Jakarta | Pada perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, harga emas dan perak turun bersamaan, memperpanjang pelemahan hingga tiga hari beruntun. Data penutupan Refinitiv menunjukkan emas berada di US.105,12 per troy ons setelah terkoreksi 1,2%. Posisi tersebut menjadi yang terendah sejak 4 Agustus 2026. Perak ditutup pada US,63 per troy ons, anjlok 6,3% dan mencapai level terendah sejak 17 Juli 2026. Penurunan kedua logam mulia ini menunjukkan tekanan jual yang masih berlangsung di pasar.
Besarnya penurunan perak pada sesi tersebut lebih tajam daripada koreksi emas. Selisih kinerja ini menegaskan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada satu jenis logam mulia, meskipun pergerakan harganya memiliki skala berbeda. Emas kehilangan lebih dari satu persen, sementara perak merosot lebih dari enam persen. Dengan penutupan di titik terendah dalam beberapa bulan, kedua komoditas mengakhiri sesi Rabu pada level yang mencerminkan pelemahan berkelanjutan.
Pergerakan pada awal perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, belum menunjukkan pembalikan arah yang berarti. Pada pukul 06.39 WIB, harga emas kembali melemah 0,08% ke US$4.101,9 per troy ons. Pada waktu yang sama, perak turun 0,05% menjadi US$55,64 per troy ons. Angka tersebut memperlihatkan bahwa harga emas dan perak masih bergerak turun dibandingkan penutupan hari sebelumnya, meskipun perubahan persentasenya pada pagi itu relatif kecil.
Perbedaan harga penutupan Rabu dan kuotasi Kamis pagi perlu dibaca dengan memperhatikan waktu pencatatan. Harga penutupan menggambarkan hasil perdagangan pada sesi sebelumnya, sedangkan angka pukul 06.39 WIB menunjukkan perkembangan pada awal hari berikutnya. Dalam rentang tersebut, emas bergerak sedikit lebih rendah dari penutupan, sementara perak juga tercatat turun tipis secara persentase. Namun, nilai perak yang dilaporkan pada pagi hari, US$55,64, sedikit di atas harga penutupan US$55,63. Secara keseluruhan, rangkaian data itu menempatkan kedua logam dalam tren pelemahan tiga hari berturut-turut.
Tekanan terhadap harga emas dan perak menguat setelah data inflasi terbaru Amerika Serikat menunjukkan kenaikan yang lebih besar daripada perkiraan pasar. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk September 2026 meningkat 0,6%, dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus. Angka tersebut melampaui ekspektasi dan mengisyaratkan bahwa tekanan harga belum mereda sesuai harapan. Bagi pelaku pasar, hasil ini menjadi pertimbangan penting dalam memperkirakan langkah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) berikutnya. Inflasi yang bertahan tinggi dapat mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan ketat atau menaikkan suku bunga untuk menahan laju kenaikan harga.
Perubahan ekspektasi itu tercermin dalam CME FedWatch Tool. Setelah data IHK dirilis, peluang kenaikan suku bunga pada bulan ini naik menjadi sekitar 42%, dari 22% sebelum laporan inflasi diumumkan. Sementara itu, kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 93%. Angka probabilitas tersebut bukan keputusan resmi The Fed, melainkan gambaran tentang perkiraan pasar berdasarkan harga instrumen keuangan. Meski demikian, lonjakan peluang itu menunjukkan bahwa investor menilai data inflasi September dapat memperkuat alasan bagi bank sentral untuk mengambil sikap lebih tegas.
Prospek suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi hambatan bagi logam mulia. Emas dan perak tidak memberikan bunga atau imbal hasil rutin, sehingga daya tarik relatifnya dapat menurun ketika aset berbunga menawarkan potensi keuntungan lebih besar. Kenaikan suku bunga juga dapat menopang dolar AS, yang berpotensi membuat komoditas berdenominasi dolar lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Namun, hubungan tersebut tidak selalu bergerak satu arah. Emas kerap dipandang sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, sehingga sebagian investor tetap menggunakannya untuk menjaga nilai aset. Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada respons The Fed dan data ekonomi berikutnya untuk menilai apakah tekanan harga cukup kuat untuk mendorong pengetatan lebih lanjut.Selain tekanan dari data inflasi, pergerakan mata uang dan pasar obligasi turut membebani harga emas. Indeks dolar AS menguat 0,5% ke level 102,55, mencerminkan kenaikan nilai dolar terhadap sejumlah mata uang utama. Karena emas diperdagangkan dalam dolar, penguatan mata uang tersebut membuat logam mulia ini lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Kondisi itu dapat mengurangi daya tarik dan permintaan emas di pasar internasional, terutama ketika investor mempertimbangkan biaya pembelian yang meningkat.
Tekanan tambahan datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun. Emas tidak memberikan bunga, sehingga ketika imbal hasil aset berbunga naik, biaya peluang untuk memegang logam mulia cenderung meningkat. Investor dapat membandingkan potensi perlindungan nilai dari emas dengan pendapatan yang ditawarkan obligasi. Perubahan tersebut tidak selalu menentukan arah harga secara tunggal, tetapi dapat memperkuat tekanan jual ketika berlangsung bersamaan dengan dolar yang menguat dan ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.
David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, menilai data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang melampaui perkiraan dan masih berada di atas target Federal Reserve mengisyaratkan bahwa bank sentral lebih mungkin menaikkan suku bunga. Prospek suku bunga yang lebih tinggi dapat menopang dolar, sebab aset berdenominasi dolar berpotensi menawarkan imbal hasil lebih menarik. Menurut Meger, penguatan dolar sebagai dampak dari prospek kebijakan tersebut turut menambah tekanan pada emas. Kombinasi faktor itu membantu menjelaskan mengapa harga logam mulia sulit pulih meski ketidakpastian ekonomi masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Namun, arah kebijakan berikutnya belum dipastikan. Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, menyatakan bahwa bank sentral masih memiliki waktu untuk memantau perkembangan pasar keuangan dan ekonomi setelah kenaikan suku bunga pada September, sebelum menentukan langkah selanjutnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa keputusan kebijakan akan bergantung pada informasi yang tersedia, bukan semata-mata pada satu rilis data. Bagi pasar emas, ruang pemantauan tersebut berarti ekspektasi suku bunga dapat berubah mengikuti data ekonomi mendatang. Untuk sementara, dolar yang lebih kuat dan imbal hasil obligasi yang meningkat tetap menjadi faktor yang menekan harga, sementara investor menilai sinyal inflasi dan komunikasi pejabat bank sentral.Tekanan inflasi Amerika Serikat dan prospek suku bunga yang tetap tinggi dapat terus membatasi daya tarik emas dan perak dalam jangka pendek. Ketika imbal hasil aset berbunga meningkat, investor menghadapi biaya peluang lebih besar untuk memegang logam mulia yang tidak memberikan bunga. Penguatan dolar juga dapat membuat emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Faktor-faktor tersebut membantu menjelaskan mengapa harga kedua logam masih rentan terhadap tekanan, meskipun pergerakan harian dapat berubah mengikuti data ekonomi dan ekspektasi pasar.
Namun, tekanan jangka pendek tidak serta-merta menghapus faktor yang berpotensi menopang emas dalam horizon lebih panjang. Analis Julius Baer, Carsten Menke, menilai pembelian besar-besaran oleh bank sentral dapat memberikan dukungan struktural terhadap permintaan. Sejumlah bank sentral berupaya mendiversifikasi cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan pada aset tertentu, sehingga emas tetap dipandang sebagai salah satu instrumen penyimpan nilai. Arah pembelian resmi tersebut dapat menjadi penyangga ketika minat investor swasta melemah atau ketika suku bunga tinggi menekan harga untuk sementara.
Menke juga menyoroti kekhawatiran mengenai utang pemerintah Amerika Serikat serta beban pembayaran bunga yang terus membesar.







