Kericuhan Persita–Persija Berujung Denda bagi Panitia Pelaksana

Kericuhan Suporter Persita–Persija di BIS Bermula dari Saling Ejek

Jakarta | Komite Disiplin (Komdis) menjatuhkan denda sebesar Rp40 juta kepada panitia pelaksana (panpel) pertandingan Persita Tangerang melawan Persija Jakarta. Sanksi tersebut berkaitan dengan penilaian bahwa panpel gagal menjaga keamanan dan ketertiban di stadion selama pertandingan berlangsung. Keputusan ini menempatkan tanggung jawab penyelenggaraan dan pengamanan sebagai perhatian utama dalam evaluasi terhadap laga tersebut.

Pertandingan Persita Tangerang kontra Persija Jakarta digelar di Banten International Stadium pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Setelah laga, Komdis memeriksa aspek disiplin yang menjadi kewenangannya sebelum menetapkan sanksi kepada panitia pelaksana. Besaran denda yang diputuskan adalah Rp40 juta, dengan dasar sebagaimana disampaikan bahwa pengelolaan keamanan dan ketertiban pertandingan dinilai belum berjalan sebagaimana mestinya.

Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menyampaikan penjelasan mengenai keputusan tersebut dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026. Keterangan itu menjadi rujukan atas keputusan Komdis dan alasan yang mendasari pemberian sanksi. Ferry menjelaskan bahwa denda diberikan kepada panpel Persita karena adanya penilaian terkait kegagalan menjaga situasi stadion tetap aman dan tertib.

Sanksi ini sekaligus menegaskan pentingnya kesiapan panitia dalam mengelola pertandingan, termasuk memastikan aspek keamanan dan ketertiban menjadi bagian dari tanggung jawab penyelenggaraan. Dalam konteks laga yang melibatkan Persita dan Persija tersebut, Komdis menilai kewajiban itu tidak terpenuhi sehingga panpel dikenai denda. Rincian lain mengenai kejadian atau bentuk pelanggaran tidak menjadi bagian dari keterangan yang disampaikan dalam konferensi pers tersebut.

Dengan demikian, keputusan Komdis berfokus pada tanggung jawab panpel atas kondisi keamanan dan ketertiban di Banten International Stadium. Denda Rp40 juta dijatuhkan setelah pertandingan pada 17 Oktober dan diumumkan melalui penjelasan Ferry Paulus empat hari kemudian. Informasi tersebut memberi gambaran mengenai dasar sanksi, yakni evaluasi terhadap pelaksanaan tugas panitia, bukan sekadar hasil pertandingan kedua tim.

Ferry menjelaskan bahwa pertandingan Persita–Persija pada awalnya berlangsung dengan baik. Kedua tim dapat menjalani laga sesuai jalannya pertandingan sebelum situasi di stadion berubah pada babak kedua. Menurut keterangannya, keributan antarsuporter kemudian mengganggu jalannya pertandingan dan membuat laga tidak dapat diteruskan untuk sementara. Insiden tersebut menjadi alasan pertandingan dihentikan, sehingga pemain, perangkat pertandingan, dan penonton harus menunggu sampai situasi memungkinkan untuk melanjutkan laga. Ferry menyampaikan urutan kejadian itu sebagai bagian dari penjelasan mengenai gangguan yang terjadi pada pertandingan tersebut.

Penghentian berlangsung sekitar 30 menit. Pertandingan semestinya kembali dimulai pada pukul 20.00 WIB, tetapi jadwal itu tidak dapat dipenuhi karena laga baru dilanjutkan pada pukul 20.31 WIB. Dengan demikian, jeda aktual berlangsung lebih lama daripada waktu yang direncanakan untuk memulai kembali pertandingan. Perbedaan waktu itu menunjukkan bahwa pertandingan membutuhkan penanganan sebelum dapat berjalan lagi, meskipun penjelasan Ferry tidak merinci langkah-langkah yang dilakukan selama jeda. Setelah pertandingan dilanjutkan, laga kembali berlangsung dari titik penghentian, sementara insiden yang mendahuluinya tetap menjadi perhatian dalam evaluasi penyelenggaraan.

Ferry juga menerangkan bahwa persoalan yang berkaitan dengan keributan tersebut menyangkut spanduk. Keterangan itu menjadi konteks yang ia sampaikan mengenai pemicu persoalan di suporter. Namun, ia tidak menguraikan lebih jauh isi atau rincian spanduk tersebut dalam penjelasan yang tersedia. Karena itu, penyebab keributan dapat dijelaskan sebatas kaitannya dengan persoalan spanduk, tanpa menambahkan dugaan mengenai maksud, pihak yang terlibat, ataupun hal lain yang tidak disebutkan. Secara keseluruhan, keterangan Ferry menggambarkan pertandingan yang semula berjalan baik, kemudian terganggu pada babak kedua oleh keributan antarsuporter, dihentikan sekitar setengah jam, dan akhirnya dilanjutkan pada pukul 20.31 WIB setelah sebelumnya dijadwalkan kembali pada pukul 20.00 WIB.

Polda Banten menjelaskan bahwa ketegangan dalam insiden yang melibatkan suporter Persita dan Persija bermula pada menit ke-25 babak pertama. Lokasi awal kejadian disebut berada di sekitar Gate 14. Pada waktu dan tempat tersebut, suporter dari kedua tim mulai saling melontarkan ejekan. Keterangan ini menempatkan interaksi antarkelompok sebagai awal rangkaian kericuhan, sebelum suasana meningkat. Kronologi yang disampaikan kepolisian itu menunjukkan bahwa peristiwa berawal di area sekitar gerbang stadion, bukan pada tahap pertandingan yang lebih awal. Dengan demikian, menit ke-25 dan Gate 14 menjadi dua penanda utama dalam penjelasan awal Polda Banten mengenai munculnya ketegangan.

Kabid Humas Polda Banten, Kombes Pol Maruli Hutapea, menerangkan bahwa situasi kemudian memanas ketika kedua kelompok menyuarakan yel-yel dukungan untuk tim masing-masing. Seruan tersebut muncul setelah aksi saling ejek di sekitar Gate 14, sehingga urutan kejadian yang dijelaskan dimulai dari ejekan, lalu berlanjut pada yel-yel pendukung Persita dan Persija. Keterangan Maruli menjelaskan perubahan suasana dari interaksi verbal menjadi ketegangan yang lebih tinggi. Ia juga mengaitkan peningkatan situasi itu dengan respons kedua kelompok suporter, yang sama-sama menyuarakan dukungan bagi klub mereka. Uraian tersebut menjadi bagian penting dari kronologi yang disampaikan pihak kepolisian.

Dalam penjelasan itu, lokasi tetap merujuk pada kawasan sekitar Gate 14, sementara waktu awalnya berada di menit ke-25 babak pertama. Rangkaian tersebut perlu dipahami sesuai urutan yang disampaikan: kedua kelompok saling mengejek, kemudian ketegangan meningkat saat yel-yel dukungan untuk masing-masing tim terdengar. Polda Banten menyebut keterangan tersebut untuk menerangkan bagaimana suasana pertandingan berubah menjadi tegang. Penjelasan Maruli tidak mengubah titik awal maupun urutan itu; insiden disebut bermula di sekitar gerbang tersebut pada fase awal pertandingan, lalu meningkat ketika pendukung Persita dan Persija menyuarakan dukungan. Kronologi ini memberi gambaran awal mengenai pemicu ketegangan tanpa menambahkan detail di luar keterangan yang disampaikan kepolisian.

Situasi di stadion kembali memanas ketika pertandingan memasuki jeda babak pertama. Pada saat itu, sejumlah suporter Persija mendatangi area tribun yang ditempati pendukung Persita, tepatnya di Gate 5, Gate 6, dan Gate 7. Kedatangan kelompok suporter tersebut menjadi awal dari gesekan yang terjadi di area tribun. Maruli menyebut peristiwa itu berlangsung saat jeda, ketika kedua kelompok berada di lokasi yang berdekatan. Dengan demikian, ketegangan yang kembali muncul tidak terjadi pada awal pertandingan, melainkan setelah babak pertama berakhir dan para penonton berada dalam situasi jeda.

Menurut Maruli, kedatangan sejumlah suporter Persija disertai provokasi. Situasi itu kemudian memicu gesekan antarkelompok di sekitar area tribun pendukung Persita. Keterangan tersebut menggambarkan urutan peristiwa sebagaimana disampaikan Maruli: suporter Persija mendatangi sejumlah gate, provokasi menyertai kedatangan itu, lalu ketegangan berkembang menjadi gesekan. Area yang disebutkan mencakup Gate 5, Gate 6, dan Gate 7, yakni lokasi tribun tempat pendukung Persita berada. Pada waktu jeda babak pertama tersebut, suasana di area itu pun kembali memanas.

Di tengah keributan, sejumlah suporter Persita berusaha menyelamatkan diri. Beberapa di antaranya melompati pembatas tribun menuju lintasan jogging track untuk menghindari gesekan yang berlangsung. Pergerakan tersebut memperlihatkan upaya mereka menjauh dari area tribun yang menjadi tempat ketegangan antarkelompok. Para suporter yang melompati pembatas beralih ke lintasan jogging track sebagai cara menghindari keributan. Rangkaian kejadian pada jeda babak pertama itu mencakup kedatangan suporter Persija di Gate 5, Gate 6, dan Gate 7, provokasi menurut Maruli, gesekan antarkelompok, serta upaya suporter Persita menyelamatkan diri dengan bergerak ke lintasan jogging track.