Keselamatan dan Rasa Aman Anak Perlu Jadi Prioritas Orangtua

Keselamatan dan Rasa Aman Anak Perlu Jadi Prioritas Orangtua

Samarinda | Dua kejadian yang diberitakan dalam waktu berdekatan menjadi pengingat tentang pentingnya pengawasan terhadap anak. Di Samarinda, seorang anak berusia tiga tahun jatuh dari balkon lantai lima sebuah hotel ketika orangtuanya sedang sarapan di restoran hotel. Beberapa hari kemudian, pendaki menemukan seorang anak berusia di bawah tiga tahun menangis sendirian di dalam tenda di kawasan Gunung Prau, sementara orangtuanya melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Keterangan yang tersedia mengenai peristiwa di tenda menyebutkan bahwa orangtua anak tersebut mengatakan telah menitipkannya kepada seorang teman yang berada di tenda sebelah. Namun, teman itu sedang tertidur ketika anak terbangun. Informasi tersebut menjelaskan bagaimana anak akhirnya berada sendirian saat ditemukan pendaki, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kedua kejadian memiliki latar belakang atau kondisi yang sama.

Peristiwa di hotel dan di gunung berlangsung dalam situasi berbeda. Yang satu terjadi ketika orangtua berada di restoran hotel, sedangkan yang lain berkaitan dengan keputusan untuk melanjutkan perjalanan dan menitipkan anak kepada teman. Karena itu, keduanya perlu dibahas sesuai informasi yang tersedia, tanpa menyamakan keadaan ataupun membuat dugaan mengenai hal-hal yang tidak dilaporkan. Dalam kedua konteks, perhatian publik tertuju pada risiko yang dapat muncul ketika anak tidak berada dalam pengawasan langsung yang memadai.

Psikolog klinis Indah Sulistyorini mengingatkan orangtua agar mempertimbangkan risiko terhadap keselamatan anak dalam setiap keputusan. Pertimbangan itu penting, termasuk ketika orangtua perlu beristirahat, makan, berpindah tempat, atau mengikuti kegiatan di luar rumah. Menitipkan anak kepada orang lain juga perlu disertai kepastian bahwa orang tersebut siap dan mampu mengawasi, serta mengetahui apa yang harus dilakukan apabila anak terbangun atau membutuhkan bantuan.

Pengingat ini bukan untuk menyimpulkan niat atau menyalahkan pihak tertentu berdasarkan informasi terbatas. Sebaliknya, kejadian-kejadian tersebut menunjukkan perlunya perencanaan yang menempatkan kebutuhan dan kemampuan anak sebagai pertimbangan utama. Orangtua dapat menilai lingkungan, bahaya yang mungkin ada, dan siapa yang benar-benar bertanggung jawab menjaga anak sebelum mengambil keputusan. Pengawasan yang sesuai dengan situasi membantu mengurangi paparan terhadap risiko dan mendukung rasa aman anak.

Indah menjelaskan bahwa anak berusia tiga tahun belum memiliki kemampuan kognitif yang cukup untuk memperkirakan dampak dari tindakannya. Pada tahap perkembangan ini, anak sedang aktif mengenali berbagai hal di sekitarnya dan terdorong oleh rasa ingin tahu yang besar. Ia mungkin tertarik menyentuh benda, mendekati tempat tertentu, atau mencoba melakukan sesuatu tanpa memahami akibat yang dapat muncul. Keinginan untuk menjelajah bukan berarti anak telah mampu menilai apakah suatu tindakan aman atau berbahaya. Kemampuan memahami hubungan pilihan dan konsekuensi masih berkembang, sehingga anak belum dapat diharapkan menimbang risiko secara matang.

Menurut penjelasan tersebut, anak kecil juga belum sepenuhnya memahami bahaya yang mungkin timbul dari lingkungan maupun kegiatan sehari-hari. Sesuatu yang tampak menarik bagi anak dapat menyimpan risiko yang belum mampu ia kenali sendiri. Karena itu, pengawasan orang dewasa tetap diperlukan, termasuk ketika anak berada di rumah atau sedang melakukan aktivitas yang tampak biasa. Pengawasan bukan semata-mata membatasi gerak anak, melainkan memastikan bahwa ia dapat bereksplorasi dalam lingkungan yang aman. Orang dewasa perlu hadir untuk mengantisipasi situasi berbahaya, memberi arahan, dan melindungi anak ketika ia belum bisa menjaga keselamatannya secara mandiri.

Indah menyampaikan penjelasan tersebut melalui sambungan telepon pada Minggu (18/10/2026). Keterangan ini menegaskan pentingnya orangtua menilai kemampuan anak berdasarkan tahap perkembangannya, bukan memakai ukuran kemampuan orang dewasa. Anak usia tiga tahun mungkin terlihat berani atau mampu mengikuti instruksi sederhana, tetapi hal itu tidak serta-merta berarti ia dapat memperhitungkan risiko dari setiap tindakannya. Orangtua sebaiknya mempertimbangkan apa yang telah dan belum dipahami anak sebelum memberikan keleluasaan dalam suatu kegiatan. Dengan memahami keterbatasan tersebut, orangtua dapat menetapkan pengawasan dan perlindungan yang sesuai, sekaligus memberi ruang bagi anak untuk belajar dan menjelajahi lingkungan secara aman.

Rasa aman anak tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya orang dewasa di dekatnya. Pada masa awal kehidupan, anak membutuhkan hubungan yang konsisten dan responsif dengan orangtua atau pengasuh utama. Pola hubungan ini membantu membentuk secure attachment, atau kelekatan aman, sehingga anak belajar bahwa kebutuhannya akan diperhatikan dan ia dapat mencari perlindungan ketika merasa takut. Kehadiran fisik saja belum tentu cukup apabila anak belum mengenal atau merasa nyaman dengan orang yang menjaganya.

Dalam kejadian di tenda, seorang anak yang terbangun lalu tidak menemukan orangtuanya dapat mengalami takut, cemas, atau tidak nyaman. Bagi orang dewasa, orangtua mungkin hanya pergi sementara untuk menuju puncak dan akan kembali. Namun, anak seusia itu belum tentu memahami alasan maupun lamanya perpisahan tersebut. Tanpa pemahaman itu, situasi yang tampak singkat bagi orang dewasa bisa terasa membingungkan dan mengusik rasa aman anak. Reaksi anak dapat berbeda-beda, bergantung pada usia, pengalaman sebelumnya, kondisi saat itu, dan siapa yang berada bersamanya.

Menurut Indah, pengalaman yang mengganggu rasa aman berpotensi memengaruhi perkembangan hubungan anak dengan orang lain dan dapat berkaitan dengan terbentuknya kelekatan yang tidak sehat di kemudian hari. Hal ini bukan berarti satu kejadian pasti menimbulkan dampak jangka panjang yang sama pada setiap anak. Pengaruhnya dipengaruhi oleh berbagai keadaan, termasuk seberapa sering situasi serupa terjadi dan bagaimana orang dewasa merespons kebutuhan anak setelahnya. Karena itu, orangtua perlu memperhatikan tanda ketidaknyamanan dan membantu anak kembali merasa terlindungi.

Menitipkan anak bukan sekadar memastikan ada orang lain yang berada di dekatnya. Orangtua perlu mempertimbangkan apakah anak mengenal, mempercayai, dan merasa nyaman dengan orang tersebut, serta apakah pengasuh memahami cara merespons kebutuhan anak. Kepercayaan membutuhkan waktu dan tidak otomatis terbentuk hanya karena orangtua menjelaskan bahwa seseorang dapat dipercaya. Jika memungkinkan, kenalkan pengasuh secara bertahap, beri anak kesempatan berinteraksi saat orangtua masih hadir, dan sampaikan rencana perpisahan dengan bahasa yang sesuai usianya. Langkah ini membantu anak menghadapi perubahan dengan lebih tenang.

Indah berharap dua peristiwa tersebut dapat menjadi pelajaran bagi pasangan muda yang memiliki anak kecil. Peristiwa itu mengingatkan bahwa anak membutuhkan pengawasan yang memadai dan tidak seharusnya ditinggalkan tanpa pendampingan yang cukup. Menjaga anak bukan sekadar memastikan keberadaannya, melainkan juga menempatkan kebutuhan dan keselamatannya sebagai hal yang diperhatikan dalam keputusan sehari-hari. Bagi orangtua, tanggung jawab tersebut melekat pada pilihan untuk memiliki anak. Karena itu, Indah berharap pengalaman dari kedua peristiwa ini mendorong pasangan muda memahami besarnya tanggung jawab yang menyertai pengasuhan, terutama ketika anak masih kecil dan membutuhkan perhatian orang dewasa.

Menurut Indah, psikolog di Yayasan Pulih, keputusan memiliki anak perlu disertai kesiapan untuk memprioritaskan kebutuhan serta keselamatan anak. Kesiapan itu tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan praktis, tetapi juga mencakup kematangan kognitif dan emosional orangtua. Kematangan kognitif berhubungan dengan kemampuan memahami tanggung jawab dan mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan yang diambil. Sementara itu, kematangan emosional dibutuhkan agar orangtua dapat menghadapi situasi pengasuhan dengan pertimbangan yang sesuai. Kedua aspek tersebut merupakan bagian dari kesiapan menjalankan peran sebagai orangtua, bukan hal yang terpisah dari tanggung jawab menjaga anak.

Indah juga menekankan pentingnya kemampuan orangtua untuk menahan diri dan mengelola emosi.

Baca juga: Jamin Keselamatan Personel, Tim Kesehatan Latgabma SGS 2026 Gelar Medical Exchange Method | Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT | Trauma Healing Korem 161/WS Bangkitkan Keceriaan Anak-Anak Korban Gempa Flores