Semarang | Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mengembangkan konsep aglomerasi wisata Borobudur–Kopeng–Rawa Pening, yang dikenal dengan singkatan BOKOR. Gagasan ini menempatkan sejumlah destinasi di kawasan tersebut sebagai bagian dari satu rangkaian perjalanan, bukan sebagai tujuan yang berdiri sendiri. Dengan pendekatan itu, wisatawan diharapkan dapat mengenal lebih banyak sisi Jawa Tengah dalam satu kunjungan, sekaligus memperoleh alasan untuk tinggal lebih lama dan menjelajahi kawasan secara lebih menyeluruh.
Ketiga kawasan memiliki karakter yang berbeda dan dapat saling melengkapi. Borobudur dikenal melalui warisan sejarah dan budayanya, sementara Kopeng menawarkan suasana dataran tinggi dengan lanskap alam yang khas. Rawa Pening menghadirkan pengalaman wisata yang berkaitan dengan danau serta lingkungan sekitarnya. Perbedaan daya tarik tersebut menjadi modal utama BOKOR: perjalanan dapat dirancang dengan variasi kegiatan dan suasana, sehingga tidak hanya berpusat pada satu objek atau jenis wisata.
Pengembangan aglomerasi ini pada dasarnya mendorong keterhubungan antardestinasi. Wisatawan dapat menyusun perjalanan yang mencakup beberapa titik sesuai waktu dan minat, sedangkan kawasan-kawasan yang terlibat memperoleh kesempatan untuk saling memperkuat promosi. Konsep tersebut juga membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk menawarkan layanan dan produk kepada pengunjung yang bergerak di sepanjang rute, termasuk pengalaman kuliner, penginapan, dan aktivitas setempat. Dengan demikian, manfaat kunjungan berpotensi tersebar lebih luas.
BOKOR bukan sekadar upaya memperkenalkan beberapa nama destinasi dalam satu paket, melainkan cara memandang kawasan sebagai pengalaman wisata yang terpadu. Agar gagasan ini berkembang, konektivitas perjalanan, informasi bagi wisatawan, serta koordinasi pengelolaan antardaerah perlu mendapat perhatian. Jika hubungan antartitik terasa mudah dan jelas, wisatawan dapat memahami bahwa Borobudur, Kopeng, dan Rawa Pening menawarkan pengalaman yang berbeda tetapi saling terkait. Rangkaian tersebut diharapkan memperluas daya tarik pariwisata Jawa Tengah dan mendorong kunjungan yang lebih beragam.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menyebut pengembangan sport tourism atau wisata olahraga sebagai salah satu unsur yang dapat menggerakkan konsep BOKOR sebagai rangkaian wisata terpadu di Jawa Tengah. Dalam pendekatan ini, kegiatan olahraga tidak berdiri sendiri, tetapi dirancang beriringan dengan potensi alam, sejarah, dan pengalaman lokal yang dimiliki suatu kawasan. Menurut Sumarno, penggabungan tersebut memberi alasan tambahan bagi wisatawan untuk datang sekaligus membuka kesempatan mengenal karakter wilayah secara lebih dekat. Gagasan itu menjadi salah satu cara memperluas pilihan kegiatan wisata dan mendorong kunjungan yang menawarkan pengalaman, bukan semata-mata perjalanan menuju satu tempat.
Contoh yang disampaikan adalah Rawapening Run Heritage, sebuah ajang lari yang memadukan aktivitas olahraga dengan pengalaman menikmati alam dan sejarah Ambarawa. Peserta tidak hanya mengikuti rute untuk berlari, tetapi juga berkesempatan menyaksikan lingkungan di sekitar kawasan Rawapening serta mengenal jejak sejarah yang melekat pada Ambarawa. Perpaduan tersebut menjadikan kegiatan ini berbeda dari lomba lari yang hanya berfokus pada pencapaian waktu atau jarak. Unsur lanskap dan warisan sejarah ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman peserta, sehingga olahraga dapat menjadi pintu masuk untuk menjelajahi destinasi. Model seperti ini juga memperlihatkan bagaimana satu kegiatan dapat menghubungkan beberapa daya tarik dalam satu perjalanan.
Sumarno menyampaikan pandangan tersebut di Semarang pada Sabtu, saat peluncuran dan konferensi pers Road to Rawapening Run Heritage. Keterangan itu menegaskan bahwa sport tourism dapat berperan dalam mengembangkan wisata terpadu ketika kegiatan dirancang dengan memperhatikan identitas dan keunggulan setempat. Rawapening Run Heritage menjadi ilustrasi awal mengenai hubungan aktivitas fisik, daya tarik alam, dan narasi sejarah dalam suatu agenda wisata. Bagi pengunjung, perpaduan tersebut berpotensi menghadirkan pengalaman yang lebih beragam; bagi daerah, acara olahraga dapat membantu memperkenalkan destinasi kepada khalayak yang lebih luas. Dalam kerangka BOKOR, pengembangan semacam ini menempatkan kegiatan olahraga sebagai salah satu penggerak, bersama unsur wisata lain yang saling melengkapi. Pelaksanaan dan pengembangan kegiatan tetap perlu menjaga kenyamanan pengunjung serta menghormati lingkungan dan nilai sejarah kawasan.
Sumarno memandang pengembangan pariwisata perlu dilakukan secara terintegrasi agar kunjungan wisata tidak berhenti pada satu destinasi saja. Ketika sebuah tempat menarik perhatian pengunjung, kawasan di sekitarnya juga perlu hadir sebagai bagian dari pengalaman perjalanan. Dengan begitu, wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama, menjelajahi lebih banyak lokasi, dan mengenal karakter daerah secara lebih utuh. Pendekatan ini turut membuka peluang agar manfaat ekonomi pariwisata dirasakan oleh lebih banyak pelaku usaha dan masyarakat setempat, bukan hanya oleh pengelola satu objek wisata.
Gagasan tersebut dapat diwujudkan melalui aglomerasi, yaitu menghubungkan sejumlah tempat yang memiliki ciri dan daya tarik berbeda ke dalam satu rangkaian wisata. Setiap destinasi dapat menyumbangkan pengalaman tersendiri: ada yang menawarkan keindahan alam, sejarah, budaya, kuliner, kegiatan rekreasi, atau suasana perdesaan. Perbedaan itu bukan hambatan, melainkan kekuatan yang membuat perjalanan terasa lebih kaya. Wisatawan dapat menyusun agenda sesuai minat dan waktu, sementara kawasan memperoleh identitas yang lebih luas daripada sekadar satu objek unggulan.
Rangkaian wisata yang terpadu juga memerlukan konektivitas dan informasi yang jelas. Akses antarlokasi, petunjuk perjalanan, pilihan transportasi, serta promosi bersama membantu pengunjung memahami hubungan satu tempat dan tempat lainnya. Koordinasi pengelola dan pemerintah daerah penting agar layanan, kebersihan, keamanan, dan kualitas pengalaman terjaga secara konsisten. Jika unsur-unsur tersebut direncanakan dengan baik, wisatawan lebih mudah berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain tanpa merasa perjalanan terputus atau membingungkan.
Dengan pilihan yang lebih beragam, kawasan wisata berpeluang menarik segmen pengunjung yang berbeda dan mendorong kunjungan berulang. Pengunjung yang awalnya datang untuk satu tujuan dapat menemukan pengalaman tambahan di sekitar lokasi, sedangkan pelaku usaha setempat dapat menawarkan produk maupun layanan yang saling melengkapi. Bagi Sumarno, pengembangan terpadu semacam ini dapat meningkatkan daya tarik kawasan secara keseluruhan. Kuncinya adalah merangkai keunikan setiap tempat secara terencana, bukan menyeragamkannya, sehingga perjalanan terasa saling terhubung sekaligus tetap mempertahankan karakter masing-masing destinasi.Sumarno menyambut penyelenggaraan Rawapening Run Heritage sebagai kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan Rawa Pening dan Ambarawa kepada khalayak yang lebih luas. Menurutnya, kegiatan ini dapat membantu menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki daya tarik yang tidak hanya relevan bagi masyarakat setempat, tetapi juga berpotensi menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah, termasuk luar Jawa Tengah. Kehadiran peserta dan pengunjung melalui sebuah ajang olahraga memberi ruang bagi mereka untuk mengenal karakter wilayah secara langsung. Potensi alam dan sejarah di sekitar Ambarawa pun dapat hadir sebagai bagian dari pengalaman wisata, bukan sekadar informasi yang dibaca atau didengar.
Nama Rawapening Run Heritage mencerminkan perpaduan pengalaman yang menjadi daya tarik penyelenggaraan tersebut. Unsur lari menghadirkan aktivitas fisik, sementara bentang alam Rawa Pening memberi latar yang khas bagi peserta. Pada saat yang sama, jejak sejarah Ambarawa menambahkan dimensi budaya dan cerita tentang kawasan yang dilalui atau dikunjungi. Perpaduan olahraga, lanskap, dan warisan sejarah ini dapat membuat kunjungan terasa lebih beragam. Peserta tidak hanya datang untuk berolahraga, tetapi juga berkesempatan mengamati lingkungan sekitar dan memahami nilai yang melekat pada tempat tersebut.
Sambutan Sumarno juga menempatkan kegiatan ini sebagai sarana promosi yang dapat memperluas pengenalan destinasi. Ajang berbasis pengalaman memungkinkan potensi daerah tampil melalui kesan yang dibawa pulang oleh peserta, keluarga, dan pengunjung.
Baca juga: Panglima TNI Bersama Menko Polkam Lepas Satgas Terpadu Port Visit 2026 | Kewaspadaan dan Komunikasi Terpadu Jadi Kunci Latihan Force on Force SGS MARFOR Lampung 2026 | HADR Latgabma SGS 2026 Perkuat Respons Terpadu Hadapi Bencana






