Survei PPI Petakan Persaingan Capres: Prabowo Teratas, Dedi Mulyadi Ungguli Anies pada Simulasi Awal

Survei PPI Petakan Persaingan Capres: Prabowo Teratas, Dedi Mulyadi Ungguli Anies pada Simulasi Awal

Jakarta | Survei Parameter Politik Indonesia (PPI) menunjukkan Prabowo Subianto menempati posisi teratas dalam tiga simulasi calon presiden. Temuan tersebut dimuat dalam laporan bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran”, yang dirilis pada Minggu, 12 Oktober 2026. Meski posisi Prabowo konsisten berada di urutan pertama, susunan kandidat lain dan jarak elektabilitas di mereka berubah mengikuti nama-nama yang dimasukkan dalam setiap simulasi.

Pada simulasi awal, Dedi Mulyadi tercatat mengungguli Anies Baswedan. Hasil ini memperlihatkan bahwa peta persaingan dalam survei tidak sepenuhnya tetap: peringkat kandidat dapat bergeser ketika komposisi pilihan yang diuji berubah. Karena itu, hasil tiap simulasi perlu dibaca sesuai daftar nama yang disodorkan kepada responden, bukan sebagai satu susunan tunggal yang berlaku untuk semua kemungkinan kontestasi.

Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, menjelaskan bahwa pertanyaan survei meminta responden menyebutkan pilihan presiden apabila pemilihan presiden berlangsung saat ini. Rumusan tersebut menangkap preferensi pada saat wawancara dilakukan. Hasilnya menggambarkan pilihan responden dalam konteks waktu survei, sehingga tidak dengan sendirinya menjadi prediksi pasti mengenai hasil pemilu mendatang.

Survei ini melibatkan 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi. Pengumpulan data dilakukan secara tatap muka pada 26 September hingga 6 Oktober 2026. Responden berusia minimal 17 tahun atau telah menikah, sementara margin of error yang dilaporkan sebesar 2,83 persen. Rincian metode tersebut menjadi konteks penting saat membandingkan posisi para tokoh dan perbedaan hasil antarsimulasi.

Secara umum, temuan PPI menempatkan Prabowo sebagai kandidat dengan dukungan tertinggi dalam seluruh skenario yang diuji, sedangkan persaingan di bawahnya tampak lebih dinamis. Perubahan urutan menunjukkan bahwa hasil dapat dipengaruhi oleh siapa saja yang menjadi opsi dalam pertanyaan. Dengan demikian, survei ini memberi gambaran awal tentang preferensi publik dan lapisan persaingan capres, bukan kepastian mengenai konfigurasi akhir kandidat ataupun arah pilihan pemilih ketika pemilu benar-benar berlangsung.

Dalam simulasi pertama yang disajikan dalam survei PPI, Prabowo Subianto menempati posisi teratas dengan elektabilitas 31,6 persen. Angka tersebut menjadi perolehan tertinggi di nama-nama yang disebutkan pada simulasi ini. Hasil itu menggambarkan pilihan atau jawaban responden ketika diminta menilai sejumlah kandidat dalam skenario awal, bukan kepastian mengenai hasil pemilihan presiden mendatang. Karena itu, angka-angka tersebut perlu dibaca sebagai potret dukungan yang tercatat dalam survei pada saat pengumpulan data, dengan cakupan sesuai pertanyaan yang diajukan kepada responden.

Posisi kedua ditempati Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang juga dikenal sebagai Kang Dedi Mulyadi atau KDM. Ia memperoleh 11,4 persen, sehingga berada di atas Anies Baswedan, yang mencatatkan 10,1 persen. Selisih keduanya adalah 1,3 poin persentase. Susunan ini menjadi salah satu sorotan dari simulasi awal karena Dedi Mulyadi berada di urutan kedua, sementara Anies berada pada posisi berikutnya. Namun, urutan dan jarak angka tersebut hanya merujuk pada hasil jawaban responden dalam simulasi yang dilaporkan, bukan penetapan bahwa dukungan politik para tokoh akan tetap sama pada waktu berikutnya.

Di bawah tiga nama tersebut, Gibran Rakabuming Raka meraih 6,9 persen, disusul Ganjar Pranowo dengan 4,4 persen. AHY memperoleh 2,3 persen dalam simulasi yang sama. Dengan demikian, daftar angka yang disebutkan memperlihatkan rentang dukungan dari 31,6 persen untuk Prabowo hingga 2,3 persen untuk AHY, sementara Dedi Mulyadi dan Anies Baswedan berada berdekatan pada posisi kedua dan ketiga. Perbedaan persentase ini menunjukkan bagaimana responden membagi pilihan mereka di nama-nama yang ditawarkan dalam skenario tersebut. Hasil survei dapat menjadi bahan untuk membaca dinamika preferensi publik, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan siapa yang akan maju atau menang dalam pilpres. Pemilih masih dapat mengubah pilihan, dan konteks politik dapat berkembang sebelum pemungutan suara berlangsung.

Dalam simulasi yang menguji 17 nama ketua umum partai politik, Prabowo Subianto berada di posisi teratas dengan elektabilitas 34 persen. Angka tersebut menempatkannya sebagai kandidat dengan dukungan paling tinggi dalam daftar pilihan yang diuji pada simulasi ini. Anies Baswedan kembali menempati urutan kedua, dengan perolehan 19,4 persen. Hasil ini menunjukkan susunan persaingan berdasarkan nama-nama yang disertakan dalam simulasi tersebut, bukan daftar kandidat yang identik dengan pengujian sebelumnya.

Di bawah dua nama teratas, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mencatat elektabilitas 11,1 persen. Ia hanya unggul tipis atas Gibran Rakabuming Raka, yang memperoleh 10,9 persen. Selisih kedua angka itu sebesar 0,2 poin persentase. Karena jaraknya relatif dekat, posisi AHY dan Gibran pada hasil ini dapat dibaca sebagai persaingan yang ketat dalam simulasi 17 nama tersebut. Meski demikian, angka yang tersedia tetap perlu dipahami sesuai daftar pilihan yang diuji.

Perolehan Prabowo sebesar 34 persen dan Anies sebesar 19,4 persen menjadi dua angka tertinggi yang disebut dalam simulasi ini. Sementara itu, nilai AHY dan Gibran berada pada kisaran sekitar 11 persen, dengan AHY sedikit lebih tinggi. Penyebutan persentase secara berdampingan membantu memperlihatkan jarak antarkandidat, tetapi tidak mengubah hasil simulasi menjadi gambaran yang berlaku untuk setiap daftar pilihan. Setiap angka merujuk pada susunan nama yang digunakan dalam pengujian ini.

Urutan kandidat maupun angka elektabilitas dalam simulasi 17 nama dapat berbeda dibandingkan simulasi awal. Perbedaan tersebut berkaitan dengan daftar pilihan yang diuji memang tidak sama; karena itu, hasil kedua simulasi perlu dibaca berdasarkan susunan nama masing-masing. Posisi Prabowo, Anies, AHY, dan Gibran di sini menggambarkan hasil pada daftar 17 ketua umum partai politik, sedangkan simulasi awal memiliki daftar tersendiri. Dengan membedakan konteks daftar tersebut, pembaca dapat membandingkan hasil tanpa menyamakan dua pengujian yang tidak menggunakan pilihan identik.

Dalam simulasi yang memuat lima nama kandidat yang diperkirakan maju pada Pemilihan Presiden 2029, Prabowo Subianto memperoleh angka tertinggi, yakni 40,5 persen. Hasil tersebut menempatkannya di posisi teratas dalam susunan pilihan responden pada simulasi yang disampaikan PPI. Angka ini menjadi gambaran perolehan masing-masing nama dalam skenario yang diuji, bukan hasil pemungutan suara.

Di posisi berikutnya, Anies Baswedan mencatat 17,7 persen. Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY berada setelah Anies dengan angka 14 persen. Selisih perolehan kedua nama itu tercatat 3,7 poin persentase berdasarkan angka simulasi tersebut. Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka memperoleh 12,2 persen, disusul Pramono Anung dengan 3,9 persen.

Urutan dalam simulasi lima nama itu, dengan demikian, dimulai dari Prabowo, Anies, AHY, Gibran, lalu Pramono. Masing-masing angka menunjukkan bagian pilihan yang tercatat bagi nama bersangkutan dalam skenario survei PPI. Penyajian angka secara berurutan membantu memperlihatkan posisi kelima nama dalam satu simulasi yang sama, tanpa mengubahnya menjadi kesimpulan mengenai hasil kontestasi mendatang.

Perolehan Prabowo sebesar 40,5 persen merupakan angka paling besar di lima nama yang disebutkan. Anies berada di urutan kedua dengan 17,7 persen, sedangkan AHY mencatat 14 persen. Gibran berada pada angka 12,2 persen dan Pramono Anung memperoleh 3,9 persen. Rincian tersebut merujuk pada hasil simulasi sebagaimana dilaporkan, sehingga pembaca perlu membedakan angka survei ini dari hasil resmi pemilihan presiden.

Simulasi tersebut juga tidak dengan sendirinya menetapkan siapa yang akan menjadi calon ataupun pemenang pada 2029.

Baca juga: Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo | Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan