Kabupaten Nagan Raya | Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Alin Fithor, mengidentifikasi sembilan jenis tumbuhan dari kawasan Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, yang berpotensi dikaji lebih lanjut sebagai sumber bahan obat. Temuan tersebut memperlihatkan kekayaan vegetasi pesisir setempat sekaligus membuka ruang penelitian mengenai kandungan dan pemanfaatan tumbuhan yang hidup di lingkungan mangrove. Namun, penyebutan potensi perlu dipahami secara tepat: identifikasi jenis tumbuhan bukan berarti khasiat pengobatannya telah dibuktikan melalui penelitian klinis.
Dari sembilan jenis yang dicatat, tujuh tergolong mangrove sejati, yakni Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris. Ketujuh spesies ini merupakan bagian dari vegetasi yang mampu tumbuh dan beradaptasi pada kondisi khas kawasan pasang surut. Masing-masing memiliki karakter biologis dan ekologis tersendiri, sehingga pengkajian potensi pemanfaatannya perlu dilakukan dengan memperhatikan jenis, bagian tumbuhan yang diteliti, serta kondisi habitatnya.
Dua jenis lainnya berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yaitu Acanthus ilicifolius dan Nypa fruticans. Keduanya melengkapi daftar tumbuhan yang ditemukan di kawasan tersebut, meskipun tidak dikategorikan sebagai mangrove sejati dalam pengelompokan ini. Perbedaan mangrove sejati dan tumbuhan asosiasi membantu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang keragaman vegetasi Tadu Raya. Daftar sembilan jenis itu menjadi titik awal untuk penelitian lanjutan, bukan daftar tanaman yang otomatis aman atau efektif digunakan untuk mengobati penyakit. Untuk menilai potensi khasiatnya, peneliti masih perlu menguji senyawa, keamanan, dosis, dan kemungkinan manfaatnya secara sistematis. Dengan demikian, temuan Alin Fithor menegaskan nilai keanekaragaman tumbuhan lokal sekaligus pentingnya membedakan potensi ilmiah dari bukti khasiat yang sudah teruji.
Di kawasan pesisir Nagan Raya, hutan mangrove bukan hanya dipandang sebagai ekosistem pelindung pantai dan tempat hidup beragam satwa. Warga setempat juga telah lama mengenal dan memanfaatkan sejumlah tumbuhan mangrove dalam praktik tradisional untuk membantu menjaga kesehatan. Pengetahuan tersebut diwariskan dalam keluarga dan komunitas, termasuk pemahaman mengenai bagian tumbuhan yang biasa digunakan. Daun dan buah menjadi bagian yang paling banyak disebut dalam pemanfaatan sehari-hari, meskipun cara penggunaan dan jenis tumbuhan dapat berbeda satu keluarga dengan keluarga lainnya.
Penelitian mengenai pemanfaatan mangrove di wilayah ini mencatat berbagai keluhan yang dikaitkan dengan penggunaan tumbuhan tersebut. Keluhan itu mencakup memar, luka bakar, cacar air, demam, diare, gatal-gatal, luka pada kulit, sakit perut, sariawan, dan sakit gigi. Catatan tersebut menggambarkan ragam pengetahuan lokal yang masih dikenal oleh masyarakat, bukan penilaian klinis tentang efektivitas atau keamanan bahan-bahan tersebut. Penyebutan suatu keluhan dalam penelitian menunjukkan adanya praktik atau keterangan warga, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa tumbuhan mangrove dapat menyembuhkan kondisi tersebut.
Alin, yang menjelaskan pengetahuan masyarakat setempat, menyebut daun dan buah Rhizophora apiculata, atau bakau, digunakan secara tradisional untuk membantu mengatasi sariawan, sakit gigi, dan luka. Sementara itu, Rhizophora mucronata dimanfaatkan warga untuk keluhan diare, sakit perut, serta luka pada kulit. Contoh-contoh ini memperlihatkan eratnya hubungan masyarakat pesisir dan sumber daya mangrove, sekaligus pentingnya mendokumentasikan pengetahuan lokal secara hati-hati. Pemanfaatan tersebut perlu dipahami sebagai praktik tradisional yang dilaporkan, bukan anjuran pengobatan maupun pengganti pemeriksaan dan perawatan oleh tenaga kesehatan. Jika mengalami keluhan, warga tetap dapat meminta saran tenaga medis, terutama apabila gejalanya berat, menetap, atau memburuk.
Dalam kajian terhadap sembilan tumbuhan mangrove dari Nagan Raya, peneliti mencatat adanya sejumlah kelompok senyawa bioaktif, lain alkaloid, fenolik, steroid, terpenoid, flavonoid, dan saponin. Senyawa-senyawa tersebut dikenal dalam penelitian bahan alam dan dapat menjadi petunjuk awal untuk menelaah aktivitas biologis tumbuhan. Namun, keberadaan suatu senyawa dalam ekstrak tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa tumbuhan tersebut aman atau efektif untuk mengobati penyakit pada manusia.
Berbagai kelompok senyawa itu dikaitkan dalam literatur dengan potensi aktivitas antibakteri, antikanker, antidiabetes, antijamur, antiinflamasi, antitumor, dan antivirus. Kaitan tersebut merupakan dasar untuk menyusun pertanyaan penelitian, bukan jaminan bahwa semua aktivitas itu dimiliki oleh setiap spesies mangrove yang diteliti. Hasil dapat dipengaruhi oleh jenis tumbuhan, bagian yang digunakan, lokasi tumbuh, cara pengolahan, metode ekstraksi, serta konsentrasi bahan uji. Karena itu, temuan awal perlu dibaca sebagai indikasi potensi yang masih harus diperiksa secara terukur.
Alin menekankan pentingnya membedakan penggunaan tumbuhan secara tradisional dari khasiat medis yang telah dibuktikan secara ilmiah. Catatan bahwa masyarakat menggunakan tanaman tertentu untuk tujuan tertentu dapat menjadi informasi berharga dan mengarahkan penelitian, tetapi tidak setara dengan bukti klinis. Klaim pengobatan memerlukan pengujian yang sesuai, termasuk penilaian keamanan, dosis, efek samping, dan kemungkinan interaksi dengan obat lain. Tanpa bukti tersebut, penggunaan mangrove sebagai terapi tidak semestinya dipastikan atau menggantikan perawatan medis yang telah dianjurkan tenaga kesehatan.
Dengan demikian, kandungan bioaktif pada tumbuhan mangrove Nagan Raya membuka peluang untuk penelitian bahan obat, tetapi belum menetapkan manfaat klinisnya. Tahap berikutnya perlu menguji efektivitas farmakologis melalui prosedur yang dapat diulang, mulai dari analisis senyawa dan uji laboratorium hingga penelitian lanjutan yang relevan. Peneliti juga perlu menentukan senyawa aktif, mekanisme kerjanya, serta batas keamanan penggunaan. Pendekatan bertahap ini membantu memastikan apakah potensi yang terlihat dalam kajian awal dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi kandidat bahan obat, tanpa melampaui kekuatan bukti yang tersedia saat ini.
Penelitian mengenai komposisi jenis dan pemanfaatan obat tumbuhan mangrove di wilayah barat daya Aceh dipublikasikan dalam Biodiversitas Journal of Biological Diversity, volume 27 nomor 3, pada Maret 2026. Publikasi ini membahas tumbuhan mangrove yang ditemukan di Nagan Raya, sekaligus pemanfaatannya sebagai bahan obat. Dengan menempatkan komposisi jenis dan pemanfaatan dalam satu kajian, penelitian tersebut menyajikan dua sisi informasi tentang tumbuhan mangrove di kawasan pesisir yang diteliti. Rincian yang disampaikan dalam publikasi menjadi bagian dari catatan ilmiah mengenai keanekaragaman tumbuhan dan pengetahuan pemanfaatannya di Aceh bagian barat daya.
Tim peneliti terdiri atas Alin Fithor, Wintah, Moh. Husein Sastranegara, dan Kiswanto. Nama-nama tersebut tercantum sebagai penulis penelitian yang diterbitkan pada edisi Maret 2026. Kajian mereka secara khusus mengangkat tumbuhan mangrove dari Nagan Raya, dengan perhatian pada jenis-jenis yang dijumpai dan pemanfaatan obatnya. Informasi mengenai susunan tim dan tempat publikasi membantu pembaca mengenali sumber penelitian serta konteks penerbitannya. Penyebutan jurnal, volume, nomor, dan bulan terbit juga memberikan identitas bibliografis yang jelas bagi pembaca yang ingin menelusuri artikel tersebut.
Selain menjelaskan penelitian, Alin Fithor menyoroti ancaman terhadap habitat mangrove. Ia menyampaikan bahwa penebangan dan pembangunan kawasan pesisir dapat menghilangkan habitat serta mengganggu keberlangsungan ekosistem mangrove. Perhatian ini menegaskan pentingnya melihat tumbuhan mangrove bukan hanya sebagai objek kajian mengenai jenis dan pemanfaatan obat, tetapi juga sebagai bagian dari habitat yang keberlangsungannya menghadapi tekanan. Pernyataan Alin terbatas pada risiko yang berkaitan dengan hilangnya habitat dan terganggunya ekosistem akibat penebangan serta pembangunan pesisir. Dengan demikian, pembaca dapat memahami bahwa penelitian tersebut hadir bersama perhatian terhadap kondisi habitat tempat tumbuhan mangrove berada.
Baca juga: Sinergi Bersama Hadapi Potensi Bencana, Personel Kodim Bojonegoro Segarkan Kemampuan Jinakkan Api





