul ketika warga berhadapan langsung dengan kebakaran. Tidak ada keterangan tambahan mengenai luas area terbakar, penyebab api, ataupun langkah penanganan setelah korban ditemukan, sehingga hal-hal tersebut tidak dapat disimpulkan.

Di luar peristiwa kebakaran di kawasan Bromo, laporan dari wilayah lain juga menyebut korban jiwa dalam penanganan kebakaran lahan dan dampak kabut asap. Salah satu korban adalah Akhmad Rizani, Ketua Tim Serbu Api Kecamatan (TSAK) Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Ia meninggal pada 27 Agustus setelah berupaya memadamkan kebakaran lahan di Jalan Rungan, kawasan belakang kantor kecamatan. Informasi ini menempatkan pengalaman seorang petugas pemadam di Palangka Raya sebagai laporan tersendiri, berbeda lokasi dari kebakaran yang dibahas dalam berita utama.

Akhmad berusia 53 tahun. Setelah upaya pemadaman, ia ditemukan dalam keadaan duduk meringkuk dan kesakitan. Keterangan tersebut menggambarkan kondisi saat ia ditemukan, tanpa menyebutkan rincian lain mengenai penyebab kematian ataupun keadaan sebelum itu. Ia disebut telah berupaya memadamkan kebakaran lahan di lokasi tersebut. Peristiwa yang merenggut nyawanya menambah catatan tentang korban di tengah penanganan kebakaran, sementara identitas, usia, lokasi, dan tanggal kematiannya menjadi informasi utama yang dilaporkan. Tidak ada keterangan tambahan dalam laporan ini mengenai durasi pemadaman, kondisi lahan, ataupun penanganan medis yang diterima.

Laporan mengenai dampak kebakaran dan asap juga mencakup anak-anak di Kalimantan. Sedikitnya tiga anak dilaporkan meninggal akibat kabut asap.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla