Jakarta | Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan perusahaan semakin meluas, seiring meningkatnya kebutuhan untuk bekerja lebih efisien dan produktif. Teknologi ini dapat membantu mengolah informasi, mempercepat proses kerja, serta mendukung pengambilan keputusan. Namun, bagi PT Virtus Technology Indonesia, adopsi AI tidak cukup dinilai dari kecanggihan fitur atau potensi otomatisasi yang ditawarkan. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa penerapannya dapat diandalkan dan sesuai dengan kebutuhan operasional maupun kebijakan organisasi.
Direktur Virtus Technology Indonesia Christian Atmaja menyampaikan pandangan tersebut dalam media roundtable Virtus Showcase 2026 di Jakarta pada Selasa (13/10). Ia menekankan bahwa perusahaan perlu mempertimbangkan kepastian dan prediktabilitas sebelum memperluas pemanfaatan AI. Sistem yang digunakan harus memberikan hasil yang dapat dipahami, dikelola, dan diperkirakan dalam konteks kerja tertentu. Dengan begitu, manfaat AI tidak hanya terlihat pada kecepatan penyelesaian tugas, tetapi juga pada konsistensi proses serta kemampuan perusahaan mengantisipasi risiko dan perubahan kebutuhan.
Skalabilitas menjadi pertimbangan lain, karena solusi yang efektif dalam uji coba belum tentu dapat diterapkan secara luas tanpa penyesuaian. Perusahaan perlu menilai apakah infrastruktur, kapasitas komputasi, dan alur kerja yang tersedia mampu mendukung pertumbuhan penggunaan teknologi tersebut. Aspek keamanan juga tidak dapat dipisahkan dari perencanaan. Data yang digunakan atau dihasilkan AI harus dilindungi melalui kontrol akses, pengelolaan yang tepat, dan kebijakan yang jelas, terutama ketika informasi bersifat sensitif atau berkaitan dengan pelanggan.
Karena itu, kesiapan data dan tata kelola menjadi landasan penting bagi adopsi AI yang bertanggung jawab. Organisasi perlu memahami sumber, kualitas, lokasi, serta pihak yang berwenang mengakses data. Aturan mengenai penggunaan, penyimpanan, dan pemantauan data dapat membantu menjaga kepatuhan sekaligus membangun kepercayaan. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan memanfaatkan AI secara bertahap, dengan tujuan dan batasan yang terukur. Penekanan pada kepastian, keamanan, dan tata kelola membantu memastikan inovasi tetap sejalan dengan prioritas bisnis, bukan sekadar mengikuti tren teknologi yang berkembang cepat.
Dalam pandangan Christian, keberhasilan pemanfaatan kecerdasan buatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan model yang digunakan. Model dapat memproses informasi dengan cepat dan menghasilkan analisis yang kompleks, tetapi kualitas hasilnya tetap bergantung pada data yang tersedia serta cara data tersebut dikelola. Jika informasi yang menjadi masukan tidak lengkap, tidak akurat, atau sulit diakses, kemampuan teknis AI tidak serta-merta dapat memperbaiki kelemahan tersebut. Karena itu, perusahaan perlu melihat AI sebagai bagian dari ekosistem teknologi yang lebih luas, bukan sebagai solusi mandiri yang dapat diterapkan tanpa persiapan. Kesiapan organisasi menjadi faktor awal yang menentukan apakah teknologi itu benar-benar bermanfaat.
Pengelolaan data yang baik mencakup proses pengumpulan, penyimpanan, pemutakhiran, dan pengamanan informasi secara konsisten. Perusahaan juga perlu memahami asal-usul data, memastikan kualitasnya, serta menetapkan tata kelola yang jelas mengenai siapa yang dapat mengakses dan menggunakannya. Langkah tersebut membantu mengurangi risiko kesalahan, bias, maupun penggunaan informasi yang tidak sesuai. Di samping data, lingkungan teknologi yang menopang AI perlu dirancang agar sistem dapat terhubung dengan perangkat dan proses bisnis yang sudah ada. Infrastruktur, integrasi, serta pengawasan yang memadai membantu penerapan berjalan lebih stabil dan membuat keluaran AI lebih relevan bagi kebutuhan kerja.
Pesan Christian menegaskan bahwa kemampuan AI yang semakin tinggi belum tentu menghasilkan keputusan yang lebih baik apabila fondasi perusahaan belum siap. Rekomendasi yang tampak meyakinkan tetap perlu dinilai berdasarkan mutu data, konteks operasional, dan tujuan bisnis. Tanpa landasan tersebut, pengguna berisiko menerima hasil yang tidak tepat atau sulit diterapkan, sekalipun modelnya tergolong canggih. Oleh sebab itu, perusahaan sebaiknya menilai kesiapan data dan teknologi sebelum memperluas penggunaan AI. Investasi pada tata kelola, keamanan, dan infrastruktur bukan sekadar pekerjaan pendukung, melainkan bagian penting dari strategi AI. Dengan fondasi yang kuat, organisasi dapat menggunakan kemampuan AI secara lebih bertanggung jawab, konsisten, dan bernilai bagi pengambilan keputusan.
Seruan untuk memperlambat pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang disampaikan sejumlah tokoh teknologi dunia dan pengembang AI besar mencerminkan kekhawatiran terhadap laju inovasi yang sulit diimbangi oleh pengawasan. Virtus memandang diskusi tersebut sebagai pengingat bahwa kemajuan AI perlu berjalan seiring dengan kesiapan organisasi dalam mengelola risiko. Teknologi ini dapat membuka peluang efisiensi dan inovasi, tetapi penggunaannya juga menghadirkan tantangan baru bagi keamanan informasi, infrastruktur, serta tata kelola data. Karena itu, respons terhadap perkembangan AI tidak semata-mata berfokus pada seberapa cepat teknologi diterapkan, melainkan juga pada cara penerapannya dilakukan secara bertanggung jawab.
Bagi Virtus, kesiapan data dan keamanan merupakan bagian penting dari upaya mengantisipasi perubahan tersebut. Perusahaan perlu memahami jenis data yang digunakan dalam sistem AI, memastikan akses dikelola dengan tepat, serta menerapkan kebijakan yang jelas mengenai penyimpanan dan pemanfaatannya. Tata kelola yang kuat membantu organisasi menjaga kerahasiaan informasi, memenuhi kewajiban kepatuhan, dan mengurangi kemungkinan penyalahgunaan. Langkah ini juga mencakup peninjauan terhadap mitra, aplikasi, dan layanan pihak ketiga yang terhubung dengan sistem perusahaan. Dengan fondasi tersebut, organisasi dapat mengevaluasi penerapan AI secara lebih terukur, tanpa mengabaikan perlindungan data maupun kebutuhan untuk terus berinovasi.
Menurut Christian, meningkatnya serangan siber, kompleksitas lingkungan teknologi informasi, dan perkembangan AI mendorong semakin banyak perusahaan berinvestasi untuk memperkuat sistem keamanan. Kombinasi faktor tersebut memperluas permukaan serangan sekaligus membuat pengelolaan risiko semakin rumit. Organisasi perlu memastikan perangkat, jaringan, identitas pengguna, dan data terlindungi melalui pendekatan keamanan yang terpadu. Investasi juga dapat mencakup peningkatan pemantauan, kesiapan merespons insiden, dan penguatan kemampuan tim. Dalam konteks ini, keamanan bukan hanya pengadaan teknologi, tetapi proses berkelanjutan yang perlu disesuaikan dengan perubahan ancaman dan kebutuhan bisnis. Perusahaan yang menata perlindungan serta tata kelola sejak awal akan memiliki landasan lebih baik untuk memanfaatkan AI secara aman dan berkelanjutan.
Christian menjelaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan mendorong organisasi menggunakan sistem yang semakin canggih dan kompleks. Kemampuan tersebut dapat membawa manfaat, tetapi kompleksitas juga memperbesar kemungkinan adanya kerentanan yang luput dari perhatian. Karena itu, peningkatan teknologi perlu diimbangi dengan solusi keamanan siber yang dirancang untuk mengenali dan mengurangi risiko pada berbagai komponen. Menurutnya, perlindungan tidak cukup hanya mengikuti tren teknologi; organisasi juga perlu memahami bagaimana sistem digunakan, saling terhubung, dan menyimpan informasi penting. Penilaian terhadap risiko perlu dilakukan secara menyeluruh agar pengamanan sesuai dengan karakter lingkungan teknologi yang dimiliki.
Sejumlah celah dapat muncul pada bagian berbeda dari sebuah sistem. Proses login, misalnya, perlu diamankan agar akses hanya diberikan kepada pihak yang berwenang. Sistem backdoor juga perlu diperiksa, sebab jalur akses tersembunyi yang tidak dikelola dengan baik dapat membuka peluang bagi pihak lain untuk masuk. Sementara itu, database menyimpan informasi yang bernilai dan dapat menjadi sasaran apabila kontrol akses maupun pengamanannya tidak memadai. Ketiga area tersebut menggambarkan bahwa risiko tidak selalu berada pada satu titik. Kelemahan pada proses autentikasi, akses khusus, atau penyimpanan data dapat menimbulkan dampak yang berbeda, sehingga masing-masing perlu mendapat perhatian sesuai konteks dan tingkat risikonya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Virtus melengkapi portofolio layanan keamanan sibernya agar perlindungan dapat menjangkau berbagai sisi sistem. Pendekatan ini memungkinkan organisasi mempertimbangkan pengamanan akses, infrastruktur, data, dan database, alih-alih hanya berfokus pada satu lapisan.
Baca juga: Jelang HUT ke-81 TNI, Puspom TNI Perkuat Kesiapan Pengamanan Wallakir | CYBEREX SGS 2026 Tingkatkan Kesiapan Siber Melalui Technical Review | STAFFEX SGS 2026 Perkuat Kesiapan Operasi Gabungan Melalui AAR






