Pencairan Thwaites Makin Cepat, Proyeksi Kenaikan Laut Global Bertambah

Pencairan Thwaites Makin Cepat, Proyeksi Kenaikan Laut Global Bertambah

Jakarta | Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications menunjukkan bahwa Gletser Thwaites kehilangan massa es lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Temuan ini menantang gambaran yang dihasilkan oleh model lapisan es konvensional, yang selama ini menjadi dasar untuk memperkirakan kontribusi gletser tersebut terhadap kenaikan permukaan laut. Thwaites berada di Antartika Barat dan mendapat perhatian besar karena ukurannya serta posisinya yang rentan terhadap perubahan laut dan atmosfer. Perubahan pada gletser ini dapat memengaruhi proyeksi iklim dan wilayah pesisir di berbagai belahan dunia.

Dengan menggunakan pendekatan yang mempertimbangkan proses fisik yang lebih beragam, para peneliti memperkirakan Thwaites dapat menyumbang kenaikan permukaan laut global hingga 30 milimeter, atau sekitar 1,2 inci, pada tahun 2100. Angka tersebut tetap mungkin tercapai bahkan tanpa pemanasan tambahan di luar kondisi yang telah terjadi belakangan ini. Artinya, laju kehilangan es yang sudah berlangsung dapat mendorong kenaikan muka laut secara berarti, sekalipun pemanasan tidak meningkat lebih jauh dari tingkat terkini. Hasil tersebut bukan berarti kenaikan sebesar itu sudah pasti terjadi, melainkan menunjukkan besarnya potensi kontribusi yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan.

Perkiraan baru ini sekitar dua kali lipat dibandingkan hasil model lapisan es konvensional sebelumnya, yang menempatkan kontribusi Thwaites pada sekitar 15 milimeter, atau 0,6 inci, pada tahun yang sama. Selisih tersebut penting karena proyeksi kenaikan laut digunakan untuk menilai risiko banjir pesisir, merancang perlindungan infrastruktur, dan menyusun kebijakan adaptasi jangka panjang. Perbedaan angka juga mencerminkan bahwa hasil proyeksi bergantung pada cara proses pencairan dan dinamika es dimasukkan ke dalam model. Karena itu, temuan ini memperkuat kebutuhan untuk memperbarui metode pemodelan serta memantau kondisi gletser secara berkelanjutan. Bagi masyarakat pesisir, angka itu tidak berdiri sendiri: kontribusi Thwaites bergabung dengan pengaruh pemuaian air laut dan pencairan es di wilayah lain. Meski demikian, revisi proyeksi ini menegaskan bahwa ketidakpastian bukan alasan untuk mengabaikan risiko. Perencanaan yang mempertimbangkan skenario lebih tinggi dapat membantu mengurangi kerentanan ketika permukaan laut terus berubah selama abad ini.

Penelitian terhadap Gletser Thwaites menyoroti peran air laut hangat yang bergerak masuk ke bawah lapisan es. Air tersebut dapat meresap beberapa kilometer ke bagian bawah gletser, lalu mencairkan es dari sisi yang tidak terlihat langsung di permukaan. Mekanisme ini penting karena pencairan tidak hanya berlangsung pada bagian es yang terpapar udara atau laut terbuka. Ketika air hangat mencapai bagian bawah, es dapat terkikis dari bawah, sehingga perubahan pada lapisan tersebut menjadi bagian dari proses yang perlu diperhitungkan dalam memahami kemunduran Thwaites.

Perhatian penelitian secara khusus tertuju pada zona landasan, atau grounding zone. Kawasan ini menandai batas es yang masih bertumpu pada dasar batuan dan es yang telah mengapung di atas laut. Dengan demikian, zona landasan merupakan tempat perubahan hubungan gletser dan dasar batuan berlangsung. Pengamatan pada wilayah ini membantu menjelaskan bagaimana air laut hangat dapat mencapai bagian bawah lapisan es dan mencairkannya. Fokus tersebut bukan sekadar pada tepi gletser yang terlihat, melainkan pada kawasan peralihan yang berada di bawah es.

Aliran air hangat ke bawah lapisan es dinilai sebagai salah satu faktor utama yang mendorong kemunduran Gletser Thwaites. Proses pencairan dari bawah dapat memengaruhi bagian es yang sebelumnya ditopang oleh batuan, terutama di sekitar zona landasan, tempat es mulai mengapung. Temuan ini memperjelas mengapa kondisi air laut di bawah gletser perlu menjadi bagian dari kajian mengenai perubahan Thwaites. Meski mekanisme yang disorot berfokus pada peresapan air hangat dan pencairan bawah, penelitian tersebut menegaskan bahwa proses yang berlangsung di bawah permukaan memiliki kaitan penting dengan perubahan gletser.

Gletser Thwaites berada di Antartika Barat dan membentang sekitar 192.000 kilometer persegi. Luas tersebut kira-kira sebanding dengan Senegal dan lebih besar daripada negara bagian Florida di Amerika Serikat. Ukurannya membantu menjelaskan mengapa perubahan pada Thwaites menjadi perhatian ilmuwan iklim: gletser ini bukan sekadar bongkahan es terisolasi, melainkan bagian penting dari sistem lapisan es yang luas dan saling terhubung. Letaknya di wilayah pesisir Antartika Barat juga membuat perilakunya berkaitan erat dengan pertemuan daratan, es, dan laut.

Thwaites merupakan bagian dari Lapisan Es Antartika Barat, yang menyimpan es dalam jumlah besar di atas daratan. Gletser ini, bersama gletser lain seperti Pine Island, berperan sebagai penahan atau penopang bagi aliran es dari pedalaman menuju laut. Ketika penopang tersebut melemah atau mundur, lebih banyak es daratan berpotensi mengalir ke laut. Es yang berada di daratan dan kemudian masuk ke laut dapat menambah volume air laut, berbeda dari es laut yang sudah mengapung dan mencair. Karena itu, perubahan pada gletser-gletser utama Antartika Barat dapat memengaruhi kontribusi kawasan tersebut terhadap kenaikan permukaan laut global.

Thwaites kerap dijuluki “gletser kiamat” karena keruntuhan besar yang mungkin terjadi dapat membawa konsekuensi serius, termasuk mendorong kenaikan permukaan laut dan mengubah kestabilan bagian lain dari lapisan es di sekitarnya. Julukan itu menggambarkan besarnya potensi risiko, bukan ramalan bahwa gletser pasti akan runtuh pada waktu tertentu. Waktu, besaran, dan kemungkinan perubahan tersebut masih menjadi objek penelitian, dengan para ilmuwan menilai kondisi es, dasar gletser, serta pengaruh air laut yang lebih hangat. Dengan memahami posisi dan fungsi Thwaites, publik dapat melihat bahwa persoalannya bukan hanya luas satu gletser, tetapi juga perannya dalam mengatur seberapa cepat es Antartika Barat berpindah dari daratan ke laut. Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk memperbaiki proyeksi dan mengukur bagaimana perubahan pada kawasan ini dapat berkontribusi terhadap kenaikan laut di masa mendatang.

Perubahan pada Gletser Thwaites tidak hanya menjadi kekhawatiran untuk masa depan; kehilangan esnya sudah terukur selama beberapa dekade. Saat ini, gletser di Antarktika Barat tersebut menyumbang sekitar 4 persen dari kenaikan muka laut global. Angka itu menunjukkan bahwa perubahan di satu kawasan es dapat turut memengaruhi garis pantai jauh dari Antarktika. Karena itu, laju kehilangan es Thwaites menjadi bagian penting dalam menilai perkembangan kenaikan permukaan laut dan risiko yang menyertainya bagi masyarakat pesisir.

Sejak tahun 2000, Thwaites telah kehilangan lebih dari 1 triliun ton es. Kehilangan itu masih berlangsung, dengan perkiraan sekitar 50 miliar ton es per tahun. Besaran tersebut menggambarkan proses yang berkelanjutan, bukan kejadian sesaat. Para ilmuwan memantau gletser ini dengan saksama sejak mereka menemukan pada 1980-an bahwa es di wilayah tersebut mengalami kemunduran cepat. Pengamatan jangka panjang membantu peneliti memahami perubahan yang terjadi, sekaligus menempatkan pengukuran terbaru dalam konteks yang lebih luas. Data kehilangan massa es dan perubahan gletser menjadi dasar untuk menilai kontribusinya terhadap kenaikan muka laut.

Tekanan terhadap Thwaites juga perlu dipahami dalam konteks pemanasan global. Perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia, terutama pemanasan terkait emisi bahan bakar fosil, meningkatkan suhu laut. Air laut yang lebih hangat menambah tekanan pada gletser, termasuk Thwaites, sebagaimana juga terjadi pada gletser di berbagai belahan dunia. Hubungan ini tidak berarti setiap perubahan dapat dijelaskan oleh satu faktor saja, tetapi pemanasan laut merupakan bagian penting dari kondisi yang dihadapi es. Ketika kehilangan es terus berlangsung, pemantauan ilmiah diperlukan untuk mengikuti perubahan dan memperbarui pemahaman mengenai dampaknya.