Hukum  

Kericuhan Satpol PP dan Pekerja Proyek di Sekitar Kejagung Berujung Laporan Polisi

Kericuhan Satpol PP dan Pekerja Proyek di Sekitar Kejagung Berujung Laporan Polisi

Jakarta | Kericuhan melibatkan pasukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan sejumlah pekerja proyek di sekitar kompleks Kejaksaan Agung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Peristiwa tersebut berlangsung pada Senin, 12 Oktober, ketika rombongan Satpol PP melintas di area itu. Situasi yang semula berada di sekitar lokasi pekerjaan kemudian berkembang menjadi cekcok petugas dan para pekerja.

Berdasarkan rekaman video yang beredar di media sosial, kejadian itu diduga berlangsung pada jam istirahat atau waktu makan siang. Dalam video, terlihat sejumlah pekerja sedang makan menggunakan nasi bungkus di dekat area proyek. Ketika suasana memanas, beberapa pekerja tampak berusaha menjauh dan mencari tempat yang dianggap lebih aman, sementara sebagian lainnya masih berada di sekitar lokasi.

Rekaman tersebut memperlihatkan rangkaian peristiwa yang diawali adu mulut kedua pihak. Perdebatan kemudian berlanjut menjadi aksi saling dorong. Gerakan petugas dan pekerja terlihat semakin berdekatan sehingga situasi tampak sulit dikendalikan. Video itu juga menampilkan pelemparan helm proyek ke arah petugas dalam rangkaian keributan tersebut.

Potongan rekaman yang menyebar memperlihatkan kepanikan di orang-orang yang berada di lokasi. Pekerja yang sebelumnya sedang menyantap makanan terlihat membawa atau meninggalkan nasi bungkusnya ketika berupaya menjauh dari titik cekcok. Sementara itu, rombongan Satpol PP tetap menjadi bagian utama dalam suasana tegang yang terekam kamera. Peristiwa tersebut kemudian menjadi perhatian publik setelah videonya beredar luas di media sosial dan memunculkan laporan mengenai perselisihan petugas serta pekerja proyek.

Sebelum kericuhan terjadi di sekitar Gedung Kejaksaan Agung, rombongan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta diketahui baru menyelesaikan kegiatan penertiban di sejumlah titik wilayah Jakarta Selatan. Keterangan mengenai rangkaian kegiatan tersebut disampaikan oleh Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Satriadi Gunawan. Menurutnya, petugas melaksanakan penertiban terhadap pedagang kaki lima, kendaraan yang menggunakan area parkir secara tidak semestinya, serta penyandang masalah kesejahteraan sosial.

Salah satu lokasi yang menjadi sasaran kegiatan berada di area parkir liar di depan Kolam Renang Bulungan. Di tempat itu, petugas melakukan penindakan terhadap kendaraan yang ditemukan melanggar ketentuan. Penertiban dilakukan melalui operasi cabut pentil, yaitu tindakan terhadap kendaraan yang parkir tidak pada tempatnya dengan melepas pentil ban sebagai penanda sekaligus bentuk penegakan aturan. Dalam operasi tersebut, puluhan kendaraan ditertibkan oleh petugas.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, rombongan Satpol PP kemudian bergerak meninggalkan lokasi penertiban. Mereka melintasi Jalan Kyai Maja untuk menuju wilayah Kelurahan Selong. Pergerakan rombongan itu berlangsung pada waktu yang bertepatan dengan jam istirahat para pekerja proyek yang berada di sekitar jalur tersebut.

Situasi sebelum terjadinya insiden disebut berkaitan dengan pertemuan rombongan petugas dan para pekerja proyek di kawasan itu. Pada tahap tersebut, rombongan sedang dalam perjalanan setelah melaksanakan tugas penertiban, bukan tengah melakukan kegiatan baru di lokasi kericuhan. Keterangan ini menjadi bagian dari kronologi awal untuk menjelaskan posisi dan aktivitas masing-masing pihak sebelum perselisihan berkembang menjadi keributan. Rangkaian penertiban di sejumlah titik, termasuk penanganan parkir liar di depan Kolam Renang Bulungan, menjadi latar kegiatan petugas pada hari kejadian.

Menurut Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta Satriadi, keributan di sekitar gedung Kejaksaan Agung bermula ketika truk yang berada di bagian belakang iring-iringan dilempari oleh sejumlah pekerja proyek pembangunan gedung Kejaksaan. Belum diketahui secara pasti alasan pelemparan tersebut, tetapi tindakan itu kemudian memicu perhatian petugas yang sedang melintas di kawasan tersebut.

Dalam situasi yang sama, petugas mengaku mendengar teriakan seorang ibu yang meminta pertolongan. Mendengar suara tersebut, anggota Satpol PP turun dari kendaraan untuk memastikan kondisi di lokasi tetap aman. Mereka juga berupaya mencegah terjadinya tindakan main hakim sendiri, terutama ketika sejumlah orang mulai berkumpul dan terlibat dalam perselisihan.

Setelah mendatangi kerumunan, petugas menyatakan menemukan bahwa orang-orang yang terlibat merupakan pekerja proyek pembangunan gedung Kejaksaan. Kendaraan milik para pekerja itu sebelumnya menjadi sasaran operasi cabut pentil dalam penertiban parkir liar di depan Kolam Renang Bulungan. Penertiban tersebut dilakukan terhadap kendaraan yang dinilai mengganggu ketertiban lalu lintas dan menggunakan ruang jalan sebagai area parkir.

Para pekerja, sebagaimana disampaikan Satriadi, tidak menerima tindakan penertiban itu karena menganggap lokasi tersebut merupakan tempat parkir yang disediakan oleh PT. Perbedaan pandangan mengenai status lahan parkir kemudian memperbesar ketegangan pekerja proyek dan petugas. Masing-masing pihak memiliki pemahaman berbeda mengenai kewenangan penggunaan lokasi tersebut.

Satriadi mengatakan keadaan sempat mereda setelah petugas berusaha memisahkan pihak-pihak yang berselisih. Namun, situasi kembali memanas ketika massa berdatangan ke lokasi. Kericuhan kemudian diwarnai pelemparan dan kekerasan terhadap petugas. Versi tersebut menjadi bagian dari penjelasan Satpol PP mengenai rangkaian peristiwa sebelum perselisihan berkembang menjadi laporan polisi.

Insiden tersebut menimbulkan dampak terhadap sejumlah petugas yang berada di lokasi. Satriadi menjelaskan, ada anggota Satpol PP yang terluka ketika berupaya melindungi rekan lainnya. Petugas itu disebut berusaha membantu anggota yang terjatuh dan hampir menjadi sasaran pengeroyokan massa. Dalam situasi yang berlangsung tegang, tindakan perlindungan tersebut dilakukan untuk mencegah kondisi menjadi semakin buruk serta mengamankan anggota yang berada di tengah kerumunan.

Setelah kejadian, perwakilan manajemen PT PP mendatangi pihak Kecamatan Kebayoran Baru. Kedatangan tersebut dilakukan untuk menyampaikan permintaan maaf atas insiden yang terjadi. Selain itu, pihak manajemen menyatakan kesediaannya untuk bertanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan, termasuk kerusakan maupun biaya pengobatan bagi anggota Satpol PP yang mengalami luka. Penyampaian tanggung jawab itu menjadi bagian dari langkah setelah kericuhan, sembari penanganan terhadap persoalan tersebut terus dilakukan oleh pihak-pihak terkait.

Satpol PP juga telah melaporkan pihak yang diduga melakukan kekerasan kepada kepolisian. Laporan tersebut menjadi dasar untuk membawa perkara itu ke proses penanganan lebih lanjut melalui jalur hukum. Satriadi menyampaikan bahwa para terduga pelaku telah diidentifikasi untuk menjalani proses penanganan sesuai kewenangan kepolisian. Keterangan itu disampaikan tanpa mendahului proses yang sedang berjalan. Dengan demikian, tindak lanjut insiden mencakup pemulihan bagi petugas yang terluka, penanganan dampak kerusakan, serta koordinasi dengan kepolisian untuk mengusut dugaan kekerasan yang terjadi di sekitar lokasi proyek Kejaksaan Agung.

Baca juga: Polisi Terus Tangani Laporan Dugaan Intimidasi Wartawati, Publik Menanti Hasil Penyelidikan | Warga juga mengejar Pimpinan Proyek bernama Heri sebelum diamankan polisi | Laporan Wartawati Berbuah Penyelidikan, Polres Probolinggo Kota Minta Semua Pihak Kooperatif