Jakarta | KONI Pusat menyiapkan sejumlah format kompetisi nasional untuk memperluas kesempatan atlet bertanding dan memperkuat pembinaan di berbagai cabang olahraga. Agenda tersebut mencakup Pekan Olahraga Nasional (PON) Pantai, PON Bela Diri, PON Indoor, serta PON Remaja. Rangkaian ini dirancang sebagai pelengkap penyelenggaraan PON utama, sehingga kompetisi dapat menjangkau karakter olahraga dan kelompok peserta yang lebih beragam. Dengan format yang disesuaikan, atlet diharapkan memperoleh ruang kompetisi yang relevan dengan kebutuhan perkembangan cabangnya.
Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman menyampaikan bahwa PON Pantai akan digelar tahun ini di Ancol. Sementara itu, tiga agenda lainnya, yakni PON Bela Diri, PON Indoor, dan PON Remaja, direncanakan berlangsung pada awal 2027. Penjadwalan tersebut memberi gambaran tahapan pelaksanaan yang hendak ditempuh KONI, sekaligus membantu pemerintah daerah, pengurus cabang olahraga, dan pihak terkait mempersiapkan keikutsertaan. Ancol dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan PON Pantai, sedangkan rincian tempat dan teknis untuk agenda awal 2027 dapat dikembangkan melalui koordinasi berikutnya.
Marciano menempatkan rangkaian kompetisi ini sebagai bagian dari upaya pembinaan dan peningkatan prestasi olahraga Indonesia. Kompetisi yang berlangsung secara terarah dapat memberi atlet pengalaman bertanding, membantu pelatih menilai perkembangan kemampuan, serta menjadi salah satu jalur untuk mengidentifikasi potensi. PON Remaja, misalnya, memberi perhatian pada kelompok atlet usia muda, sedangkan format pantai, bela diri, dan indoor memungkinkan cabang dengan karakter berbeda memperoleh panggung kompetisi tersendiri. Pelaksanaan agenda secara berkala juga berpotensi mendorong kesinambungan program pembinaan di daerah. Melalui rencana tersebut, KONI berupaya memperluas kalender pertandingan nasional dan menjaga agar proses pengembangan atlet tidak hanya bertumpu pada satu ajang. Keberhasilan tujuan itu akan bergantung pada kesiapan penyelenggaraan, koordinasi antarpihak, dan pemanfaatan kompetisi sebagai bagian dari program jangka panjang menuju peningkatan prestasi, termasuk persiapan menghadapi PON 2028.
Peringatan HUT ke-88 KONI menjadi kesempatan bagi Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman untuk menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang berkontribusi dalam pembinaan olahraga nasional. Penghargaan tersebut ditujukan kepada pengurus dan staf KONI Pusat, jajaran KONI di tingkat provinsi, serta pengurus KONI kabupaten/kota. Marciano juga mengapresiasi induk organisasi cabang olahraga dan organisasi fungsional. Penyebutan berbagai unsur itu menunjukkan luasnya pihak yang terlibat dalam kerja organisasi olahraga di Indonesia. Kontribusi masing-masing diperlukan untuk mendukung pembinaan dan pengembangan olahraga secara berkelanjutan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Dalam konteks tersebut, peran para pengurus dan staf menjadi bagian dari kerja bersama yang menghubungkan berbagai organisasi olahraga.
Apresiasi Marciano mencakup jajaran KONI di beragam tingkatan wilayah, dari provinsi hingga kabupaten dan kota. Keberadaan organisasi daerah menjadi bagian dari struktur pembinaan olahraga nasional, sementara induk organisasi cabang olahraga dan organisasi fungsional turut mengambil peran sesuai bidang masing-masing. Penyampaian penghargaan kepada seluruh unsur tersebut menempatkan kontribusi kolektif sebagai hal penting dalam perjalanan KONI. Kerja para pengurus dan staf, serta organisasi yang bernaung dalam ekosistem olahraga, mendukung kesinambungan kegiatan pembinaan. Pernyataan itu sekaligus menggambarkan bahwa pengembangan olahraga Indonesia melibatkan kerja lintas organisasi dan wilayah, bukan hanya upaya satu pihak. Dengan mengapresiasi mereka, Marciano mengakui sumbangan yang diberikan berbagai jajaran bagi perjalanan dan kegiatan KONI.
Dalam peringatan tersebut, juga ditampilkan video perjalanan Pekan Olahraga Nasional (PON). Video itu menggambarkan peran KONI dalam pembinaan olahraga Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Penyajian perjalanan PON memberi konteks historis mengenai keterlibatan KONI dalam perkembangan olahraga nasional dari masa ke masa. Materi tersebut menghubungkan kiprah organisasi dengan sejarah pembinaan olahraga di Indonesia, sekaligus memperlihatkan bahwa kontribusi KONI memiliki akar yang panjang. Kehadiran video menjadi bagian dari penggambaran perjalanan tersebut, tanpa mengubah fokus pada penghargaan Marciano kepada para pengurus, staf, organisasi cabang olahraga, dan organisasi fungsional. Kedua hal itu menempatkan penghormatan kepada pelaku pembinaan dan catatan sejarah PON sebagai unsur penting dalam peringatan HUT ke-88 KONI.
KONI Pusat juga menempatkan penguatan kemitraan dengan sektor industri sebagai bagian dari upaya memperluas agenda olahraga nasional. Dalam konteks tersebut, kolaborasi lintas sektor dapat membuka ruang bagi penyelenggaraan kompetisi yang lebih beragam dan mempertemukan pemangku kepentingan olahraga dengan pihak di luar organisasi olahraga. Salah satu rencana yang disampaikan ialah kolaborasi dengan Chandra Asri untuk menghadirkan kompetisi nasional pada 2027, dengan cabang olahraga panahan dan panjat tebing. Rencana ini menambah gambaran mengenai langkah KONI dalam menyiapkan ruang pertandingan di tingkat nasional, selain agenda kejuaraan yang telah ada.
Penyebutan kedua cabang itu menunjukkan bahwa kompetisi yang direncanakan mencakup olahraga dengan karakter dan kebutuhan pertandingan yang berbeda. Panahan dan panjat tebing memiliki komunitas serta pola pembinaan masing-masing, sehingga penyelenggaraan kompetisi nasional dapat menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan atlet dari berbagai daerah. Namun, informasi yang disampaikan sejauh ini terbatas pada rencana kolaborasi dan cabang olahraga yang akan dihadirkan. Belum ada keterangan mengenai format pertandingan, lokasi, jadwal terperinci, cakupan peserta, ataupun bentuk dukungan dari masing-masing pihak. Karena itu, rincian tersebut belum dapat dipastikan dan tidak sebaiknya diasumsikan sebagai bagian dari kesepakatan.
Dalam kerangka pengembangan kompetisi nasional, rencana untuk 2027 dapat dibaca sebagai upaya memperluas kesempatan bertanding dan menjaga perhatian terhadap cabang olahraga di luar agenda utama. Kejuaraan yang terselenggara secara terencana berpotensi memberi atlet pengalaman kompetitif, sementara keterlibatan sektor industri dapat menjadi bagian dari penjajakan kemitraan bagi kegiatan olahraga. Pelaksanaan dan dampaknya tetap bergantung pada perkembangan rencana serta pengaturan yang nantinya diumumkan. Bagi KONI, agenda ini juga relevan dengan upaya membangun ekosistem olahraga yang melibatkan lebih banyak pihak, tanpa mengubah pentingnya pembinaan atlet dan kesiapan penyelenggaraan. Dengan demikian, kolaborasi yang direncanakan bersama Chandra Asri menjadi salah satu langkah yang patut dicermati dalam perluasan kejuaraan nasional menuju 2027.
Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII/2028 telah ditetapkan berlangsung di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Penetapan kedua provinsi sebagai tuan rumah menjadi dasar bagi KONI Pusat untuk menyiapkan penyelenggaraan dengan mempertimbangkan kondisi wilayah serta ketersediaan sarana pertandingan. Persiapan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jadwal dan kebutuhan teknis, tetapi juga memastikan venue yang akan digunakan dapat mendukung pelaksanaan cabang olahraga secara layak.
Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman menyampaikan bahwa pihaknya menugaskan Wakil Ketua Umum I, Mayjen TNI Purn Dr. Suwarno, bersama tim untuk meninjau kondisi wilayah setelah terjadinya bencana alam. Peninjauan itu mencakup pemeriksaan kelayakan venue yang direncanakan untuk PON 2028. Tim juga mengkaji kemungkinan pemindahan lokasi pertandingan apabila keadaan atau hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa venue tertentu tidak dapat digunakan secara optimal. Langkah tersebut diperlukan agar keputusan penyelenggaraan dibuat berdasarkan kondisi aktual, bukan semata-mata rencana awal.
Dalam menyiapkan ajang olahraga nasional tersebut, Marciano menekankan prinsip efisiensi anggaran. KONI tidak merencanakan pembangunan gelanggang olahraga baru, melainkan akan memanfaatkan venue yang telah tersedia di NTT dan NTB. Pendekatan ini diarahkan untuk mengoptimalkan sarana yang ada sekaligus menghindari kebutuhan pembangunan fasilitas baru yang dapat menambah beban anggaran. Kelayakan setiap venue tetap menjadi pertimbangan utama, sehingga penggunaan fasilitas yang tersedia harus disesuaikan dengan kebutuhan teknis masing-masing cabang olahraga.
Apabila venue untuk cabang olahraga tertentu tidak tersedia di kedua provinsi tuan rumah opsi yang disiapkan.





