Harga Mahal dan Fitur Terbatas Jadi Sorotan pada iPhone Duo

Harga Mahal dan Fitur Terbatas Jadi Sorotan pada iPhone Duo

Jakarta | CEO Nothing, Carl Pei, mengkritik iPhone Duo, perangkat yang disebut sebagai ponsel lipat pertama Apple. Sorotan utamanya tertuju pada harga awal yang dikabarkan mencapai US.999, atau sekitar Rp35 juta. Menurut Pei, banderol tersebut sulit dibenarkan apabila dibandingkan dengan fitur yang ditawarkan. Ia menilai konsumen dapat memperoleh lebih banyak kemampuan pada iPhone Pro dengan biaya yang lebih rendah, sementara iPhone Duo justru diposisikan sebagai produk yang lebih mahal.

Pei secara khusus menunjuk dua fitur yang dinilai tidak tersedia pada perangkat lipat itu: kamera telefoto dan Face ID. Keduanya merupakan kemampuan yang telah menjadi bagian penting dari pengalaman menggunakan iPhone Pro. Kamera telefoto memungkinkan pengguna mengambil gambar dengan pembesaran optik, sedangkan Face ID menyediakan metode pengenalan wajah untuk membuka perangkat dan melakukan autentikasi. Ketiadaan fitur-fitur tersebut menjadi dasar kritiknya bahwa harga tinggi iPhone Duo tidak diikuti kelengkapan yang sepadan.

Dalam pandangan Pei, desain lipat saja belum cukup untuk menjelaskan mengapa konsumen harus membayar lebih jika sejumlah fitur unggulan justru tidak disertakan. Ia menggambarkan situasi itu sebagai konsumen yang mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan lebih sedikit. Pernyataan tersebut menyoroti perbandingan nilai yang diterima pembeli dan harga yang diminta, bukan sekadar nominalnya. Bagi calon pengguna, pertimbangan harga dapat mencakup manfaat desain layar lipat, tetapi juga fitur kamera dan sistem keamanan yang tersedia. Kritik Pei pun menempatkan iPhone Duo dalam perbandingan langsung dengan model Pro, terutama terkait kelengkapan perangkat keras. Meski demikian, penilaian tersebut merupakan pandangan Pei terhadap spesifikasi dan posisi harga produk. Respons pasar pada akhirnya akan bergantung pada bagaimana konsumen menimbang desain lipat, fitur yang disediakan, serta biaya pembelian. Dengan harga awal sekitar Rp35 juta, perbedaan fitur yang disebutkan itu menjadi salah satu aspek penting dalam diskusi mengenai daya tarik iPhone Duo.Di berbagai pembahasan mengenai iPhone Duo, animasi yang muncul ketika perangkat dilipat menjadi salah satu detail yang paling ramai diperhatikan. Fitur visual tersebut memperlihatkan transisi layar saat ponsel berubah dari bentuk terbuka menjadi tertutup, sehingga pengalaman penggunaan terasa lebih terarah dan halus. Perhatian publik terhadap animasi ini menunjukkan bahwa desain perangkat lipat tidak hanya dinilai dari spesifikasi utama, seperti kamera atau daya tahan baterai, tetapi juga dari cara perangkat merespons tindakan sederhana pengguna. Dalam konteks tersebut, detail kecil dapat menjadi bagian penting dari identitas produk sekaligus memengaruhi kesan pertama terhadap teknologi baru yang ditawarkan Apple.

Pei turut menanggapi sorotan terhadap animasi lipatan tersebut. Ia mengapresiasi perhatian Apple pada detail kecil, termasuk bagaimana tampilan bergerak ketika perangkat ditutup. Pendekatan semacam itu dapat membuat interaksi terasa lebih matang dan menunjukkan upaya merancang pengalaman yang konsisten, bukan sekadar menghadirkan perangkat dengan mekanisme lipat. Bagi konsumen, animasi yang mulus mungkin menambah kepuasan saat menggunakan ponsel sehari-hari. Namun, apresiasi terhadap pengerjaan yang cermat tidak serta-merta berarti setiap detail memiliki bobot yang sama dalam keputusan pembelian. Perhatian pada kualitas antarmuka patut diakui, tetapi nilai praktis perangkat secara keseluruhan tetap menjadi pertimbangan utama.

Dalam pandangan Pei, animasi tersebut menarik, tetapi belum cukup menjadi alasan untuk membeli iPhone Duo. Calon pembeli umumnya mempertimbangkan harga, manfaat layar lipat, daya tahan, serta fitur yang tersedia sebelum mengeluarkan biaya besar. Jika keunggulan perangkat hanya terasa pada aspek visual, sebagian pengguna mungkin menilai bahwa manfaatnya belum sebanding dengan harga yang ditawarkan. Kritik itu menempatkan detail desain dalam proporsi yang lebih realistis: animasi dapat memperkaya pengalaman, tetapi tidak menggantikan kebutuhan akan fungsi yang kuat dan nilai yang jelas. Meski demikian, Pei memprediksi iPhone Duo akan meraih kesuksesan besar. Prediksi tersebut menunjukkan bahwa ia membedakan alasan pribadi untuk membeli dan potensi produk di pasar. Reputasi Apple, rasa ingin tahu terhadap kategori baru, serta perhatian besar terhadap setiap peluncurannya dapat mendorong minat konsumen, sekalipun harga dan keterbatasan fitur tetap menjadi bahan pertimbangan.

Kritik Pei terhadap iPhone Duo muncul ketika program pemesanan awal perangkat tersebut mulai dibuka pada Jumat, 16 Oktober 2026. Waktu peluncuran pre-order itu menempatkan komentarnya di tengah perhatian publik terhadap ketersediaan produk dan minat konsumen. Di China, pemesanan dilaporkan ludes hanya dalam hitungan detik setelah dibuka. Meski kabar tersebut menggambarkan tingginya antusiasme, kecepatan habisnya stok tidak dengan sendirinya menunjukkan berapa banyak perangkat yang benar-benar tersedia ataupun seberapa besar permintaan dari pembeli akhir. Informasi itu juga masih perlu dipahami sebagai laporan mengenai situasi pemesanan, bukan angka penjualan final yang telah dikonfirmasi.

Menurut perkiraan yang beredar, jumlah iPhone Duo yang disediakan untuk pasar tersebut mungkin tidak lebih dari 200 ribu unit. Angka ini belum dapat diperlakukan sebagai jumlah resmi, tetapi bila benar, persediaan yang terbatas dapat membantu menjelaskan mengapa proses pemesanan berlangsung sangat cepat. Ketersediaan yang sedikit juga berpotensi membuat calon pembeli kesulitan memperoleh perangkat melalui kanal resmi. Dalam situasi seperti itu, kelangkaan dapat memicu perhatian lebih besar terhadap harga, akses pembelian, dan apakah produk tersedia bagi konsumen biasa atau justru cepat berpindah ke pasar penjualan kembali.

Para calo dikabarkan turut memburu perangkat sejak pre-order dimulai, bersaing dengan konsumen yang ingin membeli untuk penggunaan pribadi. Bahkan, sebagian orang yang disebut berhasil mendapatkan iPhone Duo dikabarkan berniat menjualnya kembali dengan harga mencapai US$3.885, atau sekitar Rp70 juta. Nilai tersebut merupakan kabar mengenai harga yang mungkin ditawarkan, bukan harga jual kembali yang sudah dipastikan berlaku luas. Harga aktual dapat berbeda menurut kapasitas, kondisi perangkat, lokasi, dan ketersediaan, sementara niat menjual kembali belum tentu berujung pada transaksi. Meski demikian, laporan tentang calo dan potensi harga tinggi menambah sorotan atas akses terhadap perangkat. Di saat kritik Pei menyinggung harga mahal serta fitur terbatas, kabar stok cepat habis dan kemungkinan markup memperlihatkan sisi lain peluncuran: tingginya minat dapat berjalan bersamaan dengan pertanyaan mengenai nilai yang diterima pembeli dan keterjangkauannya. Karena jumlah unit maupun angka penjualan kembali belum dikonfirmasi, keduanya sebaiknya dibaca sebagai perkiraan dan laporan awal, bukan kepastian pasar.

Perebutan kesempatan melakukan pre-order iPhone Duo juga memunculkan kekhawatiran mengenai penggunaan bot. Program otomatis dapat dipakai untuk mengamankan unit dalam jumlah besar dengan sangat cepat, sehingga calon pembeli biasa berisiko kehilangan kesempatan memperoleh perangkat saat pemesanan dibuka. Praktik tersebut dapat memperburuk persaingan dan mendorong sebagian orang mencari penawaran dari pihak tidak resmi. Francis Fong Po-kiu, presiden kehormatan Federasi Teknologi Informasi Hong Kong, mengingatkan konsumen agar berhati-hati menghadapi tawaran semacam itu. Harga yang tampak menarik atau janji pengiriman lebih cepat belum tentu menjamin transaksi yang aman.

Menurut peringatan Fong, pembelian melalui saluran yang meragukan dapat menimbulkan biaya lanjutan, termasuk ongkos tambahan yang tidak dijelaskan sejak awal. Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah pencurian data pribadi maupun informasi kartu kredit. Karena itu, konsumen sebaiknya memeriksa identitas penjual, memastikan halaman pembayaran memiliki perlindungan memadai, dan menggunakan kanal pemesanan resmi. Mereka juga perlu menghindari tautan yang dikirim melalui pesan tak dikenal serta tidak memberikan detail pembayaran sebelum memverifikasi keabsahan penawaran.

Baca juga: Praktik Judi Sabung Ayam di Weru Kandat, Ketegasan Aparat Jadi Sorotan