Jakarta | Suporter Persija Jakarta dijatuhi larangan menghadiri pertandingan tandang di kompetisi Super League setelah kericuhan yang terjadi dalam laga Persita Tangerang melawan Persija di Banten International Stadium. Keputusan tersebut disampaikan CEO I.League, Ferry Paulus, di kantor I.League pada Rabu (21/10), setelah sidang Komite Disiplin (Komdis) berlangsung selama dua hari.
Hukuman itu menjadi tindak lanjut atas insiden yang mewarnai pertandingan kedua tim tersebut. Dengan diberlakukannya larangan, suporter Persija tidak dapat hadir langsung untuk mendukung tim ketika Persija menjalani laga tandang di Super League. Keputusan ini secara khusus berkaitan dengan kehadiran suporter pada pertandingan tandang, sebagaimana disampaikan dalam pengumuman mengenai sanksi.
Proses penentuan hukuman dilakukan melalui sidang Komdis selama dua hari. Setelah rangkaian sidang itu, Ferry Paulus menyampaikan keputusan di kantor I.League. Penyampaian tersebut menegaskan bahwa penanganan insiden telah memasuki tahap penetapan sanksi, meskipun keputusan yang diumumkan berfokus pada pembatasan kehadiran suporter Persija dalam laga tandang.
Kericuhan dalam pertandingan Persita Tangerang kontra Persija di Banten International Stadium menjadi konteks utama keluarnya keputusan tersebut. Dalam kompetisi, perilaku suporter di sekitar pertandingan dapat menjadi perhatian penyelenggara dan Komdis ketika terjadi insiden. Karena itu, sanksi ini menempatkan aspek ketertiban sebagai bagian penting dari penyelenggaraan laga, sekaligus memberi konsekuensi bagi kelompok suporter yang terkait dengan pertandingan tersebut.
Pengumuman dari I.League juga memberi kejelasan mengenai bentuk hukuman yang dijatuhkan kepada suporter Persija setelah insiden itu. Namun, informasi yang disampaikan dalam keputusan ini terbatas pada larangan menghadiri pertandingan tandang di Super League. Dengan demikian, inti keputusan yang perlu dicatat adalah pembatasan dukungan langsung di laga tandang, disampaikan Ferry Paulus usai sidang Komdis selama dua hari. Sanksi tersebut mengikuti kericuhan pada laga di Banten International Stadium dan menjadi respons resmi terhadap insiden yang terjadi dalam pertandingan Persita melawan Persija.
Ferry menilai kericuhan dalam laga Persita kontra Persija tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak. Persita sebagai tuan rumah dan Persija sebagai tim tamu sama-sama dinilai memiliki tanggung jawab untuk menjaga ketertiban pertandingan. Penilaian tersebut menegaskan bahwa keamanan di stadion merupakan kewajiban bersama, meskipun peran masing-masing pihak berbeda. Tuan rumah bertanggung jawab atas penyelenggaraan dan pengamanan area pertandingan, sedangkan tim tamu perlu memastikan suporter yang hadir mendukung dengan tertib.
Dalam pertandingan yang melibatkan dua kelompok pendukung, koordinasi klub, panitia pelaksana, petugas keamanan, dan pihak terkait menjadi penting. Upaya pencegahan perlu dilakukan sebelum, selama, dan setelah laga, termasuk melalui pengaturan akses, pengawasan tribun, serta komunikasi yang jelas kepada suporter. Jika salah satu unsur pengamanan tidak berjalan sebagaimana mestinya, risiko gangguan ketertiban dapat meningkat. Karena itu, evaluasi terhadap kejadian tersebut mencakup tanggung jawab penyelenggara maupun sikap pihak-pihak yang terlibat.
Meski kedua klub dinilai turut bertanggung jawab, sanksi yang disebutkan secara khusus dijatuhkan kepada panitia pelaksana Persita. Panitia dinilai gagal menjalankan tanggung jawabnya dalam menjaga keamanan dan ketertiban pertandingan. Atas penilaian tersebut, panitia pelaksana Persita dikenai denda sebesar Rp40 juta. Sanksi ini menjadi konsekuensi atas kelalaian dalam memastikan penyelenggaraan laga berlangsung aman, sekaligus pengingat bahwa kewajiban menjaga situasi stadion tidak berhenti pada penyediaan fasilitas pertandingan.
Selain denda, Persita juga dilarang menghadirkan suporter tandang dalam pertandingan melawan Persija. Pembatasan tersebut berkaitan dengan upaya mengurangi potensi gangguan ketika kedua tim kembali bertemu. Larangan itu tidak menghapus penilaian bahwa Persija sebagai tim tamu juga memiliki tanggung jawab menjaga ketertiban, tetapi mengatur kehadiran pendukung tandang untuk laga tertentu. Ke depan, pelaksanaan sanksi dan peningkatan koordinasi diharapkan mendorong klub serta panitia lebih cermat mengelola keamanan. Langkah pencegahan yang konsisten diperlukan agar pertandingan dapat berlangsung tertib, melindungi penonton, dan menjaga kompetisi tetap berjalan tanpa kericuhan serupa.
Persija menerima sanksi setelah kericuhan dalam laga kontra Persita, termasuk pembatasan kehadiran suporter pada pertandingan tandang Super League. Hukuman tersebut secara khusus ditujukan kepada suporter Persija: mereka tidak diperbolehkan hadir saat tim menjalani pertandingan tandang. Ketentuan ini membatasi dukungan langsung di stadion lawan dan menjadi bagian dari tindakan disiplin yang dijatuhkan setelah insiden. Informasi mengenai durasi larangan disampaikan dalam dua rumusan yang berbeda, sehingga keduanya perlu dicatat sesuai keterangan yang tersedia.
Ferry menyebut larangan bagi suporter Persija berlaku untuk enam pertandingan dan menyatakan masa berlakunya selama satu setengah musim. Sementara itu, rangkuman sanksi menyebut larangan hadir tersebut berlaku hingga setengah musim. Kedua keterangan durasi itu tidak sama; informasi yang tersedia tidak menjelaskan lebih lanjut hubungan di keduanya. Karena itu, rincian tersebut disampaikan apa adanya tanpa menyelaraskan masa hukuman atau menganggap salah satunya sebagai koreksi atas keterangan yang lain. Pokok sanksinya tetap berupa larangan mendampingi Persija di laga tandang Super League.
Selain larangan tandang bagi suporter, Persija juga dikenai denda sebesar Rp30 juta. Ada pula denda tambahan yang berkaitan dengan tiga kali penyalaan petasan dan pelemparan satu flare. Setelah tambahan tersebut diperhitungkan, total denda yang disebut untuk Persija mencapai Rp60 juta. Dengan demikian, sanksi yang tercantum mencakup dua jenis konsekuensi: larangan kehadiran suporter di pertandingan tandang dan kewajiban membayar denda. Angka Rp30 juta merupakan denda yang disebut secara terpisah, sedangkan Rp60 juta merujuk pada total denda setelah sanksi tambahan terkait petasan dan flare dimasukkan. Rincian ini menunjukkan bahwa hukuman tidak hanya berkaitan dengan perilaku suporter di stadion, tetapi juga berdampak pada klub melalui pembayaran denda. Dalam pemberitaan mengenai keputusan tersebut, penting untuk membedakan nominal awal dan total akhir agar besaran sanksi tidak tertukar. Pada saat yang sama, rincian masa larangan perlu tetap dinyatakan dengan atribusi yang tepat, mengingat Ferry menyebut enam pertandingan dan satu setengah musim, sedangkan rangkuman menyebut hingga setengah musim.Gambaran mengenai pemicu kericuhan dalam laga Persija kontra Persita bersumber dari sejumlah video yang beredar. Rekaman tersebut memperlihatkan beberapa suporter mencopot bendera yang terpasang di dinding stadion. Informasi yang tersedia tidak memastikan identitas atau kelompok suporter yang melakukan tindakan itu. Karena itu, kronologi perlu disampaikan secara terbatas pada hal-hal yang tampak dalam video, tanpa mengaitkan tindakan tersebut kepada pihak tertentu atau menambahkan dugaan tentang alasan di baliknya.
Dalam rekaman yang beredar, setelah beberapa suporter terlihat mencopot bendera, sebagian suporter Persija turun dan menghampiri mereka. Materi sumber tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai percakapan, maksud, atau tindakan spesifik saat mereka saling mendekat. Dengan demikian, bagian ini hanya dapat mencatat adanya gerakan mendekati kelompok yang terlihat mencopot bendera, bukan menyimpulkan apa yang terjadi di mereka atau siapa yang memulai tindakan lain.
Sesudah itu, kericuhan disebut meluas dan membesar. Rekaman yang tersedia menjadi dasar untuk menggambarkan pemicu awal tersebut, tetapi tidak cukup untuk menyusun seluruh rangkaian kejadian secara terperinci. Tidak ada informasi yang dapat dipastikan di sini mengenai kondisi orang-orang yang terlibat, dampak terhadap fasilitas stadion, ataupun langkah yang diambil pihak lain. Uraian yang berhati-hati penting agar pembaca dapat membedakan fakta yang terlihat dari hal-hal yang belum diterangkan oleh sumber.
Dengan batas informasi tersebut kronologi yang dapat dinyatakan ialah sejumlah video memperlihatkan beberapa suporter mencopot bendera di dinding stadion kemudian sebagian suporter Persija.






