Kabupaten Kudus | Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI), Muhammad Fadil Imran, menilai ekosistem olahraga yang dikelola dengan baik dapat menghasilkan atlet berprestasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah penyelenggara. Ia menyampaikan pandangan tersebut pada Minggu, saat menanggapi berbagai kegiatan olahraga yang berlangsung di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Menurut Fadil, kompetisi tidak semestinya dipandang hanya sebagai ajang untuk menentukan pemenang atau mengukur kemampuan atlet. Jika dirancang secara berkelanjutan, kegiatan olahraga dapat menjadi ruang pertemuan bagi atlet, masyarakat, pelaku usaha, dan pemangku kebijakan.
Di Kudus, sejumlah ajang olahraga mendapat dukungan Djarum Foundation. Kehadiran kompetisi dan kegiatan pendukung dapat mendatangkan peserta, keluarga, ofisial, serta pengunjung dari berbagai wilayah. Pergerakan orang tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap transportasi, penginapan, makanan, dan layanan lokal lainnya. Dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai pihak di sekitar penyelenggaraan, meskipun besarnya manfaat bergantung pada skala kegiatan, lama acara, dan keterlibatan usaha setempat. Karena itu, pengelolaan yang terencana penting agar penyelenggaraan olahraga tidak berhenti pada aktivitas pertandingan, tetapi turut membuka kesempatan bagi masyarakat dan pelaku ekonomi daerah.
Fadil menekankan bahwa manfaat ekonomi dari ekosistem olahraga tidak hanya dirasakan oleh klub PB Djarum. Dampak yang lebih luas juga dapat menjangkau Pemerintah Kabupaten Kudus dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui meningkatnya aktivitas daerah serta peluang kolaborasi dalam pembinaan dan penyelenggaraan. Pemerintah dapat berperan dalam menyediakan dukungan, menghubungkan kegiatan dengan potensi lokal, dan memastikan manfaatnya tersebar secara wajar. Dengan demikian, hubungan prestasi olahraga dan ekonomi daerah perlu dibangun melalui kerja sama berbagai pihak. Kudus dapat memperoleh nilai tambah ketika kompetisi didukung tata kelola yang baik, melibatkan masyarakat, dan memberi ruang bagi usaha lokal. Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat pembinaan atlet dan menjaga agar kegiatan olahraga memberi manfaat berkelanjutan bagi daerah penyelenggara.
Menurut Fadil, kompetisi bulu tangkis menghadirkan kebutuhan ekonomi yang muncul dari kedatangan para peserta dan rombongan mereka. Atlet, pelatih, ofisial, serta pendamping dari berbagai daerah datang untuk mengikuti turnamen dan biasanya perlu tinggal selama kegiatan berlangsung. Mereka membutuhkan tempat menginap, makanan, dan sarana transportasi untuk berpindah penginapan, lokasi pertandingan, serta tempat lain yang dikunjungi. Rangkaian kebutuhan ini menghubungkan penyelenggaraan olahraga dengan layanan yang tersedia di daerah tuan rumah. Dengan demikian, manfaat kompetisi dapat menjangkau lebih dari lingkungan pertandingan dan komunitas olahraga setempat.
Permintaan tersebut membuka peluang aktivitas bagi sejumlah sektor. Hotel dan penyedia penginapan dapat melayani peserta yang memerlukan tempat tinggal, sementara rumah makan, warung, dan usaha kuliner lainnya berkesempatan menyediakan makanan. Layanan transportasi juga dibutuhkan untuk mendukung perjalanan rombongan selama berada di daerah. Jika pengunjung memiliki waktu untuk berwisata, kegiatan mereka dapat turut memberi ruang bagi sektor pariwisata. Hubungan ini tidak berarti setiap usaha pasti memperoleh manfaat yang sama; peluangnya bergantung pada kebutuhan pengunjung, kesiapan layanan, dan keterhubungan penyelenggara dengan pelaku usaha lokal.
Turnamen juga dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan objek wisata dan budaya setempat kepada orang-orang yang datang dari luar daerah. Informasi mengenai destinasi, tradisi, atau kegiatan lokal dapat membantu pengunjung mengenal Kudus di luar arena pertandingan. Karena itu, penyelenggaraan kompetisi berpeluang menyatukan agenda olahraga dengan promosi daerah, tanpa mengubah tujuan utama turnamen. Potensi tersebut perlu dikelola secara terencana, misalnya melalui koordinasi antarpihak dan penyediaan informasi yang jelas bagi peserta serta pendamping. Apabila sektor olahraga, perhotelan, kuliner, transportasi, dan pariwisata dilibatkan dengan baik, olahraga dapat menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi daerah. Dampaknya tetap perlu dipahami secara proporsional: kompetisi membuka peluang, bukan jaminan hasil ekonomi tertentu.
Fadil mendorong agar bulu tangkis semakin dikenal dan dimainkan oleh lebih banyak lapisan masyarakat. Menurutnya, upaya memperluas partisipasi perlu dimulai sejak anak-anak, khususnya ketika mereka masih duduk di sekolah dasar. Pada usia tersebut, pengenalan olahraga dapat berlangsung melalui kegiatan yang menyenangkan dan mudah diikuti, sehingga anak memiliki kesempatan mencoba tanpa langsung dibebani tuntutan untuk berprestasi. Langkah awal ini penting untuk membuka akses, menumbuhkan rasa akrab terhadap permainan, dan memperlihatkan bahwa bulu tangkis dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Salah satu wujud pendekatan tersebut adalah Festival Senengminton, yang diselenggarakan PBSI Kabupaten Kudus bersama Djarum Foundation. Festival ini dirancang untuk memperkenalkan bulu tangkis kepada anak-anak melalui pengalaman bermain yang menarik. Fadil memandang prosesnya sebagai rangkaian yang bertahap: ketika anak diperkenalkan pada olahraga ini, sebagian akan tumbuh ketertarikannya; ketertarikan itu dapat mendorong mereka bermain secara rutin; dan dari kebiasaan tersebut, ada anak-anak yang mungkin memilih menekuni bulu tangkis lebih serius sebagai atlet. Dengan demikian, pengenalan dini bukan semata kegiatan sesaat, melainkan pintu masuk menuju kebiasaan berolahraga dan, bagi sebagian peserta, jalur pembinaan prestasi.
Fadil juga mengapresiasi PB Djarum karena memperluas penyelenggaraan festival dari Kudus ke empat kota lain di Jawa Tengah. Perluasan itu membuat lebih banyak anak memiliki peluang merasakan kegiatan serupa, sekaligus menunjukkan bahwa program pengenalan dapat dikembangkan melampaui satu daerah. Ia berharap pemerintah provinsi dan klub-klub bulu tangkis di daerah lain turut merancang kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan setempat. Jika dilakukan secara berkelanjutan, jangkauan pengenalan yang lebih luas dapat memperkuat pembinaan dari tingkat masyarakat hingga kompetisi prestasi. Anak-anak memperoleh ruang untuk mulai bermain, klub dapat menjangkau calon pemain, dan ekosistem bulu tangkis memiliki dasar partisipasi yang lebih kokoh. Kesinambungan partisipasi publik, pembinaan, serta kompetisi menjadi bagian penting dalam menjaga perkembangan olahraga ini di daerah.
Fadil menyambut positif rencana penyelenggaraan Indonesia Masters Super 100 di Stadion Kaliputu, Kabupaten Kudus. Menurutnya, kehadiran turnamen tersebut dapat menjadi kesempatan penting bagi Kudus untuk menunjukkan kesiapan sebagai penyelenggara kompetisi bulu tangkis. Selain memberi ruang bagi atlet untuk bertanding, sebuah turnamen juga dapat mempertemukan penonton, pelaku olahraga, dan pengunjung dari berbagai daerah. Karena itu, rencana ini dinilai membawa peluang yang lebih luas daripada sekadar agenda pertandingan.
Penyelenggaraan kompetisi nasional maupun internasional di Kudus, lanjut Fadil, berpotensi membuka jalan menuju kejuaraan dengan tingkat yang lebih tinggi. Pengalaman mengelola pertandingan, kesiapan fasilitas, serta kemampuan mendukung kebutuhan peserta dan penyelenggara dapat menjadi pertimbangan dalam melihat peluang tersebut. Namun, peningkatan level kompetisi memerlukan persiapan yang memadai dan tidak terjadi secara otomatis. Setiap rencana perlu dinilai berdasarkan kesiapan daerah serta standar penyelenggaraan yang dibutuhkan.
Salah satu kemungkinan yang dapat dipertimbangkan, apabila fasilitas dan kesiapan penyelenggaraan mendukung, adalah International Challenge dalam kalender kompetisi Badminton Asia. Fadil menyampaikan hal itu sebagai peluang, bukan agenda yang telah dipastikan. Penilaian terhadap kelayakan, kebutuhan teknis, dan dukungan penyelenggara tetap diperlukan sebelum sebuah kompetisi internasional dapat diwujudkan. Dengan demikian, rencana Indonesia Masters Super 100 dapat menjadi bagian dari proses membangun pengalaman dan kapasitas, sekaligus membuka pembicaraan mengenai peluang berikutnya.
Fadil juga menekankan bahwa kemajuan bulu tangkis daerah membutuhkan lebih dari sekadar turnamen. Pembinaan atlet yang berkelanjutan, tersedianya kompetisi, dukungan pemerintah, serta keterlibatan masyarakat merupakan modal penting untuk memperkuat posisi Kudus dalam perkembangan bulu tangkis nasional. Jika unsur-unsur tersebut berjalan bersama, penyelenggaraan pertandingan juga dapat menghadirkan manfaat ekonomi lokal melalui aktivitas pengunjung dan kebutuhan selama acara berlangsung.






