Upaya Memadamkan Karhutla di Samarinda Berujung Maut, Warga 60 Tahun Meninggal

Upaya Memadamkan Karhutla di Samarinda Berujung Maut, Warga 60 Tahun Meninggal

Kota Samarinda | LJ, seorang pria berusia 60 tahun, meninggal dunia pada Rabu, 14 Oktober 2026, setelah mengalami luka bakar serius saat berusaha memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan perkebunan Jalan Anggur, Kelurahan Sidodadi, Samarinda, Kalimantan Timur. Ia sempat dilarikan ke RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda untuk mendapatkan perawatan medis, tetapi nyawanya tidak tertolong.

Kapolsek Samarinda Ulu AKP Asriadi Jafar mengatakan luka bakar yang dialami LJ mencapai 60 persen dari tubuhnya. Tingkat cedera tersebut menunjukkan beratnya kondisi korban setelah terpapar api ketika ikut berupaya menangani kebakaran di kawasan tersebut. Korban menjalani perawatan di rumah sakit sebelum akhirnya dinyatakan meninggal.

Peristiwa ini bermula ketika kebakaran terjadi di area perkebunan Jalan Anggur. Dalam situasi tersebut, LJ berusaha membantu memadamkan api. Namun, saat melakukan upaya itu, ia mengalami luka bakar serius. Informasi yang disampaikan kepolisian menegaskan bahwa korban kemudian dibawa ke rumah sakit untuk memperoleh penanganan, sebelum meninggal pada hari Rabu.

Insiden tersebut menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi warga ketika menghadapi kebakaran hutan dan lahan secara langsung. Api dapat menyebar atau berubah arah, sementara panas dan asap berpotensi membahayakan orang yang berada di sekitar lokasi. Luka bakar yang luas, seperti yang dialami LJ, merupakan kondisi serius yang memerlukan pertolongan medis segera.

Warga yang menemukan kebakaran di lingkungan sekitar sebaiknya mengutamakan keselamatan dan tidak mendekati titik api apabila tidak memiliki perlengkapan maupun kemampuan yang memadai. Penanganan kebakaran perlu dilakukan oleh petugas yang memiliki peralatan dan prosedur keselamatan. Jika api membesar atau sulit dikendalikan, warga dapat segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar bantuan dapat dikerahkan.

Dalam kasus di Sidodadi ini, upaya LJ membantu memadamkan kebakaran berakhir tragis. Perawatan di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda tidak berhasil menyelamatkannya setelah luka bakar mencapai 60 persen. Keterangan mengenai peristiwa tersebut disampaikan Kapolsek Samarinda Ulu, AKP Asriadi Jafar.

Kebakaran lahan yang menewaskan seorang warga berusia 60 tahun itu terjadi pada Selasa, 13 Oktober 2026, di kawasan perbukitan Samarinda. Api membakar lahan yang ditumbuhi vegetasi kering, sehingga kobaran mudah membesar dan menjalar. Kondisi tersebut diperburuk oleh angin kencang yang membuat arah api berubah dengan cepat. Dalam waktu singkat, titik kebakaran berkembang dan menyebar ke area di sekitarnya, termasuk bagian lereng yang lebih tinggi. Situasi itu menyulitkan warga untuk memperkirakan jalur rambatan api maupun menentukan arah aman untuk menjauh dari lokasi.

Rusli, seorang saksi mata, mengatakan kobaran api mendadak membesar dan berganti arah. Perubahan itu membuat keadaan di lokasi menjadi semakin berbahaya. Api yang semula terlihat di satu bagian lahan dapat bergerak ke arah lain ketika tertiup angin, lalu merambat melalui vegetasi kering. Korban diketahui berada di bagian atas perbukitan saat kebakaran berlangsung. Ketika api meluas dan mengepung area tersebut, ia tidak sempat menyelamatkan diri. Asap tebal juga dilaporkan menyelimuti lokasi, sehingga jarak pandang dan kondisi pernapasan di sekitar titik kebakaran dapat terganggu.

Berdasarkan informasi awal, luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 700 meter persegi. Petugas menerima informasi mengenai kebakaran sekaligus laporan adanya korban sekitar pukul 13.50 WITA. Korban diduga mengalami sesak napas akibat paparan asap, kemudian pingsan sebelum akhirnya terjebak oleh kobaran yang mengepung kawasan perbukitan. Rangkaian informasi tersebut masih menggambarkan kondisi awal yang dilaporkan dari lokasi kejadian. Perubahan arah api akibat angin kencang dan cepatnya rambatan di lahan kering menjadi faktor yang membuat situasi berkembang dalam waktu singkat. Saat area di bagian atas perbukitan tertutup api, kesempatan korban untuk keluar dari lokasi menjadi sangat terbatas. Peristiwa itu menunjukkan betapa cepat kebakaran lahan dapat berubah menjadi keadaan darurat ketika vegetasi kering dan angin mempercepat penyebaran kobaran.

Sebelum korban ditemukan meninggal, ia bersama sejumlah warga berupaya memadamkan kebakaran secara mandiri. Upaya tersebut dilakukan untuk menahan api agar tidak meluas dan mencapai permukiman di sekitar lokasi. Warga berusaha mengendalikan kobaran dengan peralatan yang tersedia, meski kondisi medan dan panas dari api membuat pekerjaan itu berisiko. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana warga kerap mengambil langkah awal ketika kebakaran mengancam lingkungan tempat tinggal mereka.

Setelah kejadian, polisi bersama tim Inafis Polresta Samarinda mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara. Petugas juga melakukan evakuasi terhadap korban. Pemeriksaan di lokasi diperlukan untuk mendokumentasikan kondisi kejadian dan mendukung penanganan lebih lanjut. Namun, proses tersebut tidak dapat dilakukan dengan mudah karena titik kejadian berada di kawasan perbukitan yang terjal.

Petugas gabungan harus melewati jalur yang menanjak dan sulit dilalui untuk mencapai lokasi serta membawa korban keluar. Perjalanan itu juga tetap berbahaya karena masih terdapat sisa bara di sekitar area kebakaran. Bara yang belum sepenuhnya padam berpotensi menimbulkan panas dan menghambat pergerakan petugas. Karena itu, evakuasi dilakukan dengan kehati-hatian, sembari memastikan jalur yang dilalui cukup aman bagi personel yang bertugas.

Sesudah berhasil dievakuasi, korban dibawa ke RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda untuk pemeriksaan medis. Asriadi menyampaikan bahwa pemeriksaan awal oleh tim medis menyatakan korban meninggal dunia akibat luka bakar serius dan paparan hawa panas. Keterangan tersebut menjadi hasil awal pemeriksaan terhadap kondisi korban setelah ditemukan di area kebakaran.

Proses evakuasi yang berat dan temuan medis tersebut memperlihatkan besarnya bahaya yang dihadapi warga maupun petugas saat menangani karhutla. Niat warga untuk mencegah api menjalar ke permukiman berujung pada risiko yang fatal. Medan berbukit, sisa bara, luka bakar, serta paparan panas menjadi faktor penting dalam penanganan kejadian ini. Pemeriksaan di lokasi dan keterangan medis memberikan gambaran awal mengenai peristiwa, sementara keselamatan harus menjadi perhatian utama dalam setiap upaya pemadaman kebakaran lahan.

Dalam perkembangan penanganan insiden tersebut, polisi masih mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi untuk melengkapi kronologi kejadian. Langkah ini diperlukan agar rangkaian peristiwa, termasuk kondisi saat warga berupaya memadamkan kebakaran lahan, dapat dipahami secara utuh. Keterangan para saksi akan membantu penyidik menyusun urutan kejadian dan memperjelas keadaan di lokasi sebelum insiden berujung pada meninggalnya warga berusia 60 tahun itu. Hingga kini, pengumpulan keterangan masih berlangsung, sehingga kronologi lengkap belum disampaikan. Polisi terus menelusuri informasi yang relevan berdasarkan kesaksian yang dihimpun.

Asriadi mengingatkan masyarakat agar berhati-hati ketika menghadapi kebakaran lahan. Upaya membantu memadamkan api perlu mempertimbangkan keselamatan diri dan situasi di sekitar lokasi, sebab kondisi kebakaran dapat berubah dan menimbulkan bahaya. Warga juga diminta tidak memasuki area berisiko tanpa perlengkapan pelindung yang memadai. Imbauan ini penting agar niat membantu tidak justru menempatkan masyarakat dalam keadaan yang membahayakan. Jika kondisi di lapangan dinilai berbahaya, warga sebaiknya menjaga jarak dan menyerahkan penanganan kepada pihak yang memiliki perlengkapan serta kemampuan untuk bekerja dengan aman.

Selain keselamatan saat merespons kebakaran, Asriadi menyerukan penghentian segala bentuk pembukaan lahan pertanian dengan cara membakar, terutama selama musim kemarau ekstrem. Praktik pembakaran berisiko memicu api meluas dan menyulitkan penanganan ketika kondisi lahan kering. Masyarakat diharapkan memilih cara lain untuk menyiapkan lahan pertanian tanpa menggunakan api. Pencegahan menjadi perhatian penting karena kebakaran lahan dapat mengancam keselamatan warga dan lingkungan sekitar.

Baca juga: Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Berikan Sosialisasi Kepada Warga Dalam Upaya Pencegahan Karhutla | Perkuat Kesadaran Warga, Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Bersama Pasis Sesko TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari