Jakarta | Laporan Deep Intelligence Research (DIR) menunjukkan bahwa Danantara Indonesia menerima respons positif dalam percakapan publik yang mengiringi dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Temuan tersebut menempatkan Danantara sebagai salah satu isu yang mendapat perhatian dalam pembahasan mengenai arah kebijakan pemerintah dan pengelolaan ekonomi nasional. Direktur Riset dan Komunikasi DIR, Neni Nur Hayati, menyampaikan penjelasan itu dalam keterangan di Jakarta pada Rabu. Respons positif ini merujuk pada kecenderungan percakapan yang terpantau oleh DIR, bukan berarti seluruh masyarakat memiliki pandangan seragam mengenai lembaga tersebut. Karena itu, temuan ini dapat dibaca sebagai gambaran sentimen dalam ruang percakapan terkait momen pemerintahan.
Pembahasan mengenai Danantara juga hadir bersama isu-isu yang lebih luas, terutama pengelolaan investasi negara. Perhatian terhadap aspek tersebut menunjukkan bahwa percakapan publik tidak hanya menyoroti keberadaan lembaga, tetapi juga perannya dalam mengelola aset dan mendorong investasi. Dalam konteks itu, pemberitaan dan pesan resmi pemerintah turut membentuk latar diskusi. Informasi mengenai kebijakan maupun agenda pemerintah menjadi bagian dari materi yang beredar dan diperbincangkan, sehingga sentimen terhadap Danantara muncul berdampingan dengan perhatian pada prioritas pembangunan dan ekonomi. DIR mengaitkan respons yang terpantau dengan dinamika komunikasi tersebut, tanpa menyederhanakan seluruh percakapan menjadi satu isu tunggal.
Selain pengelolaan investasi negara, percakapan juga diwarnai pemberitaan dan pesan resmi mengenai ekspor sumber daya alam. Isu ini berkaitan dengan upaya pemerintah mengelola potensi ekonomi nasional dan mendorong nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki. Di saat yang sama, perhatian publik turut menjangkau pembangunan hunian bagi korban bencana. Kehadiran isu hunian memperlihatkan bahwa diskusi tentang kinerja pemerintah mencakup pula kebutuhan masyarakat dan pemulihan setelah bencana, bukan semata urusan investasi. Dengan demikian, respons positif terhadap Danantara tercatat dalam lanskap percakapan yang beragam: pengelolaan investasi, ekspor sumber daya alam, serta pembangunan hunian. Laporan DIR memberi gambaran mengenai isu-isu yang menyertai pembicaraan tentang dua tahun pemerintahan tersebut.
Sejumlah isu terkait Danantara menjadi perhatian publik dalam pemberitaan media arus utama. Tiga topik yang menonjol ialah kebijakan ekspor sumber daya alam melalui satu pintu, pembangunan hunian di Aceh Tamiang, serta capaian Danantara sebagai lembaga pengelola investasi negara. Ketiganya menghadirkan sudut pandang berbeda tentang peran negara: mengatur pemanfaatan sumber daya, mendukung kebutuhan dasar masyarakat, dan mengelola investasi untuk kepentingan nasional. Dalam pemetaan DIR, pemberitaan mengenai isu-isu tersebut menunjukkan sentimen positif sebesar 90,1 persen di media arus utama.
Narasi yang mendapat respons positif lain kemampuan Indonesia membangun hunian dalam jumlah besar. Perhatian terhadap pembangunan di Aceh Tamiang memperlihatkan bagaimana kapasitas pelaksanaan proyek dan penyediaan tempat tinggal dapat menjadi aspek penting dalam pemberitaan. Isu ini beririsan dengan harapan publik atas pemulihan dan ketersediaan hunian yang layak, meskipun temuan sentimen media tidak dengan sendirinya menjelaskan penilaian warga yang terdampak ataupun hasil jangka panjang pembangunan. Karena itu, angka sentimen perlu dibaca sebagai gambaran kecenderungan pemberitaan, bukan pengganti evaluasi atas pelaksanaan program.
Respons positif juga muncul pada narasi mengenai penguatan tata kelola investasi negara. Pembahasan Danantara sebagai pengelola investasi memberi ruang bagi media untuk menyoroti upaya membangun pengelolaan yang lebih terarah dan akuntabel. Di sisi lain, kebijakan ekspor sumber daya alam melalui satu pintu menambah dimensi perbincangan tentang koordinasi kebijakan dan pengelolaan komoditas. Persentase 90,1 persen yang dicatat DIR menunjukkan bahwa nada pemberitaan media arus utama pada periode yang dikaji cenderung positif. Namun, angka itu tidak serta-merta menggambarkan sikap seluruh masyarakat. Media yang dianalisis memiliki cakupan dan karakter tertentu, sedangkan pendapat publik dapat beragam menurut pengalaman, wilayah, dan akses informasi. Dengan demikian, temuan tersebut berguna untuk membaca narasi yang menonjol di media, tetapi tidak dapat diperlakukan sebagai ukuran langsung dukungan publik secara menyeluruh terhadap Danantara maupun setiap kebijakannya.
Menurut Neni, percakapan di media sosial perlu dinilai secara tersendiri dan tidak cukup dibaca hanya dari besarnya angka yang muncul. Penilaian yang cermat perlu mempertimbangkan siapa atau akun apa yang menjadi sumber percakapan, bagaimana isi konten disampaikan, serta konteks interaksi yang menyertainya. Dengan cara tersebut, perbedaan unggahan, respons pengguna, dan keterlibatan pada suatu topik dapat dipahami secara lebih proporsional. Angka percakapan menunjukkan aktivitas yang tercatat, tetapi tidak dengan sendirinya menerangkan alasan pengguna merespons atau sikap yang mereka miliki terhadap isu Danantara. Karena itu, pembacaan data sebaiknya memisahkan volume konten dari engagement dan memperhatikan rentang waktu pemantauan yang digunakan.
Untuk periode 17–20 Mei 2026, data yang dicantumkan sumber mencatat sebanyak 76.914 konten dari 51.824 akun membahas rencana ekspor sumber daya alam satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Puncak percakapan terjadi pada 17 Mei, dengan 9.121 konten tercatat pada hari tersebut. Angka-angka ini menggambarkan jumlah konten dan akun dalam periode empat hari, bukan jumlah interaksi yang diterima setiap unggahan. Informasi tentang puncak harian membantu menunjukkan kapan volume pembahasan paling tinggi, sedangkan jumlah akun memberi gambaran mengenai banyaknya akun yang terlibat dalam publikasi. Keduanya tetap perlu dibaca sesuai batasan metrik dan periode yang dilaporkan.
Data pemantauan lain mencakup rentang Oktober 2025 hingga Oktober 2026 dan menggunakan metrik engagement pada unggahan bertopik Danantara. Dalam periode tersebut, total engagement yang tercatat mencapai 2.949.062. TikTok menyumbang 2.458.829 engagement, sementara Instagram mencatat jumlah konten terbanyak, yaitu 53.356 unggahan. Perbandingan ini memperlihatkan dua ukuran yang berbeda: TikTok memiliki angka engagement yang disebutkan, sedangkan angka Instagram merujuk pada jumlah konten. Dengan demikian, 53.356 konten Instagram tidak dapat disetarakan atau dibandingkan langsung sebagai engagement. Memisahkan jenis metrik ini penting agar pembaca tidak menarik kesimpulan keliru mengenai platform paling aktif. Data lintas platform juga perlu dipahami bersama cakupan pemantauan dan konteks interaksi, bukan sebagai ukuran tunggal sentimen publik.
Dalam percakapan media sosial selama dua tahun pemerintahan Prabowo, perhatian terhadap Danantara tidak hanya tertuju pada investasi dan hunian. Bahan sumber juga menyebut tiga program yang berulang kali menjadi pokok pembahasan. Ketiganya berkaitan dengan arah investasi, hubungan industri dan teknologi, serta keterhubungan dengan modal global. Penyebutan program-program ini menggambarkan tema yang muncul dalam percakapan, bukan ukuran keberhasilan atau bukti hasil yang telah dicapai.
Pertama, peta jalan teknologi dibicarakan sebagai arah untuk mengembangkan investasi berdampak. Dalam konteks tersebut, teknologi ditempatkan dalam kerangka perencanaan investasi, dengan perhatian pada bagaimana peta jalan dapat mengarahkan pilihan dan prioritas. Bahan yang tersedia tidak merinci sasaran, jadwal, sektor tertentu, ataupun hasil dari pelaksanaan peta jalan itu. Karena itu, pembahasan ini dapat dipahami sebatas arah program yang menjadi perhatian, bukan kepastian bahwa dampak tertentu sudah terwujud.
Kedua, percakapan menyoroti upaya Danantara menghubungkan industri dengan teknologi. Gagasan tersebut mempertemukan kebutuhan atau kegiatan industri dengan pemanfaatan teknologi, dan menjadi salah satu tema yang dikaitkan dengan program Danantara. Namun, bahan sumber tidak menjabarkan bentuk kemitraan, teknologi yang dimaksud, pihak-pihak yang terlibat, maupun capaian dari upaya penghubungan tersebut. Uraian yang berhati-hati perlu membedakan maksud program dari hasil yang belum dijelaskan.
Ketiga keterhubungan dengan modal global turut disebut sebagai bagian dari program yang.
Baca juga: Dugaan Investasi Bermasalah MCI Tuban Masuk Penyelidikan, Y Disebut Belum Memenuhi Panggilan






