Evaluasi KEK Berjalan Lambat, Lido Jadi Salah Satu Kawasan yang Perlu Didorong

Evaluasi KEK Berjalan Lambat, Lido Jadi Salah Satu Kawasan yang Perlu Didorong

Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah tengah mengevaluasi sejumlah kawasan ekonomi khusus (KEK) yang perkembangannya dinilai masih agak lambat. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintah sedang meninjau kemajuan beberapa kawasan, tetapi belum disertai rincian mengenai kawasan mana saja yang menjadi objek evaluasi. Airlangga tidak menyebutkan daftar lengkap KEK yang dimaksud dalam keterangannya kepada media.

Airlangga menyampaikan hal tersebut kepada awak media di kantornya pada Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia menyebut adanya beberapa KEK dengan perkembangan yang masih perlu dicermati. Namun, informasi yang disampaikan tidak memuat penjelasan lebih lanjut mengenai ukuran atau indikator yang digunakan pemerintah untuk menilai laju perkembangan masing-masing kawasan. Karena itu, pernyataan tersebut memberi gambaran mengenai adanya evaluasi, tanpa merinci proses penilaian ataupun hasilnya.

Evaluasi terhadap KEK menjadi perhatian karena kawasan-kawasan ini merupakan bagian dari kebijakan pengembangan ekonomi yang dijalankan pemerintah. Meski demikian, keterangan Airlangga yang tersedia hanya menyampaikan bahwa beberapa kawasan berkembang agak lambat dan sedang dievaluasi. Ia tidak menguraikan lebih jauh kawasan mana yang termasuk di dalamnya, bagaimana tahapan evaluasi dilakukan, atau keputusan apa yang mungkin diambil setelah peninjauan selesai. Dengan demikian, belum ada dasar dari pernyataan tersebut untuk memastikan cakupan evaluasi secara lengkap.

Informasi mengenai evaluasi ini juga belum menjelaskan faktor yang membuat perkembangan sejumlah KEK dinilai lambat. Airlangga tidak menyampaikan penyebab tertentu dalam pernyataan kepada awak media tersebut, sehingga faktor-faktor yang mungkin berkaitan tidak dapat dipastikan hanya dari keterangan itu. Pemerintah disebut sedang meninjau beberapa kawasan, tetapi rincian tentang tindak lanjut maupun langkah yang akan ditempuh belum dipaparkan. Keterangan berikutnya dari pemerintah diperlukan untuk mengetahui KEK yang masuk dalam penilaian dan hasil evaluasinya secara lebih jelas. Hingga ada penjelasan tambahan, pernyataan tersebut sebatas mengonfirmasi berlangsungnya peninjauan atas beberapa kawasan ekonomi khusus.KEK Lido menjadi salah satu kawasan yang masih perlu mendapat dorongan, terutama dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Perhatian tersebut disampaikan Airlangga dalam pembahasan mengenai perkembangan kawasan ekonomi khusus. Potensi yang dimiliki Lido dinilai belum cukup jika tidak diikuti upaya untuk menarik lebih banyak pengunjung dan menggerakkan kegiatan wisata secara berkelanjutan. Karena itu, pertumbuhan jumlah wisatawan menjadi salah satu aspek penting dalam melihat perkembangan kawasan ini.

Dalam proyeksi yang disebutkan, kunjungan wisatawan ke KEK Lido pada 2027 berpotensi mencapai 220.000 orang. Jumlah tersebut menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menggambarkan peluang pengembangan wisata di kawasan. Selain proyeksi kunjungan, potensi nilai ekonomi Lido disebut mencapai Rp352 miliar. Angka-angka itu menunjukkan adanya peluang ekonomi yang dapat berkaitan dengan meningkatnya aktivitas wisata, meskipun realisasinya tetap bergantung pada perkembangan kawasan dan kemampuan menarik pengunjung.

Sumber juga mencantumkan potensi devisa Lido sebesar US$1,8 miliar. Namun, tidak dijelaskan secara rinci dasar perhitungan maupun periode yang digunakan untuk angka tersebut. Oleh sebab itu, angka devisa itu perlu disampaikan sebagaimana tercantum, tanpa menambahkan penafsiran mengenai cakupan atau waktu pencapaiannya. Informasi yang tersedia menempatkan Lido sebagai kawasan dengan potensi, sekaligus menegaskan bahwa dorongan terhadap kunjungan wisatawan masih dibutuhkan.

Peningkatan kunjungan akan menjadi perhatian penting dalam menilai sejauh mana potensi tersebut dapat berkembang. Proyeksi jumlah wisatawan dan nilai ekonomi memberikan gambaran mengenai peluang yang diharapkan, tetapi keduanya bukan dengan sendirinya bukti bahwa hasil itu telah tercapai. Pemantauan atas perkembangan kunjungan dan kegiatan ekonomi dapat membantu memperlihatkan kemajuan kawasan dari waktu ke waktu. Dengan demikian, KEK Lido tetap menjadi salah satu kawasan yang perlu didorong, khususnya agar daya tarik wisata dan arus pengunjungnya tumbuh sesuai dengan potensi yang disebutkan.

Dalam paparan Airlangga, potensi kunjungan dan nilai ekonomi sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi pembanding untuk melihat skala peluang Lido. KEK Lido diproyeksikan menarik sekitar 1,1 juta kunjungan, dengan potensi nilai ekonomi Rp4,1 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki prospek yang berarti, tetapi besarnya masih berada di bawah beberapa KEK lain yang turut disebut. Perbandingan ini perlu dibaca sebagai gambaran potensi yang disampaikan, bukan catatan tentang jumlah wisatawan yang sudah datang atau nilai ekonomi yang telah terealisasi. Kinerja aktual memerlukan data operasional tersendiri.

KEK Kura Kura Bali, misalnya, memiliki potensi 600.000 kunjungan wisatawan dan nilai ekonomi Rp600 miliar. Dari sisi jumlah kunjungan, angka proyeksi Lido lebih tinggi daripada Kura Kura Bali. Namun, nilai ekonomi potensial Lido sebesar Rp4,1 triliun juga jauh melampaui angka Rp600 miliar yang diperkirakan untuk kawasan Bali tersebut. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa skala proyeksi ekonomi tidak selalu dapat dibaca hanya dari volume kunjungan. Jenis kegiatan, fasilitas, lama tinggal, serta belanja wisatawan dapat memengaruhi nilai yang diperkirakan untuk masing-masing kawasan.

Dibandingkan dengan Mandalika dan Tanjung Lesung, posisi Lido terlihat lebih rendah pada kedua ukuran yang disampaikan. Mandalika berpotensi mencatat 1,6 juta kunjungan dan nilai ekonomi Rp8,6 triliun, termasuk dorongan dari penyelenggaraan MotoGP. Tanjung Lesung memiliki potensi 1,5 juta kunjungan dengan nilai ekonomi Rp3 triliun. Dengan demikian, proyeksi kunjungan Lido sekitar 1,1 juta masih di bawah kedua kawasan itu, sementara nilai ekonominya lebih kecil daripada Mandalika, tetapi di atas Tanjung Lesung. Perbandingan tersebut menegaskan besarnya ruang pengembangan Lido. Agar potensi itu mendekati sasaran, pembangunan fasilitas, konektivitas, promosi, dan aktivitas wisata perlu terus didorong, sembari membedakan secara jelas proyeksi dan hasil nyata.

Realisasi investasi seluruh Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pada Januari hingga September 2026 tercatat sebesar Rp46 triliun. Angka tersebut setara dengan 67 persen dari target investasi tahunan yang ditetapkan sebesar Rp69,1 triliun. Dengan demikian, capaian selama tiga kuartal pertama tahun ini masih berada di bawah sasaran untuk keseluruhan 2026. Data tersebut memberi gambaran mengenai perkembangan penghimpunan investasi di berbagai KEK, sekaligus menunjukkan jarak realisasi sementara dan target tahunan. Perbandingan ini perlu dibaca sesuai rentang waktunya: Rp46 triliun merupakan capaian hingga akhir September, sedangkan Rp69,1 triliun merupakan target untuk satu tahun penuh.

Secara tahunan, realisasi investasi KEK hingga kuartal III 2026 turun 9,09 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025. Sebagai pembanding, data yang tercatat dalam rapat kerja nasional dan evaluasi kinerja KEK menunjukkan investasi sebesar Rp50,6 triliun hingga triwulan III 2025. Selisih Rp50,6 triliun pada periode pembanding dan Rp46 triliun pada periode 2026 sejalan dengan penurunan tahunan yang dilaporkan. Penyajian angka dengan periode yang setara membantu pembaca memahami perubahan capaian, sementara perbandingan dengan target tahunan menunjukkan posisi realisasi pada tahun berjalan. Kedua perbandingan tersebut memiliki fungsi berbeda dan tidak sebaiknya disamakan.

Angka Rp46 triliun merujuk secara khusus pada investasi yang telah terealisasi di seluruh KEK selama Januari–September 2026. Angka ini bukan nilai potensi wisata, rencana investasi, ataupun proyeksi kegiatan ekonomi. Potensi wisata, bila disampaikan dalam konteks kawasan tertentu seperti Lido, merupakan ukuran peluang atau daya tarik dan harus dipisahkan dari pencatatan investasi yang sudah terealisasi. Karena itu, potensi wisata tidak dapat dijumlahkan atau dibandingkan langsung dengan realisasi investasi tanpa keterangan ukuran yang jelas.

Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Kawasan IKN Melalui Darat dan Udara