Pasokan Pertalite Bali Diperkuat, Cadangan Ditargetkan Naik Jadi 15 Hari

Pasokan Pertalite Bali Diperkuat, Cadangan Ditargetkan Naik Jadi 15 Hari

Kota Denpasar | Pemerintah menambah kuota Pertalite untuk wilayah Bali sebagai langkah memperkuat ketersediaan bahan bakar minyak dan menjaga kelancaran pelayanan kepada masyarakat. Kebijakan ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Penambahan kuota diarahkan agar pasokan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dapat mengikuti kebutuhan konsumen, terutama ketika permintaan meningkat. Dengan ketersediaan yang lebih terjaga, pemerintah berharap warga maupun pengendara yang beraktivitas di Bali tetap dapat memperoleh Pertalite tanpa kesulitan berarti.

Bahlil menyampaikan kebijakan tersebut seusai mengikuti rapat koordinasi bersama Gubernur Bali Wayan Koster dan jajaran terkait. Pertemuan berlangsung di Terminal BBM Pesanggaran, Denpasar, pada Senin, 19 Oktober. Lokasi itu menjadi salah satu titik penting dalam pembahasan distribusi dan kesiapan pasokan BBM di pulau tersebut. Koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pihak terkait diperlukan untuk memastikan tambahan kuota dapat diterjemahkan menjadi suplai yang memadai di lapangan. Pembahasan juga menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai perhatian utama dalam menjaga distribusi tetap berjalan.

Penambahan kuota Pertalite ditujukan untuk mengurangi risiko antrean panjang di SPBU. Antrean dapat muncul ketika pasokan tidak seimbang dengan permintaan atau distribusi mengalami kendala, sehingga penguatan alokasi diharapkan membantu menekan kemungkinan tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat Bali, termasuk pengguna kendaraan yang mengandalkan Pertalite untuk kegiatan sehari-hari. Pemerintah menyampaikan kebijakan setelah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan jajaran terkait, sehingga penanganan pasokan dapat dibahas secara bersama. Ke depan, pemantauan terhadap distribusi dan kebutuhan di setiap wilayah tetap penting agar tambahan kuota benar-benar mendukung pelayanan SPBU. Dengan demikian, upaya memperkuat pasokan diharapkan memberi kepastian lebih baik kepada konsumen, sekaligus membantu menjaga aktivitas masyarakat dan mobilitas di Bali tetap lancar.

Dalam beberapa hari sebelum rapat membahas penguatan pasokan bahan bakar minyak (BBM), pengiriman dari Jawa menuju Bali mengalami keterlambatan kapal. Hambatan pada jalur distribusi antarpulau itu membuat pasokan yang masuk ke Bali sempat berkurang selama sekitar tiga hingga empat hari. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga ketersediaan Pertalite bagi masyarakat di Pulau Dewata.

Keterlambatan pengangkutan dapat memengaruhi waktu pengisian kembali persediaan di wilayah tujuan. Karena itu, kelancaran jadwal kapal dan koordinasi distribusi menjadi penting agar pasokan dapat segera dipulihkan ketika terjadi kendala. Gangguan beberapa hari tidak serta-merta menggambarkan kondisi persediaan BBM nasional secara keseluruhan, sebab situasi di suatu daerah dipengaruhi pula oleh proses pengiriman dan kebutuhan setempat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa cadangan Pertalite secara nasional berada pada kisaran 16 hingga 18 hari. Sementara itu, cadangan untuk jenis BBM lainnya rata-rata berada di atas 20 hari. Angka tersebut disampaikan dalam konteks persediaan nasional dan mengacu pada standar minimum nasional, bukan ukuran khusus untuk Bali.

Pembedaan cakupan ini penting agar angka cadangan tidak ditafsirkan secara keliru. Persediaan nasional merupakan gambaran agregat, sedangkan kondisi stok di Bali dapat berubah mengikuti kedatangan kapal, distribusi ke titik penyaluran, dan tingkat konsumsi. Dengan demikian, keterangan mengenai cadangan nasional tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan berapa lama persediaan yang tersedia khusus di Pulau Bali.

Setelah keterlambatan pengiriman, pemantauan distribusi dan persediaan di Bali menjadi bagian penting dari langkah penguatan pasokan. Perhatian terhadap jadwal kapal, ketersediaan BBM di jalur distribusi, serta kebutuhan masyarakat dapat membantu mengantisipasi gangguan serupa. Penjelasan mengenai periode penurunan pasokan dan angka cadangan nasional memberikan konteks yang berbeda, tetapi saling berkaitan dalam menilai upaya menjaga ketersediaan BBM secara berkelanjutan.

Bali memiliki dua terminal penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran pasokan di pulau tersebut. Kedua fasilitas itu adalah Terminal BBM Pesanggaran di Denpasar dan Terminal BBM Manggis di Kabupaten Karangasem. Keduanya menopang distribusi BBM ke berbagai wilayah, meskipun jumlah cadangan yang tersedia di masing-masing terminal tidak sama. Perbedaan tersebut berkaitan dengan kapasitas penyimpanan serta peran setiap terminal dalam sistem penyaluran.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, cadangan BBM di Pesanggaran berada pada kisaran empat hingga lima hari. Sementara itu, stok di Terminal Manggis tercatat lebih dari 11 hari. Angka ini menggambarkan kondisi cadangan di masing-masing lokasi pada saat pemantauan, bukan berarti seluruh Bali hanya memiliki persediaan setara stok Pesanggaran. Pasokan dari terminal-terminal tersebut terus disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan kegiatan ekonomi.

Setelah berkoordinasi dengan Pertamina, Bahlil menyebut cadangan BBM di wilayah Bali secara rata-rata telah mencapai sekitar 11–12 hari. Perhitungan rata-rata itu memberikan gambaran yang lebih luas daripada melihat stok satu terminal secara terpisah. Pemerintah menilai ketersediaan pasokan perlu dijaga secara konsisten, terutama untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan dan memastikan distribusi tetap berjalan. Karena itu, kondisi stok dan arus penyaluran menjadi perhatian dalam koordinasi pemerintah dan Pertamina.

Bahlil meminta Pertamina meningkatkan target cadangan dari 11 hari menjadi 15 hari. Target tersebut dimaksudkan untuk memperkuat ketahanan pasokan, bukan sebagai batas persediaan yang harus berhenti pada jumlah setara kebutuhan 15 hari. BBM tetap bergerak melalui proses pengiriman, penyimpanan, dan penyaluran, sementara stok yang terpakai perlu diisi kembali. Dengan demikian, angka 15 hari menjadi sasaran tingkat cadangan yang dijaga secara berkelanjutan, bukan persediaan tetap yang dibiarkan tanpa pergantian. Pola pengisian dan penyaluran yang berkesinambungan diharapkan membantu menjaga ketersediaan BBM di Bali sekaligus memberi ruang antisipasi jika terjadi gangguan distribusi atau lonjakan permintaan. Pemantauan terhadap stok di Pesanggaran dan Manggis juga diperlukan agar kebutuhan di berbagai daerah dapat dipenuhi secara terukur dan pasokan tidak hanya terkonsentrasi pada satu terminal.

Untuk mempercepat pasokan bahan bakar minyak ke Bali, jumlah kapal pengangkut BBM yang melayani rute Jawa–Bali ditingkatkan dari tiga menjadi tujuh kapal. Penambahan armada ini ditujukan untuk memperlancar pengiriman dan membantu menjaga ketersediaan produk di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), termasuk Pertalite yang banyak digunakan masyarakat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan, permintaan untuk menambah sarana transportasi tersebut telah disampaikan kepada Direktur Utama Pertamina sejak Kamis, 15 Oktober. Langkah itu merupakan bagian dari upaya menangani hambatan distribusi yang sebelumnya berdampak pada pasokan di sejumlah titik. Dengan lebih banyak kapal yang beroperasi, pengangkutan dari wilayah Jawa diharapkan berlangsung lebih lancar dan kebutuhan Bali dapat dipenuhi secara lebih teratur.

Bahlil menyampaikan bahwa laporan dari Gubernur Bali, Kapolda Bali, serta General Manager Pertamina di Bali menunjukkan kondisi SPBU telah kembali beroperasi normal. Antrean panjang yang signifikan juga dilaporkan tidak lagi terjadi. Keterangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa penyaluran mulai membaik, meskipun pemantauan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi stabil di seluruh wilayah.

Dalam penjelasannya, Bahlil membedakan kondisi pasokan solar dan Pertalite. Cadangan solar disebut berada di atas enam hari, sementara solar tidak lagi dipasok melalui impor. Sebagian kebutuhan Pertalite, sebaliknya, masih dipenuhi dari impor. Perbedaan sumber pasokan ini membuat pengelolaan arus barang dan jadwal pengiriman tetap penting, terutama ketika permintaan meningkat atau terjadi kendala pada proses distribusi.

Bahlil mengaitkan gangguan yang terjadi dengan.

Baca juga: Penanganan Karhutla Sektor Selatan Kalbar Diperkuat, TNI Alihkan Perkuatan Pasukan | Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat